Minggu, 03 Februari 2019

INDIA DAN ASIA TENGGARA



www.7continentslist.com
             
     Wilayah Asia Tenggara secara geografis menjadi sangat strategis untuk jalur pelayaran dan perdagangan pada masa lalu. Secara otomatis bangsa-bangsa dari luar banyak yang singgah dan berhubungan dengan masyarakat Asia tenggara. Konsep pelayaran yang semakin maju dengan berkembangnya ilmu perkapalan dan pelayaran utamanya di India dan Cina. Pengaruh bangsa luar terhadap masyarakat Asia Tenggara tentu banyak membawa perubahan yang signifikan. Masyarakat Asia Tenggara mulai mengadopsi budaya-budaya luar, kerajaan-kerajaan mulai mucul di Nusantara dengan mempratekkan agama dari India dan bahasa Sansekerta[1]. Proses masuknya pengaruh India atas Asia Tenggara ini banyak dikenal dengan istilah “Indianisasi”, yang dipakai oleh George Coedes. Namun dalam perkembangan Hinduisasi di Asia Tenggara juga beriringan dengan proses masuknya Buddhisme. Masuknya aliran kepercayaan yang dianggap baru oleh masyarakat pribumi ini juga melebur dan terakulturasi dengan kepercayaan lokal pada saat itu yakni penyembahan terhadap roh nenenk moyang dan benda-benda magis (animisme dan dinamisme). Perkembangan kebudayaan juga berkembang dan mulai diadopsi masyarakat lokal seperti arsitektur atau seni bangunan, seni sastra, dan sistem sosial yang berlandaskan budaya Hindu Buddha namun tetap berakulturasi dengan budaya lokal masyarakat setempat.
            Pengaruh budaya India diatas terus berkembang hingga mempengaruhi tatanan sosial politik masyarakat Asia Tenggara. Terbukti dengan pendirian kerajaan-kerajaan di kawasan Asia Tenggara saat itu yang beraliran Hindu dan Buddha. Coedes menganalisis bahwa perubahan tempat perdaganagan menjadi suatu tatanan politik yang terorganisir tersebut dapat terjadi dengan dua jalan: adanya paksaan India kepada penduduk pribumi yang telah meresapi unsur-unsur India atau seorang pribumi yang mengukuhkan kekuasaan dan menerima unsur luar dengan memeluk agama dari India. Tentunya dalam praktik berpolitik di dalam kerajaan utamanya yang beraliran Hindu masih menggunakan sistem kasta yang dikenal di India namun telah mengalami perubahan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat pribumi[2]. Dalam persebaran kebudayaan India terdapat asumsi yang berbeda dari beberapa tokoh sejarawan. R.C Majundar mengutarakan pendapatnya bahwa kaum ksatria dan prajurit India lah yang menyebarkan kebudayaan India dan mendirikan beberapa koloni di kepulauan Indonesia. N.J. Krom lebih menekankan pada para kaum pedagang India yang berinteraksi langsung bahkan melakukan perkawinan dengan pribumi. Menurut Van Leur kaum Brahma lah yang berperan menyebarkan budaya India ditambahi dengan keperluan keagamaan.
            Penyebaran pengaruh kebudayaan India diikuti dengan proses masuknya Hindu-Buddha di Asia Tenggara mengubah pola kehidupan masyarakat di kawasan itu, terutama dalam aspek politik, agama, dan sosial. Kehidupan politik mencakup pemerintahan dan pengaturan masyarakat. Kehidupan beragama tercermin dari corak kepercayaan dan tata cara atau upacara keagamaan. Kehidupan sosial mencakup penataan kelompok di dalam masyarakat. Seperti dituliskan diatas bahwa proses penyebaran itu berlanjut hingga beberapa abad hingga dapat berdiri kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha. Dilihat dari sumber-sumber awal proses Indianisasi juga banyak ditemukan baik sumber arkeologi , epigrafi ataupun sumber bangsa asing. Seperti Niddesa, sebuah teks yang menggunakan bahasa Pali berasal dari awal tarikh Masehi, menurut Coedes merupakan suber yang lebih meyakinkan karena disebut satu daftar nama tempat dalam bahsaa Sansekerta yang diintesifikasinya dengan suatu tempat di India[3]. Prasasti Sansekerta tertua di Fu-nan yang terletak di sebelah hilir dan delta sungai Mekong, Vietnam bagian selatan, yang ditetapkan sebagai masa berdirinya Fu-nan berikut pernikahan seorang Brahmana dengan seorang perempuan. Arca-arca Budha asal India sebelum abad ke-5 M juga banyak ditemukan di Vietnam dan Sulawesi menunjukan bahwa pengaruh India sejak awal abad masehi telah sampai wilayah yang cukup jauh.
            Proses Indinanisasi pada masyarakat Asia Tenggara khususnya, meskipun dari asumsi sejarawan ada yang dibawa oleh kaum ksatria atau prajurit, namun tidak sampai terjadi penaklukan militer atau penjajahan secara politik atas nama suatu wilayah. Berdirinya kerajaan Hindu-Buddha itu menurut Coedes hanya memiliki hubungan tradisi dengan dinasti yang memerintah di India. Hal ini berlawanan dengan cara penyebaran kebudayaan Cina yang memang berjalan bersamaan. Orang Cina bertindak dengan cara penjajahan dan pencaplokan kawasan-kawasan suatu wilayah untuk menyebarkan kebudayaannya. Hingga negeri yang ditaklukan Cina dipaksakan untuk meniru adat, kebiasaan, dan bahasanya[4]. Meskipun beriringan budaya India lebih mendominasi dan dapat diterima banyak masyarakat di kawasan Asia Tenggara hingga berdampak pada pelbagai aspek kehidupan, budaya, dan tatanan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Coedes, George, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2010 ;
Hall, D.G.E. Sejarah Asia Tenggara I (Terj. I.P. Soewarsha). Surabaya: Usaha
            Nasional, 1988.
Indonesia Dalam Arus Sejarah, jilid II, PT Ictiar Baru van Hoeve kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012



[1] D.G.E.Hall, Sejarah Asia Tenggara. Hlm 14
[2] George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. 2010. Hlm : 53
[3] Ibid. Hlm : 44
[4] Ibid. Hlm : 66

KOMIK STRIP TENTANG KERUSAKAN LINGKUNGAN







Rabu, 16 Januari 2019

Satu Tahun dengan BEM FIB UNAIR: Mengedepankan Kekeluargaan dalam Organisasi


Tepat pada bulan Pebruari tahun 2017 lalu saya dengan ketua ormawa (organisasi mahasiswa) di Fakultas Ilmu Budaya menandatangani Surat Keputusan. Dari SK itulah kemudian secara sah saya dan teman-teman lain menjadi pemegang amanah dalam setahun kedepan. Secara simbolis saya menandatangani kepengurusan yang baru dan kemudian ada perwakilan untuk kepengurusan yang telah selesai.

Singkat cerita awal saat memberanikan diri mencalonkan menjadi calon Ketua BEM FIB bukan keputusan yang mudah. Pada akhir tahun 2017 memang saat itu secara probadi saya memiliki proyek pribadi yaitu Perpustakaan keliling "Prasojo" dan masih menjadi peserta di Rumah Kepemimpinan, Surabaya serta memilih untuk fokus dalam bidang menulis buku anak-anak. Lalu tawaran pun muncul dari beberapa kawan, salah satunya Lusmitasari (yang kahirnya menjadi wakil ketua BEM FIB). Tawaran itu tidak serta merta saya terima begitu saja, setiap malam saya berpikir dan meminta pertimbangan dari Ibu. Jawabanya pun diserahkan kepada saya pada akhirnya. Melihat kondisi ini dalam tubuh saya merasa mendapatkan tantangan tersendiri untuk kemudian meyakinkan diri.

Bertukar pikiran dengan beberapa kawan terkait permaslahan dan solusi kedepan untuk fakultas ini juga memberikan saya masukan secara pribadi dan semakin mantab untuk menawarkan solusi ini. Pada masa akhir pendaftaran saya masih mendengar berita bahwa ada kawan juga yang mendaftarkan diri menjadi calon ketua BEM FIB akhirnya setelah saya dan Lusmita mendaftarkan diri tidak ada kawan saya lagi yang mendaftar dan akhirnya saya menjadi calon tunggal untuk pemilihan calon ketua bem ini. Sedih dan bingung sempat saya rasakn saat itu. Namun saat perjalanan kampanye saya malah mendapatkan respon dengan dukungan yang cukup banyak dari kawan-kawan fib bahkan mereka juga mengganti foto profil di Line dengan poster kampanye saya, disinilah kemudian saya merasa ada tanggung jawab yang besar untuk dapat memberikan wadah untuk kawan-kawan di fib nantinya, Malam hari saat penghitungan suara saya hadir sampai selesai dan kemudian saya dipeluk dengan suka cita oleh kawan-kawan untuk menjadi pemegang amanah di bem fib kedepan.

Pada saat itu saya dengan Lusmita berpikir bagaimana bisa memberikan wadah untuk semua kawan-kawan di fib. Tentunya hal itu tidak dilihat dari golongan manapun dan jabatan apapun. Akhirnya kami memberikan nama kabinet "Guyub Rukun". Hal ini ditujukan agar bem fib tidak hanya menjadi organisasi struktural diatas semua ormawa namun juga dapat menjadi kawan dan dapat merasakan bagaimana dalam berkegiatan di semua ormawa. Logo kabinet saya terinspirasi oleh semut, dengan prinsip gotong royongnya semut dapat bekerja sama dan akan terasa ringan jika berkerja dengan orang banyak. Semut juga "murah senyum" ketika bertemu dengan kawannya. Pendaftaran menteri dan wakil menteri sudah kami buka, beberapa orang kemudian mendaftrakan diri dengan potensi masing-masing. Tentu berat saya dan Lusmita kemudian menyeleksi kawan-kawan hebat ini. Tentu sesuai dengan porsi dan potensinya masing-masing saya kemudian memploting dengan kementrian yang saya tawarkan. Berkat kawan-kawan hebat itulah kemudian saya membuka seluas-luasnya calon anggota baru bem fib untuk kepengurusan 2018. Dilihat dari antusiasnya saya berbahagia bahkan kawan-kawan merasa kesulitan dengan memilih anggota barunya.




Dari visi misi yang saya utarakan diawal saat pencalonan kemudian saya rincikan kedalam program kerja selama satu tahun kedepan. Tentunya hal itu saya rundingkan bersama menteri dan wakil menteri terpilih untuk kemudian menyusun agenda selama satu tahun kedepan. Tidak semuanya juga program kerja yang pada periode sebelumnya masih belum terlaksana. Kami juga akhirnya menentukan kegiatan yang sekiranya dapat memberikan dampak positif yang luas. Antara lain kami ingin dalam periode kedepan ada kampung dan desa mitra bem fib sehingga kami dapat memberikan pengabdian dan kontribusi yang nyata untuk masyarakat, untuk kajian kami memutuskan setiap bulan mengadakan kajian rutin di tanggal 25 kami namai "selawean" dengan mengangkat topik yang berbeda, kami juga menyusun lomba karya tulis atau esai tentang kebudayaan secara nasional, dan kami juga merencakaan kegiatan yang sebelumnya sudah ada utuk dikemas secara sederhana namun dapat dinikmati oleh semua masyarakat fib.

Puji syukur berkat kerja keras kawan-kawan semua program kerja bem fib selama satu tahun dapat terlaksana semua. Bahkan kegiatan yang pada awalnya kelihatan tidak mungkin untuk dilaksanakan akhirnya dapat dilaksanakan dengan lancar.  Tentunya tidak semudah mencari warung kopi berwifi seperti skearang, tentunya terdapat banyak permasalahan disana. Namun diawal saya sudah memberikan masukan kepada kwan-kawn semua untuk tetap respect kepada siapapun dan terus bertanggung jawab atas semua yang sudah ditugaskan. Permasalahan itu bukan hanya masalah pendanaan juga berbagai hiruk-pikuk birokrasi kampus, kemoloran acara, bahkan berganti konsep dan masih banyak yang lain. Secara pribadi saya merasakan bahwa permaslahan yang ada di depan mata selalu ada jalan keluarnya yang mana pembuat permaslahan itu adalh diri kita sehingga terkadang diri sendiirlah yang kemudian menghambat dan berpikir bahwa permasalahan itu berat. JIka dijalani dan tidak terasa bahkan satu tahun ini kami berjalan bersama dan tidak terasa berat.





Prinsip yang saya pegang dalam berorganisasi adalah saya tidak ingin terlalu formal dan terlalu protokoler dalam setiap rapat aatau berkegiatan. Untuk itu saya memberikan rasa egaliter dalam bem fib 2018 ini agar kawan-kawan yang sudah tergabung dalam bem dapat merasakan kenyamanan dan tidak ada rasa sungkan atau takut kemudian. Melalui sapaan kemudia gaya yang tidak formal kemudian saya lakukan untuk memberikan gaya baru dalam bem fib. Dalam satu tahun kepengurusan juga saya banyak mengikuti kegiatan kawan-kawan ormawa lainnya bukan untuk tujuan mencari perhatian hanya ingin mengetahui bagaimana susahnya kawan-kawan saya dalam menjalankan sebuah kegiatan. Dari situlah kemudian bem tidak hanya menjadi organ tunggal yang secara struktur diatas ormawa lainnya, namun juga dapat membaur dan menjadi satu kembali dengan masyarakat fib.











Permohonan maaf dan ucapan terima kasih dalam tulisan ini sebagai penutup. Terima kasih kepada kawan-kawan fib semuanya, anggota bem, anggota ormawa, mentri, wakil menteri, seketaris, bendahara, wakil, bapak/ibu dekanat, mas gondrong kantin, bapak/ibu penjaga kebersihan, mas isnan dkk, dan semua warga fib yang sudah kami buat repot dengan ulah kami. Untuk kedepan saya sudah banyak memberikan tugas kepada pengurusan 2019 agar jauh-jauh lebih baik dan dapat benar-benar membawahi ormawa di fib. Terus berkarya dan mengabdi untuk sesama dengan ini kabinet Guyub Rukun undur diri. Jangan hanya berhenti disini masih banyak ruang untuk mengembangkan diri lebih baik lagi. Untuk para adik-adik masih terbuka pintu untuk berkontribusi dalam kepengurusan lagi, atau ingin memilih jalan masing-masing. Tak apa namun saya hanya mengigatkan jangan sampai lupa karena kita punya korsa merah yang sama.


Wassalam. Rahayu...
Malang, 16 Januari 2019



Yunaz Karaman





Selasa, 11 Desember 2018

PENTINGNYA MITIGASI BENCANA UNTUK ANAK

lh3.googleusercontent.com



Indonesia yang terletak di cincin api dan pertemuan antarlempeng dunia menyebabkan posisinya memiliki potensi yang besar untuk terjadinya bencana alam. Hal itu menyebabkan sering adanya gerakan sesar atau patahan yang menyebabkan gempa bumi hingga tsunami dan seringnya erupsi gunung berapi di Indonesia.
Faktanya kita ketahui bersama, beberapa bulan lalu Gunung Agung sebagai gunung berapi aktif di Pulau Bali yang menunjukkan aktivitasnya kembali, meskipun kini sudah menunjukkan penurunan status. Tidak hanya bencana yang disebabkan oleh faktor alam, Indonesia juga sudah langganan untuk tertimpa bencana tahunan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sebagainya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tentunya bencana tersebut memiliki dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik secara moril dan materil.
Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di tahun 2016 saja bencana yang terjadi di Indonesia mencapai 2.000 kasus. Bencana tersebut menyebar dan terjadi di seluruh kawasan di Indonesia. Dari berita dan laporan online juga diberitakan bahwa kebanyakan korban bencana tersebut adalah anak-anak dan sebagian manula. Sangat merugikan dan akan menimbulkan kesedihan yang mendalam ketika generasi penerus kita malah menjadi korban dalam suatu bencana.
Tak ayal hal itu terjadi, secara fisik anak-anak masih lemah untuk menyelematkan dirinya saat terjadi suatu bencana. Begitupun ditambah dengan pengetahuan akan mitigasi saat terjadi bencana yang kurang diketahui oleh kebanyakan anak sehingga menimbulkan kepanikan pada anak. Jika anak tidak memiliki pengetahuan terkait mitigasi bencana, nantinya anak-anak akan merasakan trauma yang mendalam dan menggangu psikologis anak. Pengetahuan terakit mitigasi bencana ini juga merupakan salah satu hak anak-anak untuk mengetahui informasi terkait upaya mitigasi yang bermafaat bagi anak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

washingtonpost.com


Peran Keluarga dan Sekolah dalam Penanaman Pengetahuan Mitigasi Bencana
Banyaknya korban anak-anak pada bencana alam menunjukkan betapa pentingnya keluarga sebagai agen sosial primer untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana. Pengetahuan mitigasi bencana dapat dengan mudah jika dipraktikkan di dalam lingkup keluarga dengan sosok orang terdekat sebagai contoh dalam proses mitigasi tersebut.
Jika memang orangtua/ keluarga masih belum banyak mengetahui tentang mitigasi bencana, kini banyak pada portal online dan buku-buku terkait mitigasi bencana yang baik dan benar. Terlebih dengan akses pengetahuan yang mudah, tentu dapat membantu orangtua untuk mengajarkan mitigasi bencana pada anak-anaknya.
Begitupun peran sekolah sebagai "rumah kedua" bagi anak-anak untuk memberikan pengetahuan terkait mitigasi bencana. Pihak sekolah dapat menjadwalkan dan bekerjasama dengan pihak tanggap bencana seperti BNPB, BPBD, TAGANA, atau kelompok kerelawanan untuk memberikan sosialiasi mitigasi bencana di sekolah-sekolah.
Selain itu juga diperlukan adanya simulasi mitigasi bencana agar anak dapat mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan saat terjadinya suatu bencana. Pendidikan terkait mitigasi bencana ini juga sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang berada dalam kawasan rentan terjadi bencana alam. Selain itu juga ditambah dengan kapasitas tenaga pendidik termasuk guru, kepala sekolah, dan pegawai sekolah terkait pengetahuan tentang mitigasi bencana.
Tidak hanya pengetahuan terkait mitigasi saat terjadi bencana saja,juga diperlukan penanaman terkait tindakan preventif untuk mencegah terjadinya bencana serta tindakan pascabencana yang juga penting. Hal itu diperlukan untuk mengatasi terjadinya trauma yang biasanya dialami oleh anak-anak saat pascabencana. Seperti dengan melakukan penanaman pohon, seruan agar tidak membuang sampah sembarangan, hingga membuat alat pendeteksi tsunami atau gempa.
Dapatlah diberikan juga terkait upaya untuk mengendalikan emosi dan psikologis saat pascabencana. Jika sudah tertanam kemampuan dan pengetahuan terkait mitigasi bencana, anak-anak akan mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana alam. Tidak hanya itu, anak-anak juga dapat saling mengingatkan kepada keluarga bahkan masyarakat untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.
Berdasarkan pengalaman saya, jika anak-anak sudah terbiasa dan mengerti terkait pengetahuan mitigasi bencana, maka anak tersebut akan cenderung tenang dan tidak panik, mereka melakukan upaya menghibur diri dengan mengikuti kegiatan di posko pengungsian yang sering dilakukan oleh relawan.

theglobeandmail.com


Sumber:
http://www.sinarharapan.co/news/read/150726005/agar-anak-anak-tanggap-bencana, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
https://news.detik.com/kolom/d-3502328/pendidikan-siaga-bencana-dalam-keluarga, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
http://pendidikan-luar-sekolah.fip.uny.ac.id/berita/mitigasi-bencana-bagi-anak-usia-dini.html,  diakses pada Kamis 2 November 2017


BERKARYA ALA MAHASISWA

geotimes.co.id


            Mahasiswa bagi masyarakat umum sudah dipandang sebagai suatu kelas yang mendapat pendidikan tinggi. Kelas itu diperoleh secara tidak langsung karena mahasiswa mendapatkan statusnya itu dari perguruan tinggi atau tingkatan sekolah lanjutan tertinggi. Memakai awalan “maha” merepresentasikan mahasiswa sebagai siswa atau pelajar yang “paling” dalam pemahaman ilmu maupun kemampuan. Secara definisi menurut KBBI mahasiswa dapat diartikan sebagai orang yang belajar di Perguruan Tinggi.
            Dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa berhak memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan. Hal tersebut dapat ditampung dengan masuk dan berproses di dalam wadah unit kegiatan mahasiswa ataupun organisasi lainnya. Untuk dapat bergabung dalam unit kegiatan atau organisasi itu bagi seorang mahasiswa dapat memilih sesuai passion atau kemampuan dan kegemaraanya. Misalnya seorang mahasiswa gemar dalam kegiatan pecinta alam maka dapat bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam begitupun yang lain. Tentu untuk dapat berkegiatan diluar akademis itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih. Bahkan beberapa mahasiswa memilih untuk bergabung dalam organisasi lebih dari satu. Anggapan mengenai mahasiswa tidak lepas dengan beberapa istilah yang menunjukan tugas ketika menjadi mahasiswa, yaitu agent of change, iron stock, social control, dan moral force. Jargon-jargon itu selalu digaungkan para senior pada saat prosesi ospek mahasiswa baru. Mahasiswa dituntut oleh keempat hal itu sebagai agen perubahan, penerus masa depan, penyampai kebenaran, dan kekuatan moral. Kesemuanya itu sudah banyak dibuktikan dengan peran mahasiswa dahulu. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa sudah banyak yang berhasil menentang keegoisan pemerintah, contohnya aksi mahasiswa 1998 yang memberhentikan Presiden Soeharto dan rezim Orde Barunya. Namun apakah semangat juang mahasiswa dahulu dapat diimplemntasikan pada saat ini? Apakah juga “musuh” mahasiswa kini juga sama dengan yang dimusuhi mahasiswa dahulu? Tentu tidak, dengan perkembangan zaman kini problem mahasiswa menjadi lebih kompleks tidak hanya persoalan kebijakan pemerintah. Namun juga perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat hingga perlombaan menghadapi dunia kerja.
Tentunya banyak manfaat yang diperoleh bagi mahasiswa saat tergabung dalam suatu organisasinya salah satunya adalah perkembangan kepemimpinan, jaringan, dan kompetensi diri. Nantinya luaran yang diperoleh seorang mahasiswa itu dapat dibuktikan dengan kontribusi secara langsung dan memperoleh prestasi. Lalu dikarenakan hal tersebut muncullah pertanyaan, sebagai mahasiswa apakah harus berorganisasi, berprestasi, atau berkarya? Ataukah hal itu semua dapat diraih saat menjadi sebagai mahasiswa?
Tentu untuk menjawab pertanyaan diatas tidak bisa disamakan antar mahasiswa satu dengan yang lain. Beberapa mahasiswa bahkan sudah membuktikannya selain berorganisasi dan berprestasi ia juga dapat berkarya. Dilihat dari banyaknya prestasi perlombaan yang diikuti oleh mahasiswa dan banyak bermunculan karya-karya mahasiswa baik berupa buku maupun penelitian. Bahkan mahasiswa teknik sudah menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat robot atau mobil listrik. Sudah banyak yang membutikan dari berbagai mahasiswa di universitas di Indonesia. Dari kesemua bukti ini telah menjawab pertanyaan diatas. Itulah peran mahasiswa sesungguhnya, jadi tidak hanya belajar di dalam laboratorium, membaca buku diktat kuliah, atau bahkan apatis dan langsung pulang. Menjadi mahasiswa bisa menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang kita ingini. Terbang bebas dengan imajinasi kita untuk menggapai impian dan cita kita.
Tulisan ini akan ditekankan pada poin ketiga yaitu berkarya dengan gaya khas mahasiswa. Berkarya dalam arti adalah membuahkan suatu hal dan dapat diterima oleh khayalak. Mengapa berkarya ? Menjawab pertanyaan singkat ini gampang-gampang susah. Jelaslah bahwa jika telah berkarya seseorang manusia itu hidupnya akan abadi dengan karyanya itu. Hanya dengan karyanya manusia dapat dikenal zaman, dapat dikenang sejarah, dan tidak tenggelam dalam arus zaman. Untuk itu karya yang sebenarnya mudah dan juga merupakan tanggung jawab akademis mahasiswa adalah dengan menulis. Menulis adalah jalan berkarya yang sederhana namun akan berarti jika tulisan itu dikenang dan membuahkan ide-ide segar kepada pembaca. Ada pepatah mengatakan bahwa “jika kau bukan anak raja maka menulislah !”. Dalam jalur ini dibutuhkan semangat motivasi dan semangat keberlanjutan yang tinggi. Untuk dapat menuangkan pemikiran kita dalam tulisan juga dapat diawali dengan budaya membaca. Banyak membaca buku maka akan banyak juga wawasan yang kita dapat. Jika ide-ide itu sudah terasa penuh dalam pikiran maka saatnya kita untuk menuangkan itu dalam tulisan. Dalam hal ini sebagai mahasiswa tidak hanya dapat menulis berupa jurnal ataupun tulisan yang bersifat akademis, namun juga dapat menulis apapun sesuai dengan jalan imajinasi dan idealismenya. Untuk mengawali budaya menulis juga tidak diperlukan waktu yang jelas. Maksudnya kapan pun berkarya dengan tulisan itu dapat dilakukan. Memanfaatkan mata kita sebagai kamera yang menangkap segala peristiwa disekitar kita saja sudah dapat menjadi bahan untuk menulis. Menulis itu sederhana, tidak dibutuhkan skill khusus. Semua dapat berkarya dengan jalan ini terlebih dengan kapasitas sebagai mahasiswa dengan “maha” nya.
           
           
           

SEJARAH SINGKAT RESTORASI MEIJI (1868-1912)



history.com

RESTORASI MEIJI
(1868–1912)
            Era Meiji disebut juga pintu masuk awal modernisasi di Jepang, dimulai ketika kaisar  Mutsuhito yang masih berusia 16 tahun menggunakan nama “Meiji” untuk pemerintahannya. Periode ini dimulai dengan runtuhnya periode keshogunan Tokugawa dan menyebabkan Jepang bertransformasi dari negara feodal menjadi negara industri yang modern[1]. Pendukung utama kaisar utamanya adalah para samurai berpangkat rendah dan menengah yang akhirnya membantu menggulingkan  keshogunan Tokugawa. Mereka dari Satsuma dan Cho -shu - han yang merupakan kekuatan yang besar[2].
            Tidak lama setelah keshogunan Tokugawa runtuh, pemerintah baru resmi didirikan. Model pemerintahannya berdasar pada model barat yaitu Amerika, dengan adanya pemisahan kekuasaan bagi yang menginginkan pemerintahan  demokrasi, dan pemerintahan Kaisar yang dibantu oleh Dewan Negara (Dajokan). Banyak posisi ditempati oleh samurai muda yang memiliki kekuatan  cukup besar. Perubahan juga ditandai dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Edo. Kota ini selanjutnya berganti nama menjadi Tokyo (Pusat/ kapital Timur), dan kaisar bertempat tinggal di bekas benteng dari Gun Sho, sekarang Imperial Palace.
            Pemerintahan kaisar dengan mempertahankan garis pemerintahan yang tradisional, dimulailah perbaikan dan beberapa pembaharuan di berbagai kota. Dilanjutkan dengan para daimyo di seluruh kota menyerahkan kepemilikan atas tanah kepada kaisar. Penyerahan itu diawali oleh keluarga Satsuma, Chosu, Tosa dan Hizen. Setelah diserahkan kepada kaisar, dilanjutkan adanya pengumuman yaitu ada perubahan sistem milik tanah dengan sertifikat dan pembayaran pajak bumi yang diganti dibayar dengan uang. Dengan adanya pembaharuan diatas maka kaisar juga menghapus sistem kepangkatan yang ditinggalkan pada masa feodal. Semua perbedaan antara samurai, petani, dan pedagang dihapuskan. Para samurai dipensiunkan dan turun temurun, dan masuk pada kegiatan perekonomian dan industri.
            Setelah ada perubahan itu, kaisar terus berusaha membuat perubahan lain yang tujuannya mengubah masyarakat Jepang menjadi lebih modern. Pada tahun 1881 kaisar mengumumkan bahwa akan ada undang-undang dasar. Kaisar mengutus Hirobumi Ito ke berbagai negara untuk mempelajari konstitusi di berbagai negara. Dari Amerika dan negara-negara lain yang akhirnya ia merasa menmukan konstitusi yang paling cocok bagi Jepang yaitu di Prusia, Jerman. Selanjutnya pada tahun 1889, kaisar mengumumkan adanya undang-undang dasar dan membagi lembaga pemerintahan yaitu eksekutif, legislative, dan pengadilan yang masing-masing berdiri sendiri. Namun posisi tertinggi dipegang oleh kaisar, dan perdana menteri juga berada di tangan kaisar untuk menyelenggarakan pemerintahan. Tidak heran pada proses berjalannya pemerintahan Jepang sering terjadi pembubaran parlemen.

indianfolk.com

            Pembaharuan Jepang juga dibarengi dengan reformasi di berbagai bidang. Reformasi pendidikan digencarkan kaisar, dengan berkiblat pada sistem pendidikan di barat. Berbagai buku ilmu, sastra, dan filsafat dari berbagai negeri didatangkan lalu diterjemahkan kedalam bahasa Jepang dan akhirnya diterbitkan. Para pemuda Jepang juga banyak di berangkatkan ke negara-negara barat untuk belajar sesuai dengan bidangnya.
            Dengan banyak perubahan di dalam negeri, Jepang merasakan adanya ketidakadilan yang telah dibuat dengan negara-negara lain. Jepang sedikit demi sedikit merubah perjanjian itu. Pada saat ini juga negara barat menyerang “singa yang sedang tidur” yaitu Cina[3]. Jepang juga terlibat pada perang terbuka dengan Cina di tahun 1894. Cina dapat dikalahkan dan dilanjutkan dengan adanya perjanjian damai di Shimonoseki. Pada perjanjian ini Cina mengakui kemerdekaan Korea. Kemenangan Jepang atas Cina itu memberikan kesan pada negara barat tentang kelemahan Cina itu. Sementara itu Jepang mengangkat martabatnya dimata negara barat. Di tahun 1902 Jepang bekerja sama dengan Inggris untuk kepetingannya berhadapan dengan Rusia.
            Di tahun 1904 Jepang juga menyerang Rusia karena tidak memenuhi janjinya untuk menarik pasukan di Manchuria.Jepang berhasil menghancurkan armada Rusia di Laut Jepang. Setelah adanya penyerangan itu, diadakan perjanjian damai di Porstmouth, Amerika Serikat dengan pengakuan Rusia untuk kepentingan Jepang di Korea. Kemenangan Jepang menimbulkan kekaguman pada bangsa barat, bahkan untuk pertama kalinya bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa barat yang juga berpengaruh pada kebangkitan bangsa-bangsa Asia lainnya.
            Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912, kemudian digantikan dengan Kaisar Taiso yang memerintah hingga tahun 1926. Dalam masa itu Jepang kian aktif perannya dalam pergaulan internasional. Sementara itu di dunia luar banyak negara yang mengalami pergolakan besar-besaran, dalam masa itu Jepang juga memiliki peran aktif pula. Seperti Cina yang berganti menjadi republik, Rusia berganti menjadi Uni Soviet, dan mulai adanya perang dunia pertama.  Sementara itu didalam negeri Jepang, ada ketegangan antara pemerintah dengsn Diet. Gerakan- gerakan kiri karena pengaruh Rusia kian menyebar di Jepang, ditambah dengan adanya gempa bumi pada tahun 1923 di Yokohama.
            Dengan kemajuan-kemajuan yang ada dalam diri Jepang utamanya diawali pada masa Kaisar Meiji yang kemudian dikenal sebagai Restorasi Meiji, Jepang seakan menjadi “raksasa” baru di dunia khusunya di Asia. Dengan kemajuan itu berdampak pada kebangkitan  negara-negara Asia lain. Hingga pada akhirnya Jepang dapat bersaing dan tidak diragukan lagi kekuatannya dan hingga saat ini Jepang masih menjadi salah satu raksasa dunia.

Daftar Pustaka :
Andressen, Curtis, A Short History Of Japan: From Samurai To Sony, Allen & Unwin, Australia, 2002 ;
Rosidi, Ajib, Mengenal Jepang, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981 ;
Sumikawa, Shunsuke. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. Tersedia, http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf, 1999.           
           




[1] Shunsuke Sumikawa. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. 1999. Tersedia http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf
[2] Curtis Andressen. A Short History Of Japan: From Samurai To Sony. 2002. Hlm 77
[3] Ajib Rosidi. Mengenal Jepang. 1981. Hlm 19.

SEJARAH SINGKAT ISLAM DI AFRIKA ( A SHORT HISTORY OF ISLAM IN AFRICA)

muslimheritage.com





                 Dimulai pada masa Daulah Murabbitun ( 479-540 H / 1088-1145 M ). Pada mulanya gerakan ini murni gerakan keagamaan namun dalam perkembangannya menjadi gerakan religio militer. Murabbitun merupakan dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Nama Murabbitun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka ( ribat, semacam madrasah)[1]. Kaum ini juga biasa disebut al-mulassimun ( pemakai kerudung sampa menutupi wajah).
Seorang pemimpin mereka yang bernama Yahya Bin Umar saat melaksanakan ibadah haji, ia menyadari bahwa kaumnya awam dengan ilmu pengetahuan agama. Yahya pun mencari orang yang tepat dan sanggup untuk meningkatkan ilmu pengetahuan disana, dan bertemulah dengan Abdullah bin Yasin seorang guru mazhab Maliki. Abdullah bin Yasin dan Yahya dibantu oleh beberapa orang yang sanggup dan berminat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan disana hingga mendirikan pusat penggemblengan (ribat) di daerah Niger, Senegal. Perkumpulan tersebut berhasil membuat kaum setempat berminat untuk menambah ilmu pengetahuan hingga berjumlah 1000 orang[2]. Para pengikut ini setelah dinyatakan selesai kemudian disebar ke berbagai penjuru untuk menyebarkan ajarannya.
Yahya bin Umar bersama Abdullah bi Yasin berhasil melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah Wadi Dara. Kemudian mereka juga berhasil menaklukan kerajaan Sijilmasat. Sampai akhir hayat Yahya bin Umar , dibawah kepemimpinannya dinasti ini terus menaklukan kerajaan lain hingga Yahya wafat dan digantikan oleh saudaranya yang bernama Abu Bakar bin Umar.
Bersama dengan Abdullah bin Yasin, Abu bakar bin Umar melanjutkan penaklukan diberbagai wilayah di Afrika. Hingga mereka bersama mencoba menaklukan di Maroko Tengah. Tepatnya pada tahun 1059 M saat penyerangan ini Abdullah bin Yasin gugur. Setelah itulah Abu Bakar bin Umar memegang kekuasaan penuh. Abu Bakar saat berkuasa mulai mengembangkan sistem kesultanan.
Sepeninggal Abu Bakar, kekuasaan dinasty ini dipegang oleh Abu Ya’kub Yusuf bin Tasfyin. Abu Ya’kub menjadikan Marakesy menjadi ibu kota pemerintahan. Ekspansipun tetap dilaksanakan hingga sampai ke Aljazair, berhasil menaklukan Almeria, Badajoz, kerajaan Saragosa, dan pulau Balearic. Bahkan dalam kepemimpinannya Abu Ya’kub berhasil menyeberang hingga Spanyol. Sepeninggal Abu Ya’kub, beliau mewariskan wilayah dinasti yang luas kepada anaknya Ali bin Yusuf. Perubahan mental yang ada di dalam dinasty Murabbitun ini berdampak pada melambatnya perluasan daerah dan mulai terlihat kemundurannya. Mental yang semakin duniawi dan lebih menyukai kemewahan materi menyebabkan pemerintahan Ali ini melemah bahkan pada tahun 522 H/1129 M mengalami kekalahan di Cuhera.
1.     Daulah Muwahhidun (524-667 H/1130-1269 M).
Dinasti ini muncul karena reaksi dari dinasti sebelumnya ,Murabbitun , yang dianggap banyak ajaran yang keluar dari aqidah; yang berkembang di Marakesy dan sebagian wilayah di Andalus (Spanyol). Pada akhir dinasti Murabbitun, seorang sufi dari masjid Cordova Abdullah bin Tumart, melihat faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan Murabbitun. Tumart ingin memperbaiki dan menyelesaikan masalah tersebut dan menambah ilmu menuju Baghdad dan berguru pada imam Al-Ghazali. Setelah itu ia menetap di Maroko dan mulai mengkritik perbuatan raja-raja terakhir Murabbitun yang memang telah banyak meninggalkan ajaran Islam. Hingga Tumart mencetuskan gerakan berpaham tauhid yang disebut Muwahhidun. Namun Tumart smasa hiduonya tidak pernah menjadi seorang Raja atau Sultan, bahkan yang terkenal adalah Abd al-Mu’min yang kahir di Tlemcen (Aljazair) dari suku Zahata.
Sepeninggal Tumart dan kepemimpinan jatuh pada al-Mu’min. Pertama yang dilakukan adalah memberantas paham Murabbitun yang memenag menyimpang dan menyerukan paham Muwahhidun. Zaman dinasti Muwahhidun ini mecapai puncaknya dan ajaranya semakin luas terutama perkembangan ilmu lebih giat lagi. Selain itu hubungan dagang juga semakin terjalin baik dan meluas terutama dengan pulau-pulau sekitar Italia seperti Genoa, Pisa, Merseille, Vanice,dan Sisilia[3].
Setelah mengalami kemajuan yang cukup signifikan bahkan hampir satu abad,daulah Muwahhidun akhirnya mengalami masa kemunduran. Salah satu sebabnya adalah kepemimpinan  yang lemah, adanya perebutan di kalangan keluarga, dan memudarnya misi dan keyakinan Tumart. Pengaruh keruntuhan Muwahhidun di Spanyol menyebabkan kekuasaan di Afrika juga mulai mundur.

2.     Daulah Fathimiyah
Di kawasan Afrika Utara hingga tahun 850 M masih dikuasai Aghlab yang meliputi Tunisia dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian Abbasiyah. Sedangkan di wilayah barat masih berkuasa bani Rustamiyah di Aljazair dan Bani Idris di Maroko. Sedangkan di daerah Spanyol masih dibawah kekuasaan bani Umayyah II. Di awal tahun 900-an muncul sebuah gerakan baru hingga terbentuknya negara Fathimiyah di Tunisia.
Gerakan pembaharuan tersebut dibawah pengaruh dari Syi’ah Ismailliyah. Abu Abdullah, merupakan salah satu seorang penganjur gerakan ini yang muncul pada abad IX di antara suku Barbar Kutamana di Tunisia tepatnya pada tahun 893. Dalam perkembangannya beliau mendapat banyak dukungan bahkan dapat mengusir dinasti Aghlabi.
Di Afrika Utara kekuasan mereka menjadi semakin luas hingga dapat menuasai dinasti Rustamiyah dari Tahert dan juga menyerang bani Idris di Maroko. Fathimiyah pertama kali menyebarkan paham kepada ummat Islam bahwa kaum mereka adalah keturunan Fathimah (putri Nabi Muhammad SAW dan istri dari Ali bin Abi Thalib). Tugas yang lain dibawa oleh khalofah Muiz yang mmeiliki seorang Jenderal bernama Jauhar Sicily yang dikirim ke Mesir untuk menguasai dan menjadikan Mesir sebagai pusat Islam. Berkat kerja keras Jenderal ini Mesir dapat ditaklukan dengan mudah dan singkat.
Di zaman khalifah ini Mesir semakin berkembang di berbagai bidang. Perdagangan disana berkembang ke segala arah bahkan samapai India, laut Tengah, dan terkadang ke Byzamntium. Kemakmuran rakyat Mesir saat itu juga membawa dampak yang baik bagi perkembangan pemikiran dari seluruh Dunia Islam, dikarenakan selain ada semangat intelektual rasa toleransi juga tinggi. Ahli Zimah terutama Kristen dan Yahudi mendapatkan perlakuan yang baik, bahkan mereka diizinkan untuk membangun tempat ibadah dan beberpa orang diangkat unruk menjabat ke dalam pemerintahan.
Khalifah Aziz yang menggantikan khalifah-khalifah sebelumnya melakukan perubahan dasar pada masjid Al-Ahzar yang memiliki keistimewaan sebuah masjid dapat berkembang hingga menjadi universitas. Al-Ahzar dibangun pada tahun 970 M sebagai masjid yang baru dan lama kelamaan berkembang menjadi pusat studi Islam yang terus berlanjut hingga saat ini[4]. Awalnya digunakan untuk menyebarkan paham Syi’ah, namun diubah oleh Shalahudin al-Ayyubi menjadi pusat pendidikan Sunni hingga kini.
3.     Daulah Ayyubiyah.
Masa akhir daulah Fathimiyah saat itu diperkirakan tidak sanggup mengahadapi tentara perang salib yang hendak menguasai dunia Islam. Raja terakir dinasti tersebut mengutus Shalahudin dan membawa angkatan bersenjata untuk membatu Mesir. Dalam perjuangannya beliau berhasil dan diangkat menjadi sultan di Mesir sebgai pendiri dinasti Ayyubiyah.
Shalahudin pertama muncul saat pamannya Nuruddin Zanki mengirim pasukan bersenjata untuk mengalihkan pasukan Salib dari Mesir dan dibantu oleh banyak staf salah satunya Shalahudin. Shalahudin dapat dengan cepat diberi amanat hingga menjadi menteri perang untuk menghadapi pasukan Salib. Nama Shalahudin kian melejit hingga ia dipercaya untuk menjadi penguasa Mesir dan mempersatukan pemerintahan Abbasiyah dan Fathimiyah yang memang berbeda aliran. Disini dunia Islam kian kuat dan bersatu. Tidak hanya itu Shalahudin berhasil mempersatukan bangsa-bangsa Muslim lainnya seperti Syria, Mesopotamia, dan Yaman. Untuk mempertahankan bangsa-bangsa Muslim Shalahudin membangun benteng Kairo diatas bukit Muqattam, yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan dan militer.
Pada tahun 1174 Shalahudin mendirikan dinasti Ayyubiyah dengan menguasai wilayah Mesir, Syam, Mesopotamia, dan Yaman. Shalahudin kiat disgani sebagai penguasa disana, berkat banyaknya kemenangan yang dicapainya melawan pasukan Salib. Shalhudin juga membuat suatu kemajuan bagi umat Islam dengan membangun ekonomi, perdagangan, memajukan ilmu oengetahuan dengan mendirikan madarasah-madarasah. Selain membangun peradaban disana, Shalahudin juga memperkuat hubungan dengan musuh-musuh saat perang Salib. Seperti saat pasukan Salib dipimpin oleh Richard Hati Singa dari Inggris yang mengalami kekalahan hingga Richard jatuh sakit, kebaikan Shalahudin pada musuhnya ditampakan dengan bersedianya Shalahudin mengobati Richard hingga sembuh. Kepiawaian Shalahudin dalam memimpin juga dibarengi dengan prestasinya mencetak tokoh ilmuan dari Arab saat itu seperti Maimoonides yang mnulis buku filsafat yang berjudul Dalalah al-Haizin (sebuah pedoman bagi orang yang ragu ), Bin al-Baytar yang ahli dalaam kedokteran hewan dan medical.
1.2. Afrika Timur
            Diwilayah Afrika Timur penyebaran Islam cenderung mudah dan cepat. Salah satunya sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beberapa pengikutnya melarikan diri dan tinggal di Aksum (Ethiophia) yang disana dipimpin oleh raja Kristen. Hal sebaliknya juga dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Bilal yang biasa menyerukan Adzan di Madinah adalah merupakan bekas budak dari Ethiophia. Imigrasi pada saat itu memang sudah banyak dilakukan mengingat jalur perdagangan di jazirah Arab dengan kawasan Pantai Afrika Timur sudah terlain lama.
            Kebanyakan pedagang dari Haramaut di Yaman bermukim di kota-kota sepanjang kawasan Pantai Afrika Timur. Artefak paling awal menunjukan bahwa persebaran Islam di Afrika Timur berasal dari tahun akhir 700-an dan awal 800-an[5]. Dan bukti yang ada menunjukan Islam masuk melalui Pantai Afrika Timur diwilayah utara yang memang berdekatan dengan Arab.


  Pada abad ke tujuh, pengungsi-pengungsi, pelarian Muslim dari Meka, telah diterima dengan baik oleh pera pemimpin di Etiopia. Kelompok ini kemudian kembali ke Arab Selatan beberapa tahun kemudian. Muslim lainnya memilih untuk tetap tinggal di daerah-daerah Sudan dan Eritrea dan di daerah pantai Somalia. Dalam keadaan seperti ini maka perbudakan menjadi unsur yang sangat penting, dimana para pembeli budak untuk dijual kembali di Arab telah berlangsung selama berabad-abad.

Masa pendudukan kolonial Inggris dan Jerman di Afrika Timur telah sedikit memperlambat penyebaran Islam. Para penguasa kcolonial umumnya melakukan hal itu untuk mengejar perkembangannya sendiri, walaupun hal ini tidak sepenuhnya benar, seperti yang dilakukan oleh bangsa Belgia di Congo. Pada masa setelah kemerdekaan Negara-negara Afrika Timur , Islam tetap masih kelompok Agama dan kebudayaan terbesar dan kemudian melanjutkan penyebaran disana, hal itu terjadi di Malawi, Zaire dan di beberapa tempat di Mozambique.


DAFTAR PUSTAKA

Alkhateeb, Firas. 2014. Sejarah Islam yang Hilang. Yogyakarta : Bentang Pustaka.
Sunanto, Musyrifah, Prof., Dr., Hj. 2015. Sejarah Islam Klasik. Jakarta : Prenadamedia





[1] Musrifah Sunanto , Sejarah Islam Klasik, (Jakarta : Prenadamedia, 2015), Hlm : 129.
[2] Ibid. Hlm : 130.
[3] Ibid. Hlm 140
[4] Ibid. Hlm : 146.
[5] Firas Alkhateeb, Sejarah Islam yang Hilang, (Yogyakarta : Bentang Pustaka) . Hlm : 193.

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...