Senin, 04 Februari 2019

PERAN WANITA DI ASIA TENGGARA : PEREMPUAN-PEREMPUAN DALAM PERANG VIETNAM

www.thirteen.org


            Dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan tercatatat dalam historiografi sejarah. Terlihat bahwa sejarah hanya menuliskan peran kaum laki-laki. Di dalam kehidupan, sejak dahulu wanita diposisikan di bawah status laki-laki. Hal tersebut memiliki dampak yang luas dalam tatanan hidup masyarakat. Pada zaman jahiliah di kawasan Arab misalnya, kaum wanita tidak berharga di mata laki-laki, bahkan wanita dianggap sama dengan binatang atau wanita itu berambut panjang, tetapi berpikir pendek[1]. Masih banyak perkataan lain yang intinya adalah merendahkan derajat wanita. Begitu pun pada pola kehidupan sosial saat dulu wanita hanya sebagai pelengkap untuk kepentingan dan kebutuhan para lelaki. Akibatnya, ruang gerak wanita dibatasi dan hanya di ranah domestik atau lokal saja. Adanya anggapan di atas kemudian menyebabkan pula berbagai tindakan yang semena-mena terhadap kaum wanita, seperti kekarasan, penindasan, pelecehan seksual, dan sebagainya[2].
             Tekanan yang dihadapi kaum wanita hampir dirasakan di seluruh kawasan di dunia. Di India, Tiongkok, Arab, dan Perancis, wanita atau seorang istri yang melahirkan seorang anak perempuan akan dibunuh. Salah satu faktor hal itu terjadi adalah belum adanya peraturan atau hukum dan juga belum adanya pemahaman umat-umat saat itu terhadap tafsiran ajaran agama. Sejak itulah wanita mulai berjuang untuk menuntut kebebasan dan haknya agar setara dengan kaum lelaki. Dalam perjuangan ini, wanita tidak putus asa. Mereka yang sudah tiada digantikan oleh pejuang baru[3]. Gerakan penyadaran terhadap kesetaraan gender mulai digiatkan melalu interpretasi kembali terhadap pemahaman ajaran agama yang berspektif gender.
           
            Di wilayah yang berjumlah sebelas negara dan memiliki keragaman budaya dan bahasa yang besar, kawasan Asia Tenggara memiliki posisi yang relatif menguntungkan kaum wanita. Dibandingkan dengan wanita di Asia Timur dan Selatan, wanita di Asia Tenggara memiliki keuntungan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah aspek budaya tradisi (menghormati wanita); tidak ada pembebanan pada faktor kemewahan, utamanya dalam tradisi pernikahan (prosesi mahar); jika telah menikah akan sering tinggal bersama atau dekat dengan orangtua; wanita memiliki peran penting dalam pembagian ritual adat; mereka juga berperan penting dalam pertanian dan mendominasi di dalam pasar lokal[4].
Jauh sebelum itu, pengaruh wanita di Asia Tenggara pada sekitar abad XV-XVI memiliki perbedaan utama dalam hal peranan dan memiliki otonomi yang lebih dalam hal sosial-ekonomi, meskipun batas-batas bidang pekerjaan laki-laki dan wanita masih tampak jelas. Bidang kaum wanita mencakup penyemaian benih, penuaian, penanaman sayuran, penenunan, pembuatan pot, berbelanja di pasar, dan melakukan upacara-upacara menyangkut leluhur, serta sebagai perantara dengan alam roh[5].
            Pada abad XIX, Asia Tenggara memiliki sumber ekonomi dan secara geografis memiliki posisi yang strategis antara India dan Cina. Kedua hal tersebut menyebabkan keterlibatan Eropa. Di akhir abad XIX atau sebelumnya, seluruh wilayah di Asia Tenggara telah dibawah kendali Eropa, kecuali di Thailand. Di beberapa wilayah, kaum wanita banyak direkrut sebagai buruh atau tenaga kerja yang diupah murah dan dipekerjakan di perkebunan, seperti teh, gula, tembakau, dan pabrik pengolahan. Pada awal tahun 1900-an, masih banyak juga wanita yang bekerja dalam pelayanan domestik, seperti pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Pekerjaan yang demikian dinilai oleh wanita sebagai pekerjaan yang aman dan tidak menimbulkan presepsi yang buruk karena dikerjakan di dalam rumah. Selain itu jam kerja juga tidak terlalu banyak dan berbeda dengan wanita pekerja di pabrik yang bekerja dari pagi hingga malam hari[6].
            Penguasaan Kolonial di Asia Tenggara juga merubah tatanan kehidupan di dalam masyarakat, begitu pula posisi dan peran wanita. Seperti dalam tingkatan desa, pemerintahan kolonial memperkuat posisi kaum laki-laki sebagai kepala keluarga dan terdapat reformasi di dalam hukum adat yang memberikan otonomi yang cukup kepada wanita. Diberbagai wilayah hukum-hukum keluarga juga diperkuat dengan hukum patrilineal. Hal tersebut juga semakin mendorong untuk lebih memilih anak laki-laki dari pada anak perempuan. Meskipun demikian, wanita masih banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, bahkan juga menjadi seorang tokoh pergerakan untuk memberontak pemerintah kolonial. Begitupun peningkatan angka melek huruf (terutama di Filipina) dan adanya penyebaran paham feminisme sehingga mendorong wanita untuk menghadapi permasalahan ketidaksetaraan gender dengan kaum lelaki.
            Di akhir abad ke-XIX gerakan nasionalis dan pemberontakan kepada penjajah berkembang di seluruh Asia Tenggara. Dalam hal ini tokoh laki-laki memiliki fokus yang lebih utamanya dalam politik dan kemerdekaan. Meskipun demikian, keterlibatan aktif wanita dalam gerakan anti-kolonial dan juga sebagai tokoh pejuang akan tetapi sering dipandang hanya sebagai pembantu bukan mitra[7]. Sikap seperti itu juga masih terlihat dalam gerakan kemerdekaan setelah kekalahan Jepang di Perang Asia Pasifik yang menduduki sebagian besar Asia Tenggara diantara tahun 1942 dan 1945.
            Pada akhir Perang Dunia ke II kolonialisme Eropa di Asia Tenggara mulai runtuh. Disebabkan hal tersebut negara-negara yang menyatakan kemerdekaannya kemudian berkomitmen ke depan untuk kesetaraan gender. Dalam perkembangannya wanita Asia tenggara yang berperan secara langsunng dan memiliki jabatan politik meningkat, terutama dalam pemerintah daerah, namun hanya di Filipina yang memiliki representasi perempuan yang berperan di pemerintah nasional yang meningkat. Saat wanita berhasil menduduki jabatan dan memasuki arena politik maka mereka akan menemukan budaya dominasi dan pengaruh laki-laki. Beberapa individu wanita telah mencapai jabatan politik tertinggi pada abad ke XX di kawasan Asia Tenggara mengalami kemajuan. Hal itu juga dikarenakan terdapat wanita yang berpengaruh dan kemudian menjadi tokoh penting di negara yang  dipimpinnya. Seperti Aung San Suu Kyi (lahir 1945) seorang aktivis politik di Myanmar dan menjadi pemenang Nobel Perdamaian di tahun 1991, Corazon Aquino sebagai seorang tokoh politik dan pemimpin wanita dari Filipina saat krisis politik melawan tokoh oposisi Ferdinand Marcos[8]. Begitupun pergerakan kaum wanita Indonesia yang tidak ketinggalan dalam memenuhi kewajibannya untuk ikut memperkuat kemerdekaan tanah airnya. Beberapa tokoh wanita Indonesia yang ikut andil peran dalam memperjuangkan kemerdekaan sering didengar dan sering ditulis dalam buku-buku sejarah seperti R.A. Kartini, Tjut Nja Din, Dewi Sartika, dan lain sebagainya. Jika diilihat lebih dalam lagi para pemimpin wanita tersebut kebanyakan besar adalah terlahir dari keluarga elite politik atau memiliki peran besar sebelumnya. Kesempatan untuk berperan dan tampil didepan publik juga akan lebih banyak dimiliki oleh kalangan menengah atas karena akses pendidikan yang lebih tinggi dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan wanita dari kalangan bawah.
            Peranan atau partisipasi wanita di Asia Tenggara utamanya dalam hal berpolitik tidak jauh berbeda dari yang terjadi di Asia Selatan. Diantaranya yaitu masih adanya pemikiran stereotip gender, mitos yang berkaitan dengan sosial budaya, bahkan ajaran agama. Misalnya, umat Buddha yang masih percaya jika kelahiran seorang wanita menunjukan bahwa ada hutang/jasa yang harus dibayar dalam kehidupan masa lampau. Walaupun negera-negara Asia Tenggara telah membuat kemajuan untuk mempromosikan kesetaraan gender, namun terutama di Vietnam dengan budaya warisan Konfusius yang masih kuat[9].
            WANITA “MILITER” DALAM PERANG VIETNAM.  
            Peran wanita seperti dipaparkan diatas hanya sedikit dituliskan dalam sejarah begitupun perannya kebanyakan dalam kegiatan perekonomian dan kaum pekerja (buruh). Pada abad ke XX barulah peran wanita mulai tampak kepublik yaitu dengan menjadi jabatan tertinggi di dalam kancah politik. Pada tahun 1950-an saat di beberapa negara di Asia tenggara telah menyatakan kemerdekaanya, di Vietnam terjadi perang dan berlangsung cukup lama yang dikenal dengan Perang Vietnam atau Prang Indocina kedua. Perang Vietnam terjadi setelah terjadi kesepakatan dalam Persetujuan Jenewa pada tanggal 21 Juli 1954, yang hasilnya membagi Vietnam menjadi dua bagian. Vietnam bagian utara menamakan diri sebagai Republik Demokrasi Vietnam dengan ideologi komunis, sedangkan Vietnam Selatan menamakan diri dengan Republik Vietnam yang berideologi nasionalis. Setelah perjanjian tersebut kemudian diadakan pemilihan raya / pemilihan umum yang bertujuan untuk menyatukan kembali kedua wilayah tersebut. Pihak Vietnam Selatan berkeberatan dengan alasan bahwa pemilihan umum secara bebas tidak mungkin dilaksanakan selama Vietnam Utara dibawah kekuasaan komunis[10].
            Persetujuan Jenewa kemudian melahirkan dua pihak Vietnam yang saling bertentangan. Pertentangan tersebut akhirnya memeuncak pada perang saudara. Masing-masing belah pihak dengan ideologi yang berbeda kemudian dibantu oleh negara yang berideologi sama. Vietnam Utara yang berideologi komunis mendapatkan bantuan militer baik tenaga maupu peralatan oleh Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina dan Vietnam Selatan mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat.
Kedua kubu tersebut diatas kemudian melahirkan adanya Gerakan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan ( FPNVS )[11]. Gerakan tersebut bertujuan untuk melawan rezim yang dikuasai oleh Amerika Serikat untuk menerapkan tujuan dari ideologi bebasnya. Perselisihan tersebut mendesak Amerika Serikat untuk berhadapan dengan pasukan dari Vietnam Utara yang dipimpin oleh Ho Chi Minh dan pasukan Viet Kong di Vietnam Selatan. Pada akhir perang ini diselenggarakan perjanjian di Paris pada thun 1973 yang berisi bahwa Amerika menyerah tanpa syarat kepada Vietnam dan Ho Chi Minh berhasil menguasai Vietnam.

Didalam perang ini tentu terdapat peran wanita dari pihak Vietnam utamanya. Peran wanita Amerika juga terlihat, bahkan hampir ribuan wanita yang turut andil ikut dalam perang ini dan kebanyakan berprofesi sebagai perawat dan jurnalis perang. Dalam hal ini wanita Vietnam mengambil peran besar dan aktif terlibat langsung dalam perang. Hal tersebut sejatinya melanggar ajaran Konfusius yang masih melekat di kehidupan masyarakat Vietnam. Dimana wanita Vietnam sejatinya harus menjaga kesucian dan menguasai keahlian tertentu seperti memasak serta menjahit. Namun dogma-dogma tersebut harus berbenturan dengan kondisi nyata di Vietnam saat itu yang mengharuskan mereka mengangkat senjata dan berperang. Dari tahun 1920 sebenarnya beberpa organisasi wanita di Vietnam terbentuk. Pembahasan mengenai wanita juga banyak dibahas dalam media dan literatur yang saat itu Vietnam masih dikuasai oleh Perancis. Peran Partai Komunis Vietnam juga membuka pintu untuk Wanita Vietnam berperan dan bergabung di dalam partai. Selama bergabung, bersama-sama Wanita Vietnam berpartisipasi dalam perjuangan untuk membebaskan negara mereka, menjanjikan mereka kembali hak-hak politik, sosial, dan ekonomi yang sama dan status di bawah rezim baru[12].
            Pada masa perjuangan untuk membebaskan negaranya, wanita Vietnam di utara dan selatan berdiri dan mengangkat senjata untuk kemerdekaan mereka. Meskipun seperti dijelaskan diatas bahwa persepsi yang tertanam dalam diri wanita adalah untuk tetap bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya dan mengurusi rumah tangga. Selain itu juga wanita harus berperan dan bertanggung jawab dalam produksi pertanian (makanan) agar para prajurit dapat makan.
 Banyak wanita Vietnam saat itu masih belum mengerti apa yang dilakukan Amerika terhadap negaranya. Disana mereka hanya mengerti bahwa negaranaya telah diserbu dan mereka dibutuhkan untuk membantu dan melindungi Vietnam. Di Vietnam Selatan banyak wanita yang bergabung dengan pasukan pejuang Viet Kong, sedangakan wanita di bagian utara ikut dalam Viet Minh. Ho Chi Minh sebagai penguasa saat itu mengetahui bahwa jumlah wanita di Vietnam saat itu berjumlah banyak bahkan hampir setengah jumlah warga Vietnam. Dia berpikir bahwa jika wanita tidak merdeka maka semua warga pun tidak akan merdeka dan berjuang.
  Di Vietnam Selatan terdapat tokoh wanita, Nguyen Thi Ut Tich yang berjuang secara gerilya. Pada awalnya dia hanya sebagai prajurit baru kemudian dia dibesarkan dengan latar belakang prajurit. Saat suaminya meninggal dia melanjutkan perjuangannya hingga dia terbunuh pada tahun 1965. Nguyen Thi memiliki keahlian untuk merencanakan dan mengeksekusi penyergapan. Hasil strateginya juga berhasil membunuh musuh. Berkat keahliannya, dia juga berhasil menyita pos-pos musuh dan menjalin hubungan dengan komandan prajurit dan melucuti senjata musuh. Bahkan dia juga mendapat gelar “Srikandi” dari Tentara Pembebasan Vietnam. Sepeninggal Nguyen Thi, kemudian banyak gadis muda dari Viet Kong yang berusaha untuk menirunya.
           
Wanita yang berperan lain seperti Nguyen Thi Dinh dan Ca Le Du juga berhasil menjadi pemimpin perjuangan mereka. Hal tersebut juga mendapat dukungan di Vietnam Utara banyak wanita yang bersedia mengajukan diri untuk bekerja di ladang mereka ataupun di industri untuk upaya perang. Selain menjalankan profesi sebagai pekerja, wanita Vietnam juga dilatih menggunakan senjata. Selain itu juga dilatih oleh milisi pejuang untuk mempertahankan jalan dan jembatan. Wanita dari Vietnam Utara ini juga membantu pasukan lain dengan membawakan makanan dan amunisi. Wanita pada perang Vietnam mampu memeberi semangat juang dalam memerangi ancaman terhadap negara mereka. Ketika perang berakhir wanita Vietnampun akhirnya bertransformasi kembali ke peran utama mereka yakni sebagai seorang istri, ibu dan penghibur[13].
           
DAFTAR PUSTAKA
Ani, Hajjah Idrus. 1980. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. Medan : PT Percetakan dan Penerbitan Waspada.
Iljas, Bachtiar.1967.Perang Vietnam dan Netralisasi Asia Tenggara.Yogyakarta.
Musdah, Siti Mulia dan Anik Farida. 2005. Perempuan dan Politik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga1450-1680 Jilid I Tanah di Bawah Angin. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Omet Rasidi. 2014. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. Bandung : UPI (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________. http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
_____________.  http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________.  http://www.womeninworldhistory.com/essay-02.html . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).
_____________. http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).


[1] Hajjah Ani Idrus. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. 1980. Hlm 1.
[2] Siti Musdah Mulia dan Anik Farida. Perempuan dan Politik. 2005. Hlm vii
[3] Ibid.
[4] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[5] Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin. 2011. Hlm 187
[6]  Adinda Fatin. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160796-RB04A89pd-Peran%20dan.pdf. 2009. Hlm 1. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[7] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. Diakses pada Jumat, 30 Desember 2016.
[8] Ready Susanto. Ensiklopedi Tokoh-Tokoh Wanita, Dari Mistikus Hingga Politikus. 2008. Hlm 34,50.
[9] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[10] http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[11] Omet Rasidi. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. 2014. Hlm 2. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[13] http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).

Minggu, 03 Februari 2019

INDIA DAN ASIA TENGGARA



www.7continentslist.com
             
     Wilayah Asia Tenggara secara geografis menjadi sangat strategis untuk jalur pelayaran dan perdagangan pada masa lalu. Secara otomatis bangsa-bangsa dari luar banyak yang singgah dan berhubungan dengan masyarakat Asia tenggara. Konsep pelayaran yang semakin maju dengan berkembangnya ilmu perkapalan dan pelayaran utamanya di India dan Cina. Pengaruh bangsa luar terhadap masyarakat Asia Tenggara tentu banyak membawa perubahan yang signifikan. Masyarakat Asia Tenggara mulai mengadopsi budaya-budaya luar, kerajaan-kerajaan mulai mucul di Nusantara dengan mempratekkan agama dari India dan bahasa Sansekerta[1]. Proses masuknya pengaruh India atas Asia Tenggara ini banyak dikenal dengan istilah “Indianisasi”, yang dipakai oleh George Coedes. Namun dalam perkembangan Hinduisasi di Asia Tenggara juga beriringan dengan proses masuknya Buddhisme. Masuknya aliran kepercayaan yang dianggap baru oleh masyarakat pribumi ini juga melebur dan terakulturasi dengan kepercayaan lokal pada saat itu yakni penyembahan terhadap roh nenenk moyang dan benda-benda magis (animisme dan dinamisme). Perkembangan kebudayaan juga berkembang dan mulai diadopsi masyarakat lokal seperti arsitektur atau seni bangunan, seni sastra, dan sistem sosial yang berlandaskan budaya Hindu Buddha namun tetap berakulturasi dengan budaya lokal masyarakat setempat.
            Pengaruh budaya India diatas terus berkembang hingga mempengaruhi tatanan sosial politik masyarakat Asia Tenggara. Terbukti dengan pendirian kerajaan-kerajaan di kawasan Asia Tenggara saat itu yang beraliran Hindu dan Buddha. Coedes menganalisis bahwa perubahan tempat perdaganagan menjadi suatu tatanan politik yang terorganisir tersebut dapat terjadi dengan dua jalan: adanya paksaan India kepada penduduk pribumi yang telah meresapi unsur-unsur India atau seorang pribumi yang mengukuhkan kekuasaan dan menerima unsur luar dengan memeluk agama dari India. Tentunya dalam praktik berpolitik di dalam kerajaan utamanya yang beraliran Hindu masih menggunakan sistem kasta yang dikenal di India namun telah mengalami perubahan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat pribumi[2]. Dalam persebaran kebudayaan India terdapat asumsi yang berbeda dari beberapa tokoh sejarawan. R.C Majundar mengutarakan pendapatnya bahwa kaum ksatria dan prajurit India lah yang menyebarkan kebudayaan India dan mendirikan beberapa koloni di kepulauan Indonesia. N.J. Krom lebih menekankan pada para kaum pedagang India yang berinteraksi langsung bahkan melakukan perkawinan dengan pribumi. Menurut Van Leur kaum Brahma lah yang berperan menyebarkan budaya India ditambahi dengan keperluan keagamaan.
            Penyebaran pengaruh kebudayaan India diikuti dengan proses masuknya Hindu-Buddha di Asia Tenggara mengubah pola kehidupan masyarakat di kawasan itu, terutama dalam aspek politik, agama, dan sosial. Kehidupan politik mencakup pemerintahan dan pengaturan masyarakat. Kehidupan beragama tercermin dari corak kepercayaan dan tata cara atau upacara keagamaan. Kehidupan sosial mencakup penataan kelompok di dalam masyarakat. Seperti dituliskan diatas bahwa proses penyebaran itu berlanjut hingga beberapa abad hingga dapat berdiri kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha. Dilihat dari sumber-sumber awal proses Indianisasi juga banyak ditemukan baik sumber arkeologi , epigrafi ataupun sumber bangsa asing. Seperti Niddesa, sebuah teks yang menggunakan bahasa Pali berasal dari awal tarikh Masehi, menurut Coedes merupakan suber yang lebih meyakinkan karena disebut satu daftar nama tempat dalam bahsaa Sansekerta yang diintesifikasinya dengan suatu tempat di India[3]. Prasasti Sansekerta tertua di Fu-nan yang terletak di sebelah hilir dan delta sungai Mekong, Vietnam bagian selatan, yang ditetapkan sebagai masa berdirinya Fu-nan berikut pernikahan seorang Brahmana dengan seorang perempuan. Arca-arca Budha asal India sebelum abad ke-5 M juga banyak ditemukan di Vietnam dan Sulawesi menunjukan bahwa pengaruh India sejak awal abad masehi telah sampai wilayah yang cukup jauh.
            Proses Indinanisasi pada masyarakat Asia Tenggara khususnya, meskipun dari asumsi sejarawan ada yang dibawa oleh kaum ksatria atau prajurit, namun tidak sampai terjadi penaklukan militer atau penjajahan secara politik atas nama suatu wilayah. Berdirinya kerajaan Hindu-Buddha itu menurut Coedes hanya memiliki hubungan tradisi dengan dinasti yang memerintah di India. Hal ini berlawanan dengan cara penyebaran kebudayaan Cina yang memang berjalan bersamaan. Orang Cina bertindak dengan cara penjajahan dan pencaplokan kawasan-kawasan suatu wilayah untuk menyebarkan kebudayaannya. Hingga negeri yang ditaklukan Cina dipaksakan untuk meniru adat, kebiasaan, dan bahasanya[4]. Meskipun beriringan budaya India lebih mendominasi dan dapat diterima banyak masyarakat di kawasan Asia Tenggara hingga berdampak pada pelbagai aspek kehidupan, budaya, dan tatanan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Coedes, George, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2010 ;
Hall, D.G.E. Sejarah Asia Tenggara I (Terj. I.P. Soewarsha). Surabaya: Usaha
            Nasional, 1988.
Indonesia Dalam Arus Sejarah, jilid II, PT Ictiar Baru van Hoeve kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012



[1] D.G.E.Hall, Sejarah Asia Tenggara. Hlm 14
[2] George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. 2010. Hlm : 53
[3] Ibid. Hlm : 44
[4] Ibid. Hlm : 66

KOMIK STRIP TENTANG KERUSAKAN LINGKUNGAN







Rabu, 16 Januari 2019

Satu Tahun dengan BEM FIB UNAIR: Mengedepankan Kekeluargaan dalam Organisasi


Tepat pada bulan Pebruari tahun 2017 lalu saya dengan ketua ormawa (organisasi mahasiswa) di Fakultas Ilmu Budaya menandatangani Surat Keputusan. Dari SK itulah kemudian secara sah saya dan teman-teman lain menjadi pemegang amanah dalam setahun kedepan. Secara simbolis saya menandatangani kepengurusan yang baru dan kemudian ada perwakilan untuk kepengurusan yang telah selesai.

Singkat cerita awal saat memberanikan diri mencalonkan menjadi calon Ketua BEM FIB bukan keputusan yang mudah. Pada akhir tahun 2017 memang saat itu secara probadi saya memiliki proyek pribadi yaitu Perpustakaan keliling "Prasojo" dan masih menjadi peserta di Rumah Kepemimpinan, Surabaya serta memilih untuk fokus dalam bidang menulis buku anak-anak. Lalu tawaran pun muncul dari beberapa kawan, salah satunya Lusmitasari (yang kahirnya menjadi wakil ketua BEM FIB). Tawaran itu tidak serta merta saya terima begitu saja, setiap malam saya berpikir dan meminta pertimbangan dari Ibu. Jawabanya pun diserahkan kepada saya pada akhirnya. Melihat kondisi ini dalam tubuh saya merasa mendapatkan tantangan tersendiri untuk kemudian meyakinkan diri.

Bertukar pikiran dengan beberapa kawan terkait permaslahan dan solusi kedepan untuk fakultas ini juga memberikan saya masukan secara pribadi dan semakin mantab untuk menawarkan solusi ini. Pada masa akhir pendaftaran saya masih mendengar berita bahwa ada kawan juga yang mendaftarkan diri menjadi calon ketua BEM FIB akhirnya setelah saya dan Lusmita mendaftarkan diri tidak ada kawan saya lagi yang mendaftar dan akhirnya saya menjadi calon tunggal untuk pemilihan calon ketua bem ini. Sedih dan bingung sempat saya rasakn saat itu. Namun saat perjalanan kampanye saya malah mendapatkan respon dengan dukungan yang cukup banyak dari kawan-kawan fib bahkan mereka juga mengganti foto profil di Line dengan poster kampanye saya, disinilah kemudian saya merasa ada tanggung jawab yang besar untuk dapat memberikan wadah untuk kawan-kawan di fib nantinya, Malam hari saat penghitungan suara saya hadir sampai selesai dan kemudian saya dipeluk dengan suka cita oleh kawan-kawan untuk menjadi pemegang amanah di bem fib kedepan.

Pada saat itu saya dengan Lusmita berpikir bagaimana bisa memberikan wadah untuk semua kawan-kawan di fib. Tentunya hal itu tidak dilihat dari golongan manapun dan jabatan apapun. Akhirnya kami memberikan nama kabinet "Guyub Rukun". Hal ini ditujukan agar bem fib tidak hanya menjadi organisasi struktural diatas semua ormawa namun juga dapat menjadi kawan dan dapat merasakan bagaimana dalam berkegiatan di semua ormawa. Logo kabinet saya terinspirasi oleh semut, dengan prinsip gotong royongnya semut dapat bekerja sama dan akan terasa ringan jika berkerja dengan orang banyak. Semut juga "murah senyum" ketika bertemu dengan kawannya. Pendaftaran menteri dan wakil menteri sudah kami buka, beberapa orang kemudian mendaftrakan diri dengan potensi masing-masing. Tentu berat saya dan Lusmita kemudian menyeleksi kawan-kawan hebat ini. Tentu sesuai dengan porsi dan potensinya masing-masing saya kemudian memploting dengan kementrian yang saya tawarkan. Berkat kawan-kawan hebat itulah kemudian saya membuka seluas-luasnya calon anggota baru bem fib untuk kepengurusan 2018. Dilihat dari antusiasnya saya berbahagia bahkan kawan-kawan merasa kesulitan dengan memilih anggota barunya.




Dari visi misi yang saya utarakan diawal saat pencalonan kemudian saya rincikan kedalam program kerja selama satu tahun kedepan. Tentunya hal itu saya rundingkan bersama menteri dan wakil menteri terpilih untuk kemudian menyusun agenda selama satu tahun kedepan. Tidak semuanya juga program kerja yang pada periode sebelumnya masih belum terlaksana. Kami juga akhirnya menentukan kegiatan yang sekiranya dapat memberikan dampak positif yang luas. Antara lain kami ingin dalam periode kedepan ada kampung dan desa mitra bem fib sehingga kami dapat memberikan pengabdian dan kontribusi yang nyata untuk masyarakat, untuk kajian kami memutuskan setiap bulan mengadakan kajian rutin di tanggal 25 kami namai "selawean" dengan mengangkat topik yang berbeda, kami juga menyusun lomba karya tulis atau esai tentang kebudayaan secara nasional, dan kami juga merencakaan kegiatan yang sebelumnya sudah ada utuk dikemas secara sederhana namun dapat dinikmati oleh semua masyarakat fib.

Puji syukur berkat kerja keras kawan-kawan semua program kerja bem fib selama satu tahun dapat terlaksana semua. Bahkan kegiatan yang pada awalnya kelihatan tidak mungkin untuk dilaksanakan akhirnya dapat dilaksanakan dengan lancar.  Tentunya tidak semudah mencari warung kopi berwifi seperti skearang, tentunya terdapat banyak permasalahan disana. Namun diawal saya sudah memberikan masukan kepada kwan-kawn semua untuk tetap respect kepada siapapun dan terus bertanggung jawab atas semua yang sudah ditugaskan. Permasalahan itu bukan hanya masalah pendanaan juga berbagai hiruk-pikuk birokrasi kampus, kemoloran acara, bahkan berganti konsep dan masih banyak yang lain. Secara pribadi saya merasakan bahwa permaslahan yang ada di depan mata selalu ada jalan keluarnya yang mana pembuat permaslahan itu adalh diri kita sehingga terkadang diri sendiirlah yang kemudian menghambat dan berpikir bahwa permasalahan itu berat. JIka dijalani dan tidak terasa bahkan satu tahun ini kami berjalan bersama dan tidak terasa berat.





Prinsip yang saya pegang dalam berorganisasi adalah saya tidak ingin terlalu formal dan terlalu protokoler dalam setiap rapat aatau berkegiatan. Untuk itu saya memberikan rasa egaliter dalam bem fib 2018 ini agar kawan-kawan yang sudah tergabung dalam bem dapat merasakan kenyamanan dan tidak ada rasa sungkan atau takut kemudian. Melalui sapaan kemudia gaya yang tidak formal kemudian saya lakukan untuk memberikan gaya baru dalam bem fib. Dalam satu tahun kepengurusan juga saya banyak mengikuti kegiatan kawan-kawan ormawa lainnya bukan untuk tujuan mencari perhatian hanya ingin mengetahui bagaimana susahnya kawan-kawan saya dalam menjalankan sebuah kegiatan. Dari situlah kemudian bem tidak hanya menjadi organ tunggal yang secara struktur diatas ormawa lainnya, namun juga dapat membaur dan menjadi satu kembali dengan masyarakat fib.











Permohonan maaf dan ucapan terima kasih dalam tulisan ini sebagai penutup. Terima kasih kepada kawan-kawan fib semuanya, anggota bem, anggota ormawa, mentri, wakil menteri, seketaris, bendahara, wakil, bapak/ibu dekanat, mas gondrong kantin, bapak/ibu penjaga kebersihan, mas isnan dkk, dan semua warga fib yang sudah kami buat repot dengan ulah kami. Untuk kedepan saya sudah banyak memberikan tugas kepada pengurusan 2019 agar jauh-jauh lebih baik dan dapat benar-benar membawahi ormawa di fib. Terus berkarya dan mengabdi untuk sesama dengan ini kabinet Guyub Rukun undur diri. Jangan hanya berhenti disini masih banyak ruang untuk mengembangkan diri lebih baik lagi. Untuk para adik-adik masih terbuka pintu untuk berkontribusi dalam kepengurusan lagi, atau ingin memilih jalan masing-masing. Tak apa namun saya hanya mengigatkan jangan sampai lupa karena kita punya korsa merah yang sama.


Wassalam. Rahayu...
Malang, 16 Januari 2019



Yunaz Karaman





Selasa, 11 Desember 2018

PENTINGNYA MITIGASI BENCANA UNTUK ANAK

lh3.googleusercontent.com



Indonesia yang terletak di cincin api dan pertemuan antarlempeng dunia menyebabkan posisinya memiliki potensi yang besar untuk terjadinya bencana alam. Hal itu menyebabkan sering adanya gerakan sesar atau patahan yang menyebabkan gempa bumi hingga tsunami dan seringnya erupsi gunung berapi di Indonesia.
Faktanya kita ketahui bersama, beberapa bulan lalu Gunung Agung sebagai gunung berapi aktif di Pulau Bali yang menunjukkan aktivitasnya kembali, meskipun kini sudah menunjukkan penurunan status. Tidak hanya bencana yang disebabkan oleh faktor alam, Indonesia juga sudah langganan untuk tertimpa bencana tahunan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sebagainya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tentunya bencana tersebut memiliki dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik secara moril dan materil.
Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di tahun 2016 saja bencana yang terjadi di Indonesia mencapai 2.000 kasus. Bencana tersebut menyebar dan terjadi di seluruh kawasan di Indonesia. Dari berita dan laporan online juga diberitakan bahwa kebanyakan korban bencana tersebut adalah anak-anak dan sebagian manula. Sangat merugikan dan akan menimbulkan kesedihan yang mendalam ketika generasi penerus kita malah menjadi korban dalam suatu bencana.
Tak ayal hal itu terjadi, secara fisik anak-anak masih lemah untuk menyelematkan dirinya saat terjadi suatu bencana. Begitupun ditambah dengan pengetahuan akan mitigasi saat terjadi bencana yang kurang diketahui oleh kebanyakan anak sehingga menimbulkan kepanikan pada anak. Jika anak tidak memiliki pengetahuan terkait mitigasi bencana, nantinya anak-anak akan merasakan trauma yang mendalam dan menggangu psikologis anak. Pengetahuan terakit mitigasi bencana ini juga merupakan salah satu hak anak-anak untuk mengetahui informasi terkait upaya mitigasi yang bermafaat bagi anak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

washingtonpost.com


Peran Keluarga dan Sekolah dalam Penanaman Pengetahuan Mitigasi Bencana
Banyaknya korban anak-anak pada bencana alam menunjukkan betapa pentingnya keluarga sebagai agen sosial primer untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana. Pengetahuan mitigasi bencana dapat dengan mudah jika dipraktikkan di dalam lingkup keluarga dengan sosok orang terdekat sebagai contoh dalam proses mitigasi tersebut.
Jika memang orangtua/ keluarga masih belum banyak mengetahui tentang mitigasi bencana, kini banyak pada portal online dan buku-buku terkait mitigasi bencana yang baik dan benar. Terlebih dengan akses pengetahuan yang mudah, tentu dapat membantu orangtua untuk mengajarkan mitigasi bencana pada anak-anaknya.
Begitupun peran sekolah sebagai "rumah kedua" bagi anak-anak untuk memberikan pengetahuan terkait mitigasi bencana. Pihak sekolah dapat menjadwalkan dan bekerjasama dengan pihak tanggap bencana seperti BNPB, BPBD, TAGANA, atau kelompok kerelawanan untuk memberikan sosialiasi mitigasi bencana di sekolah-sekolah.
Selain itu juga diperlukan adanya simulasi mitigasi bencana agar anak dapat mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan saat terjadinya suatu bencana. Pendidikan terkait mitigasi bencana ini juga sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang berada dalam kawasan rentan terjadi bencana alam. Selain itu juga ditambah dengan kapasitas tenaga pendidik termasuk guru, kepala sekolah, dan pegawai sekolah terkait pengetahuan tentang mitigasi bencana.
Tidak hanya pengetahuan terkait mitigasi saat terjadi bencana saja,juga diperlukan penanaman terkait tindakan preventif untuk mencegah terjadinya bencana serta tindakan pascabencana yang juga penting. Hal itu diperlukan untuk mengatasi terjadinya trauma yang biasanya dialami oleh anak-anak saat pascabencana. Seperti dengan melakukan penanaman pohon, seruan agar tidak membuang sampah sembarangan, hingga membuat alat pendeteksi tsunami atau gempa.
Dapatlah diberikan juga terkait upaya untuk mengendalikan emosi dan psikologis saat pascabencana. Jika sudah tertanam kemampuan dan pengetahuan terkait mitigasi bencana, anak-anak akan mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana alam. Tidak hanya itu, anak-anak juga dapat saling mengingatkan kepada keluarga bahkan masyarakat untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.
Berdasarkan pengalaman saya, jika anak-anak sudah terbiasa dan mengerti terkait pengetahuan mitigasi bencana, maka anak tersebut akan cenderung tenang dan tidak panik, mereka melakukan upaya menghibur diri dengan mengikuti kegiatan di posko pengungsian yang sering dilakukan oleh relawan.

theglobeandmail.com


Sumber:
http://www.sinarharapan.co/news/read/150726005/agar-anak-anak-tanggap-bencana, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
https://news.detik.com/kolom/d-3502328/pendidikan-siaga-bencana-dalam-keluarga, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
http://pendidikan-luar-sekolah.fip.uny.ac.id/berita/mitigasi-bencana-bagi-anak-usia-dini.html,  diakses pada Kamis 2 November 2017


BERKARYA ALA MAHASISWA

geotimes.co.id


            Mahasiswa bagi masyarakat umum sudah dipandang sebagai suatu kelas yang mendapat pendidikan tinggi. Kelas itu diperoleh secara tidak langsung karena mahasiswa mendapatkan statusnya itu dari perguruan tinggi atau tingkatan sekolah lanjutan tertinggi. Memakai awalan “maha” merepresentasikan mahasiswa sebagai siswa atau pelajar yang “paling” dalam pemahaman ilmu maupun kemampuan. Secara definisi menurut KBBI mahasiswa dapat diartikan sebagai orang yang belajar di Perguruan Tinggi.
            Dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa berhak memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan. Hal tersebut dapat ditampung dengan masuk dan berproses di dalam wadah unit kegiatan mahasiswa ataupun organisasi lainnya. Untuk dapat bergabung dalam unit kegiatan atau organisasi itu bagi seorang mahasiswa dapat memilih sesuai passion atau kemampuan dan kegemaraanya. Misalnya seorang mahasiswa gemar dalam kegiatan pecinta alam maka dapat bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam begitupun yang lain. Tentu untuk dapat berkegiatan diluar akademis itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih. Bahkan beberapa mahasiswa memilih untuk bergabung dalam organisasi lebih dari satu. Anggapan mengenai mahasiswa tidak lepas dengan beberapa istilah yang menunjukan tugas ketika menjadi mahasiswa, yaitu agent of change, iron stock, social control, dan moral force. Jargon-jargon itu selalu digaungkan para senior pada saat prosesi ospek mahasiswa baru. Mahasiswa dituntut oleh keempat hal itu sebagai agen perubahan, penerus masa depan, penyampai kebenaran, dan kekuatan moral. Kesemuanya itu sudah banyak dibuktikan dengan peran mahasiswa dahulu. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa sudah banyak yang berhasil menentang keegoisan pemerintah, contohnya aksi mahasiswa 1998 yang memberhentikan Presiden Soeharto dan rezim Orde Barunya. Namun apakah semangat juang mahasiswa dahulu dapat diimplemntasikan pada saat ini? Apakah juga “musuh” mahasiswa kini juga sama dengan yang dimusuhi mahasiswa dahulu? Tentu tidak, dengan perkembangan zaman kini problem mahasiswa menjadi lebih kompleks tidak hanya persoalan kebijakan pemerintah. Namun juga perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat hingga perlombaan menghadapi dunia kerja.
Tentunya banyak manfaat yang diperoleh bagi mahasiswa saat tergabung dalam suatu organisasinya salah satunya adalah perkembangan kepemimpinan, jaringan, dan kompetensi diri. Nantinya luaran yang diperoleh seorang mahasiswa itu dapat dibuktikan dengan kontribusi secara langsung dan memperoleh prestasi. Lalu dikarenakan hal tersebut muncullah pertanyaan, sebagai mahasiswa apakah harus berorganisasi, berprestasi, atau berkarya? Ataukah hal itu semua dapat diraih saat menjadi sebagai mahasiswa?
Tentu untuk menjawab pertanyaan diatas tidak bisa disamakan antar mahasiswa satu dengan yang lain. Beberapa mahasiswa bahkan sudah membuktikannya selain berorganisasi dan berprestasi ia juga dapat berkarya. Dilihat dari banyaknya prestasi perlombaan yang diikuti oleh mahasiswa dan banyak bermunculan karya-karya mahasiswa baik berupa buku maupun penelitian. Bahkan mahasiswa teknik sudah menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat robot atau mobil listrik. Sudah banyak yang membutikan dari berbagai mahasiswa di universitas di Indonesia. Dari kesemua bukti ini telah menjawab pertanyaan diatas. Itulah peran mahasiswa sesungguhnya, jadi tidak hanya belajar di dalam laboratorium, membaca buku diktat kuliah, atau bahkan apatis dan langsung pulang. Menjadi mahasiswa bisa menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang kita ingini. Terbang bebas dengan imajinasi kita untuk menggapai impian dan cita kita.
Tulisan ini akan ditekankan pada poin ketiga yaitu berkarya dengan gaya khas mahasiswa. Berkarya dalam arti adalah membuahkan suatu hal dan dapat diterima oleh khayalak. Mengapa berkarya ? Menjawab pertanyaan singkat ini gampang-gampang susah. Jelaslah bahwa jika telah berkarya seseorang manusia itu hidupnya akan abadi dengan karyanya itu. Hanya dengan karyanya manusia dapat dikenal zaman, dapat dikenang sejarah, dan tidak tenggelam dalam arus zaman. Untuk itu karya yang sebenarnya mudah dan juga merupakan tanggung jawab akademis mahasiswa adalah dengan menulis. Menulis adalah jalan berkarya yang sederhana namun akan berarti jika tulisan itu dikenang dan membuahkan ide-ide segar kepada pembaca. Ada pepatah mengatakan bahwa “jika kau bukan anak raja maka menulislah !”. Dalam jalur ini dibutuhkan semangat motivasi dan semangat keberlanjutan yang tinggi. Untuk dapat menuangkan pemikiran kita dalam tulisan juga dapat diawali dengan budaya membaca. Banyak membaca buku maka akan banyak juga wawasan yang kita dapat. Jika ide-ide itu sudah terasa penuh dalam pikiran maka saatnya kita untuk menuangkan itu dalam tulisan. Dalam hal ini sebagai mahasiswa tidak hanya dapat menulis berupa jurnal ataupun tulisan yang bersifat akademis, namun juga dapat menulis apapun sesuai dengan jalan imajinasi dan idealismenya. Untuk mengawali budaya menulis juga tidak diperlukan waktu yang jelas. Maksudnya kapan pun berkarya dengan tulisan itu dapat dilakukan. Memanfaatkan mata kita sebagai kamera yang menangkap segala peristiwa disekitar kita saja sudah dapat menjadi bahan untuk menulis. Menulis itu sederhana, tidak dibutuhkan skill khusus. Semua dapat berkarya dengan jalan ini terlebih dengan kapasitas sebagai mahasiswa dengan “maha” nya.
           
           
           

SEJARAH SINGKAT RESTORASI MEIJI (1868-1912)



history.com

RESTORASI MEIJI
(1868–1912)
            Era Meiji disebut juga pintu masuk awal modernisasi di Jepang, dimulai ketika kaisar  Mutsuhito yang masih berusia 16 tahun menggunakan nama “Meiji” untuk pemerintahannya. Periode ini dimulai dengan runtuhnya periode keshogunan Tokugawa dan menyebabkan Jepang bertransformasi dari negara feodal menjadi negara industri yang modern[1]. Pendukung utama kaisar utamanya adalah para samurai berpangkat rendah dan menengah yang akhirnya membantu menggulingkan  keshogunan Tokugawa. Mereka dari Satsuma dan Cho -shu - han yang merupakan kekuatan yang besar[2].
            Tidak lama setelah keshogunan Tokugawa runtuh, pemerintah baru resmi didirikan. Model pemerintahannya berdasar pada model barat yaitu Amerika, dengan adanya pemisahan kekuasaan bagi yang menginginkan pemerintahan  demokrasi, dan pemerintahan Kaisar yang dibantu oleh Dewan Negara (Dajokan). Banyak posisi ditempati oleh samurai muda yang memiliki kekuatan  cukup besar. Perubahan juga ditandai dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Edo. Kota ini selanjutnya berganti nama menjadi Tokyo (Pusat/ kapital Timur), dan kaisar bertempat tinggal di bekas benteng dari Gun Sho, sekarang Imperial Palace.
            Pemerintahan kaisar dengan mempertahankan garis pemerintahan yang tradisional, dimulailah perbaikan dan beberapa pembaharuan di berbagai kota. Dilanjutkan dengan para daimyo di seluruh kota menyerahkan kepemilikan atas tanah kepada kaisar. Penyerahan itu diawali oleh keluarga Satsuma, Chosu, Tosa dan Hizen. Setelah diserahkan kepada kaisar, dilanjutkan adanya pengumuman yaitu ada perubahan sistem milik tanah dengan sertifikat dan pembayaran pajak bumi yang diganti dibayar dengan uang. Dengan adanya pembaharuan diatas maka kaisar juga menghapus sistem kepangkatan yang ditinggalkan pada masa feodal. Semua perbedaan antara samurai, petani, dan pedagang dihapuskan. Para samurai dipensiunkan dan turun temurun, dan masuk pada kegiatan perekonomian dan industri.
            Setelah ada perubahan itu, kaisar terus berusaha membuat perubahan lain yang tujuannya mengubah masyarakat Jepang menjadi lebih modern. Pada tahun 1881 kaisar mengumumkan bahwa akan ada undang-undang dasar. Kaisar mengutus Hirobumi Ito ke berbagai negara untuk mempelajari konstitusi di berbagai negara. Dari Amerika dan negara-negara lain yang akhirnya ia merasa menmukan konstitusi yang paling cocok bagi Jepang yaitu di Prusia, Jerman. Selanjutnya pada tahun 1889, kaisar mengumumkan adanya undang-undang dasar dan membagi lembaga pemerintahan yaitu eksekutif, legislative, dan pengadilan yang masing-masing berdiri sendiri. Namun posisi tertinggi dipegang oleh kaisar, dan perdana menteri juga berada di tangan kaisar untuk menyelenggarakan pemerintahan. Tidak heran pada proses berjalannya pemerintahan Jepang sering terjadi pembubaran parlemen.

indianfolk.com

            Pembaharuan Jepang juga dibarengi dengan reformasi di berbagai bidang. Reformasi pendidikan digencarkan kaisar, dengan berkiblat pada sistem pendidikan di barat. Berbagai buku ilmu, sastra, dan filsafat dari berbagai negeri didatangkan lalu diterjemahkan kedalam bahasa Jepang dan akhirnya diterbitkan. Para pemuda Jepang juga banyak di berangkatkan ke negara-negara barat untuk belajar sesuai dengan bidangnya.
            Dengan banyak perubahan di dalam negeri, Jepang merasakan adanya ketidakadilan yang telah dibuat dengan negara-negara lain. Jepang sedikit demi sedikit merubah perjanjian itu. Pada saat ini juga negara barat menyerang “singa yang sedang tidur” yaitu Cina[3]. Jepang juga terlibat pada perang terbuka dengan Cina di tahun 1894. Cina dapat dikalahkan dan dilanjutkan dengan adanya perjanjian damai di Shimonoseki. Pada perjanjian ini Cina mengakui kemerdekaan Korea. Kemenangan Jepang atas Cina itu memberikan kesan pada negara barat tentang kelemahan Cina itu. Sementara itu Jepang mengangkat martabatnya dimata negara barat. Di tahun 1902 Jepang bekerja sama dengan Inggris untuk kepetingannya berhadapan dengan Rusia.
            Di tahun 1904 Jepang juga menyerang Rusia karena tidak memenuhi janjinya untuk menarik pasukan di Manchuria.Jepang berhasil menghancurkan armada Rusia di Laut Jepang. Setelah adanya penyerangan itu, diadakan perjanjian damai di Porstmouth, Amerika Serikat dengan pengakuan Rusia untuk kepentingan Jepang di Korea. Kemenangan Jepang menimbulkan kekaguman pada bangsa barat, bahkan untuk pertama kalinya bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa barat yang juga berpengaruh pada kebangkitan bangsa-bangsa Asia lainnya.
            Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912, kemudian digantikan dengan Kaisar Taiso yang memerintah hingga tahun 1926. Dalam masa itu Jepang kian aktif perannya dalam pergaulan internasional. Sementara itu di dunia luar banyak negara yang mengalami pergolakan besar-besaran, dalam masa itu Jepang juga memiliki peran aktif pula. Seperti Cina yang berganti menjadi republik, Rusia berganti menjadi Uni Soviet, dan mulai adanya perang dunia pertama.  Sementara itu didalam negeri Jepang, ada ketegangan antara pemerintah dengsn Diet. Gerakan- gerakan kiri karena pengaruh Rusia kian menyebar di Jepang, ditambah dengan adanya gempa bumi pada tahun 1923 di Yokohama.
            Dengan kemajuan-kemajuan yang ada dalam diri Jepang utamanya diawali pada masa Kaisar Meiji yang kemudian dikenal sebagai Restorasi Meiji, Jepang seakan menjadi “raksasa” baru di dunia khusunya di Asia. Dengan kemajuan itu berdampak pada kebangkitan  negara-negara Asia lain. Hingga pada akhirnya Jepang dapat bersaing dan tidak diragukan lagi kekuatannya dan hingga saat ini Jepang masih menjadi salah satu raksasa dunia.

Daftar Pustaka :
Andressen, Curtis, A Short History Of Japan: From Samurai To Sony, Allen & Unwin, Australia, 2002 ;
Rosidi, Ajib, Mengenal Jepang, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981 ;
Sumikawa, Shunsuke. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. Tersedia, http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf, 1999.           
           




[1] Shunsuke Sumikawa. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. 1999. Tersedia http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf
[2] Curtis Andressen. A Short History Of Japan: From Samurai To Sony. 2002. Hlm 77
[3] Ajib Rosidi. Mengenal Jepang. 1981. Hlm 19.

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...