Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2020

BERSEPEDA DI TENGAH PANDEMI? HANYA TREN KAH?


Bersepeda di tengah Pandemi kini menjadi tren tersendiri bagi sebagian besar orang. Itu yang saya lihat di beberapa ruas jalan di Kota Surabaya. daaerah dengan pertambahan Covid yang sangat pesat di Jawa Timur. Saya akui saya juga hobi bersepeda, namun sudah lama. Melihat adanya fenomena semacam ini tentunya ada sara senang dan kecewa. Senang sebab semakin banyak orang bersepeda sehingga dapat mengurangi polusi dan mengurangi kemacetan (meskipun sama tergantung waktu saja). Namun juga kecewa sebab banyak yang menjadi seenaknya dengan tidak menghiraukan rambu lalu lintas. Meskipun hanya bersepeda tentu harus kita patuhi rambu lalu lintas, sebagaimana kita menggunakan kendaraan bermotor biasanya.





Selain itu menggunakan safety items juga sangat saya rekomendasikan. Seperti dengan melengkapi diri memakai helm, sarung tangan, dan sepatu. Meskipun itu tergantung selera, Seng penting gowes e, seng penting dengkul e, seng penting mlaku. Oke itu juga baik, namun ada cara yang lebih baik lagi untuk kita membiasakan hal positif ini. Beberapa langkah provokatif juga sudah dilakukan oleh komunitas-komunitas sepeda agar menaati peraturan lalu lintas dan mengguanakan pelindung diri. Menurut saya pribadi sih mending langsung ikut saja ke dalam komunitas sepeda yang kita inginkan, bisa sesuai dengan jenis sepeda kita atau biasanya komunitas komplek. Jadi ada kawan diskusi atau seenggaknya kita bisa gowes bareng-bareng.

Salah satu hal yang selalu saya luput adalah membawa kunci ganda untuk pengaman. Bahkan saya sudah pengalaman kehilangan sepeda 2 kali di kosan. Hmm. Seperti tidak ada kapoknya, tapi saya selalu merantai sepeda saat dikosan sekarang. Mungkin beberapa orang mengerti harga dari sepeda apalagi kasus Dirut Garuda yang menyelundupkan Sepeda Bromptonnya di pesawat yang harganya 50 jtan. Waduhh jadi tau semua deh harganya.



Saya juga akan melihat jika satu atau tiga tahun kedepan fenomena ini tetap ada jadi memang orang-orang sudah sadar bahwa pentingnya bersepeda dapat menggantikkan kendaraan bermotor dan banyak manfaatnya. Namun jika hanya fenomena sesaat atau mengikuti tren, wah sama seperti biasanya dong. Di goreng setelah itu tidak diteruskan, sangat sayang jika hal ini memang benar hanya menjadi tren. Seperti beberapa tahun kebelakang banyak yang menggunakan sepeda Fixie (Fixed Gear) yang warna warni, beberapa tahun kebelakang juga tren sepeda BMX.



Saya pernah bermimpi bersepeda dengan salah satu kawan saya di salah satu negara di Eropa. Saya melihat banyaknya pesepeda dengan rapi di jalur sepeda dan menyadari akan rambu-rambu lalu lintas. Hmm saya hanya dapat membayangkan jika kota-kota disini sangat menghargai para pesepeda dan pejalan kaki. Seperti dengan membangun jalur sepeda dan trotoar yang benar-benar dapat digunakan dengan baik. Saya hanya bisa berharap sebab saya bukan siapa-siapa. Hanya pesepeda biasa dengan boks perpustakaan di belakang sepeda saya....




Senin, 04 Februari 2019

PERKEMBANGAN FOLKLORE DI INDONESIA

www.folkloretravel.com



Kebudayaan yang kini berkembang di masyarakat merupakan hasil pewarisan dari kebudayaan luhur terdahulu. Melalui banyak metode/cara tradisi masyarakat dapat tersalurkan dan terwarisi oleh generasi selanjutnya. Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan system, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka menghidupi kehidupannya serta dijadikan sarana untuk belajar. Wujud dari kebudayaan itu antara lain ide/gagasan/norma/aturan/nilai yang kesemua itu menghasilkan wujud benda/fisik budaya.
Kebudayaan hanya dapat berkembang di dalam masyarakat. Hal itu jelas bahwa tanpa adanya subyek yakni masyarakat tentu budaya tidak akan pernah ada dan berkembang. Di saat kebudayaan ini berkembang tentu menjumpai adanya budaya baru dari luar budaya induknya. Hal tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mengakulturasi atau terjadinya proses percampuran budaya atau malah menjadi salah satu faktor untuk degradasi budaya (penurunan budaya).
Folklore merupakan salah satu wujud dari hasil kebudayaan. Hal tersebut dikarenakan Folklore juga mrupakan hasil cipta manusia yang kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya dengan metode yang berbeda-beda. Tentu sebagai hasil dari kebudayaan, folklore banyak yang mengalami asimilasi dengan budaya lain. Pada setiap suku bangsa pastilah memiliki hasil kebudayaan folklore yang berbeda-beda. Folklore dengan sendirinya dapat hidup di tengah-tengah masyarakat, yang mulanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menurut Prof. James Danandjaja folklore secara istilah merupakan pengindonesiaan dari kata Inggris folklore. Folklore terdiri dari dua kata dasar yaitu folk dan lore. Folk yaitu sekelompok orang atau masyarakat yang memiliki ciri pengenal fisik dan kebudayaan sendiri. Ciri pengenal itu bias berbentuk warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, pendidikan, dan agama.Hal itulah yang kemudian membedakan dengan masyarakat lain. Lore adalah tradisi yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Jika dilihat dari pengertian diatas maka studi folklore di Indonesia sangatlah luas. Sebagai contoh dilihat dari perbedaan ciri fisik di Indonesia dapat dikaji folklore orang berkulit hitam, coklat, putih asalkan harus berwarga Indonesia.
Prof. James memiliki pendapat mengenai perkembangan folklore di Indonesia. Menurut beliau folklore pertama dikenalkan oleh William John Thom seorang ilmuan dari Inggris. William John Thom mulai mengenalkan folkore pada majalah The Athenaeum. Tepatnya dimulai pada abag ke-19. Pada tahun-tahun tersebut penyebutan culture pada kebudayaan masih belum ada, oleh sebab itu masyarakat umum pada kala itu menyebut folklore sebagai kebudayaan.
Sedang di Indonesia, folklore belum lama mendapatkan porsi khusus untuk dikembangkan dalam ilmu pengetahuan. Namun, pada masa pemerintahan Belanda terdapat lembaga Panitia Kesusastraan Rakyat yang bertugas untuk mengumpulkan dan menerbitkan hasil kesusastraan tradisional yang terdapat di Indonesia. Pada perkembangan kesadaran sejarah di Indonesia, folklore juga berjalan beriringan. Meskipun menurut beberapa ahli dan metode penyusunan penulisan sejarah folklore bisa dibilang ahistoris, namun hasil folklore setidaknya dapat memberikan imajinasi zaman atau peristiwa di masa lampau. Seperti terlihat pada hasil tradisi besar hasil kesusatraan terdapat pada babad-babad, cerita rakyat, pepatah dan sebagainya.
Masyarakat di Indonesia lebih banyak untuk mewariskan kebudayaanya secara lisan/tradisi lisan. Tradisi lisan itu kemudian diwariskan secara turun temurun seperti dijelaskan diatas dengan semangat zaman yang berbeda-beda. Dengan sifat folklore terutama cerita rakyat yang cenderung belum bias diketahui kenyataanya (khayal), namun dengan pewarisan kebudayaan folklor ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah dapat memahami dan menjelaskan kondisi lingkungan zamannya.




Sumber:
Sumaryadi, Rumi Wiharsih. Modul Pembelajaran Kajian Folklor. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Bahasa dan Seni. Tersedia online http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/modul%20pembljrn%20folklor.pdf diakes pada Senin, 11 September 2017.




JEJAK KULINER NUSANTARA JAWA TIMUR

makanansehat.biz


                 Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan sejarah Indonesia sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh bangsa-bangsa luar. Pengaruh itu meliputi keragaman dari banyak hal seperti halnya sistem pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, sistem perekonomian, teknologi dan sebagainya. Namun juga terdapat suatu hal yang maenarik yaitu dengan adanya pengaruh dari pihak luar budaya tradisional bangsa Indonesia tidak tergantikan. Seperti halnya adat istiadat, norma, bahkan pada keragaman jenis makanan. Makanan sebagai suatu hasil dari kebudayaan manusia pertama-tama memiliki peran sebagai alat pemenuhan kebutuhan primer. Tidak hanya itu peran makanan dalam kehidupan manusia bahkan sampai pada ranah untuk kegunaan religuisitas. Hal itu tercermin dari kebudayaan Jawa yang banyak melakukan ritual-ritual adat dan makananpun menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan[1].
Keberadaan makanan tradisional itu pada umumnya tidak terlepas dari adat istiadat suatu masyarakat tertentu. Sehingga makanan tradisional dapat menjadi cerminan budaya suatu masyarakat[2]. Hal itu juga dikarenakan oleh kebiasaan  masyarakat turun-temurun, kesediaan bahan mentah, dan sumber daya teknologi yang berbeda. Sebagai contoh didaerah dekat pantai, ketersediaan bahan makanan disana adalah berupa ikan dan hasil laut, begitu pun daerah dataran tinggi yang banyak  menghasilkan komoditas bahan makanan berupa sayuran. Hal itulah yang kemudian menunjukkan suatu kebudayaan yang khas dari budaya lain. Misalnya pada salah satu bahan makanan pokok singkong di daerah Maluku atau Indonesia Timur singkong biasa digunakan seperti halnya nasi (beras) di daerah Jawa.
Ketersediaan bahan makanan itu juga akan menghasilkan beraneka makanan pula. Hal itu kemudian menciptakan suatu makanan khas dari suatu daerah itu. Seperti contohnya, di Surabaya terkenal dengan lontong balap, Malang dengan baksonya, Yogyakarta dengan gudegnya, dan Jakarta dengan ketopraknya. Seperti pada penjelasan diatas bahwa keanekaragaman makanan juga ditentukan oleh beberapa faktor selain ketersediaan bahan makanan juga karena faktor sosial dan geografis. Pada contoh diatas, makanan khas Jawa Timur khusunya kebanyakan berasa pedas, karena  dikarenakan beberapa daerah di Jawa Timur berbudaya dialek arek yang terkesan tegas dan berani serta karena bahan pemedas yang berlimpah. Begitupun di Yogyakarta atau Jawa Tengah yang kebanyakan masakannya berasa manis, yang dikarenakan budaya masyarakat mataraman yang halus dan sopan.
Makanan khas daerah di Indonesia juga banyak yang tidak bisa dilepaskan karena pengaruh penjajahan atau datangnya bangsa luar. Hal itu dulu dilakukan oleh bangsa luar karena alasan untuk mencari bahan makanan lokal di Indonesia. Oleh sebab itulah bangsa luar itu membawa budayanya ke dalam Indonesia. Terlihat sampai sekarang di beberapa daerah khusunya yang dulu menjadi kota pelabuhan atau kota strategis masih banyak ditemui makanan yang berasal dari bangsa luar, seperti Tiongkok (chinesee food), India, dan Arab (arabian food).  Hal itu semakin kompleks saat bangsa Eropa mulai menanamkan pengaruhnya di Indonesia sejak adab ke-16 sampai abad ke-18. Kemudian masuknya bangsa Eropa itu juga membawa berbagai jenis bahan makanan baru. Dalam kurun waktu ini jugalah yang menjadi penentu bagi perkembangan serta pembentukan berbagai jenis makanan di Indonesia pada abad setelahnya (abad ke-19 hingga masa kemerdekaan). Hingga pada tahun 1950-1967an saat itu pemerintah Indonesia mulai mengencarkan program-program mengenai makanan sehat untuk masyarakat luas. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan membuat buku ilmu-ilmu makanan. Salah satu buku itu adalah Mustika Rasa yang berisi mengenai konsep-konsep dasar dan utama tentang makanan Indonesia. Hal itu dibuat pemerintah juga untuk menumbuhkan identitas bangsa. Banyak sekali resep-resep masakan yang ada di buku ini, seperti resep “lawas”, resep lokal, hingga resep baru dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun juga berbagai jenis makanan di Jawa Timur itu dipengaruhi oleh adanya orang-orang luar Jawa Timur yang bermigrasi kemudian menetap di Jawa Timur, ataupun karena adanya pengaruh dari wilayah di sekitarnya. Seperti makanan di Surabaya yang masih banyak terpengaruh oleh masakan Madura. Sebagai penghasil garam terbesar sehingga rasa asin mempengaruhi masakan di Surabaya. Juga di Surabaya jenis makanannya kebanyakan berdasar petis, seperti rujak cingur, semanggi, lontong kupang, dan tahu campur[3].

Fungsi makanan di Jawa Timur sama seperti makanan di daerah lain di Indonesia. Ada yang merupakan makanan pokok, makanan jajanan, dan makanan upacara / ritual. Makanan pokok di Jawa Timur sama seperri mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu beras (nasi), hal itu juga dikarenakan masih banyaknya ladang padi di Jawa Timur, meskipun biasanya juga dikombinasi dengan jagung atau singkong. Dapat dikatakan bahwa makanan pokok itu merupakan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan fisik (tubuh) agar seseorang dapat terpenuhi gizi tubuh dan agar tetap hidup dan sehat. Sedangkan makanan jajanan bisa dikatakan sebagai selingan makanan pokok. Makanan jajanan biasa juga disebut dengan jajanan camilan atau jajanan pasar. Di Jawa Timur khusunya, masih banyak ditemui makanan jajanan di pasar tradisional maupun di kios-kios. Meskipun sudah dikemas secara modern namun itu tidak menyebabkan rasanya berbeda. Biasanya dalam pembuatan makanan jajanan, resepnya adalah turun-temurun dari keluarga sebelumnya. Kebanyakan makanan jajanan ini juga dijadikan sebagai komoditas oleh-oleh khas suatu daerah, misalnya di Bojonegoro terkenal dengan ledre, Lamongan (Babat) dengan wingkonya, Madiun dengan brem nya, dan Batu dengan keripik buahnya. Kebanyakan juga makanan jajanan tradisional itu wujudnya kue kering, kue basah (jajanan pasar), dan gorengan. Wujud-wujud makanan ini banyak dijumpai di hampir seluruh daerah di Jawa Timur.
Makanan untuk upacara sesuai dengan namanya biasanya digunakan sebagai pemenuhan atau penyajian saat ritual-ritual tertentu.  Selain itu makanan upacara juga sarat akan nilai-nilai filosofis baik dalam penamaan , bahan baku, maupun bentuk fisik dari makanan itu sendiri. Jika ingin membuat makanan upacara biasanya bahan bakunya cukup mudah ditemukan dan dibuat secara tradisional sesuai tata adat secara turun temurun.
Eksistensi berbagai jenis makanan itu tidak terlepas dari adanya restoran, kios, atau warung makan atau rumah makan. Kini restoran atau rumah makan bervariasi, mulai dari variasi harga, makanannya sendiri, dan juga “golongan” masyarakat penikmat makanan itu sendiri. Mulai dari golongan atas yang kebanyakan menyukai makan di restoran atau fastfood hingga golongan menengah yang lebih suka makan di rumah makan atau depot makan. Salah satu jenis restoran adalah restoran tradisional, yang mana restoran ini mulai dari sistem pelayanan hingga desain ruangannya menggunakan gaya tradisional. Kebanyakan restoran tradisional ini menyediakan makanan tertentu, seperti makanan tradisional khas Jawa Timur[4].  Restoran tradisional ini juga biasanya membawakan kesan nostalgia kepada penikmat makanan terkait dengan makanan yang ditawarkan.
Sebagai kota ikonik di Jawa Timur, di Surabaya dalam perkembangan kotanya sudah mampu memebrikan warna pada kuliner di Jawa Timur. Hal ini ditandai dengan banyaknya masakan yang dibawa orang-orang luar Surabaya yang kemudian bermukim disana. Tak heran karena terdapat etnis Tionghoa di Surabaya juga banyak makanan yang beberbau chinesee food. Kini dalam perkembangannya Surabaya juga dapat mempromosikan beragamnya makanan khas Jawa Timur. Cara itu sudah dilakukan khusunya oleh pemerintah Surabaya ataupun Jawa Timur dengan menggelar acara khusus hingga umum.



           

           


DAFTAR PUSTAKA
Brahmana Ritzky K.M.R.,2015, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
Sabana ,Setiawan, 2017, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ),  ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
Susanto,Rizky Alim, 2015, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015).
Adrianto, Ambar,  2014, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).



[1] Ambar Adrianto, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), hlm. 12, ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).
[2] Setiawan Sabana, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ), hlm 10. ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
[3] Ritzky K.M.R. Brahmana, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), hlm. 113, ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
[4] Rizky Alim Susanto, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), hlm. 16, (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015)

Selasa, 11 Desember 2018

PENTINGNYA MITIGASI BENCANA UNTUK ANAK

lh3.googleusercontent.com



Indonesia yang terletak di cincin api dan pertemuan antarlempeng dunia menyebabkan posisinya memiliki potensi yang besar untuk terjadinya bencana alam. Hal itu menyebabkan sering adanya gerakan sesar atau patahan yang menyebabkan gempa bumi hingga tsunami dan seringnya erupsi gunung berapi di Indonesia.
Faktanya kita ketahui bersama, beberapa bulan lalu Gunung Agung sebagai gunung berapi aktif di Pulau Bali yang menunjukkan aktivitasnya kembali, meskipun kini sudah menunjukkan penurunan status. Tidak hanya bencana yang disebabkan oleh faktor alam, Indonesia juga sudah langganan untuk tertimpa bencana tahunan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sebagainya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tentunya bencana tersebut memiliki dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik secara moril dan materil.
Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di tahun 2016 saja bencana yang terjadi di Indonesia mencapai 2.000 kasus. Bencana tersebut menyebar dan terjadi di seluruh kawasan di Indonesia. Dari berita dan laporan online juga diberitakan bahwa kebanyakan korban bencana tersebut adalah anak-anak dan sebagian manula. Sangat merugikan dan akan menimbulkan kesedihan yang mendalam ketika generasi penerus kita malah menjadi korban dalam suatu bencana.
Tak ayal hal itu terjadi, secara fisik anak-anak masih lemah untuk menyelematkan dirinya saat terjadi suatu bencana. Begitupun ditambah dengan pengetahuan akan mitigasi saat terjadi bencana yang kurang diketahui oleh kebanyakan anak sehingga menimbulkan kepanikan pada anak. Jika anak tidak memiliki pengetahuan terkait mitigasi bencana, nantinya anak-anak akan merasakan trauma yang mendalam dan menggangu psikologis anak. Pengetahuan terakit mitigasi bencana ini juga merupakan salah satu hak anak-anak untuk mengetahui informasi terkait upaya mitigasi yang bermafaat bagi anak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

washingtonpost.com


Peran Keluarga dan Sekolah dalam Penanaman Pengetahuan Mitigasi Bencana
Banyaknya korban anak-anak pada bencana alam menunjukkan betapa pentingnya keluarga sebagai agen sosial primer untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana. Pengetahuan mitigasi bencana dapat dengan mudah jika dipraktikkan di dalam lingkup keluarga dengan sosok orang terdekat sebagai contoh dalam proses mitigasi tersebut.
Jika memang orangtua/ keluarga masih belum banyak mengetahui tentang mitigasi bencana, kini banyak pada portal online dan buku-buku terkait mitigasi bencana yang baik dan benar. Terlebih dengan akses pengetahuan yang mudah, tentu dapat membantu orangtua untuk mengajarkan mitigasi bencana pada anak-anaknya.
Begitupun peran sekolah sebagai "rumah kedua" bagi anak-anak untuk memberikan pengetahuan terkait mitigasi bencana. Pihak sekolah dapat menjadwalkan dan bekerjasama dengan pihak tanggap bencana seperti BNPB, BPBD, TAGANA, atau kelompok kerelawanan untuk memberikan sosialiasi mitigasi bencana di sekolah-sekolah.
Selain itu juga diperlukan adanya simulasi mitigasi bencana agar anak dapat mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan saat terjadinya suatu bencana. Pendidikan terkait mitigasi bencana ini juga sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang berada dalam kawasan rentan terjadi bencana alam. Selain itu juga ditambah dengan kapasitas tenaga pendidik termasuk guru, kepala sekolah, dan pegawai sekolah terkait pengetahuan tentang mitigasi bencana.
Tidak hanya pengetahuan terkait mitigasi saat terjadi bencana saja,juga diperlukan penanaman terkait tindakan preventif untuk mencegah terjadinya bencana serta tindakan pascabencana yang juga penting. Hal itu diperlukan untuk mengatasi terjadinya trauma yang biasanya dialami oleh anak-anak saat pascabencana. Seperti dengan melakukan penanaman pohon, seruan agar tidak membuang sampah sembarangan, hingga membuat alat pendeteksi tsunami atau gempa.
Dapatlah diberikan juga terkait upaya untuk mengendalikan emosi dan psikologis saat pascabencana. Jika sudah tertanam kemampuan dan pengetahuan terkait mitigasi bencana, anak-anak akan mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana alam. Tidak hanya itu, anak-anak juga dapat saling mengingatkan kepada keluarga bahkan masyarakat untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.
Berdasarkan pengalaman saya, jika anak-anak sudah terbiasa dan mengerti terkait pengetahuan mitigasi bencana, maka anak tersebut akan cenderung tenang dan tidak panik, mereka melakukan upaya menghibur diri dengan mengikuti kegiatan di posko pengungsian yang sering dilakukan oleh relawan.

theglobeandmail.com


Sumber:
http://www.sinarharapan.co/news/read/150726005/agar-anak-anak-tanggap-bencana, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
https://news.detik.com/kolom/d-3502328/pendidikan-siaga-bencana-dalam-keluarga, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
http://pendidikan-luar-sekolah.fip.uny.ac.id/berita/mitigasi-bencana-bagi-anak-usia-dini.html,  diakses pada Kamis 2 November 2017


BERKARYA ALA MAHASISWA

geotimes.co.id


            Mahasiswa bagi masyarakat umum sudah dipandang sebagai suatu kelas yang mendapat pendidikan tinggi. Kelas itu diperoleh secara tidak langsung karena mahasiswa mendapatkan statusnya itu dari perguruan tinggi atau tingkatan sekolah lanjutan tertinggi. Memakai awalan “maha” merepresentasikan mahasiswa sebagai siswa atau pelajar yang “paling” dalam pemahaman ilmu maupun kemampuan. Secara definisi menurut KBBI mahasiswa dapat diartikan sebagai orang yang belajar di Perguruan Tinggi.
            Dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa berhak memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan. Hal tersebut dapat ditampung dengan masuk dan berproses di dalam wadah unit kegiatan mahasiswa ataupun organisasi lainnya. Untuk dapat bergabung dalam unit kegiatan atau organisasi itu bagi seorang mahasiswa dapat memilih sesuai passion atau kemampuan dan kegemaraanya. Misalnya seorang mahasiswa gemar dalam kegiatan pecinta alam maka dapat bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam begitupun yang lain. Tentu untuk dapat berkegiatan diluar akademis itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih. Bahkan beberapa mahasiswa memilih untuk bergabung dalam organisasi lebih dari satu. Anggapan mengenai mahasiswa tidak lepas dengan beberapa istilah yang menunjukan tugas ketika menjadi mahasiswa, yaitu agent of change, iron stock, social control, dan moral force. Jargon-jargon itu selalu digaungkan para senior pada saat prosesi ospek mahasiswa baru. Mahasiswa dituntut oleh keempat hal itu sebagai agen perubahan, penerus masa depan, penyampai kebenaran, dan kekuatan moral. Kesemuanya itu sudah banyak dibuktikan dengan peran mahasiswa dahulu. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa sudah banyak yang berhasil menentang keegoisan pemerintah, contohnya aksi mahasiswa 1998 yang memberhentikan Presiden Soeharto dan rezim Orde Barunya. Namun apakah semangat juang mahasiswa dahulu dapat diimplemntasikan pada saat ini? Apakah juga “musuh” mahasiswa kini juga sama dengan yang dimusuhi mahasiswa dahulu? Tentu tidak, dengan perkembangan zaman kini problem mahasiswa menjadi lebih kompleks tidak hanya persoalan kebijakan pemerintah. Namun juga perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat hingga perlombaan menghadapi dunia kerja.
Tentunya banyak manfaat yang diperoleh bagi mahasiswa saat tergabung dalam suatu organisasinya salah satunya adalah perkembangan kepemimpinan, jaringan, dan kompetensi diri. Nantinya luaran yang diperoleh seorang mahasiswa itu dapat dibuktikan dengan kontribusi secara langsung dan memperoleh prestasi. Lalu dikarenakan hal tersebut muncullah pertanyaan, sebagai mahasiswa apakah harus berorganisasi, berprestasi, atau berkarya? Ataukah hal itu semua dapat diraih saat menjadi sebagai mahasiswa?
Tentu untuk menjawab pertanyaan diatas tidak bisa disamakan antar mahasiswa satu dengan yang lain. Beberapa mahasiswa bahkan sudah membuktikannya selain berorganisasi dan berprestasi ia juga dapat berkarya. Dilihat dari banyaknya prestasi perlombaan yang diikuti oleh mahasiswa dan banyak bermunculan karya-karya mahasiswa baik berupa buku maupun penelitian. Bahkan mahasiswa teknik sudah menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat robot atau mobil listrik. Sudah banyak yang membutikan dari berbagai mahasiswa di universitas di Indonesia. Dari kesemua bukti ini telah menjawab pertanyaan diatas. Itulah peran mahasiswa sesungguhnya, jadi tidak hanya belajar di dalam laboratorium, membaca buku diktat kuliah, atau bahkan apatis dan langsung pulang. Menjadi mahasiswa bisa menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang kita ingini. Terbang bebas dengan imajinasi kita untuk menggapai impian dan cita kita.
Tulisan ini akan ditekankan pada poin ketiga yaitu berkarya dengan gaya khas mahasiswa. Berkarya dalam arti adalah membuahkan suatu hal dan dapat diterima oleh khayalak. Mengapa berkarya ? Menjawab pertanyaan singkat ini gampang-gampang susah. Jelaslah bahwa jika telah berkarya seseorang manusia itu hidupnya akan abadi dengan karyanya itu. Hanya dengan karyanya manusia dapat dikenal zaman, dapat dikenang sejarah, dan tidak tenggelam dalam arus zaman. Untuk itu karya yang sebenarnya mudah dan juga merupakan tanggung jawab akademis mahasiswa adalah dengan menulis. Menulis adalah jalan berkarya yang sederhana namun akan berarti jika tulisan itu dikenang dan membuahkan ide-ide segar kepada pembaca. Ada pepatah mengatakan bahwa “jika kau bukan anak raja maka menulislah !”. Dalam jalur ini dibutuhkan semangat motivasi dan semangat keberlanjutan yang tinggi. Untuk dapat menuangkan pemikiran kita dalam tulisan juga dapat diawali dengan budaya membaca. Banyak membaca buku maka akan banyak juga wawasan yang kita dapat. Jika ide-ide itu sudah terasa penuh dalam pikiran maka saatnya kita untuk menuangkan itu dalam tulisan. Dalam hal ini sebagai mahasiswa tidak hanya dapat menulis berupa jurnal ataupun tulisan yang bersifat akademis, namun juga dapat menulis apapun sesuai dengan jalan imajinasi dan idealismenya. Untuk mengawali budaya menulis juga tidak diperlukan waktu yang jelas. Maksudnya kapan pun berkarya dengan tulisan itu dapat dilakukan. Memanfaatkan mata kita sebagai kamera yang menangkap segala peristiwa disekitar kita saja sudah dapat menjadi bahan untuk menulis. Menulis itu sederhana, tidak dibutuhkan skill khusus. Semua dapat berkarya dengan jalan ini terlebih dengan kapasitas sebagai mahasiswa dengan “maha” nya.
           
           
           

Sabtu, 06 Januari 2018

Melukis Sebagai Media Dokumentasi Semangat Zaman




sumber: 3.bp.blogspot.com

   Kegiatan melukis sudah mendarah daging dan berkembang selama manusia hidup. Hal tersebut dibuktikan dengan temuan lukisan arkeologis pada dinding gua-gua hingga berlanjut pada relief di bangunan zaman praaksara. Tentunya masing-masing zaman menunjukan "ekspresi" masing-masing dan tidaklah sama antara satu zaman dengan zaman lainnya. Hal tersebut juga ditentukan dari alasan atau latar belakang dari adanya lukisan tersebut.

   Corak lukisan pada zaman praaksara dan zaman sejarah tentu memiliki perbedaan. Perbedaan itu timbul dari peristiwa pada masa lampau yang mempengaruhi atau yang sedang terjadi pada zaman tersebut. Seperti pada zaman praaksara ditemukan corak lukisan yang berbentuk hewan buruan, cap tangan, dan bentuk manusia yang sederhana. Hal itu merepresentasikan bahwa pada kehidupan zaman tersebut manusia purba banyak dipengaruhi oleh hal tersebut. Pada zaman tersebut terlihat bahwa lukisan masih belum memerlukan kaidah estetis, melainkan hanya sebatas ekspresi dan sebagai bentuk pemujaan atau kebutuhan spritual saja. 



   Berkembang berikutnya yakni pada zaman kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di Nusantara yang banyak ditemui pada bangunan peninggalan zaman tersebut. Pada masa Hindu-Buddha relief-relief yang dirupakan manusia banyak disimbolkan untuk kepentingan religius. Bentuk yang terlihat juga memiliki corak yang berbeda di setiap daerah temuan. Begitupun pada zaman kerajaan Islam yang banyak kemudian ditemukan relief atau lukisan kaligrafi pada masjid atau bangunan kuno.

   Kini tentunya seorang pelukis pada awalnya memiliki hal yang melatar belakangi ia untuk melukis. Hal tersebut akan merangsang imajinasi si pelukis untuk kemudian menjadikan objek tertentu sebagai dorongan untuk menggoreskan setiap kuas pada kanvasnya. Tentuya seorang pelukis harus tertarik terlebih dahulu kepada suatu obyek, mempelajari lebih dalam, dan mulai menuangkan dalam sket atau langsung dilukis tergantung dengan aliran setiap pelukis. 

   Hal yang melatar belakangi pelukis dapat datang dari luar maupun dari diri pelukis itu sendiri. Obyek yang dapat dari dalam dirinya sedniri biasanya muncul secara tiba-tiba atau juga tergantung masing-masing pelukis dalam berimajinasi atau menemukan ide baru untuk melukis. Ada pelukis yang berkeliling (traveling), meditasi, berdiam diri, atau melihat karya orang lain untuk kemudian mendapatkan ide-ide baru. Jika dorongan dari luar maka seroang pelukis akan banyak terpengaruh dari lingkungan sekitarnya baik orang lain maupun semangat zaman pada masanya. Seperti pada lukisan Basoeki Abdullah yang dapat digolongkan dalam tema perjuangan, sosial, dan kemanusiaan.

   Pada tema perjuangan dalam lukisannya Basoeki Adullah terbatas, hal tersebut dapat disebabkan Sang Maestro masih bermukim di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya saja sebelum itu Basoeki pernah bergabung sebagai tenaga pengajar di organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Disitulah ia merasakan secara langsung betapa sulitnya perjuangan bangsa melawan penjajah. Basoeki kemudian membuat sket dimana tergambar suasana revolusi bangsa, dengan masuknya kembali militer Belanda sampai perjuangan heroik TNI.



sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id 

   Berbeda dengan tema kemanusiaan dan kemasyarakatan, Basoeki banyak melukis dengan tema tersebut yakni diantara waktu 1980-1990-an. Pada waktu itu Basoeki banyak merasakan dan melihat keadaan rakyat Indonesia. Lukisan yang dibuat Basoeki meliputi aktivitas sehari-hari masyarakat seperti membajak sawah, ibu yang menggendong anaknya, tarian rakyat, kecantikan wanita, keindahan alam dan sebagainya. Pada saat ini pula sang maestro membubuhkan sikap humanismenya yakni dengan lukisan Ibu Theresa (1998) dan Tanpa Pamrih (1998) yang merupakan ekspresi dari Basoeki kepada sosok humanisme dunia. 


sumber: subhandepok.files.wordpress.com 




Sumber:
http://museumbasoekiabdullah.or.id
Lukisan Basoeki Abdullah Tema Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.2013. Jakarta: Museum Basoeki Abdullah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Minggu, 12 Februari 2017

SURAT CINTA UNTUK INDONESIA


Untuk Indonesiaku.
Di bawah langit Khatulistiwa.
            Halo Indonesiaku ?. Bagaimana kabarmu ?. Aku mendengar bahwa kau sedang tidak baik-baik saja, benarkah itu?. Aku harap tidak Indonesia, kau masih aku lihat berdiri kokoh dengan kecantikanmu. Indonesia, di surat ini perkenankanlah aku untuk mencurahkan bagaimana isi hatiku selama ini tentang mu, juga ini adalah bentuk terimakasih pada mu dan aku memahami bahwa ini tidaklah cukup membalas semua yang kau berikan padaku.
            Saat membuka peta dunia, aku melihat bahwa terdapat ratusan negara dan jutaan pulau, tapi kau memilihku untuk hidup dan bersujud ditanahmu. Aku bersyukur, dapat berdiri ditanahmu. Dibawah langit khatulistiwa dan diatas samudera kau berada. Itu adalah sebuah keunggulan yang kaumiliki. Tanahmu subur, airmu selalu mengalir, dan sumber daya alammu melimpah. Keelokan alammu telah terdengar luas diseluruh penjuru dunia. Kau memang layak disebut Zamrud Khatulistiwa.
            Ternyata ditanahmu, kau izinkan juga banyak suku , agama, dan bahasa yang berbeda. Dengan cintamu kau dapat menjaga kerukunan dari kebhinekaan itu. Bertahun-tahun kau jaga kebersaman dalam perbedaan itu. Kau telah membuat iri bangsa lain dengan kerukunan yang kaubuat, Indonesia. Bahkan, kau dapat menjadi tauladan bagi bangsa lain dan mereka ingin mengetahui bagaimana hal itu dapat kau lakukan.
            Sejarahmu dikisahkan bahwa kau dahulu memang sudah menjadi bangsa yang besar. Kerajaan-kerajaan besar yang dulu kau izinkan untuk berkuasa ditanahmu banyak yang memiliki kekuasaan yang besar. Hingga karena kekayaan dan keindahanmu, kau mengundang orang-orang asing untuk menjajahimu dan mengambil kekayaanmu. Beratus-ratus tahun mereka menginjakkan kakinya ditanahmu. Darah sudah sering kali memerahkan tanahmu kala itu. Namun, aku tidak melihat kau bersedih. Kau malah tetap berdiri kokoh dengan orang-orang yang memperjuangkanmu untuk merdeka. Pada akhirnya kau dapat merdeka di tengah abad ke-20, Indonesia. Aku tau bahwa rasa cintaku kepadamu tidak ada nilainya seperti para pejuangmu yang dulu rela mati demi kau. Hanya dengan janji ku bertekad selamanya aku akan mencintaimu, Indonesia.
            Di usiamu yang sudah lebih dari separuh abad ini, banyak yang mengetahui bahwa kau sedang tidak baik-baik saja. Beredar kabar bahwa banyak penguasa yang telah kau ijinkan hidup di tanahmu, kini tak lagi mencintaimu sepenuhnya. Mereka sedikit-demi sedikit menguras kekayaanmu. Bahkan juga ada yang tega untuk menjual hasil alammu demi memenuhi kepuasan duniawi mereka. Kebhinekaanmu kini juga sering dijadikan kambing hitam yang perlahan ingin menghancurkan kerukunan yang kau jaga. Namun tenanglah, masih ada aku dan banyak jiwa yang akan menjadi tamengmu. Karena masih ada sayap-sayap sang garuda yang akan menerbangkanmu dan selalu setia mecintaimu, meski tanahmu penuh gejolak yang tidak ada habisnya. Aku masih percaya, meskipun kau kini sedang tidak baik-baik saja, namun kau tetap bangsa yang kokoh, kuat, indah dan patut untuk kucintai.
            Tidak ada kata lagi selain terimakasih padamu Indonesia. Terimakasih kau telah memberikan tanahmu untuk tempatku bersujud, tempatku memanjatkan doa, dan tempatku hidup selamanya. Meskipun suatu saat nanti mataku melihat dunia, namun izinkanlah kakiku untuk selalu memijak tanahmu. Biarkanlah jiwa, raga, darah dan hatiku untuk memilikimu seutuhnya. Masih banyak yang mencitaimu selamanya, sama sepertiku kini. Aku hanya bisa mencintaimu hanya dengan berkarya untuk keabadianmu. Aku akan menyerukan namamu dan menceritakan kecantikanmu kepada semuanya. Karya dan baktiku akan selamanya aku tujukan hanya untukmu. Sebab, ditanahmu adalah tempat aku memulai dan mengakhiri hidup, hingga bersatu dengan tanahmu nanti. Aku adalah kau, Indonesia. Selamanya kau adalah negeri yang kucintai. Terimakasih Indonesia.

Diatas Samudera,
Patahan sayap garudamu.

            

Minggu, 25 Desember 2016

JIWA KEPAHLAWANAN JOKOWI DAN DAHLAN ISKAN UNTUK GENERASI “Z”

JIWA KEPAHLAWANAN JOKOWI DAN DAHLAN ISKAN UNTUK GENERASI “Z”
http://kabaraku.com/wp-content/uploads/2014/05/444.jpg

            Hari Pahlawan (10/11) baru saja disemarakkan, dengan berbagai kemeriahan untuk memperingati hari bersejarah ini. Kemeriahan itu dilengkapi dengan foto pahlawan dan foto situasi pertempuran untuk mengajak siapapun agar merasakan dan mengenang bagaimana kondisi Indonesia saat itu. Terlebih generasi muda yang harus mengetahui bagaimana perjalanan sejarah bangsanya. Di sekolah atau di institusi manapun juga ikut serta mengheningkan cipta untuk putra-putri bangsa yang telah gugur demi mempertahankan bangsa. Momentum bersejarah ini menunjukan bahwa pemuda-pemudi Indonesia kala itu memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang luar biasa. Hal ini dirasa tepat sebagai pelumas untuk mendidik generasi-generasi muda penerus bangsa agar senantiasa menghargai dan meneladani jasa pahlawannya.
Mengutip dalam referensi bebas bahwa sejak dikenalnya Teori Generasi, kita akrab dengan istilah baby boomber,generasi X, Y, Z, Alpha. Dengan pembagian itu kita juga dapat mengetahui generasi apa yang kini mendominasi di Indonesia ataupun di dunia. Jika digolongkan kategori usia generasi Z lah yang memiliki usaha dan peluang besar untuk mengembangkan dirinya. Generasi yang lahir diantara tahun 1995-2010 ini dibarengi dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin canggih. Hal ini lah yang menjadi faktor pembeda dengan generasi sebelumya. Faktor ini juga berdampak pada jiwa nasionalisme dan kepahlawanan yang ada pada generasi melek gadget ini.
Generasi Z memperoleh bibit jiwa kepahlawanan yang diturunkan oleh generasi sebelumnya, dan kebanyakan oleh generasi X yang lahir dikurun tahun 1965-1980. Hal ini besambung dengan generasi X yang diturunkan oleh generasi sebelumnya yang kebanyakan adalah pelaku sejarah. Dalam hal ini jelas bagaimana sikap kepahlawanan yang ada dalam diri tiap generasi tersebut berbeda.
Penggunaan teknologi canggih saat ini menjadi "kartu AS" generasi Z dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecanggihan itu juga dapat menjadi pisau bermata dua dalam penggunaannya. Tidak dipungkiri bahwa kini kita mudah untuk menerima budaya luaryang jika terus menerus akan menghilangkan jiwa nasionalisme kita. Lalu bagaimanakah langkah generasi Z agar tetap memiliki jiwa kepahlawanan dan nasionalime tinggi ditengah banyaknya inovasi canggih ini ?. Dimasa pubertas ini generasi Z dengan sifat alamiahnya akan mencari sosok atau leader yang dianggap sesuai dengan jiwanya. Dapat dikatakan bahwa generasi Z didominasi anak muda yang memasuki usia produktif juga mengalami hal yang sama, namun sebagian lain sudah memiliki pandangan atau sosok yang dapat diteladani. Generasi Z kini merindukan akan sosok dengan sifat kepahlawanan yang merakyat.
Saat ini gaya kepemimpinan tokoh bangsa yang berjiwa pahlawan dan merakyat mulai menunjukan keberadaanya dan kiranya dapat diteladani oleh generasi Z Indonesia. Ada dua tokoh yang fenomenal dengan menggunakan gaya seperti itu dan cukup banyak mendapatkan simpati dikalangan generasi Z , seperti Presiden Jokowi dan Dahlan Iskan (DI). Meyandingkan kedua tokoh ini memang memiliki banyak persamaan dalam gaya memimpin. Memiliki posisi yang strategis, kedua tokoh ini selalu nyentrik dan memiliki ide yang inovatif dan solutif serta tidak banyak berdebat. Keduanya juga memiliki latar belakang yang hampir sama, dimana tidak dilahirkan dari elit politik dan dibesarkan dalam kondisi keluarga yang sederhana.
Jokowi dan DI memulai segala ketercapaiannya dari nol dan dengan usaha yang menguras jiwa dan raga. Upaya Jokowi memulai usaha mebel awalnya hanya membantu saudaranya hingga menjadi ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) dan Dahlan yang memulai merintis karir dengan magang sebagai wartawan di majalah Tempo hingga menguasai Jawa Pos. Setelah Jokowi dan DI berproses dan meraih apa diinginkan, mereka tidaklah bersikap arogan dan bertindak sok penguasa. Bahkan jika dilihat dari cara berpakaiannya kini pun keduanya hampir sama, tidak memakai barang serba mewah dan memilih untuk menggunakan hasil kreasi bangsa sendiri. Gaya kepahlawanan yang merakyat pada tokoh ini juga terlihat jika mereka banyak menabrak protokoler yang terkesan malah menghambat kinerja mereka.
Gaya tidak biasa yang dimiliki kedua tokoh ini membuat center of interest dimata generasi Z.  Tidak banyak betele-tele dan mau berbaur langsung dengan rakyat serta dengan penampilan yang sederhanalah yang malah dipilih generasi muda Indonesia sebagai panutan. Dilain itu generasi Z, telah lelah dengan hanya menonton tokoh-tokoh bangsa yang suka berdebat, terkesan formal, hanya mengumbar janji dan tidak memiliki jiwa kepahlawanan yang merakyat. Meskipun DI akhir-akhir ini diberitakan tersandung kasus, namun hal itu tidak menyurutkan simpati publik utamanya generasi muda. Terlihat pada kolom MOMENTUM DAHLAN pada Jawa Pos banyak anak muda yang merindukan sosok kepahlawanan seperti DI mendukung secara moril. Begitupun dalam pemilihan presiden 2014, dimana pada awalnya sempat ramai di dunia maya untuk mencalonkan Dahlan Iskan dan Jokowi sebagai RI 1 dan RI 2.

Kehadiran kedua tokoh berjiwa kepahlawanan yang merakyat ini supaya menjadi dobrakan sosial untuk menanggulangi kegalauan sosial pada generasi Z.  Kerja keras dan cara-cara inovatif kedua tokoh ini jika diimplemtasikan ke dalam generasi Z dengan kemajuan teknologi maka kelak Indonesia akan banyak menghadirkan pemimpin berjiwa kepahlawanan yang merakyat dan dapat menguatkan jati diri Indonesia.    

Minggu, 21 Agustus 2016

MENUJU INDONESIA EMAS 2045



MENUJU INDONESIA EMAS 2045


            Setiap orang memiliki perpektif yang berbeda-beda mengenai suatu definisi, tergantung dari sudut pandang mana sesorang memaknainya. Seperti kata “emas” menurut Kamus Besar Bahsa Indonesia (KBBI), emas adalah logam mulia berwarna kuning yang dapat ditempa dan dibentuk, biasa dibuat perhiasan seperti cincin, kalung. Definisi ini menunjukan bahwa emas adalah suatu perhiasan yang mewah dan mahal yang dapat digunakan sebagai aksesoris seseorang agar terlihat lebih menarik dan menawan. Kata emas juga banyak digunakan sebagai imbuhan kata sehingga kata itu bermakna istimewa, seperti anak emas dan sepatu emas. Hal ini menunjukan emas adalah sesuatu yang “paling”daripada yang lain.

            Indonesia Emas 2045 sudah banyak orang yang mendengar entah lewat media sosial maupun cetak. Visi ini sudah digadang-gadangkan menjadi puncak dan titik balik semua cita-cita bangsa Indonesia. Merujuk pada tahun 2045 yang mana tepat bangsa Indonesia berusia satu abad. Dimana seratus tahun juga menunjukan usia sudah tidak muda lagi bagi sebuah bangsa. Bangsa di dunia yang telah mencapai seratus tahun atau lebih kemerdekaannya kebanyakan merupakan bangsa adidaya, seperti Amerika.  Pada tahun 2016, Indonesia memasuki usia 71 tahun dan masih menjadi negara ketiga, sisa 29 tahun lagi untuk bisa mewujudkan Visi Indonesia Emas ini.

            Sebelum jauh melangkah pada masa depan bangsa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan seperti dalam pidato Bung Karno yang menyebutkan “JASMERAH” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bangsa Indonesia juga dapat merdeka karena jasa-jasa pahlawan dan para pemuda revolusioner yang dengan gagah berani menentang penjajah. Generasi tua maupun muda serentak mengatakan tidak pada penjajahan dan berseru menuju kemerdekaan. Mereka memiliki satu visi dan cita demi Indonesia merdeka. Bahkan terdapat semboyan merdeka atau mati yang menggambarkan bahwa lebih baik mati daripada masih hidup dijajah. Pemuda pada masa memperjuangkan kemerdekaan yang dibawa adalah senjata, yang dilihat adalah darah dan mayat, yang didengar adalah rintihan dan orasi-orasi radio. Jika direfleksikan pada pemuda abad 21 kini jelaslah sangat berbeda dan perjuangan kini bukan untuk merebut kemerdekaan lagi, namun lebih kepada mempertahankan kemerdekaan dengan musuh-musuh bangsa sendiri. Masalah bangsa kini yang terbanyak adalah masalah perbedaan dan toleransi, kita seakan merakan keBhinekaan tapi banyak pihak yang justru berbuat seenaknya yang mengatas namakan perbedaan. Bahkan masalah perbedaan supporter klub bola saja ada pihak-pihak yang memprovokator hingga terjadi kerusuhan. Apa sebaiknya tidak bersatu semua demi kemajuan bangsa Indonesia ?. Salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk Indonesia Emas di masa depan  adalah pemuda.

            Tanggung jawab seorang pemuda kini untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidaklah mudah banyak “godaan” yang melenturkan semangat nasionalisme dan patriotisme pemuda kini. Perubahan zaman yang dibarengi dengan semakin canggih teknologi tentunya bukan merupakan faktor tunggal perbedaan pemuda dulu dan sekarang.           Faktor yang lebih penting adalah dalam diri pemuda itu sendiri yang mana tidak bisa memfilter arus globalisasi dan semuanya dilahap yang berakibat sering kali melalaikan masalah negeri ini. Alat untuk menyaring faktor perusak itu adalah dengan “REVOLUSI MORAL”. Moral dalam KBBI adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Sebab moral adalah bawaan yang tidak bisa diperoleh secara instan, maka perlu adanya perubahan meskipun dari hal sederhana hingga masalah yang kompleks. Revolusi atau perubahan moral juga dapat ditanamkan dimana saja ,kapan saja, dan dengan cara apa saja. Moral yang kini darurat dan harus segera dirubah adalah KEJUJURAN. Perilaku jujur adalah perilaku patriotis dan akan mendasari segala tingkah laku dan ucapan yang nantinya akan mencetak generasi muda pembaharu yang jujur dalam keadaan apapun.

            Perubahan Moral pada pemuda juga harus dibarengi dengan semangat juang dalam hidupnya. Dalam hidup tidak semudah yang dibayangkan, jika menginginkan sesuatu harus dengan berjuang dan bekerja keras. Penggunaan teknologi yang semakin canggih juga dapat membuat mudah berbagai urusan dan merupakan peluang emas untuk  membawa peran pemuda untuk memajukan bangsa. Penulis yakin bahwa Visi Indonesia Emas 2045 yang terdapat cita-cita bangsa dan telah dirumuskan oleh pendahulu kita dengan peran pemuda kini. Revolusi Moral bagi para pemuda untuk membuat generasi baru bukan generasi penerus. INDONESIA BISA, BANGKIT PEMUDA, BERANI JUJUR, MERDEKA.


CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...