Selasa, 11 Desember 2018

SEJARAH SINGKAT ISLAM DI AFRIKA ( A SHORT HISTORY OF ISLAM IN AFRICA)

muslimheritage.com





                 Dimulai pada masa Daulah Murabbitun ( 479-540 H / 1088-1145 M ). Pada mulanya gerakan ini murni gerakan keagamaan namun dalam perkembangannya menjadi gerakan religio militer. Murabbitun merupakan dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Nama Murabbitun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka ( ribat, semacam madrasah)[1]. Kaum ini juga biasa disebut al-mulassimun ( pemakai kerudung sampa menutupi wajah).
Seorang pemimpin mereka yang bernama Yahya Bin Umar saat melaksanakan ibadah haji, ia menyadari bahwa kaumnya awam dengan ilmu pengetahuan agama. Yahya pun mencari orang yang tepat dan sanggup untuk meningkatkan ilmu pengetahuan disana, dan bertemulah dengan Abdullah bin Yasin seorang guru mazhab Maliki. Abdullah bin Yasin dan Yahya dibantu oleh beberapa orang yang sanggup dan berminat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan disana hingga mendirikan pusat penggemblengan (ribat) di daerah Niger, Senegal. Perkumpulan tersebut berhasil membuat kaum setempat berminat untuk menambah ilmu pengetahuan hingga berjumlah 1000 orang[2]. Para pengikut ini setelah dinyatakan selesai kemudian disebar ke berbagai penjuru untuk menyebarkan ajarannya.
Yahya bin Umar bersama Abdullah bi Yasin berhasil melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah Wadi Dara. Kemudian mereka juga berhasil menaklukan kerajaan Sijilmasat. Sampai akhir hayat Yahya bin Umar , dibawah kepemimpinannya dinasti ini terus menaklukan kerajaan lain hingga Yahya wafat dan digantikan oleh saudaranya yang bernama Abu Bakar bin Umar.
Bersama dengan Abdullah bin Yasin, Abu bakar bin Umar melanjutkan penaklukan diberbagai wilayah di Afrika. Hingga mereka bersama mencoba menaklukan di Maroko Tengah. Tepatnya pada tahun 1059 M saat penyerangan ini Abdullah bin Yasin gugur. Setelah itulah Abu Bakar bin Umar memegang kekuasaan penuh. Abu Bakar saat berkuasa mulai mengembangkan sistem kesultanan.
Sepeninggal Abu Bakar, kekuasaan dinasty ini dipegang oleh Abu Ya’kub Yusuf bin Tasfyin. Abu Ya’kub menjadikan Marakesy menjadi ibu kota pemerintahan. Ekspansipun tetap dilaksanakan hingga sampai ke Aljazair, berhasil menaklukan Almeria, Badajoz, kerajaan Saragosa, dan pulau Balearic. Bahkan dalam kepemimpinannya Abu Ya’kub berhasil menyeberang hingga Spanyol. Sepeninggal Abu Ya’kub, beliau mewariskan wilayah dinasti yang luas kepada anaknya Ali bin Yusuf. Perubahan mental yang ada di dalam dinasty Murabbitun ini berdampak pada melambatnya perluasan daerah dan mulai terlihat kemundurannya. Mental yang semakin duniawi dan lebih menyukai kemewahan materi menyebabkan pemerintahan Ali ini melemah bahkan pada tahun 522 H/1129 M mengalami kekalahan di Cuhera.
1.     Daulah Muwahhidun (524-667 H/1130-1269 M).
Dinasti ini muncul karena reaksi dari dinasti sebelumnya ,Murabbitun , yang dianggap banyak ajaran yang keluar dari aqidah; yang berkembang di Marakesy dan sebagian wilayah di Andalus (Spanyol). Pada akhir dinasti Murabbitun, seorang sufi dari masjid Cordova Abdullah bin Tumart, melihat faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan Murabbitun. Tumart ingin memperbaiki dan menyelesaikan masalah tersebut dan menambah ilmu menuju Baghdad dan berguru pada imam Al-Ghazali. Setelah itu ia menetap di Maroko dan mulai mengkritik perbuatan raja-raja terakhir Murabbitun yang memang telah banyak meninggalkan ajaran Islam. Hingga Tumart mencetuskan gerakan berpaham tauhid yang disebut Muwahhidun. Namun Tumart smasa hiduonya tidak pernah menjadi seorang Raja atau Sultan, bahkan yang terkenal adalah Abd al-Mu’min yang kahir di Tlemcen (Aljazair) dari suku Zahata.
Sepeninggal Tumart dan kepemimpinan jatuh pada al-Mu’min. Pertama yang dilakukan adalah memberantas paham Murabbitun yang memenag menyimpang dan menyerukan paham Muwahhidun. Zaman dinasti Muwahhidun ini mecapai puncaknya dan ajaranya semakin luas terutama perkembangan ilmu lebih giat lagi. Selain itu hubungan dagang juga semakin terjalin baik dan meluas terutama dengan pulau-pulau sekitar Italia seperti Genoa, Pisa, Merseille, Vanice,dan Sisilia[3].
Setelah mengalami kemajuan yang cukup signifikan bahkan hampir satu abad,daulah Muwahhidun akhirnya mengalami masa kemunduran. Salah satu sebabnya adalah kepemimpinan  yang lemah, adanya perebutan di kalangan keluarga, dan memudarnya misi dan keyakinan Tumart. Pengaruh keruntuhan Muwahhidun di Spanyol menyebabkan kekuasaan di Afrika juga mulai mundur.

2.     Daulah Fathimiyah
Di kawasan Afrika Utara hingga tahun 850 M masih dikuasai Aghlab yang meliputi Tunisia dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian Abbasiyah. Sedangkan di wilayah barat masih berkuasa bani Rustamiyah di Aljazair dan Bani Idris di Maroko. Sedangkan di daerah Spanyol masih dibawah kekuasaan bani Umayyah II. Di awal tahun 900-an muncul sebuah gerakan baru hingga terbentuknya negara Fathimiyah di Tunisia.
Gerakan pembaharuan tersebut dibawah pengaruh dari Syi’ah Ismailliyah. Abu Abdullah, merupakan salah satu seorang penganjur gerakan ini yang muncul pada abad IX di antara suku Barbar Kutamana di Tunisia tepatnya pada tahun 893. Dalam perkembangannya beliau mendapat banyak dukungan bahkan dapat mengusir dinasti Aghlabi.
Di Afrika Utara kekuasan mereka menjadi semakin luas hingga dapat menuasai dinasti Rustamiyah dari Tahert dan juga menyerang bani Idris di Maroko. Fathimiyah pertama kali menyebarkan paham kepada ummat Islam bahwa kaum mereka adalah keturunan Fathimah (putri Nabi Muhammad SAW dan istri dari Ali bin Abi Thalib). Tugas yang lain dibawa oleh khalofah Muiz yang mmeiliki seorang Jenderal bernama Jauhar Sicily yang dikirim ke Mesir untuk menguasai dan menjadikan Mesir sebagai pusat Islam. Berkat kerja keras Jenderal ini Mesir dapat ditaklukan dengan mudah dan singkat.
Di zaman khalifah ini Mesir semakin berkembang di berbagai bidang. Perdagangan disana berkembang ke segala arah bahkan samapai India, laut Tengah, dan terkadang ke Byzamntium. Kemakmuran rakyat Mesir saat itu juga membawa dampak yang baik bagi perkembangan pemikiran dari seluruh Dunia Islam, dikarenakan selain ada semangat intelektual rasa toleransi juga tinggi. Ahli Zimah terutama Kristen dan Yahudi mendapatkan perlakuan yang baik, bahkan mereka diizinkan untuk membangun tempat ibadah dan beberpa orang diangkat unruk menjabat ke dalam pemerintahan.
Khalifah Aziz yang menggantikan khalifah-khalifah sebelumnya melakukan perubahan dasar pada masjid Al-Ahzar yang memiliki keistimewaan sebuah masjid dapat berkembang hingga menjadi universitas. Al-Ahzar dibangun pada tahun 970 M sebagai masjid yang baru dan lama kelamaan berkembang menjadi pusat studi Islam yang terus berlanjut hingga saat ini[4]. Awalnya digunakan untuk menyebarkan paham Syi’ah, namun diubah oleh Shalahudin al-Ayyubi menjadi pusat pendidikan Sunni hingga kini.
3.     Daulah Ayyubiyah.
Masa akhir daulah Fathimiyah saat itu diperkirakan tidak sanggup mengahadapi tentara perang salib yang hendak menguasai dunia Islam. Raja terakir dinasti tersebut mengutus Shalahudin dan membawa angkatan bersenjata untuk membatu Mesir. Dalam perjuangannya beliau berhasil dan diangkat menjadi sultan di Mesir sebgai pendiri dinasti Ayyubiyah.
Shalahudin pertama muncul saat pamannya Nuruddin Zanki mengirim pasukan bersenjata untuk mengalihkan pasukan Salib dari Mesir dan dibantu oleh banyak staf salah satunya Shalahudin. Shalahudin dapat dengan cepat diberi amanat hingga menjadi menteri perang untuk menghadapi pasukan Salib. Nama Shalahudin kian melejit hingga ia dipercaya untuk menjadi penguasa Mesir dan mempersatukan pemerintahan Abbasiyah dan Fathimiyah yang memang berbeda aliran. Disini dunia Islam kian kuat dan bersatu. Tidak hanya itu Shalahudin berhasil mempersatukan bangsa-bangsa Muslim lainnya seperti Syria, Mesopotamia, dan Yaman. Untuk mempertahankan bangsa-bangsa Muslim Shalahudin membangun benteng Kairo diatas bukit Muqattam, yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan dan militer.
Pada tahun 1174 Shalahudin mendirikan dinasti Ayyubiyah dengan menguasai wilayah Mesir, Syam, Mesopotamia, dan Yaman. Shalahudin kiat disgani sebagai penguasa disana, berkat banyaknya kemenangan yang dicapainya melawan pasukan Salib. Shalhudin juga membuat suatu kemajuan bagi umat Islam dengan membangun ekonomi, perdagangan, memajukan ilmu oengetahuan dengan mendirikan madarasah-madarasah. Selain membangun peradaban disana, Shalahudin juga memperkuat hubungan dengan musuh-musuh saat perang Salib. Seperti saat pasukan Salib dipimpin oleh Richard Hati Singa dari Inggris yang mengalami kekalahan hingga Richard jatuh sakit, kebaikan Shalahudin pada musuhnya ditampakan dengan bersedianya Shalahudin mengobati Richard hingga sembuh. Kepiawaian Shalahudin dalam memimpin juga dibarengi dengan prestasinya mencetak tokoh ilmuan dari Arab saat itu seperti Maimoonides yang mnulis buku filsafat yang berjudul Dalalah al-Haizin (sebuah pedoman bagi orang yang ragu ), Bin al-Baytar yang ahli dalaam kedokteran hewan dan medical.
1.2. Afrika Timur
            Diwilayah Afrika Timur penyebaran Islam cenderung mudah dan cepat. Salah satunya sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beberapa pengikutnya melarikan diri dan tinggal di Aksum (Ethiophia) yang disana dipimpin oleh raja Kristen. Hal sebaliknya juga dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Bilal yang biasa menyerukan Adzan di Madinah adalah merupakan bekas budak dari Ethiophia. Imigrasi pada saat itu memang sudah banyak dilakukan mengingat jalur perdagangan di jazirah Arab dengan kawasan Pantai Afrika Timur sudah terlain lama.
            Kebanyakan pedagang dari Haramaut di Yaman bermukim di kota-kota sepanjang kawasan Pantai Afrika Timur. Artefak paling awal menunjukan bahwa persebaran Islam di Afrika Timur berasal dari tahun akhir 700-an dan awal 800-an[5]. Dan bukti yang ada menunjukan Islam masuk melalui Pantai Afrika Timur diwilayah utara yang memang berdekatan dengan Arab.


  Pada abad ke tujuh, pengungsi-pengungsi, pelarian Muslim dari Meka, telah diterima dengan baik oleh pera pemimpin di Etiopia. Kelompok ini kemudian kembali ke Arab Selatan beberapa tahun kemudian. Muslim lainnya memilih untuk tetap tinggal di daerah-daerah Sudan dan Eritrea dan di daerah pantai Somalia. Dalam keadaan seperti ini maka perbudakan menjadi unsur yang sangat penting, dimana para pembeli budak untuk dijual kembali di Arab telah berlangsung selama berabad-abad.

Masa pendudukan kolonial Inggris dan Jerman di Afrika Timur telah sedikit memperlambat penyebaran Islam. Para penguasa kcolonial umumnya melakukan hal itu untuk mengejar perkembangannya sendiri, walaupun hal ini tidak sepenuhnya benar, seperti yang dilakukan oleh bangsa Belgia di Congo. Pada masa setelah kemerdekaan Negara-negara Afrika Timur , Islam tetap masih kelompok Agama dan kebudayaan terbesar dan kemudian melanjutkan penyebaran disana, hal itu terjadi di Malawi, Zaire dan di beberapa tempat di Mozambique.


DAFTAR PUSTAKA

Alkhateeb, Firas. 2014. Sejarah Islam yang Hilang. Yogyakarta : Bentang Pustaka.
Sunanto, Musyrifah, Prof., Dr., Hj. 2015. Sejarah Islam Klasik. Jakarta : Prenadamedia





[1] Musrifah Sunanto , Sejarah Islam Klasik, (Jakarta : Prenadamedia, 2015), Hlm : 129.
[2] Ibid. Hlm : 130.
[3] Ibid. Hlm 140
[4] Ibid. Hlm : 146.
[5] Firas Alkhateeb, Sejarah Islam yang Hilang, (Yogyakarta : Bentang Pustaka) . Hlm : 193.

Senin, 03 Desember 2018

"Sehari" di Brunei Darussalam


      
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

       Kita sudah mengetahui bersama bahwa Brunei Darussalam adalah salah satu Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Berbagai hal kemiripan antara warga Indonesia dengan Brunei salah satunya adalah pemakaian Bahasa Melayu dan Agama Mayoritas adalah Islam. Meskipun Brunei terletak di sebagian luasnya Pulau Kalimantan, namun Negara kecil ini kaya akan sumber daya alam minyak dan kelapa sawitnya. Saat pertama sampai di Bandara Udara Internasional Brunei di Kota Bandar Seri Begawan, Negara ini tidak akan terlihat sebagai Negara kecil, dengan megahnya bangunan dan banyaknya warga manca Negara yang berdatangan memperlihatkan bahwa Brunei adalah Negara maju. Bahkan disana saya jarang menemui adanya sepeda motor dijalan, hanya mobil, mobil dan mobil. Bahkan beberapa merk mobil yang di Indonesia sudah berkategori mobil mewah berseliweran disana.

Sarapan di pesawat


Disambut oleh pihak FASS UBD




               Perlunya belajar dan bertukar pikiran dengan mahasiswa di Negara tetangga perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana iklim akademis dan suasana kegiatan kemahasiswa. Hal itu dilakukan oleh FIB (Fakultas Ilmu Budaya)  Universitas Airlangga pada hari Kamis (2/11) untuk studi banding ke UBD (University Of Brunei Darussalam). UBD merupakan Salah satu kampus terbaik di Brunei Darussalam. Kampus ini juga termasuk kampus teratas di wilayah Asia Tenggara dan memiliki berbagai kegiatan kemahasiswaan yang bersifat internasional. UBD juga merupakan kampus unggulan dengan fasilitas yang menurut saya cukup menunjang. Yang menarik adalah di kampus ini saya tidak menemukan sepeda motor (lagi-lagi) bahkan satu mahasiswa satu mobil. Wah, kalau di kampus UNAIR malah saling berebut untuk parkir motor malah disini mobil. Mahasiswa asing juga saya lihat banyak, saat itu saya berada di kafetaria. Mading yang ada disana saya lihat juga hampir sama dengan di Indonesia, dipakai untuk memasang acara bahkan saya lihat ada poster Majelis Mahasiswa (semacam BEM UNIV disana). 

                   Berjumlahkan sebelas orang peserta berikut mahasiswa dan pihak dekanat, rombongan FIB UNAIR berangkat di hari yang sama. Tidak hanya para mahasiswa yang sudah menunggu kedatangan rombongan FIB UNAIR namun juga petinggi dari FASS (Faculty of Art and Social Sciences) UBD antusias dalam proses penjemputan di Bandara dan kemudian langsung diantar menuju kampus UBD.  Kampus ini terletak di Kota Bandar Seri Begawan dan memiliki cakupan yang cukup luas.

         Makanan disini sama dengan menu di Malaysia. Nasi lemak dan sejenisnya. Saya mencoba ayam goreng dengan saus mentega. Rasanya cukup beraneka ragam dari pedes sampai manis mentega. Di pojok salah satu gerai saya melihat ada Indomie, tapi bungkusnya berbeda dengan Indomie di Indonesia pada umumnya, warnanya merah dan minya tipis. Cuaca yang cukup mendung saat itu membuat saya merasakan gerah yang hampir sama saya rasakan di Surabaya, cukup membuat keringatan.  


Indomie Brunei

Majlis Perwakilan Pelajar ditempel di mading

               Acara pembuka adalah sambutan dari masing-masing perwakilan UBD dan FIB UNAIR oleh Dekan atau yang mewakili. Hadir pula para mahasiswa UBD yang tergabung dalam BPM (Badan Pergerakan Mahasiswa-Mahasiswi) untuk kemudian melakukan diskusi dengan perwakilan kami. Di tengah kegiatan, perwakilan mahasiswa FIB UNAIR mementaskan teater bisu dengan mengangkat tema “Indonesia Luka”. Dalam alur cerita teater mereka memperlihatkan beberapa hasil kebudayaan khas Indonesia seperti kain ulos, blangkon jawa, wayang, topeng cakil, dan alat gamelan. Klimaks dari pementasan ini ketika kain putih lebar yang diumpamakan tsunami “menggulung” para aktor diatas panggung. Disini saya adalah pemeran utama dengan membawa Burung Garuda di deapan dada. Kemudian teman-teman lainnya sekan membangkitkan lagi dengan puisi. Durasinya cukup lama, bahkan hampir satu jam disana. Saya melihat antusias dari kawan-kawan UBD yang melihat dari awal sampai akhir. Di awal sebelum kami berangkat kami diberitahu oleh Wakil Dekan I yang sudah pernah kesana, bahwa disana mahasiswa teaternya tidak main-main bahkan terdapat gedung pemetasan yang sudah bertaraf internasional. Wah pada awalnya kami merasa minder, namun pada saat pementasan ini kami percaya diri.





Dari konsep teater tersebut kami merefleksikan beberapa bencana alam yang sedang terjadi di Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan adalah meskipun dilanda berbagai bencana namun jika bersatu maka Bangsa Indonesia akan dapat bangkit lagi serta dapat terus berhubungan baik dengan  Brunei Darussalam seabagai Negara sahabatnya. Penyerahan souvenir secara simbolis menandakan perpisahan dan berakhirnya kegiatan ini. Kami diantar oleh mahasiswa ke hotel di dekat bandara. Pada awalnya kami sebenarnya langsung pulang tapi karena maskapai kami Royal Brunei Airlines yang delay dan menungu pesawat dari Manila sehingga kami harus menggiap semalam disini. Hotel berada dikawasan mall tepatnya di lantai 3 sehingga di lantai bawah sangat ramai dan merupakan pusat perbelanjaan.

Tapi di Brunei menurut saya tidak seramai negara-negara sepetri Thailand atau Singapore. Untuk cari oleh-oleh disini saja saya tidak menemukan yang menjual barang atau souvenir khas brunei hanya saja beberapa karpet atau pernak-pernik yang ada di Indonesia. Mungkin kami tidak mengetahui dimana lokasi pusat penjualan oleh-oleh namun di pusat perbelanjaan ini benar-benar tidak seramai yang saya bayangkan. Bahkan saya mendengar lagu-lagu dangdut dari Indonesia. Akhirnya saya hanya membeli kue bolu di salah satu departement store. Yang unik disini adalah departemen store ini tidak menyediakan kresek/tas plastik sehingga harus memakai tas dari kain yang mudah di recycle. Malam itu ditambah dengan hujan yang cukup deras sehingga kami hanya berkeliling disekitaran hotel dan kemudian kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri bangun pagi sekali untuk langsung ke Bandara jam 02.30 waktu setempat. Di bandara juga sangat sepi saya melihat banyak WNI disana. Bahkan toko-toko juga banyak yang tidak buka 24 jam sehingga kami hanya duduk-duduk setelah check in. Benar-benar pagi sehingga kami banyak yang melanjutkan tidur dan ada yang jalan-jalan. 


Saya selalu mampir ke toko buku


City Light


Sunrise di atas pesawat, sungguh lukisan Tuhan yang indah


Satu hal yang saya peroleh dari perjalanan kali ini adalah bagaimana kita harus percaya diri dengan apa yang sudah Tuhan karuniakan pada kita. Saya yakin setiap manusia diberikan keunikan masing-masing dan saya beranggapan keunikan itulah yang akan memunculkan manusia-manusia hebat. Brunei meskipun negara kecil tapi pemudanya dengan percaya diri tidak menunjukkan bahwa mereka negara yang kecil, mereka bersaing global dan siap melihat cakrawala. Terutama di Indonesia saya yakin ada optimisme yang sangat besar. Ditambah dengan kekayaan budaya dan didukung geografis yang sangat luas, sangat memudahkan Indonesia bangga dan siap untuk unjuk diri dengan masyarakat global.

Sabtu, 23 Juni 2018

Sebuah Bakti dan Perpustakaan Prasojo





Urip sing prasojo lan migunani tumraping marang liyan. Kalimat ini sampai saat ini masih menjadi pemikiran dalam bertingkah. Memahami setiap pesan yang diberikan Tuhan dengan menyelam bersama orang-orang. Bertemu dengan orang-orang baik yang memiliki ide-ide dan harapan-harapan hidup yang tinggi. Harusnya tidak memiliki apa-apa saja dan itu adalah yang paling baik.

Menjadi diri sendiri adalah puncak dari proses hidup ini. Menjadi diri sendiri yang yakin ada satu hal Yang Mutlak. Ia perencana dan pengatur segala. Ia yang mempertemukan dengan orang-orang baik lainnya. Ia yang mengatur terbaginya waktu di Bumi. Ia memang sengaja menurunkan ciptaanNya di kerajaan Bumi dengan sudah mengatur konsekuensi yang ada. Ya, saya yakin. Namun kapan kita dapat dipertemukan denganNya? 
For: @rumah_kepemimpinan @rksurabaya @saladin_art @univ_airlangga @bemfibunair@perpus_prasojo

Minggu, 21 Januari 2018

Bertemu Dengan Orang-orang Baik#4 Subcyclist



(Mojokerto-Surabaya) "Dan dalam setiap perbaikan diri,
Kita tidak sedang mengalahkan siapa-siapa 
Sebab, perlombaan yang terjadi adalah antara diri melawan diri" ~Disastra-Tembok Ilusi~


10 Nopember sebagai refleksi patriotisme memberikan cerminan pada diri untuk apa dan siapa kita berjuang. Tentu tak bisa disandingkan dengan 72 tahun lalu, musuh terlihat jelas dan dengan membawa senapan kita melawan! Kini melalui pelbagai hal kita dapat (seakan) merayakan perjuangan kala itu. Tentu bukan darah dan keringat lagi. Tentu bukan bom dan pesawat tempur lagi. Melainkan tanyakan pada diri sendiri. 


Lalu, berkawan dengan siapapun adalah kegemaran tersendiri. Berkawan dengan orang baik, baru, dan dalam. Menyadarkan diri bahwa hidup ini tidak sendiri. Bertemu dengan gerombolan sevisi malah merekatkan api persahabatan. Terima kasih @subcyclist dan @saladin_art telah membawa diri dan Perpustakaan Prasojo @perpus_prasojo mengayuh "Jalan Juang" waktu itu. Terus mengayuh, terus menebar kebermanfaatan, terus memberi, dan terus berkarya.


Selasa, 09 Januari 2018

Dari Kami Bertiga






Kaki menjangkar rindu ke laut

kita bertanya: ke mana sajak melanjut
setelah angin tidak berbisik tentang takdir
dan rumput-bukit menjadi pendengar abadi
dari pertanyaan kita kepada hidup
(Jawaban, Desember 2017)




dari kami bertiga
.
.
yang jauh. di Surabaya, Jogja, Jakarta
hendak bilang:
kami ingin pulang di tengah kelilinganmu
dan kasih bunga satu per satu..
.
.

mari kembali kita duduk bersila
di antara sederhana Jogja 
kita tuntaskan rindu tanpa peduli pada waktu.


Senin, 08 Januari 2018

Masuk di Sangkar "Rumah Kepemimpinan": Bersama kawan-kawan Heroboyo8




Kehidupan masa muda memang mengasyikkan. Banyak hal yang dapat dilakukan pada masa ini, karena masih memiliki tenaga yang lebih banyak ketimbang masa kanak-kanan ataupun masa tua. Hal tersebut seperti halnya menuntut ilmu, berkarya, ataupun bekerja. Semua hal dicoba dan dilakukan demi mencari jati diri. Cita-cita dan harapan hidup menghiasi hari-hari, masa transisi ini. Idealisme dan semangat yang tinggi merupakan harta kekayaan pada masa ini. Tawa dan canda bersama kawan-kawan seusia yang tak terasa banyak memakan waktu. Bahkan menghabiskan waktu bersama kawan diluar rumah lebih asyik dilakukan daripada dengan keluarga di rumah sendiri. Pengalaman menjadi barang berharga yang paling dicari selain kawan baru pada masa ini.

 Bagi pemuda yang beruntung dapat menimba ilmu lanjutan adalah suatu anugerah terindah yang diberikan Allah dan suatu kebanggaan serta lambang kebahagiaan kedua orangtua. Menimba ilmu pada masa muda banyak sekali amanah yang didapatkan selain murninya ilmu itu. Kawan baru, pengalaman baru, masalah baru, bahkan harapan baru semua hal akan dapat didapatkan dibangku-bangku kelas. Tak hanya didalam kelas yang penuh dengan bangku dan diktat, diskusi luar kelas bahkan pengembangan diri dengan masuk ke dalam organisasi membuka pintu selebar-lebarnya untuk menggodok diri. Tentu hal itu sudah banyak dilakukan oleh sebagian besar pemuda yang beruntung dapat memakai jas almamater dan mendengarkan ceramah dosen.

 Saat menimba ilmu inilah terkadang seorang pemuda harus meninggalkan sangkarnya untuk merantau. Di tanah rantau itu kemudian segala hal yang dilakukan tidak lagi dapat pengawasan secara langsung oleh kedua orangtua. Hanya rasa tanggung jawab dan kejujuran diri yang dapat menyelamatkan pemuda di tanah rantau ini. Kedua hal inilah yang saya rasakan kini. Menjadi pemuda yang beruntung untuk dapat menimba ilmu lanjutan dengan memilih untuk merantau untuk membuat sangkar baru dan keluar dari zona nyaman saya untuk menaruhkan cita-cita. Awalnya memang berat harus berlatih memanajemen diri, mulai dari manajemen waktu, uang, bahkan jadwal makan, namun apa salahnya jika dicoba untuk survival di tengah hutan rimba ini. 




 Saat merantau ini perlu adanya sangkar atau rumah baru yang nyaman dan dapat memicu diri kita agar lebih baik. Namanya juga rumah, yang pasti didalamnya saya harus mendapatkan keluarga baru dan suasana didalamnya yang membuat saya tenang untuk berkarya. Awalnya saya hanya lah seekor kucing rumahan yang sulit untuk mencari rumah baru itu bahkan saya sering berganti rumah baru. Ketidakcocokan lah yang sering menjadi alasan saya memilih untuk sering berpindah rumah baru itu.  

Petualangan saya untuk mencari rumah baru itu kemudian terhenti di dalam suatu waktu saya terbang untuk memilih masuk kedalam rumah “angker” yang didalamnya juga terdapat macan-macan hebat lainnya. Saya sebelumnya telah banyak mendengar cerita hebat yang berlatar belakang rumah itu, banyak yang menjadi elang atau rajawali hebat saat berproses dan berhasil keluar dari sana. Memang saat pembukaan seleksi awal angkatan baru di rumah itu saya tidak dapat mengikuti meskipun telah ada kemauan, namun keinginan yang terus menggebu dalam hati agar dapat masuk dalam rumah yang memiliki sebutan “Kawah Candradimuka” itu.  Saya merasa menjadi macan yang beruntung, dipertengahan proses tempaan di rumah itu, ada macan hebat yang memilih untuk menempa diri di sangkar lain dan memutuskan untuk keluar dari sana. Akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri di rumah itu. Tahapan tes saya lalui dengan optimis dapat mengalahkan macan hebat yang juga ingin masuk di sangkar ini. Jam berganti hari, semakin penasaran dengan hasil tesnya apakah saya memang termasuk macan yang sejenis dengan teman-teman yang lebih dulu bertarung disana?. Yaa pertanyaan itu terjawab sudah. Alhamdulillah atas izin Allah, saya dinyatakan lolos masuk peserta pengganti dan siap terbang bersama macan-macan hebat lainnya.

Pada awalnya saya merasa asing terbang di sangkar ini. Pertama saya melihat didinding terpasang foto lengkap dari angkatan sebelumnya, kompetensi dasar , ROOM PK yang terfigura rapi didinding aula. Tumpukan buku rapi dihiasi dengan pelbagai cindera mata dari berbagai belahan dunia harus bersanding dengan kehidupan ikan didalam akuarium. Foto presiden beserta wakilnya juga turut mewarnai pandangan saya pertama masuk di sangkar ini. Saat itu saya langsung saja ikut dalam suatu kegiatan dialog tokoh. Formasi lengkap semua peserta yang lebih dulu masuk disini cepat saja berkumpul dan bersila di aula. Satu persatu saya salami dan mulai mengawali perbincangan untuk perkenalan. Pertama-tama memang sulit mengahafal nama teman baru, apalagi belum pernah satupun bertemu sebelumnya. Jas hitam dengan bordir logo “Rumah Kepemimpinan” di dada melengkapi atribut macan-macan asrama itu. Meskipun saya menjadi macan baru disini, tak ada yang memandangku sebelah mata atau merendahkan saya sebagai kucing rumahan yang salah masuk sangkar. Malah mereka yang banyak bertanya tentang diri saya. Kemudian saat ending agenda pertama saya itu, sang pemateri menanyai kami satu persatu cita-cita atau harapan terbesar nanti. Wah telinga dan hati saya bergetar mendengarkan impian dari macan-macan hebat ini. Mulai dari jajaran Menteri, kepala di BUMN, hingga founder LSM, semuanya mulia sekali. 

Saat itu saya mengungkapkan cita-cita saya yaitu untuk menjadi ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) . Sedikit saya ceritakan alasan saya memilih cita-cita saya tersebut adalah fokus dan latar belakang saya yang menyukai kegiatan kepada anak-anak. Juga dikarenakan saya prihatin atas kejahatan dengan anak menjadi sasaran , begitupun kasus eksploitasi anak dengan memperkejakannya sehingga waktu untuk berimajinasi dan berkreasinya menjadi tersita.Terakhir adalah karena pendidikan anak yang sampai saat ini belum merata, padahal dengan pendidikanlah seorang anak dapat memilih cita-cita stinggi langit dan dapat merubah lingkungan sekitarnya. Saya mengawali untuk meraih cita-cita saya ini pada saat sebelum masuk sangkar Rumah Kepemimpinan ini, yaitu dengan menulis buku Cerita Rakyat dan Budaya Tradisi Nusantara yang berisi empat belas cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia yang pada awalnya buku itu saya bagikan saat program pengabdian saya di Desa Pota Wangka, Labuan Bajo yang memang membutuhkan perhatian khusus. Kegiatan itu saya tulis lengkap dalam laman blog saya yunazkaraman.blogspot.com dan telah dimuat di Harian Surya. Itulah kenapa saya memilih pada bidang ini, untuk selanjutnya bersama macan lainnya menaruhkan cita-citanya di sangkar baru ini. 

Hampir semua cita-cita macan muda sudah saya dengar. Sekali lagi tak ada yang tak mungkin di dunia ini, saya yakin dengan usaha mereka semua menepa diri di sangkar ini pasti suatu saat tongkat estafet kepemimpinan bangsa akan dipegang oleh macan-macan ini. Siang itulah secara resmi saya menjadi macan dibawah langit sangkar baru “Rumah Kepemimpian” dan diatas samudera cita bersama 34 macan hebat lainnya saya menempa diri di dalam kawah ini. Syukuran sederhana menyambut saya dengan tumpeng diatas karpet cita itu. Tawa dan canda macan-macan lain saat itu membawai pandangan pertama saya, dengan cara sederhana kemudian kami berbagi segala hal, mulai dari makanan hingga pengalaman larut didalamnya.  

Hari demi hari saya melatih diri dalam sangkar ini. Memang awalnya perlu adanya adaptasi dengan lingkungan baru, yang awalnya saya menjadi macan yang bebas kesana-kemari tiada peraturan. Pertama-tama saya tertatih–tatih jatuh ke sana kemari, jadwal agenda asrama dan organisasi lain yang bertabrakan dan halangan lain yang membuat saya mengharuskan memiliki suatu strategi. Manajemen diri, waktu, dan barang dituntut secara tidak langsung dalam sangkar ini. Tidak hanya masalah duniawiah saja, perihal hubungan vertikal dengan Allah juga dilatih dalam sangkar Rumah Kepemimpinan ini. Memang faktor ini merupakan landasan dalam setiap menentukan langkah berikutnya, agar selamat di dunia dan di akhirat nanti. Saling mengingatkan setiap hari agar selalu ingat untuk beribadah dan berdoa, semakin meyakinkan saya dengan textline “Sahabat Sampai Surga” disini. Tak ada senioritas, hanya rasa ukhwah yang terjalin melilit keseharian baru ini. Kini saya sudah siap menjadi macan yang dilatih untuk menjadi kuat dan siap menghadapi halang rintang di masa depan nanti, serta untuk mewujudkan cita-cita mulia kami.  



Bertemu dengan Orang-orang Baik#3 Bali



   Hari Minggu (1/10) saya kembali mengawali bulan kesepuluh dengan membuka pengalaman dan kawan baru. Mengamanahkan diri untuk survei pengungsi korban terdampak perubahan status aktivitas Gunung Agung, Bali membukakan perjalanan di bulan ini. Meski pelbagai hal diawal sempat mengganjal namun tak menyurutkan diri untuk mengabdi. Sudah terlanjur dan memang saya menyukai kegiatan ini kemudian saya coba untuk mengekspresikan lewat MAHAGANA (Mahasiswa Tanggap Bencana) di kampus. Sudah pelbagai kegiatan kebencanaan saya terjun ke lokasi langsung, namun kali ini berbeda, ya saya sendiri. Namun karena sudah berniat sejak awal, akhirnya saya tetap terjun ke Bali untuk melihat secara langsung kondisi terkini Gunung Agung yang sudah berstatus awas sejak sebulan terakhir. Awalnya "digoda" dengan pelayanan bus yang tidak profesional sehingga memakan waktu saya banyak di perjalanan menuju Pulau Dewata. Hampir satu hari saya menghabiskan waktu di dalam bis.

     Diterima dengan baik oleh kawan lama @ibprayogi yang juga sedang berjuang di Pulau Dewata. Lama tak jumpa, akhirnya saya dimudahkan untuk urusan disana. Lanjut ke misi utama, berangkat pagi dengan iringan jeep dan truk yang membawa misi yang sama menemani perjalanan ke posko pengungsian di GOR Swecepura, Kabupaten Klungkung. Jalan yang tak amat jauh membuat kami mudah sampai disana. Sedang kami berdua menaiki sepeda Yamaha N-Max yang sudah cukup memadai. Tidak perlu waktu lama, karena jarak Denpasar dan Klungkung yang tidak terlalu jauh. Hampir selama satu jam setengah kami menghabiskan waktu di jalan. Jalan saat itu terlihat cukup sepi sehingga kami perlu untuk mengejar waktu. Tidak susah pula kami sampai di posko atau lokasi penggungsi Gunung Agung di Klungkung dengan adanya plang di pinggir jalan yang menunjukan posisi lokasinya. Hanya saja lokasi GOR Swecepura yang masih cukup jauh dari jalan utama sedikit membingungkan kami. 



    Disambut dengan tenda-tenda pengungsi milik organisasi kemanusiaan dan pakaian yang dijemur di lapangan gor, saat sampai disana. Warna biru tenda milik BNPB mendominasi di lapangan yang cukup luas itu. Langsung saja kami menuju pos pusat BNPB untuk mengetahui data yang sebenarnya.  Kami menanyakan data pengungsi dan logistik yang berada di pos pengungsian ini. Dilansir juga di GOR ini merupakan posko pegungsian terbesar. Kamera telepon genggam siap untuk menangkap gambar dan data yang ada. Terdata 20 ribu jiwa yang mengungsi di daerah ini semakin meningkatkan rasa bersyukur. Pelbagai bantuan amanah dari kawan-kawan kampus dengan bahagia diterima dan siap disalurkan disana. Di lahan parkir yang disediakan juga banyak terparkir mobil-mobil televisi nasional yang sedang meliput secara langsung kegiatan pengungsian di sana. Begitu pula silih berganti mobil TNI ataupun relawan yang membawa bantuan logistik, baik itu dari kawan mahasiswa maupun organisasi kerelawanan lainnya. TErlihat pula bule yang ikut membantu disana. Hal tersebut membuktikan bahwa meskipun Gunung Agung sedang mengalami perubahan status namun pariwisata di Bali masih aman dan tidak terganggu. Malah oleh para bule digunakan sebagai ajang peduli sesama. 



   Suasana riuh membuat kaki ingin melihat kondisi anak-anak pengungsi disana. Terlihat didepan pintu gor kerumunan anak sedang berjoget dan mendengarkan musik dari orgen. Waah! Seakan tak percaya dengan ucapan mc bahwa ada Kak Seto (ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) juga datang dan meresmikan pojok baca untuk anak-anak di pengungsian. Sekali mendayung tiga, empat pulau terlampaui tak sengaja saya bertemu dan ngobrol sejenak dengan orang yang ingin saya temui. Memiliki misi yang sama menjadikan beliau sebagai gambaran untuk melukiskan keinginan dimasa depan. Selain itu teryata di GOR ini telah dihadiri oleh banyak orang penting negeri ini, seperti Presiden Jokowi, Mensos Khofifah, hingga bupati Kabupaten Klungkung. 



    Meski singkat, terima kasih Bali dengan segala keterbukaan, keberagaman, dan hal yang tak terduga-duga. Saya akan kemBali lagi.


CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...