Minggu, 12 Februari 2017

MENELUSURI JEJAK ARKEOLOGI DI DUSUN MAELANG, BANYUWANGI


    Sebagai seorang pelajar saat-saat jadwal liburan sudah barang tentu digunakan untuk mengisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari berwisata, bertemu dengan keluarga, magang, atau berkreasi lainnya. Hal ini juga saya lakukan di liburan menuju semester genap ini. Awalnya saya mengisi dengan kegiatan pengenalan kampus bersama teman-teman, mengikuti tes beasiswa dan merampungkan buku saya. Saat mengikuti tes beasiswa, saya bertanya mengenai info beasiswa tersebut kepada salah satu senior SMA saya yaitu Mas Mukhlis Ndoyo Said ( Cak Mukhlis ) yang dulu pernah mendapatkan beasiswa itu, serta dia juga mantan Presiden KM ITS 2013-2014. Perbincangan kami ternyata tidak berhenti terkait beasiswa itu. Esok hari Mas Mukhlis mengajak saya untuk penelitian di situs megalitikum (masa batu besar pada zaman pra aksara ) di daerah Banyuwangi, karena ia mengetahui bahwa saya berkuliah di jurusan Ilmu Sejarah.

    Mas Mukhlis kemudian mengabarkan bahwa rencananya akan berangkat di hari Rabu malam (15/01). Selepas Ashar di hari Rabu, saya langsung menuju ke kontrakan mas Mukhlis di dekat ITS. DI kontrakannya saya juga bertemu dengan kawan baru yang kebetulan semua adalah mahasiswa ITS dengan beragam jurusan. Pertama saya berkenalan dengan mas Ujang, mahasiswa Geofisika yang juga ikut dalam penelitian ini. Dia berasal dari Jember dan berambut gondrong sama seperti saya. Dia mengatakan bahwa baru saja dia meminjam peralatan untuk penelitian seperti palu, GPS, dan kompas di kampus. Berikutnya, didalam kamar saya juga bertemu dengan Mas Budi yang se angakatan dengan mas Mukhlis di ITS. Dia juga mempunyai bisnis yaitu Dawet Sejedewe, minuman khas Indonesia. Ia dulu memulai bisnis dengan mas Mukhlis, namun ia kini menjalani bisnis itu dengan sendiri. Bahkan di depan kamarnya terdapat mesin untuk menggiling dawet dan pembuat santan. Selepas Magrib, adik tingkat mas Ujang di Geofisika juga datang dan ikut dalam penelitian kali ini, yaitu mas Hamzah yang berasal dari Lumajang. 

     Sebelum kami berangkat, mas Mukhlis sudah menghubungi salah satu temannya untuk meminjam mobil dan membeli makan malam yang porsinya edan. Bahkan saya sudah terlalu kenyang untuk menghabiskan makan malam yang terdiri dari nasi empog ( nasi jagung ) , telur ceplok, dan tumis sayuran. Selepas Isya kami ber enam akhirnya berangkat dan pertama-tama kami akan menuju ke Stasiun Sidoarjo untuk menjemput mas Sigit, yaitu seorang berambut gondrong yang menyukai plesiran dan hal yang berbau sejarah atau budaya. Malam hari jalan semakin sepi, sehingga hanya satu jam kami sampai di Stasiun. Lalu sejenak kami minum kopi dan berbincang dengan warga dan mas Sigit yang katanya sebagai pemanasan. Kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi tepat pada pukul 23.30 WIB.

     Tak terasa saat shubuh kami sampai di daerah Asembagus ,Situbondo. Kami memutuskan untuk berhenti di Pasar Pabrik untuk membelikan oleh-oleh yang akan dibawa ke Banyuwangi dan menunaikan sholat Subuh disana. Pada pagi hari itu saya melihat kesibukan di pasar itu. Komoditas yang dijual kebanyakan adalah sayur dan buah. Kami disana membeli buah naga, salak dan ketela. Mayoritas masyarakat disana berbahasa Madura. Untungnya karena dirombongan kami ada yang bisa bahasa Madura yaitu mas Rahmat, ia berhasil menawar harga buah yang kami beli. Terdapat buah yang menarik perhatian saya adalah buah pisang merah. Sesuai namanya buah ini memang berwarna merah dan cukup besar ukurannya dibanding dengan jenis pisang yang lain. 


Komoditas hasil perkebunan yang banyak dipasarkan

       

     Perjalanan kami lanjutkan menuju rumah salah satu mantan petugas Taman Nasional Baluran, yaitu Mas Heru, di Situbondo yang berbatasan dengan Banyuwangi. Kami sampai disana masih pagi sekali, bahkan udara disana ditambah angin yang kencang mewarnai sejuknya pagi itu. Sampai dirumahnya, kami langsung saja tiduran di teras rumahnya dan dibuatkan kopi, sedang mas Heru melanjutkan untuk memupuk di sawahnya. Kami yang masih merasa kurang tidur dan kelelahan akhirnya memutuskan untuk istirahat disana. Sampai pada pukul 07.00 WIB. Mas Budi menjemput ketua Karang Taruna dusun setempat yaitu mas Slamet, yang rumahnya berjarak tidak terlalu jauh dengan rumah mas Heru. Makin bertambah kenalan orang baru saya di hari itu. Kemudian Mas Slamet mengajak kami untuk sarapan dirumahnya. Saya melihat dibelakang rumah mas Slamet ternyata sudah Laut Utara Jawa. Disana terdapat banyak perahu nelayan yang sedang diparkir di bibir Pantai Pandean, Wonorejo, Situbondo. Di pagi itu juga saya melihat kesibukan nelayan yang sedang membenahi kapal, merakit jaring, atau sekadar membersihkan kapal. Komoditas ikan menjadi tulang punggung masyarakat disana, seperti ikan tongkol, teri dan sebagainya. Disana juga sudah ada pengelolaan ikan segar untuk dikemas dan siap dipasarkan. Mas Slamet sebagai pemuda dusun juga mengembangkan koperasi di dusun itu. 

Dari Kanan : Mas Sigit , mas Slamet, dan seorang pemuda dusun, di teras rumah mas Heru

Suasana Pantai Pandean dan perahu nelayan yang tersandar disana



     
    Setelah sarapan kami memutuskan untuk menuju ke lokasi situs arkeologi di Dusun Maelang dan Dusun Tangkup, Banyuwangi. Lokasi ini tidak terlalu jauh dengan Taman Nasional Baluran dan rumah mas Slamet. Pertama-tama kami menuju ke pos PERHUTANI untuk izin penelitian kami. Lokasi ditemukannya sumber daya arkeologi ini berada di tengah ladang di dusun tersebut, sehingga mengharuskan kami untuk berjalan kaki. Kami memarkir mobil di depan masjid yang tidak jauh dengan jalan menuju lokasi. Awalnya mas Sigit yang sudah sering kali kesini memimpin perjalanan, namun ditengah perjalanan kami menyadari bahwa jalan yang kita pakai salah. Memang disana tidak ada penanda yang secara langsung menunjukan rute ke lokasi tersebut. Disana juga terdapat ladang jagung milik warga. Alhasil kami harus menerobos di ladang jagung tersebut. Beberapa aliran sungai juga kami lewati. Perjalanan menuju lokasi kurang lebih selama tiga puluh menit. Disarankan ketika menuju lokasi membawa peralatan tracking atau hiking karena jalannya juga naik turun.  

     Lokasi yang pertama kita teliti yaitu sebuah goa batu yang memiliki bentuk seperti rumah. Terlihat juga susunan batu yang menyerupai atap goa memiliki lapisan dan patahan yang sangat rapi. Didalam goa terdapat beberapa lubang besar dan lubang kecil yang memiliki tafsiran yang berbeda-beda. Lubang itu juga ada yang diluarnya nampak memiliki bekas asap, jadi di permukaan dinding goa terdapat warna hitam seperti bekas pengasapan. Di atap goa terdapat lubang yang ditafsirkan memiliki fungsi sebagai saluran air dari atas. Selain itu lubang kecil didalam goa bentuknya menyerupai dakon ( permainan tradisional ).

    Mas Ujang dan mas Hamzah langsung saja meneliti struktur dan jenis batuan yang ada di goa itu. Menggunakan palu yang sudah disiapkan mereka mengikis sedikit di tiap lapisan batu penyusun di goa. Mereka juga telah menyiapkan larutan HCL untuk meneliti apakah batuan disana mengandung kapur atau tidak. Beberapa batu dapat bereaksi ketika ditetesi HCL ,namun beberapa tidak bereaksi. Mereka juga membawa pulang beberapa jenis batu yang ditemukan di goa itu untuk dijadikan sempel penelitian dikampus. 

Disepanjang jalan meuju lokasi juga terdapat beberapa batu yang memiliki struktur sama dengan batuan di goa



Lapisan atap goa yang memiliki struktur batuan sangat rapi

Suasana di dalam goa



Jenis batuan yang berbeda di dalam goa

Jika dikelilingi maka situs ini memiliki luas yang cukup besar

     Dalam penelitian kali ini kami memiliki disiplin ilmu yang berbeda. Dilihat dari sudut pandang geofisika maka di goa tersebut memiliki jenis dan struktur batuan yang berbeda-beda, contohnya terdapat batu yang memiliki kandungan kapur bereaksi ketika ditetesi larutan HCL. Jika dilihat dari sudut pandang sejarah ( sebenarnya yang lebih tepat adalah dengan sudut pandang arkeologi ) , menurut buku terkait sejarah pra aksara dan artikel bebas yang saya baca, goa ini merupakan tinggalan zaman Megalitikum. Dilihat dari temuan dinding goa yang menggunakan batu dan disusun secara rapi dan terstruktur. Goa itu juga masih ditafsirkan sebagai tempat tinggal nomaden dan sebagai salah satu wilayah bercocok tanam masa lampau. Disekitaran goa juga banyak dialiri sungai, yang mana sungai merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Situs ini kemudian dinamai Maelang, karena tempat dimana lokasi ini ditemukannya. Maelang sendiri merupakan bahasa Madura yang artinya memperhilang atau sengaja dihilangkan. Mitos yang terdengar di daerah sana, dahulu memang terdapat peradaban yang pernah tinggal disana namun lama-kelamaan tempat itu ditinggalkan dan memang "sengaja" untuk dihilangkan. Berdasarkan http://www.kabarbanyuwangi.info/tim-bpcb-trowulan-teliti-sumberdaya-arkeologi-di-desa-watukebo.html di lokasi itu memang pernah dilakukan penelitian dan banyak ditemukan sumber daya arkeologi yang berserakan. Menurut saya, sumber daya arkeologi di Maelang alangkah sebaiknya jika balai arkeologi ataupun dinas terkait dan lembaga peneliti lain mengekskavasi atau meneliti lebih lanjut lokasi tersebut, agar terlihat dan terhimpun dengan jelas hasil kebudayaan yang ada di Maelang.


     Setelah kami meneliti dan sedikit berdiskusi untuk membahas hasil temuan dilokasi, kami melanjutkan ke dusun dibawah Maelang, yaitu dusun Tangkup. Terdapat perbedaan yang mencolok utamanya terkait sumber daya arkeologi yang ditemukan di dua dusun yang berdekatan ini. Di dusun Tangkup, banyak ditemukan gerabah yang ditafsirkan adalah peninggalan Dinasti Ming. Selain itu kami juga menelusuri aliran sungai disana. Terdapat sebuah waduk pula disana. Kami kemudian menelusuri kebawah. Kami mendapati aliran sungai tersebut mengalir ditengah-tengah batu besar yang terpisah. Pemandangan indah itu kemudian kami abadikan dengan berfoto di batu itu. Konon terdapat mitos setempat bahwa dialiran sungai itu dikeramatkan. Dinding batu disana juga memiliki lapisan yang berbeda-beda dan memiliki  pemandangan yang cukup indah. 
     
     
Dibalik batu besar itu terlihat pemandangan alam yang cukup indah





    Akhirnya setelah kami selesai meneliti disana pada pukul 15.30 dan langsung kembali ke rumah mas Slamet. Sore hari di Pantai Pandean memiliki ketertarikan tersendiri. Pemandangan langit sore ditambah angin sepoi-sepoi membuat saya merasakan kenyamanan disana. Kami disana juga disambut dengan baik oleh warga dan pemuda desa. Karena mas Mukhlis sudah berulang kali kesana, bahkan ada beberapa orang yang sudah akrab dengan mereka. Kami beristirahat sejenak di rumah mas Slamet hingga kurang lebih pukul 21.00 kami memutuskan untuk berpamitan pulang ke Surabaya. Namun, sebelumnya kami juga berpamitan pada mas Heru, bahkan malam itu kami disuguhi kolak yang masih hangat. Kami sampai di Surabaya pada waktu Shubuh esok harinya.

Dari atas kiri : mas Mukhlis, mas Ujang. Bawah kiri : mas Slamet, mas Sigit, mas Budi di dalam foto penelitian beberapa waktu lalu. Matur nuwun sudah membuka jendela ilmu saya. 

Minggu, 25 Desember 2016

Waspada Bencana : Pelatihan Kebencanaan Bersama MAHASISWA TANGGAP BENCANA (MAHAGANA) UNIVERSITAS AIRLANGGA

Waspada Bencana : Pelatihan Kebencanaan Bersama MAHASISWA TANGGAP BENCANA (MAHAGANA) UNIVERSITAS AIRLANGGA





            Setiap tahun Indonesia selalu dilanda bencana. Mulai dari bencana tahunan yang selalu terulang hingga bencana alam yang tidak terprediksi oleh manusia seperti banjir, tanah longsor, erupsi gunung berapi, gempa bumi, bahkan tsunami. Berbagai bencana besar yang melanda Indonesia juga banyak yang menyita perhatian dunia. Di tahun 2004, tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam hingga di awal tahun 2014 erupsi Gunung Kelud meluluh lantakan rumah warga dengan kepungan abu vulkaniknya. Bahkan di penghujung tahun 2016 ini gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh juga menimbulkan kerusakan dan korban. Bencana yang silih berganti tersebut tentunya memiliki dampak yang merugikan baik berupa korban jiwa maupun harta.
            Potensi ancaman yang diakibatkan oleh bencana alam semakin besar jika pengetahuan kebencanaan pada masyarakat masih belum tergiatkan. Melalui pelatihan-pelatihan penanggulangan bencana pada masyarakat akan dapat mengurangi potensi ancaman yang terjadi. Mahasiswa Tanggap Bencana (MAHAGANA) Universitas Airlangga bekerjasama  dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menginisiasi untuk melakukan pelatihan dini penanggulangan bencana (3/12).  Kegiatan ini mewadahi para mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan untuk menambah pengetahuan penanggulangan bencana.


            Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diisi dengan pemaparan materi kebencanaan oleh perwakilan dari anggota BPBD Kota Batu. Materi yang disampaikan antara lain konsepsi, karakteristik, dan sistem nasional penanggulangan bencana hingga langkah yang harus dilakukan saat proses evakuasi korban bencana. Selanjutnya dipaparkan beberapa bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, berikut juga dampak yang terjadi. Terlihat bagaimana kesedihan korban bencana alam dan kerusakan alam yang terjadi dengan ditampilkan beberapa foto saat proses evakuasi. Perwakilan dari BPBD Kota Batu juga menyampaikan keluh kesahnya selama menanggulangi bencana. Mulai dari bagaimana melihat kondisi langsung lokasi bencana, proses pendataan pengungsi dan logistik, hingga upaya untuk memulihkan kondisi psikologis pengungsi.


            BPBD Kota Batu sebagai badan yang bergerak dalam penanggulangan bencana mengapresiasi adanya wadah kepemudaan yang bergerak dan peduli terhadap kebencanaan seperti MAHAGANA UNAIR. Organisasi kepemudaan yang bergerak serupa di berbagai universitas juga telah terbentuk begitupun organisasi bawahan Dinas Sosial seperti Taruna Siaga Bencana (TAGANA). Organisasi kepemudaan untuk menanggulangi bencana ini sangat diperlukan untuk bersama mengurangi potensi dan dampak oleh bencana alam di Indonesia.

Bisa juga di http://surabaya.tribunnews.com/2016/12/15/mahagana-mahasiswa-tanggap-bencana atau pada Harian Surya Jumat 16 Desember 2016.



JIWA KEPAHLAWANAN JOKOWI DAN DAHLAN ISKAN UNTUK GENERASI “Z”

JIWA KEPAHLAWANAN JOKOWI DAN DAHLAN ISKAN UNTUK GENERASI “Z”
http://kabaraku.com/wp-content/uploads/2014/05/444.jpg

            Hari Pahlawan (10/11) baru saja disemarakkan, dengan berbagai kemeriahan untuk memperingati hari bersejarah ini. Kemeriahan itu dilengkapi dengan foto pahlawan dan foto situasi pertempuran untuk mengajak siapapun agar merasakan dan mengenang bagaimana kondisi Indonesia saat itu. Terlebih generasi muda yang harus mengetahui bagaimana perjalanan sejarah bangsanya. Di sekolah atau di institusi manapun juga ikut serta mengheningkan cipta untuk putra-putri bangsa yang telah gugur demi mempertahankan bangsa. Momentum bersejarah ini menunjukan bahwa pemuda-pemudi Indonesia kala itu memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang luar biasa. Hal ini dirasa tepat sebagai pelumas untuk mendidik generasi-generasi muda penerus bangsa agar senantiasa menghargai dan meneladani jasa pahlawannya.
Mengutip dalam referensi bebas bahwa sejak dikenalnya Teori Generasi, kita akrab dengan istilah baby boomber,generasi X, Y, Z, Alpha. Dengan pembagian itu kita juga dapat mengetahui generasi apa yang kini mendominasi di Indonesia ataupun di dunia. Jika digolongkan kategori usia generasi Z lah yang memiliki usaha dan peluang besar untuk mengembangkan dirinya. Generasi yang lahir diantara tahun 1995-2010 ini dibarengi dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin canggih. Hal ini lah yang menjadi faktor pembeda dengan generasi sebelumya. Faktor ini juga berdampak pada jiwa nasionalisme dan kepahlawanan yang ada pada generasi melek gadget ini.
Generasi Z memperoleh bibit jiwa kepahlawanan yang diturunkan oleh generasi sebelumnya, dan kebanyakan oleh generasi X yang lahir dikurun tahun 1965-1980. Hal ini besambung dengan generasi X yang diturunkan oleh generasi sebelumnya yang kebanyakan adalah pelaku sejarah. Dalam hal ini jelas bagaimana sikap kepahlawanan yang ada dalam diri tiap generasi tersebut berbeda.
Penggunaan teknologi canggih saat ini menjadi "kartu AS" generasi Z dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecanggihan itu juga dapat menjadi pisau bermata dua dalam penggunaannya. Tidak dipungkiri bahwa kini kita mudah untuk menerima budaya luaryang jika terus menerus akan menghilangkan jiwa nasionalisme kita. Lalu bagaimanakah langkah generasi Z agar tetap memiliki jiwa kepahlawanan dan nasionalime tinggi ditengah banyaknya inovasi canggih ini ?. Dimasa pubertas ini generasi Z dengan sifat alamiahnya akan mencari sosok atau leader yang dianggap sesuai dengan jiwanya. Dapat dikatakan bahwa generasi Z didominasi anak muda yang memasuki usia produktif juga mengalami hal yang sama, namun sebagian lain sudah memiliki pandangan atau sosok yang dapat diteladani. Generasi Z kini merindukan akan sosok dengan sifat kepahlawanan yang merakyat.
Saat ini gaya kepemimpinan tokoh bangsa yang berjiwa pahlawan dan merakyat mulai menunjukan keberadaanya dan kiranya dapat diteladani oleh generasi Z Indonesia. Ada dua tokoh yang fenomenal dengan menggunakan gaya seperti itu dan cukup banyak mendapatkan simpati dikalangan generasi Z , seperti Presiden Jokowi dan Dahlan Iskan (DI). Meyandingkan kedua tokoh ini memang memiliki banyak persamaan dalam gaya memimpin. Memiliki posisi yang strategis, kedua tokoh ini selalu nyentrik dan memiliki ide yang inovatif dan solutif serta tidak banyak berdebat. Keduanya juga memiliki latar belakang yang hampir sama, dimana tidak dilahirkan dari elit politik dan dibesarkan dalam kondisi keluarga yang sederhana.
Jokowi dan DI memulai segala ketercapaiannya dari nol dan dengan usaha yang menguras jiwa dan raga. Upaya Jokowi memulai usaha mebel awalnya hanya membantu saudaranya hingga menjadi ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) dan Dahlan yang memulai merintis karir dengan magang sebagai wartawan di majalah Tempo hingga menguasai Jawa Pos. Setelah Jokowi dan DI berproses dan meraih apa diinginkan, mereka tidaklah bersikap arogan dan bertindak sok penguasa. Bahkan jika dilihat dari cara berpakaiannya kini pun keduanya hampir sama, tidak memakai barang serba mewah dan memilih untuk menggunakan hasil kreasi bangsa sendiri. Gaya kepahlawanan yang merakyat pada tokoh ini juga terlihat jika mereka banyak menabrak protokoler yang terkesan malah menghambat kinerja mereka.
Gaya tidak biasa yang dimiliki kedua tokoh ini membuat center of interest dimata generasi Z.  Tidak banyak betele-tele dan mau berbaur langsung dengan rakyat serta dengan penampilan yang sederhanalah yang malah dipilih generasi muda Indonesia sebagai panutan. Dilain itu generasi Z, telah lelah dengan hanya menonton tokoh-tokoh bangsa yang suka berdebat, terkesan formal, hanya mengumbar janji dan tidak memiliki jiwa kepahlawanan yang merakyat. Meskipun DI akhir-akhir ini diberitakan tersandung kasus, namun hal itu tidak menyurutkan simpati publik utamanya generasi muda. Terlihat pada kolom MOMENTUM DAHLAN pada Jawa Pos banyak anak muda yang merindukan sosok kepahlawanan seperti DI mendukung secara moril. Begitupun dalam pemilihan presiden 2014, dimana pada awalnya sempat ramai di dunia maya untuk mencalonkan Dahlan Iskan dan Jokowi sebagai RI 1 dan RI 2.

Kehadiran kedua tokoh berjiwa kepahlawanan yang merakyat ini supaya menjadi dobrakan sosial untuk menanggulangi kegalauan sosial pada generasi Z.  Kerja keras dan cara-cara inovatif kedua tokoh ini jika diimplemtasikan ke dalam generasi Z dengan kemajuan teknologi maka kelak Indonesia akan banyak menghadirkan pemimpin berjiwa kepahlawanan yang merakyat dan dapat menguatkan jati diri Indonesia.    

Serunya Mengikuti International Youth Friendship Camp#3, Bali, Indonesia

            
Semua delegasi berfoto di hari pertama

          Menjadi seorang pemuda sudah tentu ingin memperbanyak teman. Memperbanyak teman baru sekarang tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata, dengan kemajuan teknologi kini kita bisa menambah teman dari media sosial. Menambah teman juga bisa dilakukan saat mengikuti suatu kegiatan. Didalam suatu kegiatan kita bisa berkenalan dengan peserta lain, dengan pembicara atau dengan panitia penyelenggara. Apalagi jika kita memang bergelut dan menyukai kegiatan yang kita ikuti tersebut, kita menjadi kenal banyak orang dan menambah jaringan. Seperti pada awal bulan Oktober 2016, telah diadakan kegiatan kepemudaan International Youth Friendship Camp#3 (IYFN) di Bali.  IYFN bulan Oktober ini adalah ketiga kalinya kegiatan yang diselenggarakan oleh ASEAN Youth Friendship Network (AYFN) yaitu suatu organisasi terbuka yang memiliki konsentrasi di bidang kepemudaan dan kebudayaan. Organisasi tersebut sudah lama berdiri dan dipromotori oleh pemuda-pemuda Indonesia yang berkeinginan untuk menjaring hubungan internasional dengan negara lain .
IYFN kali ini diselenggarakan di Pulau Dewata, Bali dengan tujuan untuk mengenalkan keindahan pesona alam Indonesia. Awalnya untuk mengikuti kegiatan ini harus mendaftar secara online dan mengisi beberapa form pendaftaran. Menurut pribadi saya tidak terlalu sulit untuk mendaftar di IYFN, selain form pendaftaran yang mudah persyaratannya pun tidak rumit. Setelah mendaftar beberapa hari kemudian akan dikirim e-mail oleh panitia terkait lolos tidaknya pendaftar. Bagi pendaftar yang dinyatakan lolos akan diterima surat pernyataan lolos dan panduan selama mengikuti kegiatan nantinya. Dikarenakan panitia penyelenggara adalah lembaga swadaya dan tidak ada bantuan dari pemerintah, maka peserta diharuskan untuk membayar biaya registrasi guna kelangsungan acara.
Jangka waktu pembayaran terakhir dan dimulainya IYFN hanya berjarak satu Minggu. Kegiatan IYFN dilaksanakan selama lima hari mulai tanggal 3 Oktober 2016 sampai 8 Oktober 2016. Panitia lalu menanyakan lewat e-mail terkait dengan keberangkatan peserta dari tempat tinggal masing-masing. Hampir seluruh peserta saat itu berangkat menggunakan pesawat terbang, mengingat bahwa peserta tidak hanya dari Indonesia.
Di hari pertama panitia mengagendakan untuk penjemputan seluruh peserta. Panitia juga telah berada di terminal kedatangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali sesuai dengan konfirmasi kedatangan peserta. Semua peserta yang telah datang akan di antar ke hotel tepatnya di Crystal Hotel Kuta, Bali. Peserta akan bermalam di kamar yang telah ditentukan oleh panitia. Dimalam hari pertama seluruh peserta berkumpul di auditorium hotel untuk jamuan makan malam dan perkenalan singkat. Jumlah total peserta berjumlah 27 orang dari berbagai negara di kawasan Asia. Mulai dari Indonesia sendiri, Thailand, Myanmar,Pakistan, Bangladesh, India, dan Belize (Amerika). Setelah semua berkenalan dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Saya mendapat kamar di nomor 312 dengan pemuda berkewarganegaraan Myanmar, bernama Paing Kaung Khant namun biasa dipanggil Peter. Dia berangkat bersama seorang temannya dan semuanya masih berusia 16 tahun. Mereka sedang mengisi liburannya setelah lulus tingkat SMA. Bahasa pengantar kami selama kegiatan adalah bahasa Inggris, semakin berasa bahwa kita adalah terdiri dari berbagai etnis di dunia adalah saat berbahasa Inggris namun masih dengan dialek khas mereka 


Pada hari berikutnya peserta memulai kegiatan pada pukul 08.00 WITA untuk pembukaan secara resmi. IYFN#3 ini dibuka langsung oleh ketua penyelengara dan direktur dari AYFN yang semuanya berasal dari Indonesia. Panitia juga mengenalkan visi dan misi AYFN dan tujuan utama dilakukan kegiatan ini. Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan secara resmi dari masing-masing delegasi dan telah dibuatkan video beserta foto untuk ditayangkan. Dilanjutkan dengan pemaparan oleh Jegeg Bagus Bali (semacam duta pariwisata) mengenai pesona alam dan wisata di Bali secara umum. Hanya sebentar perwakilan dari Jegeg Bagus Bali lalu diambil alih oleh WOW Bali. WOW Bali juga merupakan salah satu perkumpulan aktivis dari berbagai negara yang berkonsentrasi di bidang kepemudaan dan lingkungan. Pada hari ini ditutup dengan games seru dan makan malam bersama.
Pada tanggal 5 Oktober 2016, tepatnya pada hari ke-3. Kami mengadakan acara, tetap dengan WOW Bali namun tempatnya tidak didalam hotel. Kami mengunjungi salah satu perkebunan yang dikembangkan oleh WOW Bali yaitu di Sekar Bumi Tropical Farm yang letaknya di Gianyar, Bali. Disana kami melihat bagaimana desa alami Bali yang masih hijau dan jauh dari suara bising kota serta lalu lalang turis mancanegara. Pertama kami diajak untuk merelaksasi diri dengan sedikit yoga. Badan kami merasa segar kembali dan juga kami diajarkan membuat hiasan bunga yang dipetik dari kebun disana. 
Rangkaian bunga yang telah kami buat kemudian kami presentasikan arti atau alasan rangkaian bunga yang kita buat. Dari keempat kelompok kami saat itu semuanya bagus, bahkan media atau pot untuk menanam tidak muat. Dengan membawa hasil karya tersebut, kami diajak memasuki gubug yang terbuat dari kayu. Gubug itu menurut saya merupakan bangunan yang artistik. Karena jika dilihat lagi bangunan itu mirip Rumah Panggung namun berbentuk lingkaran. Memasuki ruang itu kami dihempas oleh dinginnya hawa disana. Di banguna itu juga sering dibuat kgiatan yoga atau kegiatan untuk menyegarkan diri dengan hiruk pikuknya perkotaan. Disana kami diajak untuk mengenal diri kami lebih dalam lagi, potensi diri, dan tujuan kami untuk "hidup". Kami juga diajarkan bagaimana membuat peta untuk diri kita, dimana kita akan mengembangan potensi yang ada. Kegiatan kedua ini kami tutup dengan mengunjungi Tanah Lot, kawasan wisata yang sangat terkenal di Bali. Setalh itu kami pulang ke penginapan dan malam hari kami berdiskusi mengenai kegiatan sehari-hari di negara masing-masing dan membahas permasalahan yang sedang berlangsung di berbagai negara.

Kegiatan di hari ketiga juga diadakan di luar ruangan. Tepatnya di danau Batur dibawah kaki gunung Batur. Kegiatan disana juga mengenai pengajaran soft skill oleh Hai Dai. Dia adalah pemateri kami sjak dihari pertama. Selain itu kita juga diajarkan untuk menggali apa tujuan hidup kita di dunia dan lebih mendkatkan kepada Sang Maha Kuasa. Setelah itu pasa siang hari kami diajak ke pemandian air panas alami yang berada diatas danau. Disamping kiri kanan perjalanan terlihat tumpukan lava hitam yang mengeras bekas letusan Gunung Batur dimasa silam. Pemandangan itu indah sekali dan juga ditempat ini sering digunakan sebagai tempat shooting sinetron ataupun film. Perjalanan menuju Kuta sedikit lama karena jalan menuju pusat oleh-oleh KRISNA sangat padat. Kami menuju pusat oleh-oleh dan membeli souvenir khas Bali untuk keluarga dirumah. Peserta dari Pakistan, Halar dan dari Myanmar Peter merencanakan untuk kembali ke Hotel belakangan dan masih ingin menikmati suasana malam di Bali. Sebagian kami pulang ke hotel dan beristirahat untuk mempersiapkan kegiatan esok hari. Setelah sampai kamar, Saya, Kat teman dari Thailand, dan dua teman lainnya berencana untuk melanjutkan diskusi kemarin malam di kolam renang. Kamipun bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai politik dan kebudayaan yang ada di Indonesia dan Thailand.


Berlanjut ke hari keempat yaitu sekaligus penutupan kegiatan ini. Kami beranjak ke Garuda Wisnu Kencana, Bali untuk melihat pesona Bali dengan adanya patung Dewa Wisnu yang sangat besar. Saat berkeliling disana, waktu kami jga bertepatan dengan jadwal pementasan tari tradisional Bali. Ditampilkan lima tarian yang berbeda. Pengunjung yang kebanyakan turis mancanegara terpukau atas kepiawaian para penari. Bahkan tiap beberapa menit tepuk tangan penonton meramaikan seisi tempat pementasan. Diakhir pementasan, para penari mempersilahkan penonton untuk berfoto bersama. Setelah itu di siang hari kami langsung kembali ke hotel untuk persiapan cultural night dan upacara penutupan. Kami sampai di hotel pada pukul 15.00 WITA dan langsung menuju kamar masing-masing untuk istirahat dan persiapan malam puncak. 



Cultural Night dimulai pukul 17.00 WITA dan dibuka dengan makan malam bersama. Terlihat saat itu peserta di ballroom tidak hanya peserta namun juga beberapa tamu yang juga hadir dalam makan malam dan untuk melihat pementasan dari berbagai negara, seperti perwakilan dari JegegBagus Bali, Hai Dai dan keluarganya. Semua peserta memakai baju khas negaranya masing-masing, bahkan peserta dari Indonesia juga memakai baju tradisional khas daerahnya. Saya sendiri memakai sorjan dan blangkon sebagai baju adat khas Jawa. Pementasan pun dimulai dengan Kat peserta dari Thailand yang menampilkan tarian Lotus. Dengan membawa bunga lotus ditambah pakaian khas Thailand, Kat menari dengan gerak yang perlahan dan penuh makna. Penampilan berikutnya yaitu Arton dari Indonesia yang membawakan penampilan tarian khas Baduy, karena Arton berasal dari Banten dia juga melengkapi penampilannya dengan baju khas Baduy yang serba hitam. Ketiga adalah penampilan Saya dengan membawakan puisi dengan bahasa Jawa Kuno. Sebenarnya bukan sajak puisi namun itu adalah tembang lagu "Lagu Juang 45" yang ditulis oleh Bung Karno dan disusun ulang oleh Ki Manteb Sudharsono. Inti makna dari puisi ini yaitu bagaimana kita harus mempertahankan identitas kita sebgai bangsa Indonesia, sejauh apapun melangkah tapi harus ingat bahwa kita adalah Indonesia. Selanjutnya penampilan puisi juga dari Sheen dan Bishaker dari Bangladesh, mereka berkolaborasi dengan membacakan puisi bahasa Bangladesh dan membacakan pula terjemahannya. Dilanjutkan dengan penampilan room mate saya, Peter dari Myanmar yang menyanyikan lagu Myanmar dengan gaya Hip-Hop. Dalam malam puncak ini memang tidak semua peserta turut tampil. Penampilan malam itu ditutup dengan tarian India dari Simran. Setelah semua peserta tampil, kini saatnya penutupan dengan dianugerahkan sertifikat kepada seluruh peserta. Acara semakin menarik dengan kesepakatan peserta untuk menceburkan president officer kegiatan kali ini yaitu Mas Aan. 




Kami semua sangat senang dimalam itu, dan sebagian ada yang bersantai dikolam renang ada juga yang berdansa bersama di ballroom. Seakan kami tidak mau meninggalkan acara ini. Banyak kesan yang saya pribadi dapatkan selama kegiatan ini berlangsung. Menjadi bagian masyarakat Internasional memang sangatlah penting. Belajar dan mengerti bagaimana bahasa dan budaya yang begitu banyak. Menjaring pertemanan lintas negara, etnis dan agama. Mengerti bagaimana solusi permaslahan global dan memikirkan bagaimana kita berperan didalamnya. Tapi haruslah tetap hidup menjadi siapa kita, darimana kita, dan apa kita. Pround to be a young Indonesian and Javanese. Kegiatan ini saya abadikan dengan menulis yang dimuat pada Harian Surya, kolom Citizen Reporter, Kamis 27 Oktober 2016 dan bisa dilihat pada halaman online http://surabaya.tribunnews.com/2016/10/27/menjaring-solusi-di-pesta-anak-muda-dunia-youth-friendship-camp















Bali, Indonesia, 6 Oktober 2016




Senin, 12 September 2016

Pidato Wisuda SMA Bahasa Jawa.




Assalamualaikum Wr. Wb.

Bapa kepala sekolah SMA Negeri 1 Batu Drs Suprantiyo M. M ingkang satuhu kinabekten,
Wakil Kepala Sekolah ingkang satuhu kinabekten,
Dewan Komite ingkang dahat kinurmatan
Bapa/ibu guru saha karyawan/karyawati ingkang dahat kinurmatan, rencang saha adik kelas ingkang kula tresnani.
Puji syukur dhumateng Gusti ingkang Maha Agung. Ingkang sampun anglu beraken rahmat sarta hidayah. Dene kula panjenengan sami saged makenpal wonten ing pawiyatan ingkang saperlu ngawontenanken wisuda.

Bapa/Ibu guru ingkang dahat kinurmatan mboten kantun kula minangka wakilipun putra putri siswa kelas 12 ngaturaken agunging panuwun ingkang tanpa upami awit keiklasan saha sih katresnan Bapa/Ibu Guru ngulawenthah dhumateng para siswa saengga saget ngrampungake kewajiban ingkang sampun kalampahan sadangunipun tigang tahun, khanti pikantuk surat tandha tamat blajar.

Sedangipun tigang taun kula ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan panjenengan sami hanggulawenthah kula sedoyo, ngantos wonten pengeketing batin seingga karengku kados putra/putri pribadi.

Bapa ibu tuwin adik adik saha rencang ingkang satuhu kula kurmati saha kula trisnani. Sakedhap malih kula sarencang rencang nilaraken pawiyatan punika. Awrat anggen kula matur kados pundi raosipun nilar Bapa/Ibu Guru saha adik adik, amargi kawontenan kedah mekaken, pramila kepeksan kula kaliyan rencang rencang nilaraken Bapa/Ibu Guru saha adik kelas  sanadjan ta sampun perpisahan ingkang ateges tindih ing netra. Mewantu wantu kula tansah nyenyuwun supados taksih celak ing pengasih.

Pawiyatan ingkang sampun metahun tahun sampun tansah cecaketan kaliyan kula, kula sarencang rumaos awrating raos, badhe nilaraken pawiyatan menika, amargi kahanan saha karsaning gusti, wonten pepaggihan tamtu badhe wonten perpisahan, punika kados sampun kodrat mboten kenging dipun owahi maleh.

Mboten kantun ugi kulo dalah rencang kelas 12 tansah memuji dhumateng gusti  ingkang Maha Agung, supados Bapa/Ibu Guru saha adik adik pikantuk nikmateng pangeran  wilujeng mboten wonten alangan satunggal punapa.

Kulo kinten mboten prayogi menawi atur pamit punika kedlarung-dlarung ing sastra. Kulo naming tansah nyuwun tambahing donga pangestu saking Bapa/Ibu Guru saha adikadik. Sageda wilujeng sasampunipun tamat saking pawiyatan punika lan sageda pikantuk pawiyatan luhur kangge ngangsu kawruh ngilmu ingkang saklajengipun.

Ingkang mboten nglajengaken sageda pikantuk pedamelan ingkang samurwat kaliyan pangetosan milo saking punika menawi wonten kirang tata karma anggen kulo matur saha sisip sembiring  atur, kulo minongko wakil kelas 12 tansah nyuwun agunging pangaksami ingkang tanpa pepindan

Akhirul kalam billahi taufik wal hidayah.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Minggu, 21 Agustus 2016

MENUJU INDONESIA EMAS 2045



MENUJU INDONESIA EMAS 2045


            Setiap orang memiliki perpektif yang berbeda-beda mengenai suatu definisi, tergantung dari sudut pandang mana sesorang memaknainya. Seperti kata “emas” menurut Kamus Besar Bahsa Indonesia (KBBI), emas adalah logam mulia berwarna kuning yang dapat ditempa dan dibentuk, biasa dibuat perhiasan seperti cincin, kalung. Definisi ini menunjukan bahwa emas adalah suatu perhiasan yang mewah dan mahal yang dapat digunakan sebagai aksesoris seseorang agar terlihat lebih menarik dan menawan. Kata emas juga banyak digunakan sebagai imbuhan kata sehingga kata itu bermakna istimewa, seperti anak emas dan sepatu emas. Hal ini menunjukan emas adalah sesuatu yang “paling”daripada yang lain.

            Indonesia Emas 2045 sudah banyak orang yang mendengar entah lewat media sosial maupun cetak. Visi ini sudah digadang-gadangkan menjadi puncak dan titik balik semua cita-cita bangsa Indonesia. Merujuk pada tahun 2045 yang mana tepat bangsa Indonesia berusia satu abad. Dimana seratus tahun juga menunjukan usia sudah tidak muda lagi bagi sebuah bangsa. Bangsa di dunia yang telah mencapai seratus tahun atau lebih kemerdekaannya kebanyakan merupakan bangsa adidaya, seperti Amerika.  Pada tahun 2016, Indonesia memasuki usia 71 tahun dan masih menjadi negara ketiga, sisa 29 tahun lagi untuk bisa mewujudkan Visi Indonesia Emas ini.

            Sebelum jauh melangkah pada masa depan bangsa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan seperti dalam pidato Bung Karno yang menyebutkan “JASMERAH” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bangsa Indonesia juga dapat merdeka karena jasa-jasa pahlawan dan para pemuda revolusioner yang dengan gagah berani menentang penjajah. Generasi tua maupun muda serentak mengatakan tidak pada penjajahan dan berseru menuju kemerdekaan. Mereka memiliki satu visi dan cita demi Indonesia merdeka. Bahkan terdapat semboyan merdeka atau mati yang menggambarkan bahwa lebih baik mati daripada masih hidup dijajah. Pemuda pada masa memperjuangkan kemerdekaan yang dibawa adalah senjata, yang dilihat adalah darah dan mayat, yang didengar adalah rintihan dan orasi-orasi radio. Jika direfleksikan pada pemuda abad 21 kini jelaslah sangat berbeda dan perjuangan kini bukan untuk merebut kemerdekaan lagi, namun lebih kepada mempertahankan kemerdekaan dengan musuh-musuh bangsa sendiri. Masalah bangsa kini yang terbanyak adalah masalah perbedaan dan toleransi, kita seakan merakan keBhinekaan tapi banyak pihak yang justru berbuat seenaknya yang mengatas namakan perbedaan. Bahkan masalah perbedaan supporter klub bola saja ada pihak-pihak yang memprovokator hingga terjadi kerusuhan. Apa sebaiknya tidak bersatu semua demi kemajuan bangsa Indonesia ?. Salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk Indonesia Emas di masa depan  adalah pemuda.

            Tanggung jawab seorang pemuda kini untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidaklah mudah banyak “godaan” yang melenturkan semangat nasionalisme dan patriotisme pemuda kini. Perubahan zaman yang dibarengi dengan semakin canggih teknologi tentunya bukan merupakan faktor tunggal perbedaan pemuda dulu dan sekarang.           Faktor yang lebih penting adalah dalam diri pemuda itu sendiri yang mana tidak bisa memfilter arus globalisasi dan semuanya dilahap yang berakibat sering kali melalaikan masalah negeri ini. Alat untuk menyaring faktor perusak itu adalah dengan “REVOLUSI MORAL”. Moral dalam KBBI adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Sebab moral adalah bawaan yang tidak bisa diperoleh secara instan, maka perlu adanya perubahan meskipun dari hal sederhana hingga masalah yang kompleks. Revolusi atau perubahan moral juga dapat ditanamkan dimana saja ,kapan saja, dan dengan cara apa saja. Moral yang kini darurat dan harus segera dirubah adalah KEJUJURAN. Perilaku jujur adalah perilaku patriotis dan akan mendasari segala tingkah laku dan ucapan yang nantinya akan mencetak generasi muda pembaharu yang jujur dalam keadaan apapun.

            Perubahan Moral pada pemuda juga harus dibarengi dengan semangat juang dalam hidupnya. Dalam hidup tidak semudah yang dibayangkan, jika menginginkan sesuatu harus dengan berjuang dan bekerja keras. Penggunaan teknologi yang semakin canggih juga dapat membuat mudah berbagai urusan dan merupakan peluang emas untuk  membawa peran pemuda untuk memajukan bangsa. Penulis yakin bahwa Visi Indonesia Emas 2045 yang terdapat cita-cita bangsa dan telah dirumuskan oleh pendahulu kita dengan peran pemuda kini. Revolusi Moral bagi para pemuda untuk membuat generasi baru bukan generasi penerus. INDONESIA BISA, BANGKIT PEMUDA, BERANI JUJUR, MERDEKA.


CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...