Selasa, 11 Desember 2018

PENTINGNYA MITIGASI BENCANA UNTUK ANAK

lh3.googleusercontent.com



Indonesia yang terletak di cincin api dan pertemuan antarlempeng dunia menyebabkan posisinya memiliki potensi yang besar untuk terjadinya bencana alam. Hal itu menyebabkan sering adanya gerakan sesar atau patahan yang menyebabkan gempa bumi hingga tsunami dan seringnya erupsi gunung berapi di Indonesia.
Faktanya kita ketahui bersama, beberapa bulan lalu Gunung Agung sebagai gunung berapi aktif di Pulau Bali yang menunjukkan aktivitasnya kembali, meskipun kini sudah menunjukkan penurunan status. Tidak hanya bencana yang disebabkan oleh faktor alam, Indonesia juga sudah langganan untuk tertimpa bencana tahunan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sebagainya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tentunya bencana tersebut memiliki dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik secara moril dan materil.
Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di tahun 2016 saja bencana yang terjadi di Indonesia mencapai 2.000 kasus. Bencana tersebut menyebar dan terjadi di seluruh kawasan di Indonesia. Dari berita dan laporan online juga diberitakan bahwa kebanyakan korban bencana tersebut adalah anak-anak dan sebagian manula. Sangat merugikan dan akan menimbulkan kesedihan yang mendalam ketika generasi penerus kita malah menjadi korban dalam suatu bencana.
Tak ayal hal itu terjadi, secara fisik anak-anak masih lemah untuk menyelematkan dirinya saat terjadi suatu bencana. Begitupun ditambah dengan pengetahuan akan mitigasi saat terjadi bencana yang kurang diketahui oleh kebanyakan anak sehingga menimbulkan kepanikan pada anak. Jika anak tidak memiliki pengetahuan terkait mitigasi bencana, nantinya anak-anak akan merasakan trauma yang mendalam dan menggangu psikologis anak. Pengetahuan terakit mitigasi bencana ini juga merupakan salah satu hak anak-anak untuk mengetahui informasi terkait upaya mitigasi yang bermafaat bagi anak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

washingtonpost.com


Peran Keluarga dan Sekolah dalam Penanaman Pengetahuan Mitigasi Bencana
Banyaknya korban anak-anak pada bencana alam menunjukkan betapa pentingnya keluarga sebagai agen sosial primer untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana. Pengetahuan mitigasi bencana dapat dengan mudah jika dipraktikkan di dalam lingkup keluarga dengan sosok orang terdekat sebagai contoh dalam proses mitigasi tersebut.
Jika memang orangtua/ keluarga masih belum banyak mengetahui tentang mitigasi bencana, kini banyak pada portal online dan buku-buku terkait mitigasi bencana yang baik dan benar. Terlebih dengan akses pengetahuan yang mudah, tentu dapat membantu orangtua untuk mengajarkan mitigasi bencana pada anak-anaknya.
Begitupun peran sekolah sebagai "rumah kedua" bagi anak-anak untuk memberikan pengetahuan terkait mitigasi bencana. Pihak sekolah dapat menjadwalkan dan bekerjasama dengan pihak tanggap bencana seperti BNPB, BPBD, TAGANA, atau kelompok kerelawanan untuk memberikan sosialiasi mitigasi bencana di sekolah-sekolah.
Selain itu juga diperlukan adanya simulasi mitigasi bencana agar anak dapat mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan saat terjadinya suatu bencana. Pendidikan terkait mitigasi bencana ini juga sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang berada dalam kawasan rentan terjadi bencana alam. Selain itu juga ditambah dengan kapasitas tenaga pendidik termasuk guru, kepala sekolah, dan pegawai sekolah terkait pengetahuan tentang mitigasi bencana.
Tidak hanya pengetahuan terkait mitigasi saat terjadi bencana saja,juga diperlukan penanaman terkait tindakan preventif untuk mencegah terjadinya bencana serta tindakan pascabencana yang juga penting. Hal itu diperlukan untuk mengatasi terjadinya trauma yang biasanya dialami oleh anak-anak saat pascabencana. Seperti dengan melakukan penanaman pohon, seruan agar tidak membuang sampah sembarangan, hingga membuat alat pendeteksi tsunami atau gempa.
Dapatlah diberikan juga terkait upaya untuk mengendalikan emosi dan psikologis saat pascabencana. Jika sudah tertanam kemampuan dan pengetahuan terkait mitigasi bencana, anak-anak akan mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana alam. Tidak hanya itu, anak-anak juga dapat saling mengingatkan kepada keluarga bahkan masyarakat untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.
Berdasarkan pengalaman saya, jika anak-anak sudah terbiasa dan mengerti terkait pengetahuan mitigasi bencana, maka anak tersebut akan cenderung tenang dan tidak panik, mereka melakukan upaya menghibur diri dengan mengikuti kegiatan di posko pengungsian yang sering dilakukan oleh relawan.

theglobeandmail.com


Sumber:
http://www.sinarharapan.co/news/read/150726005/agar-anak-anak-tanggap-bencana, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
https://news.detik.com/kolom/d-3502328/pendidikan-siaga-bencana-dalam-keluarga, diakses pada Kamis, 2 November 2017.
http://pendidikan-luar-sekolah.fip.uny.ac.id/berita/mitigasi-bencana-bagi-anak-usia-dini.html,  diakses pada Kamis 2 November 2017


BERKARYA ALA MAHASISWA

geotimes.co.id


            Mahasiswa bagi masyarakat umum sudah dipandang sebagai suatu kelas yang mendapat pendidikan tinggi. Kelas itu diperoleh secara tidak langsung karena mahasiswa mendapatkan statusnya itu dari perguruan tinggi atau tingkatan sekolah lanjutan tertinggi. Memakai awalan “maha” merepresentasikan mahasiswa sebagai siswa atau pelajar yang “paling” dalam pemahaman ilmu maupun kemampuan. Secara definisi menurut KBBI mahasiswa dapat diartikan sebagai orang yang belajar di Perguruan Tinggi.
            Dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa berhak memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan. Hal tersebut dapat ditampung dengan masuk dan berproses di dalam wadah unit kegiatan mahasiswa ataupun organisasi lainnya. Untuk dapat bergabung dalam unit kegiatan atau organisasi itu bagi seorang mahasiswa dapat memilih sesuai passion atau kemampuan dan kegemaraanya. Misalnya seorang mahasiswa gemar dalam kegiatan pecinta alam maka dapat bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam begitupun yang lain. Tentu untuk dapat berkegiatan diluar akademis itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih. Bahkan beberapa mahasiswa memilih untuk bergabung dalam organisasi lebih dari satu. Anggapan mengenai mahasiswa tidak lepas dengan beberapa istilah yang menunjukan tugas ketika menjadi mahasiswa, yaitu agent of change, iron stock, social control, dan moral force. Jargon-jargon itu selalu digaungkan para senior pada saat prosesi ospek mahasiswa baru. Mahasiswa dituntut oleh keempat hal itu sebagai agen perubahan, penerus masa depan, penyampai kebenaran, dan kekuatan moral. Kesemuanya itu sudah banyak dibuktikan dengan peran mahasiswa dahulu. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa sudah banyak yang berhasil menentang keegoisan pemerintah, contohnya aksi mahasiswa 1998 yang memberhentikan Presiden Soeharto dan rezim Orde Barunya. Namun apakah semangat juang mahasiswa dahulu dapat diimplemntasikan pada saat ini? Apakah juga “musuh” mahasiswa kini juga sama dengan yang dimusuhi mahasiswa dahulu? Tentu tidak, dengan perkembangan zaman kini problem mahasiswa menjadi lebih kompleks tidak hanya persoalan kebijakan pemerintah. Namun juga perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat hingga perlombaan menghadapi dunia kerja.
Tentunya banyak manfaat yang diperoleh bagi mahasiswa saat tergabung dalam suatu organisasinya salah satunya adalah perkembangan kepemimpinan, jaringan, dan kompetensi diri. Nantinya luaran yang diperoleh seorang mahasiswa itu dapat dibuktikan dengan kontribusi secara langsung dan memperoleh prestasi. Lalu dikarenakan hal tersebut muncullah pertanyaan, sebagai mahasiswa apakah harus berorganisasi, berprestasi, atau berkarya? Ataukah hal itu semua dapat diraih saat menjadi sebagai mahasiswa?
Tentu untuk menjawab pertanyaan diatas tidak bisa disamakan antar mahasiswa satu dengan yang lain. Beberapa mahasiswa bahkan sudah membuktikannya selain berorganisasi dan berprestasi ia juga dapat berkarya. Dilihat dari banyaknya prestasi perlombaan yang diikuti oleh mahasiswa dan banyak bermunculan karya-karya mahasiswa baik berupa buku maupun penelitian. Bahkan mahasiswa teknik sudah menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat robot atau mobil listrik. Sudah banyak yang membutikan dari berbagai mahasiswa di universitas di Indonesia. Dari kesemua bukti ini telah menjawab pertanyaan diatas. Itulah peran mahasiswa sesungguhnya, jadi tidak hanya belajar di dalam laboratorium, membaca buku diktat kuliah, atau bahkan apatis dan langsung pulang. Menjadi mahasiswa bisa menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang kita ingini. Terbang bebas dengan imajinasi kita untuk menggapai impian dan cita kita.
Tulisan ini akan ditekankan pada poin ketiga yaitu berkarya dengan gaya khas mahasiswa. Berkarya dalam arti adalah membuahkan suatu hal dan dapat diterima oleh khayalak. Mengapa berkarya ? Menjawab pertanyaan singkat ini gampang-gampang susah. Jelaslah bahwa jika telah berkarya seseorang manusia itu hidupnya akan abadi dengan karyanya itu. Hanya dengan karyanya manusia dapat dikenal zaman, dapat dikenang sejarah, dan tidak tenggelam dalam arus zaman. Untuk itu karya yang sebenarnya mudah dan juga merupakan tanggung jawab akademis mahasiswa adalah dengan menulis. Menulis adalah jalan berkarya yang sederhana namun akan berarti jika tulisan itu dikenang dan membuahkan ide-ide segar kepada pembaca. Ada pepatah mengatakan bahwa “jika kau bukan anak raja maka menulislah !”. Dalam jalur ini dibutuhkan semangat motivasi dan semangat keberlanjutan yang tinggi. Untuk dapat menuangkan pemikiran kita dalam tulisan juga dapat diawali dengan budaya membaca. Banyak membaca buku maka akan banyak juga wawasan yang kita dapat. Jika ide-ide itu sudah terasa penuh dalam pikiran maka saatnya kita untuk menuangkan itu dalam tulisan. Dalam hal ini sebagai mahasiswa tidak hanya dapat menulis berupa jurnal ataupun tulisan yang bersifat akademis, namun juga dapat menulis apapun sesuai dengan jalan imajinasi dan idealismenya. Untuk mengawali budaya menulis juga tidak diperlukan waktu yang jelas. Maksudnya kapan pun berkarya dengan tulisan itu dapat dilakukan. Memanfaatkan mata kita sebagai kamera yang menangkap segala peristiwa disekitar kita saja sudah dapat menjadi bahan untuk menulis. Menulis itu sederhana, tidak dibutuhkan skill khusus. Semua dapat berkarya dengan jalan ini terlebih dengan kapasitas sebagai mahasiswa dengan “maha” nya.
           
           
           

SEJARAH SINGKAT RESTORASI MEIJI (1868-1912)



history.com

RESTORASI MEIJI
(1868–1912)
            Era Meiji disebut juga pintu masuk awal modernisasi di Jepang, dimulai ketika kaisar  Mutsuhito yang masih berusia 16 tahun menggunakan nama “Meiji” untuk pemerintahannya. Periode ini dimulai dengan runtuhnya periode keshogunan Tokugawa dan menyebabkan Jepang bertransformasi dari negara feodal menjadi negara industri yang modern[1]. Pendukung utama kaisar utamanya adalah para samurai berpangkat rendah dan menengah yang akhirnya membantu menggulingkan  keshogunan Tokugawa. Mereka dari Satsuma dan Cho -shu - han yang merupakan kekuatan yang besar[2].
            Tidak lama setelah keshogunan Tokugawa runtuh, pemerintah baru resmi didirikan. Model pemerintahannya berdasar pada model barat yaitu Amerika, dengan adanya pemisahan kekuasaan bagi yang menginginkan pemerintahan  demokrasi, dan pemerintahan Kaisar yang dibantu oleh Dewan Negara (Dajokan). Banyak posisi ditempati oleh samurai muda yang memiliki kekuatan  cukup besar. Perubahan juga ditandai dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Edo. Kota ini selanjutnya berganti nama menjadi Tokyo (Pusat/ kapital Timur), dan kaisar bertempat tinggal di bekas benteng dari Gun Sho, sekarang Imperial Palace.
            Pemerintahan kaisar dengan mempertahankan garis pemerintahan yang tradisional, dimulailah perbaikan dan beberapa pembaharuan di berbagai kota. Dilanjutkan dengan para daimyo di seluruh kota menyerahkan kepemilikan atas tanah kepada kaisar. Penyerahan itu diawali oleh keluarga Satsuma, Chosu, Tosa dan Hizen. Setelah diserahkan kepada kaisar, dilanjutkan adanya pengumuman yaitu ada perubahan sistem milik tanah dengan sertifikat dan pembayaran pajak bumi yang diganti dibayar dengan uang. Dengan adanya pembaharuan diatas maka kaisar juga menghapus sistem kepangkatan yang ditinggalkan pada masa feodal. Semua perbedaan antara samurai, petani, dan pedagang dihapuskan. Para samurai dipensiunkan dan turun temurun, dan masuk pada kegiatan perekonomian dan industri.
            Setelah ada perubahan itu, kaisar terus berusaha membuat perubahan lain yang tujuannya mengubah masyarakat Jepang menjadi lebih modern. Pada tahun 1881 kaisar mengumumkan bahwa akan ada undang-undang dasar. Kaisar mengutus Hirobumi Ito ke berbagai negara untuk mempelajari konstitusi di berbagai negara. Dari Amerika dan negara-negara lain yang akhirnya ia merasa menmukan konstitusi yang paling cocok bagi Jepang yaitu di Prusia, Jerman. Selanjutnya pada tahun 1889, kaisar mengumumkan adanya undang-undang dasar dan membagi lembaga pemerintahan yaitu eksekutif, legislative, dan pengadilan yang masing-masing berdiri sendiri. Namun posisi tertinggi dipegang oleh kaisar, dan perdana menteri juga berada di tangan kaisar untuk menyelenggarakan pemerintahan. Tidak heran pada proses berjalannya pemerintahan Jepang sering terjadi pembubaran parlemen.

indianfolk.com

            Pembaharuan Jepang juga dibarengi dengan reformasi di berbagai bidang. Reformasi pendidikan digencarkan kaisar, dengan berkiblat pada sistem pendidikan di barat. Berbagai buku ilmu, sastra, dan filsafat dari berbagai negeri didatangkan lalu diterjemahkan kedalam bahasa Jepang dan akhirnya diterbitkan. Para pemuda Jepang juga banyak di berangkatkan ke negara-negara barat untuk belajar sesuai dengan bidangnya.
            Dengan banyak perubahan di dalam negeri, Jepang merasakan adanya ketidakadilan yang telah dibuat dengan negara-negara lain. Jepang sedikit demi sedikit merubah perjanjian itu. Pada saat ini juga negara barat menyerang “singa yang sedang tidur” yaitu Cina[3]. Jepang juga terlibat pada perang terbuka dengan Cina di tahun 1894. Cina dapat dikalahkan dan dilanjutkan dengan adanya perjanjian damai di Shimonoseki. Pada perjanjian ini Cina mengakui kemerdekaan Korea. Kemenangan Jepang atas Cina itu memberikan kesan pada negara barat tentang kelemahan Cina itu. Sementara itu Jepang mengangkat martabatnya dimata negara barat. Di tahun 1902 Jepang bekerja sama dengan Inggris untuk kepetingannya berhadapan dengan Rusia.
            Di tahun 1904 Jepang juga menyerang Rusia karena tidak memenuhi janjinya untuk menarik pasukan di Manchuria.Jepang berhasil menghancurkan armada Rusia di Laut Jepang. Setelah adanya penyerangan itu, diadakan perjanjian damai di Porstmouth, Amerika Serikat dengan pengakuan Rusia untuk kepentingan Jepang di Korea. Kemenangan Jepang menimbulkan kekaguman pada bangsa barat, bahkan untuk pertama kalinya bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa barat yang juga berpengaruh pada kebangkitan bangsa-bangsa Asia lainnya.
            Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912, kemudian digantikan dengan Kaisar Taiso yang memerintah hingga tahun 1926. Dalam masa itu Jepang kian aktif perannya dalam pergaulan internasional. Sementara itu di dunia luar banyak negara yang mengalami pergolakan besar-besaran, dalam masa itu Jepang juga memiliki peran aktif pula. Seperti Cina yang berganti menjadi republik, Rusia berganti menjadi Uni Soviet, dan mulai adanya perang dunia pertama.  Sementara itu didalam negeri Jepang, ada ketegangan antara pemerintah dengsn Diet. Gerakan- gerakan kiri karena pengaruh Rusia kian menyebar di Jepang, ditambah dengan adanya gempa bumi pada tahun 1923 di Yokohama.
            Dengan kemajuan-kemajuan yang ada dalam diri Jepang utamanya diawali pada masa Kaisar Meiji yang kemudian dikenal sebagai Restorasi Meiji, Jepang seakan menjadi “raksasa” baru di dunia khusunya di Asia. Dengan kemajuan itu berdampak pada kebangkitan  negara-negara Asia lain. Hingga pada akhirnya Jepang dapat bersaing dan tidak diragukan lagi kekuatannya dan hingga saat ini Jepang masih menjadi salah satu raksasa dunia.

Daftar Pustaka :
Andressen, Curtis, A Short History Of Japan: From Samurai To Sony, Allen & Unwin, Australia, 2002 ;
Rosidi, Ajib, Mengenal Jepang, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981 ;
Sumikawa, Shunsuke. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. Tersedia, http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf, 1999.           
           




[1] Shunsuke Sumikawa. The Meiji Restoration : Roots Modern of Japan. 1999. Tersedia http://www.lehigh.edu/~rfw1/courses/1999/spring/ir163/Papers/pdf/shs3.pdf
[2] Curtis Andressen. A Short History Of Japan: From Samurai To Sony. 2002. Hlm 77
[3] Ajib Rosidi. Mengenal Jepang. 1981. Hlm 19.

SEJARAH SINGKAT ISLAM DI AFRIKA ( A SHORT HISTORY OF ISLAM IN AFRICA)

muslimheritage.com





                 Dimulai pada masa Daulah Murabbitun ( 479-540 H / 1088-1145 M ). Pada mulanya gerakan ini murni gerakan keagamaan namun dalam perkembangannya menjadi gerakan religio militer. Murabbitun merupakan dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Nama Murabbitun berkaitan erat dengan nama tempat tinggal mereka ( ribat, semacam madrasah)[1]. Kaum ini juga biasa disebut al-mulassimun ( pemakai kerudung sampa menutupi wajah).
Seorang pemimpin mereka yang bernama Yahya Bin Umar saat melaksanakan ibadah haji, ia menyadari bahwa kaumnya awam dengan ilmu pengetahuan agama. Yahya pun mencari orang yang tepat dan sanggup untuk meningkatkan ilmu pengetahuan disana, dan bertemulah dengan Abdullah bin Yasin seorang guru mazhab Maliki. Abdullah bin Yasin dan Yahya dibantu oleh beberapa orang yang sanggup dan berminat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan disana hingga mendirikan pusat penggemblengan (ribat) di daerah Niger, Senegal. Perkumpulan tersebut berhasil membuat kaum setempat berminat untuk menambah ilmu pengetahuan hingga berjumlah 1000 orang[2]. Para pengikut ini setelah dinyatakan selesai kemudian disebar ke berbagai penjuru untuk menyebarkan ajarannya.
Yahya bin Umar bersama Abdullah bi Yasin berhasil melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah Wadi Dara. Kemudian mereka juga berhasil menaklukan kerajaan Sijilmasat. Sampai akhir hayat Yahya bin Umar , dibawah kepemimpinannya dinasti ini terus menaklukan kerajaan lain hingga Yahya wafat dan digantikan oleh saudaranya yang bernama Abu Bakar bin Umar.
Bersama dengan Abdullah bin Yasin, Abu bakar bin Umar melanjutkan penaklukan diberbagai wilayah di Afrika. Hingga mereka bersama mencoba menaklukan di Maroko Tengah. Tepatnya pada tahun 1059 M saat penyerangan ini Abdullah bin Yasin gugur. Setelah itulah Abu Bakar bin Umar memegang kekuasaan penuh. Abu Bakar saat berkuasa mulai mengembangkan sistem kesultanan.
Sepeninggal Abu Bakar, kekuasaan dinasty ini dipegang oleh Abu Ya’kub Yusuf bin Tasfyin. Abu Ya’kub menjadikan Marakesy menjadi ibu kota pemerintahan. Ekspansipun tetap dilaksanakan hingga sampai ke Aljazair, berhasil menaklukan Almeria, Badajoz, kerajaan Saragosa, dan pulau Balearic. Bahkan dalam kepemimpinannya Abu Ya’kub berhasil menyeberang hingga Spanyol. Sepeninggal Abu Ya’kub, beliau mewariskan wilayah dinasti yang luas kepada anaknya Ali bin Yusuf. Perubahan mental yang ada di dalam dinasty Murabbitun ini berdampak pada melambatnya perluasan daerah dan mulai terlihat kemundurannya. Mental yang semakin duniawi dan lebih menyukai kemewahan materi menyebabkan pemerintahan Ali ini melemah bahkan pada tahun 522 H/1129 M mengalami kekalahan di Cuhera.
1.     Daulah Muwahhidun (524-667 H/1130-1269 M).
Dinasti ini muncul karena reaksi dari dinasti sebelumnya ,Murabbitun , yang dianggap banyak ajaran yang keluar dari aqidah; yang berkembang di Marakesy dan sebagian wilayah di Andalus (Spanyol). Pada akhir dinasti Murabbitun, seorang sufi dari masjid Cordova Abdullah bin Tumart, melihat faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan Murabbitun. Tumart ingin memperbaiki dan menyelesaikan masalah tersebut dan menambah ilmu menuju Baghdad dan berguru pada imam Al-Ghazali. Setelah itu ia menetap di Maroko dan mulai mengkritik perbuatan raja-raja terakhir Murabbitun yang memang telah banyak meninggalkan ajaran Islam. Hingga Tumart mencetuskan gerakan berpaham tauhid yang disebut Muwahhidun. Namun Tumart smasa hiduonya tidak pernah menjadi seorang Raja atau Sultan, bahkan yang terkenal adalah Abd al-Mu’min yang kahir di Tlemcen (Aljazair) dari suku Zahata.
Sepeninggal Tumart dan kepemimpinan jatuh pada al-Mu’min. Pertama yang dilakukan adalah memberantas paham Murabbitun yang memenag menyimpang dan menyerukan paham Muwahhidun. Zaman dinasti Muwahhidun ini mecapai puncaknya dan ajaranya semakin luas terutama perkembangan ilmu lebih giat lagi. Selain itu hubungan dagang juga semakin terjalin baik dan meluas terutama dengan pulau-pulau sekitar Italia seperti Genoa, Pisa, Merseille, Vanice,dan Sisilia[3].
Setelah mengalami kemajuan yang cukup signifikan bahkan hampir satu abad,daulah Muwahhidun akhirnya mengalami masa kemunduran. Salah satu sebabnya adalah kepemimpinan  yang lemah, adanya perebutan di kalangan keluarga, dan memudarnya misi dan keyakinan Tumart. Pengaruh keruntuhan Muwahhidun di Spanyol menyebabkan kekuasaan di Afrika juga mulai mundur.

2.     Daulah Fathimiyah
Di kawasan Afrika Utara hingga tahun 850 M masih dikuasai Aghlab yang meliputi Tunisia dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian Abbasiyah. Sedangkan di wilayah barat masih berkuasa bani Rustamiyah di Aljazair dan Bani Idris di Maroko. Sedangkan di daerah Spanyol masih dibawah kekuasaan bani Umayyah II. Di awal tahun 900-an muncul sebuah gerakan baru hingga terbentuknya negara Fathimiyah di Tunisia.
Gerakan pembaharuan tersebut dibawah pengaruh dari Syi’ah Ismailliyah. Abu Abdullah, merupakan salah satu seorang penganjur gerakan ini yang muncul pada abad IX di antara suku Barbar Kutamana di Tunisia tepatnya pada tahun 893. Dalam perkembangannya beliau mendapat banyak dukungan bahkan dapat mengusir dinasti Aghlabi.
Di Afrika Utara kekuasan mereka menjadi semakin luas hingga dapat menuasai dinasti Rustamiyah dari Tahert dan juga menyerang bani Idris di Maroko. Fathimiyah pertama kali menyebarkan paham kepada ummat Islam bahwa kaum mereka adalah keturunan Fathimah (putri Nabi Muhammad SAW dan istri dari Ali bin Abi Thalib). Tugas yang lain dibawa oleh khalofah Muiz yang mmeiliki seorang Jenderal bernama Jauhar Sicily yang dikirim ke Mesir untuk menguasai dan menjadikan Mesir sebagai pusat Islam. Berkat kerja keras Jenderal ini Mesir dapat ditaklukan dengan mudah dan singkat.
Di zaman khalifah ini Mesir semakin berkembang di berbagai bidang. Perdagangan disana berkembang ke segala arah bahkan samapai India, laut Tengah, dan terkadang ke Byzamntium. Kemakmuran rakyat Mesir saat itu juga membawa dampak yang baik bagi perkembangan pemikiran dari seluruh Dunia Islam, dikarenakan selain ada semangat intelektual rasa toleransi juga tinggi. Ahli Zimah terutama Kristen dan Yahudi mendapatkan perlakuan yang baik, bahkan mereka diizinkan untuk membangun tempat ibadah dan beberpa orang diangkat unruk menjabat ke dalam pemerintahan.
Khalifah Aziz yang menggantikan khalifah-khalifah sebelumnya melakukan perubahan dasar pada masjid Al-Ahzar yang memiliki keistimewaan sebuah masjid dapat berkembang hingga menjadi universitas. Al-Ahzar dibangun pada tahun 970 M sebagai masjid yang baru dan lama kelamaan berkembang menjadi pusat studi Islam yang terus berlanjut hingga saat ini[4]. Awalnya digunakan untuk menyebarkan paham Syi’ah, namun diubah oleh Shalahudin al-Ayyubi menjadi pusat pendidikan Sunni hingga kini.
3.     Daulah Ayyubiyah.
Masa akhir daulah Fathimiyah saat itu diperkirakan tidak sanggup mengahadapi tentara perang salib yang hendak menguasai dunia Islam. Raja terakir dinasti tersebut mengutus Shalahudin dan membawa angkatan bersenjata untuk membatu Mesir. Dalam perjuangannya beliau berhasil dan diangkat menjadi sultan di Mesir sebgai pendiri dinasti Ayyubiyah.
Shalahudin pertama muncul saat pamannya Nuruddin Zanki mengirim pasukan bersenjata untuk mengalihkan pasukan Salib dari Mesir dan dibantu oleh banyak staf salah satunya Shalahudin. Shalahudin dapat dengan cepat diberi amanat hingga menjadi menteri perang untuk menghadapi pasukan Salib. Nama Shalahudin kian melejit hingga ia dipercaya untuk menjadi penguasa Mesir dan mempersatukan pemerintahan Abbasiyah dan Fathimiyah yang memang berbeda aliran. Disini dunia Islam kian kuat dan bersatu. Tidak hanya itu Shalahudin berhasil mempersatukan bangsa-bangsa Muslim lainnya seperti Syria, Mesopotamia, dan Yaman. Untuk mempertahankan bangsa-bangsa Muslim Shalahudin membangun benteng Kairo diatas bukit Muqattam, yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan dan militer.
Pada tahun 1174 Shalahudin mendirikan dinasti Ayyubiyah dengan menguasai wilayah Mesir, Syam, Mesopotamia, dan Yaman. Shalahudin kiat disgani sebagai penguasa disana, berkat banyaknya kemenangan yang dicapainya melawan pasukan Salib. Shalhudin juga membuat suatu kemajuan bagi umat Islam dengan membangun ekonomi, perdagangan, memajukan ilmu oengetahuan dengan mendirikan madarasah-madarasah. Selain membangun peradaban disana, Shalahudin juga memperkuat hubungan dengan musuh-musuh saat perang Salib. Seperti saat pasukan Salib dipimpin oleh Richard Hati Singa dari Inggris yang mengalami kekalahan hingga Richard jatuh sakit, kebaikan Shalahudin pada musuhnya ditampakan dengan bersedianya Shalahudin mengobati Richard hingga sembuh. Kepiawaian Shalahudin dalam memimpin juga dibarengi dengan prestasinya mencetak tokoh ilmuan dari Arab saat itu seperti Maimoonides yang mnulis buku filsafat yang berjudul Dalalah al-Haizin (sebuah pedoman bagi orang yang ragu ), Bin al-Baytar yang ahli dalaam kedokteran hewan dan medical.
1.2. Afrika Timur
            Diwilayah Afrika Timur penyebaran Islam cenderung mudah dan cepat. Salah satunya sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beberapa pengikutnya melarikan diri dan tinggal di Aksum (Ethiophia) yang disana dipimpin oleh raja Kristen. Hal sebaliknya juga dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Bilal yang biasa menyerukan Adzan di Madinah adalah merupakan bekas budak dari Ethiophia. Imigrasi pada saat itu memang sudah banyak dilakukan mengingat jalur perdagangan di jazirah Arab dengan kawasan Pantai Afrika Timur sudah terlain lama.
            Kebanyakan pedagang dari Haramaut di Yaman bermukim di kota-kota sepanjang kawasan Pantai Afrika Timur. Artefak paling awal menunjukan bahwa persebaran Islam di Afrika Timur berasal dari tahun akhir 700-an dan awal 800-an[5]. Dan bukti yang ada menunjukan Islam masuk melalui Pantai Afrika Timur diwilayah utara yang memang berdekatan dengan Arab.


  Pada abad ke tujuh, pengungsi-pengungsi, pelarian Muslim dari Meka, telah diterima dengan baik oleh pera pemimpin di Etiopia. Kelompok ini kemudian kembali ke Arab Selatan beberapa tahun kemudian. Muslim lainnya memilih untuk tetap tinggal di daerah-daerah Sudan dan Eritrea dan di daerah pantai Somalia. Dalam keadaan seperti ini maka perbudakan menjadi unsur yang sangat penting, dimana para pembeli budak untuk dijual kembali di Arab telah berlangsung selama berabad-abad.

Masa pendudukan kolonial Inggris dan Jerman di Afrika Timur telah sedikit memperlambat penyebaran Islam. Para penguasa kcolonial umumnya melakukan hal itu untuk mengejar perkembangannya sendiri, walaupun hal ini tidak sepenuhnya benar, seperti yang dilakukan oleh bangsa Belgia di Congo. Pada masa setelah kemerdekaan Negara-negara Afrika Timur , Islam tetap masih kelompok Agama dan kebudayaan terbesar dan kemudian melanjutkan penyebaran disana, hal itu terjadi di Malawi, Zaire dan di beberapa tempat di Mozambique.


DAFTAR PUSTAKA

Alkhateeb, Firas. 2014. Sejarah Islam yang Hilang. Yogyakarta : Bentang Pustaka.
Sunanto, Musyrifah, Prof., Dr., Hj. 2015. Sejarah Islam Klasik. Jakarta : Prenadamedia





[1] Musrifah Sunanto , Sejarah Islam Klasik, (Jakarta : Prenadamedia, 2015), Hlm : 129.
[2] Ibid. Hlm : 130.
[3] Ibid. Hlm 140
[4] Ibid. Hlm : 146.
[5] Firas Alkhateeb, Sejarah Islam yang Hilang, (Yogyakarta : Bentang Pustaka) . Hlm : 193.

Senin, 03 Desember 2018

"Sehari" di Brunei Darussalam


      
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

       Kita sudah mengetahui bersama bahwa Brunei Darussalam adalah salah satu Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Berbagai hal kemiripan antara warga Indonesia dengan Brunei salah satunya adalah pemakaian Bahasa Melayu dan Agama Mayoritas adalah Islam. Meskipun Brunei terletak di sebagian luasnya Pulau Kalimantan, namun Negara kecil ini kaya akan sumber daya alam minyak dan kelapa sawitnya. Saat pertama sampai di Bandara Udara Internasional Brunei di Kota Bandar Seri Begawan, Negara ini tidak akan terlihat sebagai Negara kecil, dengan megahnya bangunan dan banyaknya warga manca Negara yang berdatangan memperlihatkan bahwa Brunei adalah Negara maju. Bahkan disana saya jarang menemui adanya sepeda motor dijalan, hanya mobil, mobil dan mobil. Bahkan beberapa merk mobil yang di Indonesia sudah berkategori mobil mewah berseliweran disana.

Sarapan di pesawat


Disambut oleh pihak FASS UBD




               Perlunya belajar dan bertukar pikiran dengan mahasiswa di Negara tetangga perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana iklim akademis dan suasana kegiatan kemahasiswa. Hal itu dilakukan oleh FIB (Fakultas Ilmu Budaya)  Universitas Airlangga pada hari Kamis (2/11) untuk studi banding ke UBD (University Of Brunei Darussalam). UBD merupakan Salah satu kampus terbaik di Brunei Darussalam. Kampus ini juga termasuk kampus teratas di wilayah Asia Tenggara dan memiliki berbagai kegiatan kemahasiswaan yang bersifat internasional. UBD juga merupakan kampus unggulan dengan fasilitas yang menurut saya cukup menunjang. Yang menarik adalah di kampus ini saya tidak menemukan sepeda motor (lagi-lagi) bahkan satu mahasiswa satu mobil. Wah, kalau di kampus UNAIR malah saling berebut untuk parkir motor malah disini mobil. Mahasiswa asing juga saya lihat banyak, saat itu saya berada di kafetaria. Mading yang ada disana saya lihat juga hampir sama dengan di Indonesia, dipakai untuk memasang acara bahkan saya lihat ada poster Majelis Mahasiswa (semacam BEM UNIV disana). 

                   Berjumlahkan sebelas orang peserta berikut mahasiswa dan pihak dekanat, rombongan FIB UNAIR berangkat di hari yang sama. Tidak hanya para mahasiswa yang sudah menunggu kedatangan rombongan FIB UNAIR namun juga petinggi dari FASS (Faculty of Art and Social Sciences) UBD antusias dalam proses penjemputan di Bandara dan kemudian langsung diantar menuju kampus UBD.  Kampus ini terletak di Kota Bandar Seri Begawan dan memiliki cakupan yang cukup luas.

         Makanan disini sama dengan menu di Malaysia. Nasi lemak dan sejenisnya. Saya mencoba ayam goreng dengan saus mentega. Rasanya cukup beraneka ragam dari pedes sampai manis mentega. Di pojok salah satu gerai saya melihat ada Indomie, tapi bungkusnya berbeda dengan Indomie di Indonesia pada umumnya, warnanya merah dan minya tipis. Cuaca yang cukup mendung saat itu membuat saya merasakan gerah yang hampir sama saya rasakan di Surabaya, cukup membuat keringatan.  


Indomie Brunei

Majlis Perwakilan Pelajar ditempel di mading

               Acara pembuka adalah sambutan dari masing-masing perwakilan UBD dan FIB UNAIR oleh Dekan atau yang mewakili. Hadir pula para mahasiswa UBD yang tergabung dalam BPM (Badan Pergerakan Mahasiswa-Mahasiswi) untuk kemudian melakukan diskusi dengan perwakilan kami. Di tengah kegiatan, perwakilan mahasiswa FIB UNAIR mementaskan teater bisu dengan mengangkat tema “Indonesia Luka”. Dalam alur cerita teater mereka memperlihatkan beberapa hasil kebudayaan khas Indonesia seperti kain ulos, blangkon jawa, wayang, topeng cakil, dan alat gamelan. Klimaks dari pementasan ini ketika kain putih lebar yang diumpamakan tsunami “menggulung” para aktor diatas panggung. Disini saya adalah pemeran utama dengan membawa Burung Garuda di deapan dada. Kemudian teman-teman lainnya sekan membangkitkan lagi dengan puisi. Durasinya cukup lama, bahkan hampir satu jam disana. Saya melihat antusias dari kawan-kawan UBD yang melihat dari awal sampai akhir. Di awal sebelum kami berangkat kami diberitahu oleh Wakil Dekan I yang sudah pernah kesana, bahwa disana mahasiswa teaternya tidak main-main bahkan terdapat gedung pemetasan yang sudah bertaraf internasional. Wah pada awalnya kami merasa minder, namun pada saat pementasan ini kami percaya diri.





Dari konsep teater tersebut kami merefleksikan beberapa bencana alam yang sedang terjadi di Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan adalah meskipun dilanda berbagai bencana namun jika bersatu maka Bangsa Indonesia akan dapat bangkit lagi serta dapat terus berhubungan baik dengan  Brunei Darussalam seabagai Negara sahabatnya. Penyerahan souvenir secara simbolis menandakan perpisahan dan berakhirnya kegiatan ini. Kami diantar oleh mahasiswa ke hotel di dekat bandara. Pada awalnya kami sebenarnya langsung pulang tapi karena maskapai kami Royal Brunei Airlines yang delay dan menungu pesawat dari Manila sehingga kami harus menggiap semalam disini. Hotel berada dikawasan mall tepatnya di lantai 3 sehingga di lantai bawah sangat ramai dan merupakan pusat perbelanjaan.

Tapi di Brunei menurut saya tidak seramai negara-negara sepetri Thailand atau Singapore. Untuk cari oleh-oleh disini saja saya tidak menemukan yang menjual barang atau souvenir khas brunei hanya saja beberapa karpet atau pernak-pernik yang ada di Indonesia. Mungkin kami tidak mengetahui dimana lokasi pusat penjualan oleh-oleh namun di pusat perbelanjaan ini benar-benar tidak seramai yang saya bayangkan. Bahkan saya mendengar lagu-lagu dangdut dari Indonesia. Akhirnya saya hanya membeli kue bolu di salah satu departement store. Yang unik disini adalah departemen store ini tidak menyediakan kresek/tas plastik sehingga harus memakai tas dari kain yang mudah di recycle. Malam itu ditambah dengan hujan yang cukup deras sehingga kami hanya berkeliling disekitaran hotel dan kemudian kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri bangun pagi sekali untuk langsung ke Bandara jam 02.30 waktu setempat. Di bandara juga sangat sepi saya melihat banyak WNI disana. Bahkan toko-toko juga banyak yang tidak buka 24 jam sehingga kami hanya duduk-duduk setelah check in. Benar-benar pagi sehingga kami banyak yang melanjutkan tidur dan ada yang jalan-jalan. 


Saya selalu mampir ke toko buku


City Light


Sunrise di atas pesawat, sungguh lukisan Tuhan yang indah


Satu hal yang saya peroleh dari perjalanan kali ini adalah bagaimana kita harus percaya diri dengan apa yang sudah Tuhan karuniakan pada kita. Saya yakin setiap manusia diberikan keunikan masing-masing dan saya beranggapan keunikan itulah yang akan memunculkan manusia-manusia hebat. Brunei meskipun negara kecil tapi pemudanya dengan percaya diri tidak menunjukkan bahwa mereka negara yang kecil, mereka bersaing global dan siap melihat cakrawala. Terutama di Indonesia saya yakin ada optimisme yang sangat besar. Ditambah dengan kekayaan budaya dan didukung geografis yang sangat luas, sangat memudahkan Indonesia bangga dan siap untuk unjuk diri dengan masyarakat global.

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...