Minggu, 21 Januari 2018

Bertemu Dengan Orang-orang Baik#4 Subcyclist



(Mojokerto-Surabaya) "Dan dalam setiap perbaikan diri,
Kita tidak sedang mengalahkan siapa-siapa 
Sebab, perlombaan yang terjadi adalah antara diri melawan diri" ~Disastra-Tembok Ilusi~


10 Nopember sebagai refleksi patriotisme memberikan cerminan pada diri untuk apa dan siapa kita berjuang. Tentu tak bisa disandingkan dengan 72 tahun lalu, musuh terlihat jelas dan dengan membawa senapan kita melawan! Kini melalui pelbagai hal kita dapat (seakan) merayakan perjuangan kala itu. Tentu bukan darah dan keringat lagi. Tentu bukan bom dan pesawat tempur lagi. Melainkan tanyakan pada diri sendiri. 


Lalu, berkawan dengan siapapun adalah kegemaran tersendiri. Berkawan dengan orang baik, baru, dan dalam. Menyadarkan diri bahwa hidup ini tidak sendiri. Bertemu dengan gerombolan sevisi malah merekatkan api persahabatan. Terima kasih @subcyclist dan @saladin_art telah membawa diri dan Perpustakaan Prasojo @perpus_prasojo mengayuh "Jalan Juang" waktu itu. Terus mengayuh, terus menebar kebermanfaatan, terus memberi, dan terus berkarya.


Selasa, 09 Januari 2018

Dari Kami Bertiga






Kaki menjangkar rindu ke laut

kita bertanya: ke mana sajak melanjut
setelah angin tidak berbisik tentang takdir
dan rumput-bukit menjadi pendengar abadi
dari pertanyaan kita kepada hidup
(Jawaban, Desember 2017)




dari kami bertiga
.
.
yang jauh. di Surabaya, Jogja, Jakarta
hendak bilang:
kami ingin pulang di tengah kelilinganmu
dan kasih bunga satu per satu..
.
.

mari kembali kita duduk bersila
di antara sederhana Jogja 
kita tuntaskan rindu tanpa peduli pada waktu.


Senin, 08 Januari 2018

Masuk di Sangkar "Rumah Kepemimpinan": Bersama kawan-kawan Heroboyo8




Kehidupan masa muda memang mengasyikkan. Banyak hal yang dapat dilakukan pada masa ini, karena masih memiliki tenaga yang lebih banyak ketimbang masa kanak-kanan ataupun masa tua. Hal tersebut seperti halnya menuntut ilmu, berkarya, ataupun bekerja. Semua hal dicoba dan dilakukan demi mencari jati diri. Cita-cita dan harapan hidup menghiasi hari-hari, masa transisi ini. Idealisme dan semangat yang tinggi merupakan harta kekayaan pada masa ini. Tawa dan canda bersama kawan-kawan seusia yang tak terasa banyak memakan waktu. Bahkan menghabiskan waktu bersama kawan diluar rumah lebih asyik dilakukan daripada dengan keluarga di rumah sendiri. Pengalaman menjadi barang berharga yang paling dicari selain kawan baru pada masa ini.

 Bagi pemuda yang beruntung dapat menimba ilmu lanjutan adalah suatu anugerah terindah yang diberikan Allah dan suatu kebanggaan serta lambang kebahagiaan kedua orangtua. Menimba ilmu pada masa muda banyak sekali amanah yang didapatkan selain murninya ilmu itu. Kawan baru, pengalaman baru, masalah baru, bahkan harapan baru semua hal akan dapat didapatkan dibangku-bangku kelas. Tak hanya didalam kelas yang penuh dengan bangku dan diktat, diskusi luar kelas bahkan pengembangan diri dengan masuk ke dalam organisasi membuka pintu selebar-lebarnya untuk menggodok diri. Tentu hal itu sudah banyak dilakukan oleh sebagian besar pemuda yang beruntung dapat memakai jas almamater dan mendengarkan ceramah dosen.

 Saat menimba ilmu inilah terkadang seorang pemuda harus meninggalkan sangkarnya untuk merantau. Di tanah rantau itu kemudian segala hal yang dilakukan tidak lagi dapat pengawasan secara langsung oleh kedua orangtua. Hanya rasa tanggung jawab dan kejujuran diri yang dapat menyelamatkan pemuda di tanah rantau ini. Kedua hal inilah yang saya rasakan kini. Menjadi pemuda yang beruntung untuk dapat menimba ilmu lanjutan dengan memilih untuk merantau untuk membuat sangkar baru dan keluar dari zona nyaman saya untuk menaruhkan cita-cita. Awalnya memang berat harus berlatih memanajemen diri, mulai dari manajemen waktu, uang, bahkan jadwal makan, namun apa salahnya jika dicoba untuk survival di tengah hutan rimba ini. 




 Saat merantau ini perlu adanya sangkar atau rumah baru yang nyaman dan dapat memicu diri kita agar lebih baik. Namanya juga rumah, yang pasti didalamnya saya harus mendapatkan keluarga baru dan suasana didalamnya yang membuat saya tenang untuk berkarya. Awalnya saya hanya lah seekor kucing rumahan yang sulit untuk mencari rumah baru itu bahkan saya sering berganti rumah baru. Ketidakcocokan lah yang sering menjadi alasan saya memilih untuk sering berpindah rumah baru itu.  

Petualangan saya untuk mencari rumah baru itu kemudian terhenti di dalam suatu waktu saya terbang untuk memilih masuk kedalam rumah “angker” yang didalamnya juga terdapat macan-macan hebat lainnya. Saya sebelumnya telah banyak mendengar cerita hebat yang berlatar belakang rumah itu, banyak yang menjadi elang atau rajawali hebat saat berproses dan berhasil keluar dari sana. Memang saat pembukaan seleksi awal angkatan baru di rumah itu saya tidak dapat mengikuti meskipun telah ada kemauan, namun keinginan yang terus menggebu dalam hati agar dapat masuk dalam rumah yang memiliki sebutan “Kawah Candradimuka” itu.  Saya merasa menjadi macan yang beruntung, dipertengahan proses tempaan di rumah itu, ada macan hebat yang memilih untuk menempa diri di sangkar lain dan memutuskan untuk keluar dari sana. Akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri di rumah itu. Tahapan tes saya lalui dengan optimis dapat mengalahkan macan hebat yang juga ingin masuk di sangkar ini. Jam berganti hari, semakin penasaran dengan hasil tesnya apakah saya memang termasuk macan yang sejenis dengan teman-teman yang lebih dulu bertarung disana?. Yaa pertanyaan itu terjawab sudah. Alhamdulillah atas izin Allah, saya dinyatakan lolos masuk peserta pengganti dan siap terbang bersama macan-macan hebat lainnya.

Pada awalnya saya merasa asing terbang di sangkar ini. Pertama saya melihat didinding terpasang foto lengkap dari angkatan sebelumnya, kompetensi dasar , ROOM PK yang terfigura rapi didinding aula. Tumpukan buku rapi dihiasi dengan pelbagai cindera mata dari berbagai belahan dunia harus bersanding dengan kehidupan ikan didalam akuarium. Foto presiden beserta wakilnya juga turut mewarnai pandangan saya pertama masuk di sangkar ini. Saat itu saya langsung saja ikut dalam suatu kegiatan dialog tokoh. Formasi lengkap semua peserta yang lebih dulu masuk disini cepat saja berkumpul dan bersila di aula. Satu persatu saya salami dan mulai mengawali perbincangan untuk perkenalan. Pertama-tama memang sulit mengahafal nama teman baru, apalagi belum pernah satupun bertemu sebelumnya. Jas hitam dengan bordir logo “Rumah Kepemimpinan” di dada melengkapi atribut macan-macan asrama itu. Meskipun saya menjadi macan baru disini, tak ada yang memandangku sebelah mata atau merendahkan saya sebagai kucing rumahan yang salah masuk sangkar. Malah mereka yang banyak bertanya tentang diri saya. Kemudian saat ending agenda pertama saya itu, sang pemateri menanyai kami satu persatu cita-cita atau harapan terbesar nanti. Wah telinga dan hati saya bergetar mendengarkan impian dari macan-macan hebat ini. Mulai dari jajaran Menteri, kepala di BUMN, hingga founder LSM, semuanya mulia sekali. 

Saat itu saya mengungkapkan cita-cita saya yaitu untuk menjadi ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) . Sedikit saya ceritakan alasan saya memilih cita-cita saya tersebut adalah fokus dan latar belakang saya yang menyukai kegiatan kepada anak-anak. Juga dikarenakan saya prihatin atas kejahatan dengan anak menjadi sasaran , begitupun kasus eksploitasi anak dengan memperkejakannya sehingga waktu untuk berimajinasi dan berkreasinya menjadi tersita.Terakhir adalah karena pendidikan anak yang sampai saat ini belum merata, padahal dengan pendidikanlah seorang anak dapat memilih cita-cita stinggi langit dan dapat merubah lingkungan sekitarnya. Saya mengawali untuk meraih cita-cita saya ini pada saat sebelum masuk sangkar Rumah Kepemimpinan ini, yaitu dengan menulis buku Cerita Rakyat dan Budaya Tradisi Nusantara yang berisi empat belas cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia yang pada awalnya buku itu saya bagikan saat program pengabdian saya di Desa Pota Wangka, Labuan Bajo yang memang membutuhkan perhatian khusus. Kegiatan itu saya tulis lengkap dalam laman blog saya yunazkaraman.blogspot.com dan telah dimuat di Harian Surya. Itulah kenapa saya memilih pada bidang ini, untuk selanjutnya bersama macan lainnya menaruhkan cita-citanya di sangkar baru ini. 

Hampir semua cita-cita macan muda sudah saya dengar. Sekali lagi tak ada yang tak mungkin di dunia ini, saya yakin dengan usaha mereka semua menepa diri di sangkar ini pasti suatu saat tongkat estafet kepemimpinan bangsa akan dipegang oleh macan-macan ini. Siang itulah secara resmi saya menjadi macan dibawah langit sangkar baru “Rumah Kepemimpian” dan diatas samudera cita bersama 34 macan hebat lainnya saya menempa diri di dalam kawah ini. Syukuran sederhana menyambut saya dengan tumpeng diatas karpet cita itu. Tawa dan canda macan-macan lain saat itu membawai pandangan pertama saya, dengan cara sederhana kemudian kami berbagi segala hal, mulai dari makanan hingga pengalaman larut didalamnya.  

Hari demi hari saya melatih diri dalam sangkar ini. Memang awalnya perlu adanya adaptasi dengan lingkungan baru, yang awalnya saya menjadi macan yang bebas kesana-kemari tiada peraturan. Pertama-tama saya tertatih–tatih jatuh ke sana kemari, jadwal agenda asrama dan organisasi lain yang bertabrakan dan halangan lain yang membuat saya mengharuskan memiliki suatu strategi. Manajemen diri, waktu, dan barang dituntut secara tidak langsung dalam sangkar ini. Tidak hanya masalah duniawiah saja, perihal hubungan vertikal dengan Allah juga dilatih dalam sangkar Rumah Kepemimpinan ini. Memang faktor ini merupakan landasan dalam setiap menentukan langkah berikutnya, agar selamat di dunia dan di akhirat nanti. Saling mengingatkan setiap hari agar selalu ingat untuk beribadah dan berdoa, semakin meyakinkan saya dengan textline “Sahabat Sampai Surga” disini. Tak ada senioritas, hanya rasa ukhwah yang terjalin melilit keseharian baru ini. Kini saya sudah siap menjadi macan yang dilatih untuk menjadi kuat dan siap menghadapi halang rintang di masa depan nanti, serta untuk mewujudkan cita-cita mulia kami.  



Bertemu dengan Orang-orang Baik#3 Bali



   Hari Minggu (1/10) saya kembali mengawali bulan kesepuluh dengan membuka pengalaman dan kawan baru. Mengamanahkan diri untuk survei pengungsi korban terdampak perubahan status aktivitas Gunung Agung, Bali membukakan perjalanan di bulan ini. Meski pelbagai hal diawal sempat mengganjal namun tak menyurutkan diri untuk mengabdi. Sudah terlanjur dan memang saya menyukai kegiatan ini kemudian saya coba untuk mengekspresikan lewat MAHAGANA (Mahasiswa Tanggap Bencana) di kampus. Sudah pelbagai kegiatan kebencanaan saya terjun ke lokasi langsung, namun kali ini berbeda, ya saya sendiri. Namun karena sudah berniat sejak awal, akhirnya saya tetap terjun ke Bali untuk melihat secara langsung kondisi terkini Gunung Agung yang sudah berstatus awas sejak sebulan terakhir. Awalnya "digoda" dengan pelayanan bus yang tidak profesional sehingga memakan waktu saya banyak di perjalanan menuju Pulau Dewata. Hampir satu hari saya menghabiskan waktu di dalam bis.

     Diterima dengan baik oleh kawan lama @ibprayogi yang juga sedang berjuang di Pulau Dewata. Lama tak jumpa, akhirnya saya dimudahkan untuk urusan disana. Lanjut ke misi utama, berangkat pagi dengan iringan jeep dan truk yang membawa misi yang sama menemani perjalanan ke posko pengungsian di GOR Swecepura, Kabupaten Klungkung. Jalan yang tak amat jauh membuat kami mudah sampai disana. Sedang kami berdua menaiki sepeda Yamaha N-Max yang sudah cukup memadai. Tidak perlu waktu lama, karena jarak Denpasar dan Klungkung yang tidak terlalu jauh. Hampir selama satu jam setengah kami menghabiskan waktu di jalan. Jalan saat itu terlihat cukup sepi sehingga kami perlu untuk mengejar waktu. Tidak susah pula kami sampai di posko atau lokasi penggungsi Gunung Agung di Klungkung dengan adanya plang di pinggir jalan yang menunjukan posisi lokasinya. Hanya saja lokasi GOR Swecepura yang masih cukup jauh dari jalan utama sedikit membingungkan kami. 



    Disambut dengan tenda-tenda pengungsi milik organisasi kemanusiaan dan pakaian yang dijemur di lapangan gor, saat sampai disana. Warna biru tenda milik BNPB mendominasi di lapangan yang cukup luas itu. Langsung saja kami menuju pos pusat BNPB untuk mengetahui data yang sebenarnya.  Kami menanyakan data pengungsi dan logistik yang berada di pos pengungsian ini. Dilansir juga di GOR ini merupakan posko pegungsian terbesar. Kamera telepon genggam siap untuk menangkap gambar dan data yang ada. Terdata 20 ribu jiwa yang mengungsi di daerah ini semakin meningkatkan rasa bersyukur. Pelbagai bantuan amanah dari kawan-kawan kampus dengan bahagia diterima dan siap disalurkan disana. Di lahan parkir yang disediakan juga banyak terparkir mobil-mobil televisi nasional yang sedang meliput secara langsung kegiatan pengungsian di sana. Begitu pula silih berganti mobil TNI ataupun relawan yang membawa bantuan logistik, baik itu dari kawan mahasiswa maupun organisasi kerelawanan lainnya. TErlihat pula bule yang ikut membantu disana. Hal tersebut membuktikan bahwa meskipun Gunung Agung sedang mengalami perubahan status namun pariwisata di Bali masih aman dan tidak terganggu. Malah oleh para bule digunakan sebagai ajang peduli sesama. 



   Suasana riuh membuat kaki ingin melihat kondisi anak-anak pengungsi disana. Terlihat didepan pintu gor kerumunan anak sedang berjoget dan mendengarkan musik dari orgen. Waah! Seakan tak percaya dengan ucapan mc bahwa ada Kak Seto (ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) juga datang dan meresmikan pojok baca untuk anak-anak di pengungsian. Sekali mendayung tiga, empat pulau terlampaui tak sengaja saya bertemu dan ngobrol sejenak dengan orang yang ingin saya temui. Memiliki misi yang sama menjadikan beliau sebagai gambaran untuk melukiskan keinginan dimasa depan. Selain itu teryata di GOR ini telah dihadiri oleh banyak orang penting negeri ini, seperti Presiden Jokowi, Mensos Khofifah, hingga bupati Kabupaten Klungkung. 



    Meski singkat, terima kasih Bali dengan segala keterbukaan, keberagaman, dan hal yang tak terduga-duga. Saya akan kemBali lagi.


Sabtu, 06 Januari 2018

Melukis Sebagai Media Dokumentasi Semangat Zaman




sumber: 3.bp.blogspot.com

   Kegiatan melukis sudah mendarah daging dan berkembang selama manusia hidup. Hal tersebut dibuktikan dengan temuan lukisan arkeologis pada dinding gua-gua hingga berlanjut pada relief di bangunan zaman praaksara. Tentunya masing-masing zaman menunjukan "ekspresi" masing-masing dan tidaklah sama antara satu zaman dengan zaman lainnya. Hal tersebut juga ditentukan dari alasan atau latar belakang dari adanya lukisan tersebut.

   Corak lukisan pada zaman praaksara dan zaman sejarah tentu memiliki perbedaan. Perbedaan itu timbul dari peristiwa pada masa lampau yang mempengaruhi atau yang sedang terjadi pada zaman tersebut. Seperti pada zaman praaksara ditemukan corak lukisan yang berbentuk hewan buruan, cap tangan, dan bentuk manusia yang sederhana. Hal itu merepresentasikan bahwa pada kehidupan zaman tersebut manusia purba banyak dipengaruhi oleh hal tersebut. Pada zaman tersebut terlihat bahwa lukisan masih belum memerlukan kaidah estetis, melainkan hanya sebatas ekspresi dan sebagai bentuk pemujaan atau kebutuhan spritual saja. 



   Berkembang berikutnya yakni pada zaman kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di Nusantara yang banyak ditemui pada bangunan peninggalan zaman tersebut. Pada masa Hindu-Buddha relief-relief yang dirupakan manusia banyak disimbolkan untuk kepentingan religius. Bentuk yang terlihat juga memiliki corak yang berbeda di setiap daerah temuan. Begitupun pada zaman kerajaan Islam yang banyak kemudian ditemukan relief atau lukisan kaligrafi pada masjid atau bangunan kuno.

   Kini tentunya seorang pelukis pada awalnya memiliki hal yang melatar belakangi ia untuk melukis. Hal tersebut akan merangsang imajinasi si pelukis untuk kemudian menjadikan objek tertentu sebagai dorongan untuk menggoreskan setiap kuas pada kanvasnya. Tentuya seorang pelukis harus tertarik terlebih dahulu kepada suatu obyek, mempelajari lebih dalam, dan mulai menuangkan dalam sket atau langsung dilukis tergantung dengan aliran setiap pelukis. 

   Hal yang melatar belakangi pelukis dapat datang dari luar maupun dari diri pelukis itu sendiri. Obyek yang dapat dari dalam dirinya sedniri biasanya muncul secara tiba-tiba atau juga tergantung masing-masing pelukis dalam berimajinasi atau menemukan ide baru untuk melukis. Ada pelukis yang berkeliling (traveling), meditasi, berdiam diri, atau melihat karya orang lain untuk kemudian mendapatkan ide-ide baru. Jika dorongan dari luar maka seroang pelukis akan banyak terpengaruh dari lingkungan sekitarnya baik orang lain maupun semangat zaman pada masanya. Seperti pada lukisan Basoeki Abdullah yang dapat digolongkan dalam tema perjuangan, sosial, dan kemanusiaan.

   Pada tema perjuangan dalam lukisannya Basoeki Adullah terbatas, hal tersebut dapat disebabkan Sang Maestro masih bermukim di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya saja sebelum itu Basoeki pernah bergabung sebagai tenaga pengajar di organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Disitulah ia merasakan secara langsung betapa sulitnya perjuangan bangsa melawan penjajah. Basoeki kemudian membuat sket dimana tergambar suasana revolusi bangsa, dengan masuknya kembali militer Belanda sampai perjuangan heroik TNI.



sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id 

   Berbeda dengan tema kemanusiaan dan kemasyarakatan, Basoeki banyak melukis dengan tema tersebut yakni diantara waktu 1980-1990-an. Pada waktu itu Basoeki banyak merasakan dan melihat keadaan rakyat Indonesia. Lukisan yang dibuat Basoeki meliputi aktivitas sehari-hari masyarakat seperti membajak sawah, ibu yang menggendong anaknya, tarian rakyat, kecantikan wanita, keindahan alam dan sebagainya. Pada saat ini pula sang maestro membubuhkan sikap humanismenya yakni dengan lukisan Ibu Theresa (1998) dan Tanpa Pamrih (1998) yang merupakan ekspresi dari Basoeki kepada sosok humanisme dunia. 


sumber: subhandepok.files.wordpress.com 




Sumber:
http://museumbasoekiabdullah.or.id
Lukisan Basoeki Abdullah Tema Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.2013. Jakarta: Museum Basoeki Abdullah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Selasa, 02 Januari 2018

Bertemu dengan orang-orang baik #4 Aceh

   

    Kali ini saya dizinkan untuk menapakkan kaki diujung barat Indonesia, Aceh. Perjalanan kali ini tergolong singkat namun saja saya mendapati perlbagai pengalaman dan tentu bertemu dengan oreang-orang baik. Mengharuskan untuk cancel pada kegiatan di salah satu negeri sebagai gantinya bisa beralih ke negeri sendiri dengan segala kemudahan dan beserta doa orang tua. Tanpa ada beberapa biaya yang dikeluarkan namun tetap menjadi beban dan amanah saat kembali. Tentunya pada wadah pengabdian dan belajarku di Mahagana (mahasiswa tanggap bencana).

       Pada awal bulan Oktober secara pribadi saya dipanggil untuk menemui Wakil Rektor III, yaitu Prof. Amin sapaanya. Sempat kaget dengan panggilan langsung seketaris beliau ini untu segera mengahadap. Derap jantung begitu cepat saat menunngu beliau. Ternyata kabar baik diluar ekspetasi sebelumnya, yakni perwakilan mahagana ditunjuk untuk menghadiri pelaksanaan 12th Council of Rector Indonesia State University- Council Of University President of Thailand (CRISU CUPT) 2017. Kenapa yang ditunjuk mahagana, dikarenakan konfrensi kali ini bertemakan "Enchanging Disaster Resilience through Education: Opportunities and Challenges for Indonesian and Thai Universities" intinya adalah tentang pendidikan kebencanaan. Saya diberitahu kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 Oktober 2017, untuk itu saya mempersiapkan diri dengan membawa nama baik mahagana. Secuil tentang forum ini merupakan kerjasama antar rektor Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dan Thailand yang setiap tahun diadakan di Indonesia dan Thailand, kebetulan saja tahun ini dilaksanakan di Indonesia tepatnya di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bertepatan juga tahun ini forum tersebut mengambil tema mengenai kebencanaan dan tepat dilakukan di Aceh yang mana masih terngiang di telinga kita pada tahun 2004 melanda ujung barat Indonesia ini. 

     Kabar gembira ini saya sampaikan kepada kawan-kawan mahagana. Alangkah senangnya kawan-kawan mahagana, dengan mengikuti kegiatan ini selain bisa membuka jaringan baru dan sebagai wadah untuk menggaungkan nama mahagana diluar kampus. Dari pihak kampus menunjuk lima orang perwakilan diantaranya yakni: Prof. Moch Amin Alamsjah., Ir., M.Si., Ph.D. (Wakil Rektor III Unair), Prof. Soetojo (dekan FK Unair), Dr. Nurul Hartini., M.Kes. (Dekan Fak. Psikologi Unair), Dr. Christrijogo Sumartono, dr. SPAn. KAR (Ketua Magister Manajemen Bencana Unair), serta saya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Seluruh persiapan sudah diurus sehingga tinggal menunggu tanggal keberangakatan saja. Meskipun bertepatan dengan jadwal UTS semester ganjil, namun karena surat izin dari rektor sudah turun sehingga langsung saya urus pada bagian akademik dan panitia ujian. 

 Prof. Moch Amin Alamsjah., Ir., M.Si., Ph.D.

Dr. Christrijogo Sumartono, dr. SPAn. KAR (saat diliput media cetak)

Dr. Nurul Hartini., M.Kes

Prof. Soetojo

     Saya berangkat menunju Aceh pada hari Rabu (11/10) pukul 05.30 WIB. Diantar kawan se asrama saya menuju Juanda sebelum waktu Shubuh agar dapat mempersiapkan diri. Mata yang masih sangat berat memaksa untuk melihat lalu lalang orang di Bandara. Sempat tertinggal saat check in untung saja masih bertemu dengan Prof. Toyo di belakang antrian. Dikarenakan pesawat menuju ibukota, suasana pagi Juanda dipadati dengan pelbagai macam rupa, mulai dari pebisnis hingga seniman, mulaid ari yang berambut klimis hingga berambut gimbal. Perjalanan satu jam kami transit sebentar di CGK, Jakarta. Pagi Jakarta yang berembun memulai dialog saya dengan para petinggi kampus ini. Mulai bercerita masa mudanya dulu hingga dapat berkeliing diluar negeri. Perjalanan kami berlanjut dengan sarapan nasi goreng diatas kabin pesawat Batik Air. Sebelah saya Prof. Amin bercerita banyak tentang Nagasaki. Beliau telah bertahun-tahun tinggal disana dengan menyelesaikan studi Doktoralnya. Pernah menjabat sebagai PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Nagasaki dan Ketua Komunitas Muslim disana beliau bercerita bagaimana bisa mendapatkan beasiswa penuh dan hidup survive di Jepang. Saya menilai bahwa beliau adalah orang yang teliti dan tekun, disetiap beliau bercerita selalu saya membayangkan bagaimana beliau tidak pernah keluar dari labolatorium untuk menyelesaikan penelitiannya. 

    Cuaca yang cerah memperlihatkan keindahan alam Sumatera dengan bukit berbaris dan sungai yang menyerupai ular anaconda. Namun juga kadang tertutup oleh awan tebal yang menyilaukan mata. Perjalanan ini ditempuh selama dua jam lebih saya gunakan untuk menyelesaikan waktu tidur yang sempat tertunda beberapa jam lalu. Dari kokpit pilot dikabarkan bahwa akan segera sampai di bandara Sultan Iskandar Muda. Kami disambut dengan gerimis kecil yang cukup menyegarkan pikiran dan jasmani. Terkejutnya saat kami menuju kepada panitia yang sudah menjemput di pintu keluar terdaat kios "Bakso Malang" tepat disebelah pintu keluar bandara, wah jauh-jauh kesini masih saja terasa berada di rumah. Kami menuju hotel dengan mobil dari Fakultas Keperawatan Unsyah bersama beberapa peserta lainnya. Dikaenakan masih pukul 10.35 WIB dan belum waktunya untuk check in hotel, saya diajak bersama kolega (junior) dari Prof. Toyo yang juga dokter yang bertugas di Aceh. Langsung saja kami diajak menuju rumah makan cukup terkenal disini yakni Rumah Makan Hasan, dengan menu andalannya, Ayam Tangkap. Ayam goreng dengan pelbagai daun yang digoreng garing. Rasanya cukup enak dan saya dipersilakan untuk mencicipi makanan itu. Saya hanya menganguk dan merasakan rempah-rempah yang kental disetiap gigitan. Makan siang saya ini ditutup dengan timun serut yang menyegarkan.

    Masuk waktu Dhuhur saya diajak menuju masjid kebanggaan masyarakat Aceh, Masjid Baiturrahman. Cuaca yang masih mendung dan sedikit gerimis semakin medinginkan suasana hati disana. Begitu megah memang masjid yang tidak roboh saat diterjang tsunami lalu. Terliaht betapa kuatnya hati dan jiwa masyarakat Aceh dari masjid ini, meskipun diluluh lantakkan sedemikian rupa, tapi masih dapat berdiri kokoh dan menjalani aktifitas sehari-hari dan beribadah dengan khusuk. Masjid berkubah hitam ini juga memiliki payung peneduh seperti di Masjid Nabawi, jika hujan atau panas terik payung itu akan mekar sedang jika malam atau cuaca sedang baik maka akan menutup. Kami shalat berjamaah pada shaf pertama dibelakang mimbar kayu yang diukir apik itu. Setelah itu saya diminta untuk memfoto semua secara bergantian, saya pun difotokan Prof.Amin selaku Warek III, bahkan saya sempat sungkan, namun beliau mudah bergaul sehingga tidak masalah. Selanjutnya kami mengelilingi masjid Baiturrahman sampai didepan kolam dengan ditemani gerimis yang semakin deras. Selepas itu kami mampir sejenak di pusat perbelanjaan oleh-oleh untuk sekadar membeli souvenir. Di beberapa toko penjual oleh-oleh itu kebanyakan menjual Kopi Gayo, kerajinan tas, kopiah rajutan dengan corak khas Aceh, hiasan dinding rencong, sampai gelang etnik yang ciamik.









     Selepas pukul 14.00 WIB kami kembali ke hotel untuk check in dan beristirahat sejenak. Di lobby hotel peserta dari Thailand juga sudah berkumpul beserta koper dan tas jinjingnya. Kurang lebih sejumlah 30 lebih delegasi mereka menunggu key card hotel. Saya langsung menuju kamar yang sudah terpesan. Beristirahat sejenak melihat suasana sore Banda Ach dari jendela lantai empat. Konferensi ini dibuka malam ini dengan makan malam bersama Wali Kota, Banda Aceh di gedung balaikota yang tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Waktu shalat disini berselang satu jam dari waktu shalat Surabaya, sehingga kami berangkat menuju lokasi selepas shalat Isya. Gdung walikota yang dituju terlihat baru dengan gaya arsitektur dan berbagai corak khas Aceh. Pelbagai tarian pembuka meriahkan malam itu. Tari saman yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan bergantian membuka konferensi ini. Delegasi dari Thailand dengan tanggap memgang telepon genngamnya untuk sekadar mengabadikan atau memvideo salah satu budaya Nusantara ini. Bapak wali kota, Rektor, dan perwakilan dari Thailand bergantian memberikan sambutan untuk membuka kegiatan ini. 
    
     Acara pembukaan yang cukup singkat ini, membuat dokter Cris dan Prof. Toyo untuk berkeinginan mengelilingi sudut malam Banda Aceh, sedangkan saya hanya manut saja diajak. Kami selanjutnya menuju kedai kopi Solong, Ulee Kareng. Disana saya mencoba minuman khas Aceh, Teh Tarik. Disetiap meja sudah disediakan berupa kudapan ringan untuk menemani secangkir kopi atau teh tarik, seperti kacang aceh, telor, roti. dan kerupuk. Kedai kopi disini berbeda dengan kebanyakan di Jawa atau biasa disebut angkringan, giras, atau cangkrukan. Biasanya kedai kopi di Jawa cenderung dengan gaya lesehan dan berada di trotoar jalan, jika di Aceh kedai kopinya berada di ruangan seperti rumah makan pada umumnya berikut meja dan kursinya. Selepas itu kami langsung menuju hotel untuk beristirahat dan saya mempersiapkan materi jika memang ada beberapa hal untuk dipresentasikan. Malam yang rencananya untuk berkeliling mengitari Aceh luluh dengan kasur hotel.

Saat acara pembukaan

Teh Tarik Hangat yang menemani lidah 

          Keesokan hari adalah acara inti yakni konferensi, dengan menggunakan almamater lengkap saya ternyata peserta paling awal datang. Dengan maksud menunggu Prof. Amin dan dokter Cris saya membaca buku di depan hall hotel yang digunakan sebagai tempat konferensi. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan dibuka oleh speakers pertama dari perwakilan Thailand yang memaparkan kondisi geografis Asia Tenggara dengan Asia Timur yang tidak jauh berbeda yakni rawan bencana. Namun yang membuat berbeda adalah bagaimana dengan cepat negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dalam menanggulangi bencananya, seperti Tsunami dan gempa bumi yang beberapa tahun lalu melanda Jepang. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari perwakilan Indonesia yang di sampaikan dari perwakilan POLHUKAM RI yang memaparkan pentingnya menjaga kesatuan bangsa dari ancaman bencana teror, termasuk didalamnya teroris dan segala upayanya. 

     Masuk pada siang hari, yakni dibagi menjadi tiga forum rector, dean and student (rektor, dekan, dan mahasiswa) kami terbagi menjadi tiga ruangan yang berbeda. Saya sedikit terlambat dikarenakan sehabis diajak berkeliling (lagi) oleh Prof Toyo untuk menemui juniornya. Dalam forum kami berdiskusi lintas kampus bahkan lintas negara (Indonesia-Thailand). Saya melihat ada yang antusias mengikuti diskusi ada juga yang masih sibuk menggengam gawainya. Kami ditugaskan untuk mendiskusikan terkait bagaimana nanti kerjasama Indonesia-Thailand dalam forum ini kedepan. Akhirnya saya tergabung dalam kelompok dengan tiga orang dari Indonesia (2 mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Yogyakarta), (4 dari Thailand) bahasan yang kami ajukan adalah mengenai tingginya angka Korupsi di kedua negara. Kami melihat di pelbagai sumber untuk menguatkan data akan hal ini ternyata memeang benar bahwa di Indonesia dan Thailand hampir sama banyaknya tindak korupsi yang terjadi. Kami pun menulis data dari pelbagai sumber dan harapan apa yang kami mau untuk hubungan kedua negara ini. MAsing-masing kelompok kemudian maju kedepan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dari ke tujuh kelompok kami kelompok terakhir yang maju untuk mempresentasikan hasil diskusi. AKhirnya dari semua kelompok dipilih kelompok kami untuk mewakili student forum yang nanti akan presentasi didepan dekan dan rektor peserta konfrensi. Akhirnya siap tidak siap kami bersedia dan betapa bahagianya kami mendapat respon yang sangat baik dari peserta. Bahkan kami diberikan hadiah berupa souvenir dari Chulalongkorn University




      Berakhirlah acara inti konfrensi ini dengan pelbagai kesepakatan yang cukup banya dari hasil forum tersebut. Setelah itu nanti malam terdapat acara penutupan di kampus Universitas Syah Kuala. Sebelum itu saya rehat sejenak begitupun seluruh peserta dan kembali pukul 19.00 WIB. Saya yang tertinggal bus akhirnya memesan gojek menuju Unsyah, memang jaraknya cukup jauh dari hotel, namun masih di dalam kota Banda Aceh. Acara malam ini ditutup dengan sambutan-sambutan dan pertukaran budaya dari masing-masing negara. Aceh dengan kakayaan budayanya tidak henti-hentinya mengahdirkan tarian yang semarak. Tidak kalah dari perwakilan Thaliland juga mengajak kami menari bersama. Namun bukan hanya bersorak-sorak yang saya dapatkan melainkan bagaimana kita saling menjaga kerukunan satu sama lain.

      Meskipun terbilang singkat, pegalaman oleh Serambi Mekah ini saya mendapatkan pelbagai hal yang tidak akan dapat saya lupakan. Pertama, memang rencana Allah selalu ada dan selalu membrikan kejutan yang tidak terkira. Hal ini saya rasakan saat sebelum berangkat ke Aceh saya sudah berencana untuk berangkat dalam sebuah kegiatan pengabdian di India sebagai LO, namun karena pelbagai hal jadi saya belum bisa berkesempatan untuk hadir disana, Allah menjawab lain dengan memberikan kesempatan saya menginjakkan kaki di Masjid Baiturrahman, Aceh. Kedua, saya melihat bahwa sejatinya setiap manusia tidak memiliki sifat jahat, hanya saja kesempatan dan masa lalu yang membuat berbuat buruk. Bertemu dengan orang baru, kawan baru, sahabat baru memberikan pandanganan yang luas akan arti perbedaan. Sifat manusia yang baik sudah tampak pada diri hanya saja bagaimana kita menghadapi orang tersebut selayaknya kita bercermin. 


    
      

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...