Kamis, 15 Juli 2021

CERITA DARI MAHAKAM DULU


Mahakam Ulu.

Tersimpan banyak keelokan tradisi...
yang mengakar kuat dan membumi...
Pesona alammu kau sodorkan dengan alami...
Keasyikkan menuju dengan mengaliri Sungai Mahakam akan menjadi cerita tersendiri...
Sebuah daerah dengan beribu potensi..
Jangan biarkan kemajuan zaman merobahmu...
Menjadi kepuasan semata dengan menghancurkan identitas sebagai Penerus Tradisi Dayak...
Mahakam Ulu akan terus maju dengan perkembangan dunia..
Namun jangan sampai lupa ada lazuardi yang terus menghiasi..
jangan sampai lupa iringan Hudoq menjadi arti..
Bahwa Mahulu memiliki arti...
Arti tersendiri dalam hati...


Menuju kabupaten ini jalur paling cepat naik speedboat dari Tering, Kutai Barat. Kurang lebih 3 jam sampai di ibukota kecamatan, Ujoh Bilang. Dari Tering aku pikir disana banyak preman yang akan menarik baju dan tasku seperti calo di Bus Bungurasih haha. Ternayat emamng saat mobil yang aku tumpangi mendekat langusng banyak orang yang mendekat. Takut sih awalnya namanya orang baru kan sama membawa perlatan kantor lagi. Eh ternyata yang menggandeng aku masuk ke speed boat orangnya baik keliatanya aja banyak tato. Santai kawan-kawan yang akan ke Mahulu disini tarifnya 300 ribu per orang dan nggak akan kena harga calo. Pengalam saya yang orang awam saja ndak kena calo kok. Tapi tetep berlagak cuek saja.300ribu untuk ke Ujoh Bilang ya kalo ke Long Apari yang jauh disana butuh waktu dan uang lebih memang. Kabupaten Mahakam Ulu ini bersandingan langsung dengan Malaysia. Punya 5 kecamatan, dan pusat kebupatennya berada di Ujoh Bilang, Long Bagun.



Memang sih harga segitu cocok saja menurtuku. bahan bakar untuk speed boat yang digunakan ini ndak murah. Apalagi biasanya perawatan sama bayar karyawan, jadi ada semacam kernet lah buat bantu si nahkoda kalo ada penumpang yang tiba-tiba akan naik ke speed boat. Daan banyak waktu jam yang bisa kita naiki. Jadi tenang nggak bakal ketinggalan. Kalo didarat kita umpamakan speedboat ini adalah angkot wkwk emang sih jalur darat di Mahulu ini adalah sebuh PR besar bagi pemerintah. Sebagai jalur satu-satunya adalah di jalur sungai Mahakam ini.

Jangan khawatir bagi yang ndak bisa renang ada pelampung di setiap speed boatnya. Saat dalam perjalanan juga disuguhkan dengan pemandangan yang keren. Ikon selamat datang di Mahulu adalah Batu Dinding. Di tepi sungai mahakam dinding ini megah keren, aku minta ke sopir speed boatnya buat pelan mau ambil gambar drone.

Sesampainya kita di Long Bagun disana banyak penginapan berupa villa/guest house mulai yang sederhana sampai yang cukup mewah. Tapi mewah jangan dibayangkan hotel megah seperti di kota-kota besar. Harganya ndak mahal kok, ada yang 100-150an perhari. Disana juga ada persewaan sepeda motor jadi aman kalo kita kesana nggak membawa kendaraan, jangan tanya ada taxi atau grab ya guys. Ada salah satu guest house yang biasanya banyak disinggahi bule mancanegara, memang arsitekturnya apik, rumah kayu lalu didalamnya ada pernah-pernik khas dayak. Tidak hanya orang dayak disini juga banyak orang jawa dan madura yang saya temui. Orang Lamongan misalnya, mereka berjualan makanan kebanyakan. Oh iya perlu aku sampaikan juga kalau mau kesini dengan tujuan wisata atau perjalanan dinas seperti saya mending membawa uang cash lebih. Soalnya hanya ada satu ATM yaitu Bank BRI dan Bank Kaltimtara dan beberapa daerah seperti di Long Apari kadang harga sedikit lebih mahal. Memang sih harga mahal itu wajar, sebab untuk menuju lokasi saja butuh waktu dan tenaga yang tidak kecil.




Mahulu masih menyimpan keaslian tradisi Suku Dayak, Dayak Bahau misalnya. Rumah Adat juga masih terawat dan ada salah satu kesenian yaitu Hudok (tarian topeng) yang menurut saya tidak kalah sangar dengan Barong. banyak juga Lamin Adat yaitu rumah adat yang biasa digunakan buat warga kumpul atau latihan menari buat anak-anak. Saya sendiri sangat senang dengan motif dayak yang rumit dan detail. Uniknya disini anak-anak SMA boleh untuk menatto dengan syarat harus tatto dayak. Oh iya hanya ada satu jaringan provider dan itu juga sering putus nyambung. Meski demikian akses jalan darat yang perlu segera dibangun agar masyarakat dapat dengan mudah dan cepat disini. Banyak cerita tersimpan disini, Cerita yang "belum" terhubung ke semua karena jalan dan infrastruktur... Ayolah pemerintah atau siapapun yang terlibat dalam pembuat kebijakan untuk segera membantu saudara kita di sini.





Senin, 20 Juli 2020

[Ngaji]>>Ngasah Jiwo


[Ngaji]>>Ngasah Jiwo,
senantiasa belajar dalam kebaikan. Berbuat dan berpikir baik dan mencari jalan keluar adalah kedua hal yang sulit jika tidak dibiasakan. Telaten dalam belajar kebaikan itu, pelan-pelan memahami apa yang menjadi pertanyaan besar untuk dicari jawabannya. Bersama guru-guru kita dapatlah kita tiru pencarian jawaban itu. Ilustrasi saya beberapa waktu lalu untuk penghormatan kepada guru-guru

Saya sering membaca buku karya beliau-beliau ini. banyak hal yang didapatkan. Rasa kemanusaiaan semakin dipertajam. Ilmu semakin bertumbuh. bukan hanya soal duniawi tapi bagaimana kita memposisiakn diri sbegai makhluk langit yang banyak berdosa. Menyanggupi diri dengan batin untuk selalu mengabdikan diri kepada ilahi. Saya sering mendengarkan syair dari Gus Dur dan Mbah Teji untuk menenangkan hati, mengikuti Bang Bang Wetan dari Mbah Nun sebagai oase ditengah hiruk pikuknya keresahan duniawi. Sedikit menunduk sejenak mengerti dan mendalami arti hidup ini. Bukan untuk sekedar hidup namun bagaimana mengisi kehidupan ini dengan apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita sebagai insan.

MASUK DI PABRIK WINGKO BABAT, LAMONGAN



Ada kabar kemarin kalo Wingko diakui sebagai kue khas dari Semarang, wah tapi kok aku nggak sependaoat yaa. Soalnya kalo aku mudik ke Bojonegoro, kalo lewat Babat (perbatasan Lamongan-Bojonegoro) mesti beli wingko yang dijual asongan. Biasanya kalo naik bus asongan juga naik ke bis hehe nawari jajan setas kresek kecil gitu harganya 10 ribu kalo ndak salah. Isinya 15 buah.

kalian tau Wingko kan? Bentuknya pipih bulat kecil rasanya manis. Bahan utamanya adalah kelapa yang diberi gula atau pemanis trus dibakar di oven yang gede banget. Bahkan saat aku mengunjungi salah satu pabrik pembuat wingko ini aku liat masi dibakar pake areng jadi masi tradisional. Saat kesana juga aku mencicipi wingko yang fresh from the oven guyss heheh anget manis lumer jadi satu di mulut.






Wingko ini makanan legendaris menurutku, bahkan sudah menembuh beberapa daerah diluar Jawa. Biasanya dijual di toko souvenir yang ada di Lamongan seperti yang terkenal di WBL atau di makam Sunan itu. Tapi tetep yang di asongan masih juga berjualan.

Resep yang digunakan masing-masing pabrik juga berbeda loh. Bentuk dan ukurannya juga berbbeda tergantung masing-masing pabrik. Waktu aku ke salah satu pabrik ini bentuknya ndak terlalu besar jadi cukup dua atau tiga kali gigitan saja sudah habis.

Nah karena pandemi ini, aku kasian dengan pembuat wingko. Sebab pendapatannya menurun drastis. kasian mereka yang menggantungkan dari wisatawan, apalagi wisata di Lamongan belum semua dibuka lagi. Biasanya Bapaknya bikin 15 ember adonan sekarang hanya 1-2 ember saja. Kasian sih, tapi mau gimana lagi. Menurutku perlu ktia bantu dalam hal marketing atau pemasaran agar ndak berhenti di asongan atau toko souvenir aja sih. Apalagi sampe di klaim di daerah lain wah eman banget. WINGKO BABAT yo Wingko Babat hehe kalian harus coba nih kue satu ini, apalagi yang masih hangat!






Taman Apotek Sehat Hidup di Kembangbahu, Lamongan



Biasanya kalo di deket rumah kita ada TOGA atau Tanaman Obat Keluarga yang khusus menanam tumbuhan yang berkhasiat. Seperti jahe, pohon kayu putih, dan banyak lainnya. bahkan di sekitar rumahku dulu nggak hanya tanaman obat, jadi warga disana bisa menanam tanaman yang dapat dibudidayakan atau dapat dikonsumsi untuk bersama. jadi siapapun dapat menanam dan hasilnya dapat dikelola bersama. Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Desa Sukosongo Kecamatan Kembangbahu, Lamongan.

Disini ada salah satu gang yang dikhususkan oleh bapak kepala desanya sebagai Taman Apotik Hidup yang dinamai "Matahari".  Banyak sekali tanaman disini bahkan yang belum pernah saya lihat terdapat disini. Sebelum pandemi ini warga bahkan biasanya budi daya terong dan memelihara bebek, tapi karena pandemi ini mereka berhenti untuk sementara waktu. Saat memasuki gang kampung ini saya melihat tertata dengan rapi ditambah dengan warna-warna yang apik sehingga jika orang datang kesini akan terhibur lah. Di setiap tanamannya diberi nama dan sesuai khasiat masing-masing jadi sekalian untuk edukasi masyarakat. Ada salah satu bunga yang menarik kamera saya adalah bunga matahari yang sedang mekrok (mekar) jadi saya sempatkan untuk memotret beberapa kali hehe.






Warga di desa ini juga sangat humble, mereka ramah mau mengantarkan saya hehehe dari balai desa ke taman apotik ini. Kalo mau tau beberapa fotonya ini yang terjepret di kameraku. Menurutku hal baik semacam ini perlu dilanjutkan sih, jadi sebagai swadaya masyarakat kita tidak tergantung dengan pemerintah atau kalo emnag kita butuh obat emergency misalnya kan tinggal metik aja. gak perlu lahan bgede sih buat bikin tanaman obat semcam ini hanya ketekunan dan usaha dikit aja kita bisa memanfaatkan lahan sempit atau lahan  sisa di depan rumah kita. kalo toh mungkin gaada sekarang kan lagi rame ada urban farming. Memang urban farming dan semacamnya itulah yang menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan dengan lahan sempit tapi mau bercocok tanam. Kalo kita lihat biasanya ada yang make paralon atau menggunakan sampah plastik yang di daur ulang.




Mungkin disini pemerintah kudu meningkatkan perhatiannya yah, agar masyarakat itu bisa semangat, gini aja mereka sudah semangat apalagi kalo sampe pemerintah turun tangan. Bakal asik tuh, dan bisa nambah keindahan di desa kita lo guys, jadi warna-warni nya nggak dari cat rumah aja siih, jadi bisa dari bunga matahari yang mekar trus bisa dari warna hijau daun apa warna-warni buah-buahan bakal kangen tuh bagi siapapun yang  ngerantau jauh dari desanya hehe. Keren dah hal semcam ini, buat temen-temen yang dirumahnya ada TOGa atau tanaman obat semacam ini yuk bisa sharing.




Selasa, 23 Juni 2020

MAGANG DI BUMN PELINDO III: SEBUAH PENGALAMAN AWAL MENJADI ORANG KANTORAN

Ini saat pelepasan anak magang, keliatan kan wajahnya yang anak magang mana hehe, ada dua anak magang satu namanya Yanti dari UB Desain Grafis

Saya kira semua tidak ada ruginya. Memang awalnya sedikit bimbang untuk memulai. Sempat terpikir untuk melanjutkan sinau di ruang kelas atau sinau di tempat lain. Saya memilih untuk sinau di luar kelas, supaya melihat dan memahami hal-hal yang kongkret di luar sana. Coba melihat satu persatu BUMN @kementerianbumn lewat program @forumhumancapitalindonesia yang sesuai dengan keilmuan saya, namun waktu pengumuman di luar dugaan.  

Mendaftarkan diri dengan memenuhi syarat-syarat (biasanya tergantung pihak kampus, jika di Universitas Airlangga waktu saya dulu pendaftarannya melalui PPKK atau program kewirausahaan atau semacamnya lah jika di kampus lain. Biasanya menyertakan CV, Skrip Nilai dari semester awal hingga terbaru, motivation letter yang isinya alasan kenapa kita memilih BUMN. Soalnya waktu itu saya bisa memilih BUMN yang sesuai dengan jurusan atau related dengan rumpun ilmu saya, tapi ternyata tidak semua BUMN membuka pemagangan mahasiswa. Mungkin hampir semua BUMN Bank membuka untuk magang reguler bukan program resmi dari kemernterian BUMN seperti yang saya ikuti. Alhamdulillah saya langung dapat diterima di PELINDO III salah satu BUMN Kepelabuhanan. 

Dari berita yang saya terima baru-baru ini saya mendengar kalo proses seleksi semakin diperketat, ditambah dengan wawancara. Sebab untuk menanyakan kesanggupan dan komitmen dari calon pemagang untuk stay selama 6 bulan atau satu semester, tidak dapat keluar ditengah jalan. 

Awalnya tidak terpikirkan sama sekali diterima dan masuk di @pelindo3 yang sangat jauh dari background ilmu saya. Istilah-istilah kepelabuhanan yang baru, rutinitas bangun pagi dan memakai baju rapi, dan kegiatan harian lainnya. Jauh beda dengan yang 4 tahun saya lakukan sebelumnya. Ada rasa cemas karena saya cenderung tidak suka berada dalam ruang kantor yang terkotak-kotak dan cenderung membosankan. 


Ini setelah kami dapat sertifikat magang yang didalamnya ada nilai, sesuai arahan Dirut SDM sertifikat ini bisa bermanfaat nanti kalo mau daftar ke BUMN hehe

Setiap bulan kami selalu ada agenda CEO Talk yang selalu berganti-ganti pematerinya dari kalangan direksi, jadi kami para pemagang bisa menanyakan apapun.

Ini saat kami selesai CEO Talk yang pematerinya Mas Eric,


Kerjaan sehari-hari juga sangat enjoy, saya menginput daftar pertanyaan oleh pegawai di sebuah aplikasi yang kemudian langsung terjawab semacam Q n A. Sehari hari kami juga bergurau di kantor, tidak se tegang yang saya kira sebelumnya. Selain itu pekerjaan anak magang disini tergantung sesuai dengan subdit yang dimasuki.  Bahkan di Pelindo III ini saya senangnya tidak disarankan untuk menyuruh anak magang untuk hanya melakukan fotokopi atau hal-hal yang sepele dapat dilakukan. Namun lebih kedalam kita dapat masuk dalam proses bisnis yang ada.  

Kegiatan magang kita sebagai mahasiswa (soalnya ada magang yang anak SMK) langsung dikelola oleh PDS (Pelindo Daya Sejahtera) anak perusahaan Pelindo iii yang menangani SDM. Jadi setiap bulan kami diadakan CEO talk yang langsung mendatangkan direksi dan kita dapat bertanya seluas-luasnya. Begitulah rutinitas. Di Hari rabu kami selalu ada Bike To Work yang di mulai di depan Kimia Farma Jalan Darmo menuju kantor. Di akhir magang saat itu kami diminta untuk membuat suatu ide atau inovasi yang dapat diimplementasikan ke perusahaan, saat itu saya membuat buku edukasi khusus istilah kepelabuhnanan dan sejarah pelabuhan Tanjung perak, selain itu saya juga memberikan ide untuk membuat museum Tanjung Perak seperti Museum Maritim di Tanjung Priok, yang dikelola Pelindo 1.


Saat dimintai foto sama Pak Wawan di Bike To Work


Ternyata bayangan itu semua terbantahkan saat masuk dan menjadi keluarga paling ragil di Manajemen Perubahan. Terkejut dengan ruangannya yang sangat jauh dari kesan kantor, malah seperti pergi ke rumah sendiri. Tidak ada skat di ruangan yang membuat saya nyaman. Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan guyonan, ritme kerja, dan kebersamaan bersama keluarga baru ini. Selama satu semester, saya akhirnya mendapat hal yang tidak didapatkan di ruang kelas. Saya sangat nyaman berada di lingkungan ini. Dituntut untuk tersu berpikir kreatif dengan mengeluarkan sebuah ide yang dapat diimplmentasikan kepada seluruh karyawan di Pelindo III.


Ini saya ikut acara pelepasan dan kenalan Pak Memet, berikut ini adalah keluarga di Change Management minus Mas Eric yang sekarnag pindah ke Semarang

Ini Unit Transformasi dan Pengembangan Bisnis dimana Change Management di bawahnya.

Secara pribadi, semakin yakin bahwa cara komunikasi dan attitude lah yang jauh lebih dilirik dan dihargai ketimbang kepintaran yang melangit. Soal kepintaran bisa dilatih, tapi attitude dan komunikasi butuh pembiasaan yang tidak sebentar. Terima kasih keluarga kecil di Change Management. Pengalaman dan ilmu disana saya yakin akan menjadi sangu yang berharga, entah kapan tapi saya yakin. Glad to be a part of change management!!


Ini saat penyerahan kenang-kenangan dari anak magang ke Pelindo III, waktu itu kami hadiahi lukisan kebetulan saya yang melukis dengan tema Terus Berlayar PELINDO III
INILAH DETIK MENEGANGKAN saat presentasi inovasi terakir di depan DIRUT SDM langsung wow seperti sidang skripsii


Alhamdulillah saya menjalin baik dengan pegawai disini salah satunya dngan ikut event bersepeda di Semarang


BERSEPEDA DI TENGAH PANDEMI? HANYA TREN KAH?


Bersepeda di tengah Pandemi kini menjadi tren tersendiri bagi sebagian besar orang. Itu yang saya lihat di beberapa ruas jalan di Kota Surabaya. daaerah dengan pertambahan Covid yang sangat pesat di Jawa Timur. Saya akui saya juga hobi bersepeda, namun sudah lama. Melihat adanya fenomena semacam ini tentunya ada sara senang dan kecewa. Senang sebab semakin banyak orang bersepeda sehingga dapat mengurangi polusi dan mengurangi kemacetan (meskipun sama tergantung waktu saja). Namun juga kecewa sebab banyak yang menjadi seenaknya dengan tidak menghiraukan rambu lalu lintas. Meskipun hanya bersepeda tentu harus kita patuhi rambu lalu lintas, sebagaimana kita menggunakan kendaraan bermotor biasanya.





Selain itu menggunakan safety items juga sangat saya rekomendasikan. Seperti dengan melengkapi diri memakai helm, sarung tangan, dan sepatu. Meskipun itu tergantung selera, Seng penting gowes e, seng penting dengkul e, seng penting mlaku. Oke itu juga baik, namun ada cara yang lebih baik lagi untuk kita membiasakan hal positif ini. Beberapa langkah provokatif juga sudah dilakukan oleh komunitas-komunitas sepeda agar menaati peraturan lalu lintas dan mengguanakan pelindung diri. Menurut saya pribadi sih mending langsung ikut saja ke dalam komunitas sepeda yang kita inginkan, bisa sesuai dengan jenis sepeda kita atau biasanya komunitas komplek. Jadi ada kawan diskusi atau seenggaknya kita bisa gowes bareng-bareng.

Salah satu hal yang selalu saya luput adalah membawa kunci ganda untuk pengaman. Bahkan saya sudah pengalaman kehilangan sepeda 2 kali di kosan. Hmm. Seperti tidak ada kapoknya, tapi saya selalu merantai sepeda saat dikosan sekarang. Mungkin beberapa orang mengerti harga dari sepeda apalagi kasus Dirut Garuda yang menyelundupkan Sepeda Bromptonnya di pesawat yang harganya 50 jtan. Waduhh jadi tau semua deh harganya.



Saya juga akan melihat jika satu atau tiga tahun kedepan fenomena ini tetap ada jadi memang orang-orang sudah sadar bahwa pentingnya bersepeda dapat menggantikkan kendaraan bermotor dan banyak manfaatnya. Namun jika hanya fenomena sesaat atau mengikuti tren, wah sama seperti biasanya dong. Di goreng setelah itu tidak diteruskan, sangat sayang jika hal ini memang benar hanya menjadi tren. Seperti beberapa tahun kebelakang banyak yang menggunakan sepeda Fixie (Fixed Gear) yang warna warni, beberapa tahun kebelakang juga tren sepeda BMX.



Saya pernah bermimpi bersepeda dengan salah satu kawan saya di salah satu negara di Eropa. Saya melihat banyaknya pesepeda dengan rapi di jalur sepeda dan menyadari akan rambu-rambu lalu lintas. Hmm saya hanya dapat membayangkan jika kota-kota disini sangat menghargai para pesepeda dan pejalan kaki. Seperti dengan membangun jalur sepeda dan trotoar yang benar-benar dapat digunakan dengan baik. Saya hanya bisa berharap sebab saya bukan siapa-siapa. Hanya pesepeda biasa dengan boks perpustakaan di belakang sepeda saya....




Senin, 15 Juni 2020

MELIHAT KENORMALAN DI SALAH SATU SUDUT KOTA BATU: VAKANSI DENGAN KAWAN SMA


Selesainya PSBB di Malang Raya bukan memastikan bahwa virus corona telah selesai. Bahkan malah memberikan rasa khawatir bahwa virus ini semakin banyak keluar masuk. Namun masih belum ditemukan vaksin untuk menangani virus ini. Tahapan selanjutnya adalah New Normal yang diharapkan dapat mengangkat perekonomian masyarakat kembali. Upaya ini pun masih menjadi evaluasi di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan ditengah New Normal ini banyak yang daerah yang masih "merah".





Kemarin Sabtu (13/6) Saya bersama kawan SMA di Kota Batu piknik ke salah satu sudut di kota dingin ini. Kami ber enam dengan warna pakaian kami sama warna hitam. Jalan di sekitar Selecta kami susuri. Hawa sejuk khas Kota Batu mengalir deras di sekitar tubuh saya. Saya melewati ladang-ladang perkebunan sayur dan apel milik warga. Khas Kota Batu, Apel warna ijo kemerahan yang cukup menarik perhatian untuk di potret.


Menelusuri di atas aliran Sungai Brantas, yang juga merupakan aliran Coban Talun memanjakan mata. Batu-Batu besar kali khas sangat segar dengan suara air mengalir mendamaikan hati. Sekedar piknik dengan memanasi sosis dan bakso goreng. Sarapan Nasi Empog di pinggir aliran sungai sudah memberikan saya sedikit penyegaran ditengah kesibukan ini.



Melihat beberapa lahan warga penuh dengan potensi yang sudah lama ada disini, Kota Batu layak untuk tetap diperhatikan. Melihat beberapa petani yang sedang sibuk dengan arit nya, saya sangat optimis bahwa petani di Kota Batu dapat berjaya. Bukan hanya digerus terus menerus dengan pembangunan pariwisata buatan, namun bagaimana bisa mengelola potensi alam yang ada. Biarkan yang hijau, biarkan tanaman yang diharapkan petani dapat menghasilkan.







Mari sebagai generasi penerus sepatutunya kita bangga dan harus memikirkan kedepan bagaimana kelanjutan dari arah pembangunan Kota Batu dengan tetap memerhatikan petani. Sebab ini menjadikan Kota Batu dalam konsisten menjaga kekayaan tanah subur yang dijadikan sebagai sentra bunga dan buah di Kota Batu.

Bercengkerama bersama teman-teman lama menajdikan sedikit teringat pada masa bersama dulu. Selalu begitu saat kembali dan bertemu. Apa mungkin ini yang saya rasakan dengan akibat dari merantau. Hanya dapat bersama mereka satu dua kali saja itu pun harus bisa membagi waktu dengan baik. Membagi waktu bertemu dengan keluarga, teman dan pacar.

Tidak mudah memang melupakan kebersamaan terutama bersama kawan seperjuangan. Mereka sudah bertumbuh dan semakin dewasa. Saya rasa saya juga, namun canda mereka tetap sama. Saya pun merasa seperti itu. Mungkin keseriusan kita hanya ada di ruang kerja saja, selepas itu saat kita kembali reuni mini semacam ini semua lebur menjadi anak-anak SMA lagi. Tidak terasa sudah 5 tahun perjalanan selepas kita SMA. Banyak hal yang di dapatkan, untuk proses menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mandiri kedepan. Hanya soal waktu untuk menjadikan diri kita lebih baik.




CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...