- Kereta Gajah Wong mengantarkan saya ke wadah lainnya. Ya, Yogyakarta aku akan kembali, selalu akan pulang kembali. Selalu saat kemari saya berpetualang untuk mencari suaka buku. Sembari saya menyelesaikan ilustrasi dongeng dan membaca Sirkus Pohon, saya duduk lesehan di perpustakaan Grhatama Pustaka.Dari perjalanan ke Jogja kali ini saya membawa misi yang tidak biasa. Ya, misi pengabdian. Saya mengikuti Sosmas Camp V, yang diselenggarakan dengan baik oleh kawan-kawan BEM KM UGM. Seperti biasa dengan kegiatan seperti ini saya tidak lelah untuk membuka pintu jejaring dan rezeki baru. Bertemu dengan kawan-kawan dari penjuru Indonesia apalagi mereka memiliki misi yang sama dengan saya menambah gairah saya untuk mengabdi. Kami mengabdi beberapa hari di Kecamatan Turi, Dusun Gondoarum, Desa Wonokerto, Sleman, DIY. Desa dengan segala impian dan pekarangan Salak. Desa dengan segala kesejukan dan keramahannya. Desa dengan masakan yang manis dan segala kegermerlapan malamnya.
Kami merasakan pula hari Raya Idul Adha dengan masyarakat disana, meskipun tak ada beda namun memori memiliki dan merasakan suasana Akbar bersama keluarga baru sangat membekas hingga kini. Tak hanya bertegur sapa dengan warga, kami juga mengundang beberapa tokoh dan berdiskusi bersama. Tak khayal memang kawan-kawan adalah orang hebat yang rela mengabdi, terlihat dari upaya,keringat, dan darah yang tak peduli mengucur dipenjuru badannya.
Jujur saja, saya akan lebih memilih kegiatan semacam ini daripada mengikuti seminar, pelatihan, atau hanya perkuliahan di ruang kelas atau ballroom. Saya akan lebih tau permasalahan masyarakat dan setidaknya langsung berkontribusi untuk membatu menyelesaikan permasalahan itu. Daripada hanya berdebat tiada ujung dan nihil solusi.
Matur Nuwun bang Alfath, bang Fathan, bang Ridho, bang Fardhan, bang Nabil, Pak Edi Sutrisno sekeluarga, Fisal (dengan semua misteri kosnya dkk), kawan-kawan BEM KM UGM dan semua orang-orang baik di Jogja.Tuhan memang suka bergurauMenghadirkan orang-orang baruSuasana baruKesempatan baruNamun alangkah meruguJika di isi kesalahan yang sama (LA)Jogja, Jogja tentu aku kembali
Senin, 16 Oktober 2017
Minggu, 17 September 2017
Bertemu dengan Orang-Orang Baik#1. Jakarta
Agustus
2017 menjadi bulan penuh makna bagi pribadi saya. Tak henti-hentinya kegiatan
mengasah diri saya ikuti. Tentu saya hanya sekadar ikut untuk tetap mencari
jati diri. Dua kota besar menjadi persinggahan saya pada bulan ini. Bertemu
dengan kawan baru membukakan jendela rezeki dan pengetahuan. Bertemu dengan
permasalahan baru semakin mengukir jiwa untuk mendewasakan diri. Berderu dengan
bis, kereta komuter, dan kereta Gajahwong membawa langkah saya selanjutnya.
Perjalanan akhir bulan ini,saya mulai dari
Stasiun Wonokromo, Surabaya. Di salah satu stasiun lawas Kota Pahlawan ini saya
bersama beberapa kawan tepat waktu menunggu kedatangan kereta Gaya Baru Malam.
Hiruk pikuk stasiun, tukang becak, tukang parker, dan sopir taksi online seakan sudah biasa membersamai
bunyi lonceng kereta itu. Tidak begitu ramai di dalam kereta, kami langsung
mencari bangku sesuai yang kami pesan. Untungnya kami dapat satu gerbong dan
hanya berselisih satu bangku saja. Kami ramai berswafoto diluar kereta namun
diam saat duduk dan selesai menaruh koper. Ada yang membaca Al-Quran, membaca
novel Pram, ada juga yang melanjutkan menulis paper. Sedang saya sibuk dengan kuas dan cat akrilik warna
biru,merah, dan putih.
Stasiun
kota tetangga sudah kami lewati. Suasana khas senja hari dan pekarangan sawah
memanjakan perjalanan kami. Hingga tak terasa hampir Magrib kami sampai Jogja.
Berhenti cukup lama saya sampaikan salam pada suasana khas Jogja. Keluar dari
gerbong dan melihat awan diatas Lempuyangan membuat saya selalu merindukan kota
ini. Tangan-tangan pedangang makanan menyuguhkan nasi bungkus seharga dua belas
ribu lengkap dengan sendok bebeknya.
Banyak kawan yang akhirnya tersipu dengan tawaran pedagang itu. Luamayan, nasi
sayur plus ayam goring untuk mengganjal perut sampai dini hari nanti.
Selepas
magrib kami lanjutkan perjalanan menuju ibukota. Jendela yang buram ditambah
gelap malam seakan membutakan mata saya untuk melihat dunia luar. Akhirnya saya
sibuk dengan earphone dan kuas
imajinasi saya. Kanan kiri saya liat mata-mata tertidur dengan lelapnya, seakan
tak memikirkan utang atau tugas kuliahnya. Beberapa kali saya mengunjungi kamar
mandi untuk sekadar mencuci muka atau menghirup bau khas kereta. Sering pula
kawan-kawan berdiri dan berkeliling untuk membuang penat.
Saya
mencoba tidur dengan beberapa gaya. Entah sudah beberapa gaya saya coba, dan
hasilnya nihil. Hanya mata yang tertutup namun pikiran masih hidup. Punggung
sudah berteriak ingin rebahan, namun harus bersandar di kursi 900
itu. Beberapa lampu stasiun kota yang hanya dapat terbaca malam itu.
Pukul
02.00 kereta kami melewati stasiun terakhir sebelum Pasar Senen, ya Jatinegara.
Satu dari kawan kami turun disana untuk segera pulang kerumah. Sedang kami
harus merapikan wajah dan menurunkan koper untuk bersiap menginjakkan kaki di Ibukota.
Tiga puluh menit kemudian kami benar-benar bebas dari hotel gerbong Gaya Baru
Malam itu. Kami mencari suaka (masjid) untuk sekadar rebahan namun masih terunci.
Belum waktu Shubuh akhirnya kami menggelandang di sekitaran stasiun untuk
istirahat. Dengan perut berteriak saya memutuskan untuk membeli segelas mi
instan agar menenangkan lambung saya.
Sampai
pada waktu shubuh kami langsung beranjak ke masjid depan. Air wudhu
membangunkan kedua mata kami. Segarnya udara air conditioner masuk
ditiap pori-pori kaus kami. Khusyuk saya melihat kawan-kawan dan warga ibukota
melaporkan diri pada Sang Maha Esa.
Kami
menunggu ditemani Fajar yang mulai memanaskan ibukota. Menunngu KRL yang akan
lewat dan siap kami tumpangi. Sembari menunggu kami mulai berimajinasi dengan
buku-buku yang kami bawa. Sedang saya duduk diatas bangku besi dan kaki penuh
gigitan nyamuk. KRL jurusan Depok datang dengan tergopoh-gopoh langsung kami
naiki. Pintu gerbong terbuka semua, masih longgar, kosong belum ada suasana
khas ibukota. Stasiun demi stasiun kami hampiri, banyak juga insan yang sudah
berpakaian rapi mengawali pekan ini dengan earphone
menggantung ditelinga.
Suasana
khas ibukota mulai nampak. Kami smua berjejal masuk gerbong demi gerbong. Kami
yang masih dihantui rasa kantuk menyelesaikan hak mata kami untuk sekadar
tidur. Akhirnya kami turun di stasiun terdekat kantor pusat Rumah Kepemimpinan,
yaitu stasiun Universitas Indonesia, ya kampus U and I. Pagi itu kami berjalan bersama mahasiswa yang membawa
jakun kemana-mana. Kami berhenti di halte bikun FIB untuk melanjutkan ekspedisi
ini. Sempat beberapa kami naik bis kuning ini malah jauh dari koridor tujuan
kami. Tak sengaja kami menaiki jalur yang sama dan turun di halte menwa. Lewat
jembatan penyeberangan jalan kami dapat memandangi warga dari ketinggian. Hanya
berjarak sekitar 300 meter dari halte, kami sudah disambut dengan logo instansi
kebanggan kami, Rumah Kepemimpian.
Kami
sampai di markas utama. Lansung saja para Ksatria (sebutan regional RK Putra
Jakarta, Universitas Indonesia) untuk sekadar rebahan di asrama. Dari kami ada
yang melajutkan permintaan mata untuk tertidur dan ada yang menuruti permintaan
perut yang masih kosong. Saya termasuk yang kedua. Akhirnya kami sarapan di
warung nasi uduk dekat asrama pusat. Harga yang hampir sama di Surabaya tak
mengagetkan saya. Pisang goreng saya pilih untuk hidangan pencuci mulut.
Selepas itu saya bersiap untuk menemui kawan hidup saya yang sedang berkarya di
UI, ya siapa lagi kalau bukan penyair ini, Harrits. Sebelum shalat Jumat saya
bersiap untuk segera menuju kampus Ukhwah Islamiah (masjid kampus UI) sekaligus
berjumpa dengan Harrits.
Jumat
itu di UI sedang berlangsung wisuda periode Agustus. Kebetulan juga saya
memiliki saudara sambung yang sedang diwisuda untuk resmi menjadi Sarjana Humor
hehe (Sarjana Humaniora, sarjana
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI) yang mengambil program studi Sastra Jawa.
Siapa lagi kalau bukan mantan jenderal PSAMABIM, Mba Sifa aku memanggilnya.
Saya dipacu waktu. Waktu shalat semakin dekat, alhasil saya shalat tepat
dipintu gerbang masjid UI. Panas terik saat itu tak melelhkan kekhusukan kami
mendekatkan diri pada Sang Maha Tinggi. Selesai dua rakaat saya berteduh di
bawah pohon menunggu Harrits nonggol. Tak sampai lima menit kami bertemu
kembali. Tak ada beda dari awak Harrits, hanya saja bertambah panjang kumis dan
jenggotnya.
Kami
kemudian menuju FIB untuk mencari seteguh es teh. Di Kansas kami bertukar kabar
dan saling membagi lawakan. Saya selalu ingat perjuangan kami berdua di tahun
2016 lalu jika mengunjungi tempat ini, terlebih Taman Arkeologi. Sore hari saya
mengantar Harrits untuk berkumpul dengan prodinya (Sastra Indonesia). Disana
mereka menyiapkan para wisudawan seniornya untuk sekadar memberikan salam
selamat. Di depan rektorat UI juga sudah banyak berdiri banner beberapa program
studi. Sore, saat semua wisudawan keluar kami berdua berupaya berenang dilautan
manusia itu untuk mencari Mba Sifa. Kami bertemu dan seperti biasanya kami
langsung berpose untuk diambil gambar dari kamera Cannon.
Saya
juga sempat menemui kawan Sejarah UI saya, Alam. Dia saya temui sedang berada
dalam kerumunan Rakyat Militan Sastra lengkap dengan drum gendering perangnya.
Suasana padat hingga tak terasa petang hinggap. Kami berdua berpamitan dan
melanjutkan laporan Magrib di masjid UI. Jalan yang riuh seusai pelepasan
wisudawan memutuskan kami untuk mengambil jalan tikus melewati kutek dan
berputar nun jauh sampai mendarat di kantor pusat Rumah Kepemimpinan lagi.
Malam
itu saya dan Harrits harus berpamitan untuk sementara waktu. Saya langsung
bergegas menuju lantai dua untuk bersih diri, mengambil jas Rumah Kepemimpinan
dan ikut dalam acara malam yaitu arahan peserta selama dua hari kedepan. Pada
bulan ini Rumah Kepemimpinan sedang merayakan milad ke-15nya. Tentu usia yang
sudah beranjak “remaja” ini telah banyak menunjukan hasilnya pada dunia.
Terlihat dari prestasi dan kontribusi para alumni dan peserta yang malang melintang
di berbagai bidang, seperti entrepreneur, akademisi, hingga politisi.
Secara
keseluruhan kegiatan milad ke-15 tahun Rumah Kepemimpinan ini dinamai National Leadership Camp (NLC). NLC pada
kegiatan ini memiliki jargon yakni “Kontribusi Untuk Negeri”. Hari pertama dan
kedua dikemas dengan talkshow perihal
kepemimpinan dan wawasan kebangsaan. Tak tanggung-tanggung pembicara yang
mengisi dan menyumbangkan suaranya pada kegiatan ini banyak dari tokoh
nasional.
Acara
ini secara resmi dibuka dengan Opening
Ceremony oleh direktur pusat Rumah Kepemimpinan, Bang Bachtiar Firdaus.
Dalam sambutannya seperti biasa, beliau dengan nada tegas membakar jiwa-jiwa
kami yang kerdil ini untuk menjadi raksasa. Bahkan, beliau mengingatkan peserta
semua sebab sudah tiga belas bulan masa pembinaan Rumah Kepemimpinan, namun
masih juga banyak hal yang belum mencapai target awal. Kembali lagi, saya
menanyakan kepada diri saya selaku pengemban amanah ini. Introspeksi diri pagi
itu memerlihatkan apa saa yang telah saya lakukan untuk kebermanfaatan orang
banyak sesuai dengan misi Idealisme Kami Rumah Kepemimpinan. Menyesal sudah
barang tentu saya rasakan pagi itu. Tiada kata lain untuk saling berbenah dan
mengingatkan satu sama lain agar tidak lagi kata penyesalan di akhir. Bahkan
setiap pekan kami kumandangkan “kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri”. Sungguh berat, namun
mengapa harus takut jika ada kekuatan Maha Besar diatas?
Pada
sesi pertama kami disuguhi materi oleh Dr. Bambang Widjojanto, S.H, M.H selaku
pernah menjabat orang kedua di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Beliau
menusukkan materi pada kami tentang banyak hal, terutama permaslahan dan upaya
anti korupsi. Sebagai orang yang pernah berjibaku dan memerangi koruptor beliau
sudah tegas dengan captionnya untuk
menjauhi dari perbuatan najis itu. Pada akhirnya beliau juga menggambarkan
bahwa integritas seseorang akan terlihat tanpa sadar dengan perilaku yang
dilakukannya, serta beliau juga menyusupkan pentingnya brperilaku jujur dan
terbuka dalam setiap melakukan aktivitas.
Sesi
talkshow dilanjutkan bersama Dr.Ir. Nur Mahmudi Ismail. Beliau pernah menjadi
orang nomor satu di Depok. Bahkan tidak cukup satu kali, beliau pernah menjabat
dua kali periode kepemimpinan. Beliau yang asli Jawa Timur ini memberikan
wasiat kepada kami mengenai kepemimpinan disektor publik. Kemampuannya untuk
bertemu,berunding,dan bercakap dengan masyarakat luas sudah tidak diragukan
lagi.
Hari
ini saya merasa sangat panjang. Otak saya kembali dibuka untuk wawasan baru dan
mata saya disegarkan dengan tokoh-tokoh yang hadir mengisi podium hari ini.
Sore hari menurut saya sebagai klimaksnya. Kami kedatangan Dr.(HC) H. Zulkifli
Hasan, S.E, M.M selaku ketua MPR RI. Pembawaan sederhana beliau mencurahkan
pelbagai pengalaman dimasa mudanya. Akhir acara saya memberikan buku pertama
saya kepada beliau. Meskipun sederhana namun saya ingin memberikan
kenang-kenangan abadi kepada setiap orang baru yang saya temui, salah satunya
adalah Zulkifli Hasan ini.
Malamnya
kantor pusat ramai dengan dipenuhi mobil diparkiran. Di dalam para donatur,
penyantun, dan petinggi yayasan sedang bertasyakuran. Beberapa dari kami juga
diajak untuk mengikuti kegiatan sakral ini. Sedang saya dan semua peserta
mendiskusikan untuk penampilan persembahan angkatan kami. Kami berunding dan
sepakat untuk membagi setiap regional dalam pelbagai peragaan alur cerita.
Hari
kedua dimulai dengan kegiatan Kajian Islam Kontemporer yang diisi oleh bapak
kami (begitu kami menyebutnya) Ust. Musoli. Beliau memberikan ilmu-ilmu Islami
dalam kehidupan kekinian serta sedikit mendiskusikan permasalahan hari ini.
Pagi itu tak banyak dari kami yang masih berbau guling. Beberapa dari kami yang
mengangguk-anggukkan kepala sembari menutup matanya. Kami dijejali kembali oleh
pengalaman dan ilmu-ilmu dari alumni Rumah Kepemimpinan yang telah mulai
menunaikan citanya. Tak terasa sudah siang hari, waktunya kami bermain peran
sesuai dengan yang telah kami bagi kemarin. Alur cerita yang mencerminkan kami,
seakan menyadarkan saya pribadi bahwa kami bukan siapa-siapa, masih bukan
siapa-siapa dan memang bukan siapa-siapa. Idealisme yang besar dan kuat
diperagakan kawan-kawan dengan ekspresi dan tingkah yang lucu. Idealisme itu
kemudian luntur dan dibenturkan oleh realita. Begitu lah kami, yang masih
memiliki gagasan besar, namun kami akan sadar bahwa kami bias, bias, dan bisa
mewujudkannya, demi bangsa yang mulia. Kegiatan
haru ini ditutup dengan persembahan cinderamata dari peserta dan panitia. Saya
membawakan lukisan dengan topeng wajah sebagian tertempel dikanvas. Saya
berikan untuk menjadi cerminan bahwa 15 tahun Rumah Kepemimpinan, masih
memiliki banyak tantangan dan harapan nantinya.
Akhirnya
kami berkemas dan bersalam-salaman, ada yang bertukar nomor telepon ada yang
bersenda gurau dan sebagainya. Kawan-kawan Bogor, Bandung, Jogja, Medan,
Makassar harus kembali ke wadah penggodokannya ini. Saya cukup puas dengan dua
hari ini. Banyak hal yang baru dan mewarnai jalan pikiran saya. Bahkan hingga
kini saya menjadi malu dan merasa bersalah jika masih belum bisa berbuat lebih
untuk kebermanfaatan orang lain. Sekali lagi terima kasih benderaku, jaya
selalu, terus tempa kami hingga menjadi manusia-manusia yang berguna bagi
bangsa yang lebih bermartabat dibawah lindungan Allah pencipta alam semesta.
Agenda
saya selanjutnya adalah menetap selama dua hari di Jakarta utnuk langsung
mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat di Jogja. Saya dijemput Harrits pukul
15.00 dan langsung menuju rumah saudara Harrits, mas Bagos di daerah Sudirman.
Pertemuan satu tahun lalu saat saya mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru
disini terulang kembali. Mas Bagos dengan segala kebaikannya menerima saya dan
menganggap saya sebagai saudara sendiri. Hasrat ingin berjalan-jalan malam di
Ibukota membara. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan melepas beban ke Gramedia
Matraman. Seperti biasa jika ke toko buku, mata saya tidak bisa terkontrol.
Tangan ingin menyabet buku di rak kanan dan kiri melihat judul yang menarik dan
membaca sinopsis. Akhir dari perjalanan saya adalah membeli buku terbaru Andrea
Hirata Sirkus Pohon. Wow, judul yang
menarik dan saya rasa imajinasi saya akan terbang bebas dengan buku ini saat sekilas
membaca buku yang telah lepas plastiknya.
Kami
pulang malam hari ke rumah mas Bagos di Cibinong. Jauh saya rasa, badan serasa
dilipat dalam koper dan diterjunkan dari langit Jawa. Tak panjang lebar kami
bercerita malam itu, kami langsung menutup hari yang panjang ini. Pagi hari
kami bersiap mandi pagi dan shalat Shubuh dengan air wudhu yang membangunkan
kami. Eh, tapi gravitasi kasur lebih besar dari yang kami pikirkan, kami
terlelap hingga pukul 10.00. Gupuh! Kami melihat jam. Langsung meloncat menuju
supra fit milik Harrits kami meluncur menuju kampus UI yang sedang pertama kali
masuk perkuliahan, wah tepat sekali saya pikir.
Jalanan
Depok yang semrawut ditambah cegatan polisi mingguan menambah kegelisahan kami
pagi itu. Sampai parkiranpun kami mendapat posisi pojok disamping vespa klasik
warna hijau tosca. Sedang si Harrits menemui jurusannya saya menemui kawan
sejarah UI dan berbincang dengannya hingga siang hari. Tak lama kemudian saya
berjenjian untuk bertemu dengan kawan yang dulu di UNAIR dan kini memakai Jakun
UI dengan makara abu-abu itu.
Puas
bertemu kawan-kawan lama, kami menancap gas dan berlikuk di jalan Ibukota
(lagi). Kali ini kami menuju jalan Ampera untuk sekadar berkunjung ke ANRI
(Arsip Nasional Republik Indonesia). Saya sengaja mendatangi tempat ini untuk
nanti keperluan studi saya dalam mencari sumber sejarah. Tepat kami sampai di
tangga pusat layanan, si pak satpam memberitahu kami bahwa mereka telah tutup.
Yah, namun saya mencoba mencari informasi terkait alur masuk dan peminjaman
arsip disana. Kami lanjut dan makan bubur ayam di depan mini market tak jauh
dari ANRI.
Malam membuntuti kami, rasanya rugi jika langsung pulang. Kami
memarkir sepeda ke rumah mas Bagos lagi dan menuju halte bus transJakarta dan
menuju Blok M. Suasana ibukota sepulang kerja semakin mendesak kami mendekat
dengan pintu keluar. Awalnya kami akan turun di halte senayan untuk melihat
gedung rakyat, namun tidak, kami tetap menuju koridor Blok M. Suasana
perbelanjaan malam dan Kedai Filosofi Kopi menyilaukan mata saya. Harrits
mengajak saya untuk ke lantai bawah dan melihat kaset dan buku klasik yang
dijual disana. Rute pulang juga sama dengan awal kami berangkat, bahkan lebih,
tidak hanya koper, tubuh saya serasa ditekuk di lemari es bagian bawah. Malam
terakhir di ibukota ini menjadi haru dengan sejuknya kota Bogor tak jauh-jauh
dari badan saya. Esok saya harus berangkat pagi menuju Stasiun Pasar Senen
untuk mengejar kereta Gajah Wong pukul 06.45 menuju kota penuh kenangan
Jogjakarta. Sudah, cukup banyak orang-orang baik yang saya temui pada kurang
dari sepekan ini. Tak henti-hentinya mata, hati, dan telinga ini membuka dialog
dengann orang-orang baru. Pintu rezeki terbuka, wawasan bertambah-tambah, dan
pasti semangat untuk berkarya akan lebih menjulang tinggi.
Jakarta, entah kau akan jadi lahan kemahku nanti atau
tidak, yang jelas kau sudah mempertemukan dengan orang-orang baik.
Kamis, 06 April 2017
Menengok Semen Indonesia, Pabrik Rembang
Menjadi seseorang haruslah bijak dalam memilih. Memilih dalam suatu keputusan ataupun keberpihakan, semuanya bebas sesuai dengan kemerdekaan hati nurani manusia. Seperti pada permasalahan yang terjadi pada persoalan pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Bolehlah setiap dari kita memiliki pilihan untuk berargumentasi dan memihak mana yang harusnya dibela. Menuut saya diperlukan kesepakatan win-win solution antara warga dan Semen Indonesia serta kebijakan yang tetap berpatokan pada hukumlah yang memang sekiranya perlu dilakukan. Sehingga tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan dan salah satu pihak diintimidasi serta terpuruk. Untuk memihak juga harusnya tidak hanya diarahkan dan diprovokasi oleh media-media. Diperlukan data Dan fakta yang valid akan suatu permasalahan itu.
Pada hari Rabu (5/4) Ikatan Alumni UNAIR dan beberapa mahasiswa turun langsung ke lapangan yaitu ke PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pabrik Tuban dan Rembang agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan sebagai langkah pengumpulan data dan fakta .Beberapa hal dipaparkan dalam kegiatan kemarin. Seperti sistem Clean Industry dimana Semen Indonesia pabrik Tuban telah memakai sistem yang tidak menjadikan udara sekitar berdebu dan polusi dengan menanam pohon memutari pabrik ,serta dengan merelokasi bekas tambang untuk dijadikan lahan pertanian oleh warga sekitar, seperti ditanami singkong dan pohon jati. Bahkan beberapa lahan jika dilihat sudah rimbun dan juga terdapat green belt / sabuk hijau yaitu penanaman pohon yang mengitari lokasi pabrik Tuban dengan berbagai fungsi. Tepatnya di bekas tambang tanah liat juga setelah selesai ditambang akan digunakan warga sebagai tambak dan budidaya ikan. Selain itu banyak lagi dampak perekonomian warga yg berkembang dari adanya pabrik semen di Tuban ini, seperti adanya warung, kios, dan rumah Kos. Seperti halnya di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pabrik Rembang yang kini sudah hampir 100% selesai dibangun. Pabrik itu dibangun di 5 Desa di 2 kecamatan.
Dari berbagai sumber meskipun masih dalam tahap pembangunan pabrik, disana banyak perubahan yang terjadi seperti banyak ya warga yang terserap untuk menjadi pekerja dengan total 6075 jiwa, begitupun aspek ekonomi formal maupun non formal warga. Peningkatan PAD Kabupaten Rembang kini juga disokong dengan sektor pertambangan
ini. Masalah keterbatasan air di daerah ini juga telah diprogram pihak semen untuk dibuatkan embung dan pipanisasi untuk dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun saya belum mendengar data tersebut secara pribadi dari pihak aktivis lingkungan atau dengan pihak warga. Masalahnya kesejahteraan warga belum bisa hanya diukur hanya dengan PAD saja dan lapangan pekerjaan yg dibuka SI juga membutuhkan tenaga-tenaga ahli. Juga perubahan dengan dibangunnya pabrik semacam ini tentu akan memberikan perubahan social-culture dari masyarakat. Jika memang hanya mengenyangkan satu pihak saja maka tak ada yang pantas dibela selain kemanusiaan guna melindungi hak-hak warga dan lingkungan.
Sabtu, 01 April 2017
MELATIH JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN LEADERS AND LEADERSHIP DI RUMAH KEPEMIMPINAN
Memiliki
cita-cita menjadi seorang pemimpin adalah impian setiap orang. Tidak hanya
menjadi pemimpin negara ataupun pimpinan perusahaan, menjadi pribadi yang
memberikan pengaruh pada orang lain juga bisa disebut pemimpin. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk
mewujudkan cita-cita itu. Terlebih jika telah dipersiapkan secara matang sejak
dini dengan ikut berbagai kegiatan yang melatih diri menjadi seorang pemimpin.
Saat ini beragam kegiatan pelatihan kepemimpinan itu sering kali
diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga kemasyarakatan, dan institusi lainnya.
Umumnya saat pelatihan itu diberikan materi-materi yang membangun jiwa
kepemimpinan oleh seorang pemateri yang unggul dalam bidangnya.
Kegiatan
pelatihan, motivasi, ataupun seminar tentang kepemimpinan kini banyak diminati
oleh pemuda. Hal itu dikarenakan jiwa muda selalu memiliki ambisi dan impian
yang besar, utamanya untuk menjadi pemimpin dimasa depan. Salah satu institusi
yang memiliki visi tersebut adalah RUMAH KEPEMIMPINAN Program Pembinaan Sumber
Daya Manusia Strategis (PPSDMS). RUMAH KEPEMIMPINAN memiliki program pembinaan
yang ditargetkan kepada mahasiswa. Terdapat tujuh cabang regional di seluruh
Indonesia dan pesertanya dari berbagai universitas di tempat regional tersebut.
Seperti pada Regional IV Surabaya dengan peserta sejumlah 35 orang dari
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (UNAIR).
Program
yang dijalankan di Rumah Kepemimpinan secara umum bertujuan untuk melatih
peserta agar kelak menjadi seorang pemimpin. Setiap bulan atau bahkan setiap
pekan di asrama Rumah Kepemimpinan yang terletak di Jalan Menur Pumpungan VIII
/ 6, Sukolilo, Surabaya itu disibukan dengan program kepemimpinan. Pada hari
Rabu (22/3) di Rumah Kepemimpinan menyelenggarakan kegiatan Leaders and Leadership (LnL). Kegiatan itu
diisi oleh bang Bachtiar Firdaus yang merupakan Direktur Rumah Kepemimpinan dan
mantan Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999 atau setelah reformasi Indonesia. Seperti namanya kegiatan ini diisi
dengan materi yang melatih jiwa kepemimpinan dengan mempelajari keteladanan
dari tokoh, seperti Nabi Daud AS dan Nabi Yusuf AS. Juga melihat dan menafsirkan sifat-sifat tokoh tersebut pada surat yang mengkisahkan beliau pada Al Quran. Kegiatan ini berlangsung hingga hari Kamis (23/3) di pagi hari.
THE GOOD IS THE ENEMY OF GREAT
Bang Bachtiar sebagai pemateri dengan pengalamannya memimpin di berbagai organisasi, membuat kami lebih termotivasi untuk menguatkan jiwa kepemimpinan. Bang Bactiar menjelaskan bahwa setiap usaha untuk perubahan umumnya berawal dari gagasan kaum elit. Faktor lain seperti Agama juga merupakan faktor legitimasi dan sakralisasi yang paling kuat dan efektif untuk usaha perubahan itu. Untuk menciptakan usaha perubahan itu juga dapat dimulai dari perlawanan revolusioner yang berangkat dari letupan massa itu sendiri. Perlawanan revolusioner itu memiliki dua kaidah, pertama lahir dari masyarakat itu sendiri, kedua memiliki wawasan intelektual yang luas serta mempunyai kekuatan fisik yang kuat, dan mampu memberikan pengaruh sekitar. Sebagai agent of change sebagi pemuda revolusioner akan lahir melalui dari proses penempaan yang berupa pergulatan dengan berbagai kenyataan (sosial-politik) yang penuh dengan konflik, sehingga akan mampu untuk menguasai opini publik dan dapat membuat suatu penyelesaian.
Tidak hanya penjelasan materi oleh beliau, namun juga disesi terakhir dibuka diskusi dengan pertanyaan yang cukup menarik dari para peserta. Setelah kegiatan itu berlangsung seluruh peserta semakin bertambah wawasan kepemimpinannya dan juga semakin bergegas untuk berkarya. Kegiatan semacam ini menjadi kegiatan rutin sehingga kami sebagai peserta dan pemuda lainnya bisa terpengaruh menjadi pemimpin yang strategis di masa depan.
Tidak hanya penjelasan materi oleh beliau, namun juga disesi terakhir dibuka diskusi dengan pertanyaan yang cukup menarik dari para peserta. Setelah kegiatan itu berlangsung seluruh peserta semakin bertambah wawasan kepemimpinannya dan juga semakin bergegas untuk berkarya. Kegiatan semacam ini menjadi kegiatan rutin sehingga kami sebagai peserta dan pemuda lainnya bisa terpengaruh menjadi pemimpin yang strategis di masa depan.
BE A FIGHTER, BREAK THE LIMIT, KEEP POSITIVE
Jumat, 24 Maret 2017
“MENGABDI DARI HATI UNTUK NEGERI “
CATATAN PERJALANAN PENGABDIAN BERSAMA YOUCAN EMPOWER DI DESA POTA WANGKA, KECAMATAN BOLENG, MANGGARAI BARAT
NUSA TENGGARA TIMUR.
YOUCAN
EMPOWER batch 1.
Pemuda
dalam kehidupannya sudah barang tentu disibukkan dengan aktivitas yang beragam.
Mulai dari menuntut ilmu, berkarya, bekerja, dan mengabdi. Bahkan kini dengan
adanya perkembangan teknologi komunikasi, seorang pemuda dapat dengan mudah
mencari dan mengikuti berbagai kegiatan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kegiatan
kepemudaan kini yang banyak mendapat perhatian adalah kegiatan yang bergerak
pada pengabdian masyarakat di daerah pelosok. Hal itu disebabkan karena banyak
dari pemuda kini mulai berkeinginan untuk membantu (mengabdi) sesama dan jenuh dengan
kehidupan perkotaan. Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat itu adalah “YOUCAN
EMPOWER”. Kegiatan ini diselenggarakan pertama kalinya oleh organisasi
kepemudaan yaitu Youth Center to Action for Nation ( YOUCAN ) INDONESIA. Organisasi
ini juga baru berdiri tepatnya pada 19 April 2016. Fokus utama organisasi ini
memang pada pemberdayaan pemuda untuk berkomitmen dan berkontribusi untuk
negeri.
Atas
dasar kepedulian untuk mengabdi di pelosok negeri itulah yang kemudian
menginisiasi YOUCAN INDONESIA untuk menyelenggarakan kegiatan YOUCAN EMPOWER
ini. YOUCAN EMPOWER kali ini merupakan kegiatan pengabdian yang pertama kali
diselenggarakan oleh YOUCAN INDONESIA yang sebelumnya organisasi ini hanya
menyelenggarakan kegiatan pertukaran pelajar di luar negeri. Pada awal pendaftarannya
kegiatan ini mendapat antusias yang tinggi dari para pemuda Indonesia untuk
mendaftarkan diri. Mulai dari proses pendaftaran tercatat sejumlah 5992 orang
yang mendaftar hingga hanya terpilih 49 orang yang diterjunkan ke lokasi
pengabdian.
Kegiatan
YOUCAN EMPOWER tidak hanya dilaksanakan di satu tempat pengabdian. Terdapat
empat lokasi penerjunan pengabdian, yaitu Labuan Bajo, Raja Ampat, Lombok, dan
Lebak Muncang. Sebelum diterjunkan di empat lokasi yang berbeda, semua peserta
terpilih melakukan pelatihan di D.I. Yogyakarta pada bulan Desember untuk
mempersiapkan program-program yang akan dilakukan di lokasi penerjunan. Peserta
yang terpilih terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan dibagi menjadi tiga
bidang pengabdian yang berbeda, yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Saat
pelatihan peserta pengabdian mendiskusikan mengenai gambaran akan program yang
dilaksanakan disana. Program yang ditawarkan peserta juga bragam dari kelas
inspirasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pelatihan kewirausahaan, cek
kesehatan gratis, dan masih banyak lagi.
Di sesi pelatihan ini semua peserta menjadi
semakin akrab dengan beberapa kegiatan yang telah disusun oleh panitia.
Kegiatannya seperti memasak bersama dengan alat seadaanya, outbond, pemaparan materi oleh beberapa tokoh, dan sebagainya.
Peserta pada YOUCAN EMPOWER batch 1
ini selain berasal dari berbagai disiplin ilmu, mereka juga berasal dari
berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari dokter, insinyur, dosen, dokter hewan,
penulis, mahasiswa, dan lainnya.
![]() |
| Semua peserta terpilih saat pelatihan di Jogjakarta |
KOMPAK
DENGAN TIM “KOMODO”.
Saat
proses pendaftaran diatas, calon peserta harus mengisi lokasi penerjunan saat
pengabdian. Saya saat itu tertarik untuk memilih di Labuan Bajo karena selain
disana memiliki kekayaan alam yang indah, juga terdapat habibat hewan endemik
Indonesia yang juga masuk dalam keajaiban dunia, yaitu komodo dan memang saya sudah menuliskan impian saya untuk pergi ke Indonesia timur. Hingga fase
pelatihan tim kami terdiri dari tiga belas orang terpilih, yaitu :
- 1. Ade Wahyudi ( ITB / Bandung )
- 2. Arni Nur Laila ( UM / Banyuwangi )
- 3. drh. Fifit Natalia Kamal ( UNAIR / Palembang)
- 4. Muhamad Taisar ( ITB / Pulau Buton)
- 5. Muhammad Reyhan Florean ( UNESA / Tulunggagung )
- 6. Oktafiani Tri Ananda ( UNAND / Padang )
- 7. Tanya Tamara ( UNDIP / Semarang )
- 8. Yunaz Ali Akbar Karaman ( UNAIR / Malang )
- 9. Zhavirra Noor Rivdha ( UB / Malang )
- 10. Parlaungan I. Nasution/Ucok ( UNAIR/ Pamekasan)
- 11. I Dewa Gede Ari S ( UNAIR / Bali )
- 12. Muhammad Ari Purnama A ( IPB / Bogor )
- 13. dr. Andre ( UNPAD / Jakarta).
Meskipun dintara kami ada
yang se kampus namun sebelumnya kami tidak pernah bertemu satu sama lain. Kami
semua baru bertemu pada fase pelatihan di Yogyakarta. Pada awalnya atau saat
perkenalan kami masih malu-malu, terkesan serius dan masih membawa idealismenya
yang kuat. Namun sering kali kami juga bercanda gurau. Pada sesi hari terakhir
pelatihan, kami menyusun program yang akan kami laksanakan di Labuan Bajo.
Program yang kami tawarkan merujuk pada tiga bidang yang ada yaitu pendidikan,
kesehatan, dan ekonomi. Bidang pendidikan kami akan melakukan kelas insprasi
yaitu dengan memotivasi anak-anak SD-SMP disana dengan gambaran berbagai
profesi, pohon cita-cita, nonton bareng film sejarah atau edukasi, dan taman
baca “KOMODO”. Pada bidang ekonomi kami memiliki program yaitu pelatihan
kewirausahaan warga dengan menggunakan potensi alam yang ada di desa. Terakhir adalah
bidang kesehatan yaitu dengan cek kesehatan gratis. Dari panitia kami akan
diterjunkan pada awalnya di Desa Nggorang, namun beberapa minggu kemudian
lokasi kami diganti yaitu di Desa Pota Wangka yang memang masih butuh perhatian
khusus.
Kebersamaan kami lalu
dilanjut dengan dibentuknya grup di whatsapp.
Hal itu dilakukan karena kami tidak mungkin untuk bertatap muka secara langsung
lagi karena tempat tinggal kami yang berjauhan dan karena kesibukan kami. Ketua
dalam tim Komodo ini adalah mas Aji dari IPB. Pada awalnya ia lah yang memotori
agar segera membuat promosi atau kerjasama dengan pihak luar untuk membantu
terlaksananya kegiatan kami dan ia juga membuat desain yang menarik untuk
program yang akan kami lakukan. Kami setiap malam di hari yang telah
dijadwalkan membahas kembali apa saja yang masih belum di siapkan. Masalah
teknis sedetail-detailnya hingga menghubungi panitia yang salah satunya berasal
dari lokasi penerjunan. Bahkan kami juga sempat belajar bahasa daerah Labuan
Bajo. Diskusi itu akhirnya selalu memberikan poin-poin penting yang harus kami
lakukan sebelum penerjunan.
Seiring berjalannya waktu,
seleksi alam dan rencana Allah memang tidak bisa ditolak. Suatu malam, dr Andre
mengumumkan pada kami bahwa ia harus mengundurkan diri dalam penerjunan kali ini,
karena saat pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan ia masuk awal kuliah
spesialis yang diambilnya. Sebagai tim kami menyayangkan hal itu, karena disisi
lain dr Andre sudah beberapa kali ikut dalam kegiatan semacam ini, seperti
EKSPEDISI NUSANTARA dan lainnya. Karena kami tidak bisa menolak hal itu, jadi
kami harus kehilangan satu tenaga. Saat diskusi malam dilain hari, mas Aji juga
mengabarkan bahwa ia juga tidak bisa mengikuti kegiatan ini, karena ia
sebelumnya sudah diterima magang di perusahaan Yukiguni Maitake di Jepang selama enam bulan lamanya. Bahkan ia
sudah mendapat visa untuk magang disana. Kami mendengar hal itu sontak saja
terkejut bahagia, karena mas Aji adalah ketua tim kami dan harus tidak bisa
melanjutkan kegiatan pengabdian. Terakhir adalah mas Ade dari ITB yang juga
mengundurkan diri karena ada kesibukan di kampus. Begitupun mas Ucok yang juga
harus izin karena ia baru saja mengikuti kegiatan serupa dari kampusnya.
Personil kami kini tinggal
delapan orang. Itu pun setiap bidang kami merasa tidak seimbang, bahkan bidang
ekonomi hanya mas Dewa seorang. Namun, kemunduran beberapa anggota tim kami
tidak menyurutkan semangat kami untuk mengabdi. Bahkan kami tetap dengan gencar
melakukan diskusi dan persiapan seperti pembelian tiket pesawat sampai hadiah
yang akan diberikan pada anak-anak disana. Mas Aji meskipun telah mengundurkan
diri dan sekarang berada di Jepang, ia masih sering muncul dalam diskusi bahkan
membantu memecahkan beberapa masalah di tim kami. Alhasil kami memilih ketua
tim baru yaitu mas Reyhan yang juga memiliki pengalaman dalm bidang ini. Ia
pernah menjadi peserta MENYAPA NEGERIKU beberapa waktu lalu di daerah Teluk Bintuni,
Papua Barat yang diselenggarakan oleh MENRISTEKDIKTI.
Di beberapa minggu sebelum
penerjunan, Mas Ando sebagai panitia yang berasal dari Labuan Bajo juga, ikut
berdiskusi dan menggambarkan beberapa keadaan fisik di daerah penerjunan. Mas
Ando kini tengah berkuliah di Universitas Udayana, Bali dan merupakan putra
daerah Flores. Kami semakin yakin dengan program yang kami usulkan setelah mas
Ando kemudian menambahi beberapa hal yang dirasa dibutuhkan di laksanakan
disana. Mas Ando juga menjelaskan kenapa lokasi penerjunan kami diubah, karena
di lokasi awal penerjunan yaitu di Desa Nggorang, masyarakatnya sudah banyak
yang dialiri listrik 24 Jam dan lebih dekat dengan pusat kota Labuan Bajo,
sedangkan desa Pota Wangka yang kemudian merupakan lokasi penerjunan kami lebih
membutuhkan perhatian semacam ini, karena berbagai hal seperti keadaan
masyarakatnya, fasilitas disana, dan pendidikannya.
HARI
I / BALI-LABUAN BAJO, KAMIS - 23 FEBRUARI 2017
“TERBANG
BERSAMA HINGGA PENYAMBUTAN YANG RAMAH”
Tak
terasa hari penerjunanpun di depan mata. Segala persiapan telah kami lakukan,
begitupun keperluan akomodasi dan transportasi pribadi kami. Semua tim kami
berangkat dari lokasi masing-masing menuju Labuan Bajo yaitu dengan pesawat
terbang. Karena menuju Labuan Bajo harus transit di bandara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali, kami menjadwalkan untuk bertemu sejenak di bandara pada siang
hari. Saya dan mas Dewa saat itu sudah stay
di Bali, jadi kami berdua langsung menyusul kedatangan teman lain yang sudah
lebih dulu transit di bandara. Saya dan mas Dewa berangkat menuju bandara pada
pukul 11.00 WITA. Kami membawa sebagian hadiah yang akan dibagikan anak-anak
disana, bahkan lumayan banyak ,untung saja kami bagi barang itu untuk dimasukkan
ke dalam kardus. Saat kami berdua check
in di bandara, kami bertemu dengan mas Ade. Dia adalah peserta pengganti
yang ikut dalam pengabdian kali ini. Dia adalah masasiswa aktif teknik sipil
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta semester empat. Akhirnya kami berbincang lama dan
mas Ade menjelaskan kenapa ia menjadi peserta pengganti. Setelah itu kami
membeli roti untuk sekadar mengganjal perut. Teman-teman yang lebih dulu
transit kemudian menguhubungi kami agar cepat menuju ruang tunggu dan untuk
membincangkan sedikit program yang telah jadi.
Di
gate lima kemdian kami semua bertemu.
Wajah kami tidak berubah meskipun hampir satu bulan setengah kami tidak saling
bertemu. Kami kemudian lupa untuk membahas program, kami malah bercanda gurau
melepas kelelahan kami sambil menunggu pesawat kami yang delay. Kami terpisah
dalam dua pesawat yaitu masakapai NAM AIR dan WINGS AIR hanya saja berselang
satu jam keberangkatan. Saat itu pesawat kami mulai take off pukul 14.50 WITA.
Pesawat yang digunakan dalam rute ke daerah seperti Labuan Bajo menggunakan
pesawat yang berukuran kecil, mungkin menampung enam puluh orang. Diketinggian
kami disuguhkan gugusan pulau hijau yang sangat indah. Ditambah dengan warna
gradasi laut, semakin memanjakan mata kami. Dari atas saya menyadari bahwa,
kita memang hanyalah seonggok daging yang punya nama, kita semua sama, tujuan
kita sama, kita memiliki hati yang sama, kita punya bendera yang sama, saya
juga menyadari bahwa saya masih di Indonesia.
Kami
sampai di Bandara Komodo satu jam kemudian. Kondisi Bandara Komodo menurut saya
sudah bagus jika dilihat dari bangunan yang terbilang baru. Turun dari pesawat
saya langsung merasakan hawa panas yang khas dan berbeda dari panasnya
kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Langit yang cerah di sore itu
akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju kedalam dan menunggu barang di
bagasi. Seorang panitia yang lebih dulu menuju lokasi, mas Habibi sudah menunggu
kedatangan kami. Ia baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta dan ia adalah anak Minang. Kami akhirnya istirahat sejenak, bahkan
mas Dewa langsung saja mencharger handphonenya. Saya lihat di pintu keluar
sudah banyak pemuda yang menjajakan jasa nya sebagai rental mobil, taksi,
ataupun biro travel. Dengar-dengar banyak yang bilang bahwa harga paket wisata,
makanan dan lainnya normalnya di Labuan Bajo cukup mengguras kantong. Namun
jika sudah memiliki jaringan atau mengguhubgi jauh-jauh hari, bisa juga untuk
dinego harga disana.
Kloter
pertama kami akhirnya menuju rumah saudari mas Ando, yang tergolong dekat
dengan Bandara Komodo. Untuk menuju kesana kami sudah dipesankan bemo. Bemo
disana tidak berbeda dengan bemo atau angkot yang ada di kota besar. Namun
sepanjang perjalanan di dalam bemo itu dimainkan musik hip-hop dengan volume yang
hampir menyobek gendang telingga. Butuh waktu lima belas menit kami akhirnya
sampai di rumah saudari mas Ando. Karena masih di kota, sinyal dan listrik
disini masih terjamin.
Keluarga
mas Ando kemudian menyambut kami dengan gembira. Bahkan kami dibuatkan teh hangat
dan disajikan kue “KOMPYANG”. Kue ini pertama saya temui di Labuan Bajo, jika dilihat bentuk
fisinya sangat mirip dengan bakpao dengan biji wijen diatasnya. Namun tidak
memiliki isi hanya saja kue ini padat dan rasanya khas, apalagi jika dicelupkan
dengan teh hangat. Saya hanya makan satu setengah saja sudah terasa kenyang,
kue ini saya sarankan untuk dicoba saat ke Labuan Bajo. Setengah jam kemudian
kloter kedua tim kami sampai juga. Mereka kemudian istrirahat sejenak dan
menikmati enaknya roti KOMPYANG juga. Karena perbedaan waktu yang cukup banyak,
disini jam saya sudah menunjukan pukul 18.00 WIB yang berarti 19.00 WITA, namun
langit disini masih terang bahkan kami juga mengintip langit oranye sore.
![]() |
| Kue Kompyang |
Dari
rumah saudari mas Ando menuju Desa Pota Wongka dibutuhkan sekitar 2 – 3 jam dan
berjarak sekitar 50-60 km. Untuk menuju Desa Pota Wongka juga tidak bisa
dilalui sembarang kendaraan, karena jalur yang sangat menantang ditambah lagi
penerangan jalan sangat minim. Hanya ada satu angkutan yang biasa digunakan
warga yaitu “OTOKOL”. Secara umum bentuk kendaraan ini adalah truk. Hanya saja
dibagian bak truk dimodifikasi dengan ada tambahan bangku dari kayu yang cukup
untuk menampung hingga dua belas orang lebih. Secara dominan warna OTOKOL
adalah hijau, namun juga terdapat beberapa ornamen yang sengaja dicat merah
muda, kuning, dan merah. Truk yang digunakan hampir semua memiliki plat nomor
“B”, yaitu Jakarta. Jadi truk yang digunakan untuk OTOKOL dibeli murah dari
Jakarta.
| OTOKOL in action |
Untung
saja saat perjalanan menuju Desa Pota Wangka saat itu malam hari. Jadi kami
tidak dapat melihat betapa extremenya
jalan menuju desa itu. Sering kali OTOKOL bergoyang-goyang, masuk lubang kanan
kiri melintasi aliran sungai dan sebagainya. Sepanjang perjalanan saat terlepas
dari jalan aspal provinsi, jalan sudah banyak yang rusak. Banyak sekali lubang
dan tergenang oleh air. Sepanjang perjalanan hanya lampu depan OTOKOL yang
menjadi sumber pencahayaan utama. Tidak ada sama sekali pencahayaan di
sepanjang jalan. Namun itu tidak membuat kami patah semangat, malah kami
disuguhi dengan gugusan bintang yang jarang kami temui di tempat tinggal kami. Kami
juga mengalami insiden saat akan sampai di Desa Pota Wangka, ban depan OTOKOL
yang kami tumpangi pecah ! Kami langsung saja turun di depan rumah warga yang
juga memiliki kios. Menurut sopir pecahnya ban disebabkan oleh paku. Beberapa
orang yang ikut dalam OTOKOL kemudian membantu dan mengganti ban depan dengan
ban cadangan yang dibawa. Memang saat OTOKOL beroperasi selalu membawa awak
yang lebih dari dua orang, fungsinya saat terjadi kejadian semacam ini agar
bisa membantu dengan cepat. Kami turun kemudian diberitahu bahwa di tempat kami
pecah ban terdapat beberapa sumber daya arkeologis, yaitu fosil kayu. Kemudian
ada warga yang mengajak kami melihat lokasi penemuan dan pesebaran fosil itu. Memang
saya lihat sepintas itu adalah batu, karena kepadatan dan sangat keras. Namun
jika dilihat lebih detail lagi di permukaannya terdapat serat-serat kayu bahkan
di kulitnya masih jelas terbentuk seperti kayu. Warga disana banyak yang
menggunakan fosil itu sebagai alat rumah tangga dan bangunan. Saya sebenarnya
tertarik untuk lebih dalam mengetahui bagaimana atau asal usul fosil tersebut.
Teman-teman lain langsung saja memotret untuk mengabadikan momen langka ini. Selama hampir satu jam kami menunggu untuk
penggantian ban OTOKOL. Sembari menunggu beberapa teman juga coba membeli
camilan di kios itu. Saya juga terkejut bahwa harga di kios ini tidak berbeda
dengan harga di Surabaya. Seperti harga sebungkus mie instan harganya sama
yaitu Rp.2.500,-, begitupun harga bahan kebutuhan yang lain.
![]() |
| Fosil kayu |
Hampir
selama satu jam kami menunggu akhirnya selesai juga penggantian ban OTOKOL. Lalu
kami melanjutkan perjalanan kami, ternyata jalan yang rusak kembali kami lalui
dan tidak jauh kami melihat cahaya lampu pelita di dalam rumah. Tak jauh
kemudian saya melihat ada tanjakan yang ternyata itu adalah tanjakan terakir
menuju rumah kepala desa, Desa Pota Wongka. Kami melihat sebuah tenda dari
bambu dan terpal sangat sederhana. Kursi plastik aneka warna juga sudah tertata
rapi. Ditambah sound system yang
dipasang di pojok depan rumah pak Kades. Setelah sampai kami langsung turun
dari OTOKOL dan warga pun manyambut dengan ramahnya dan menyalami kami satu per
satu. “Selamat Datang”, “Selamat Malam” saya dengar bergantian dari mulut warga
Desa Pota Wangka. Kami langsung digiring menuju ruang tengah rumah pak Kades
yang bernama Pak Theodorus Talin. Susana suka cita kami semua rasakan saat itu
ditambah dengan hawa super sejuk malam itu.
Di
ruang tengah sudah berkumpul tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga Tua Golo
atau tetua adat Desa Pota Wongka. Mereka hampir semua menggunakan kopiah /
songket dengan motif khas, bahkan ada motif yang berbentuk komodo dan juga
menngunakan sarung tenun. Dalam malam itu kami diterima dengan upacara adat.
Mas Ando sebagai putra daerah dan satu-satunya dari kami yang bisa bahasa
daerah disana mewakili kita. Tua Golo kemudian mengucapkan beberapa kalimat
dengan bahasa daerah yang mana intinya adalah menanyakan kedatangan kami.
Bersahut-sahutan Mas Ando dan Tua Golo. Bahkan dalam dialog mereka di akhirnya
Tua Golo menyerahkan sejumlah uang dan sebotol minuman untuk melengkapi
penyambutan kedatangan kami.
| Penyambutan oleh warga dengan upacara adat |
Acara
adat penyambutan kami di dalam rumah baru saja selesai. Dilanjutkan dengan
makan malam bersama dan pengenalan lebih dalam dan diskusi dengan warga terkait
program yang akan kami lakukan selama tiga hari kedepan. Di depan halaman rumah
pak Theo, sudah disajikan sebaskom nasi , sayur dari daun singkong, urap-urap
dari jantung pisang, ikan tengiri bumbu kuning, dan ayam goreng, dan sambal
khas disana yang rasanya sangat pedas meski hanya mencicipi di pucuk sendok. Berdasarkan
informasi disana, bahwa jika ada tamu yang datang maka upacara adatnya adalah
menyembelih ayam. Ibu-ibu dan warga disana mengetahui bahwa anggota tim kami
ada yang beragama Islam dan menyuruh kami yaitu mas Reyhan untuk menyembelih
ayamnya. Disinilah saya merasakan arti toleransi dan kebhinekaan yang
sebenarnya bisa dilaksanakan dengan cara-cara sederhana.
Sembari
makan di malam pertama ini, kami kemudian memperkenalkan diri lebih lanjut di
depan rumah pak Theo. Dilanjutkan dengan perwakilan dari masing-masing bidang
kami untuk menawarkan program yang selama tiga hari kedepan. Selesai kami
memaparkan program yang juga sudah rampung, kami juga ditawari beberapa kegitan
oleh pak Theo yaitu untuk mengunjungi beberapa lokasi diantaranya rumah adat
“Gendang”, lokasi longsor, dan ikut dalam kerja bakti warga. Akhirnya karena
dirasa sudah cukup malam dan beberapa dari kami sudah menampakkan wajah yang
kusut, pak Theo memperseilahkan kami beristirahat di rumahnya, awalnya kami
akan dibagi ke beberapa rumah warga namun karena pertimbangan suatu hal kami
semua menjadi satu di rumah pak Theo yang cukup luas itu.
HARI
II / POTA WANGKA, JUMAT – 24 FEBRUARI 2017
“PROSESI
WA’U WAE DAN HABIBIE-AINUN”
Kami
mengawali hari yang berkah ini dengan mengigil kedinginan. Disini hawa pagi
harinya sangat dingin, bahkan jika seperti di tempat tinggal saya di Malang,
masih dingin di Pota Wangka. Bahkan beberapa dari kami setelah menunaikan
sholat Shubuh kembali lagi menyelimuti tubuhnya dengan sarung. Hawa ini kami
rasakan lama hingga kami bergantian untuk mandi. Sebelum beraktivitas kami
mengisi tenaga dengan menu yang hampir sama dengan makan malam kemarin, yaitu
sayur daun singkong, ikan asin, dan sambal yang mantap !
Pagi
ini kebetulan terdapat upacara adat yang disebut “wa’u wae”. Upacara adat ini
dilakukan oleh pasangan pengantin baru untuk membasuh badan setelah selama
empat hari mereka tidak dibolehkan untuk mandi dan keluar dari kamar. Hal ini
merupakan momen langka bagi kami, setelah itu langsung saja kami menadatangi
rumah warga yang melaksanakan upacara itu. Seperti biasa setelah kami duduk
kami disuguhi kopi dan teh panas. Dirumah warga itu juga sudah berkumpul
beberapa tokoh adat. Beberapa menit kemudian pasangan pengantin yang akan
melakukan prosesi upacara adat menuju ruang tamu dengan lengkap menggunakan
pakaian daerah. Kemudian kami berjalan menuju aliran sungai yang tidak terlalu
jauh dari rumah tadi. Dalam prosesi wa’u wae ini pasangan pengantin lalu
mengganti pakaian mereka dan dimandikan oleh Tua Golo. Cara memandikannya pun
pertama diguyur oleh air kelapa dengan kelapa di pecah diatas mereka, kemudian
kelapa yang terbelah itu dilemparkan begitu saja kedepan pasangan pengantin
itu. Posisi jatuhnya kelapa itu diyakini warga yaitu untuk menentukan jenis
kelamin anak pengantin itu nantinya. Jika batok kelapa terkelungkup maka
anaknya diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki begitupun sebaliknya. Hal
itu dilakukan berulang-ulang oleh Tua Golo, hingga akhirnya kelapa itu dapat
kami makan.
![]() |
| Rumah panggung dari kayu |
![]() |
| Tugu Salib di dekat rumah Pak Theo |
Usai
melakukan upacara adat wa’u wae, kami kemudian langsung menuju lokasi kerja
bakti warga dan menuju rumah Gendang. Setiap rumah yang kami lalui warganya
selalu keluar rumah untuk menyapa dan menyalami kami. Saat itu juga ada warga
yang sedang menumbuk kopi dengan cara tradisional. Kamipun terhenti dan mencoba
bergantian menumbuk kopi itu. Di hampir setiap rumah di halaman depannya
digunakan untuk menjemur kemiri. Banyak warga yang menggunakan kemiri untuk
bahan masakan. Sampai ditengah perjalanan kami kemudian berpapasan dengan pak
Camat, yang bernama pak Bonaventura AB, S.Pd. Dengan pakaian dinas lengkap
menggengam tongkat komando, ia diantar menggunakan sepeda motor. Kemudian kami
bersalaman dan beliau memang bertujuan untuk menemui kami, karena kemarin malam
kendaraan dinas beliau rusak dan sudah terlalu malam. Pak Bona dengan senang
hati lalu menceritakan banyak sekali fakta-fakta dan hal menarik tentang Pota
Wangka bahkan tentang Manggarai Barat. Beliau menghabiskan masa mudanya untuk
merantau dan menuntut ilmu di Makassar, kemudian beberapa tahun lalu beliau
kembali ke kampung halamannya dan beliau kemudian dipercaya menjadi Camat, di
Kecamatan Boleng ini. Beliau juga kebetulan masih saudara dengan mas Ando.
![]() |
| Bapak Bonaventura AB, S.Pd. Selaku camat di kecamatan Boleng |
![]() |
| Rumah Gendang |
Perbincangan
kami kemudian dilanjutkan sambil berjalan menuju lahan warga yang sedang akan
digarap. Selama berjalan itu saya mencoba merekam ucapan-ucapan beliau, karena
beliau banyak menceritakan perihal budaya dan sejarah di Labuan Bajo secara
detail. Saya kemudian tertarik saat beliau menceritakan mengenai tarian “caci”.
Beliau mengungkapkan bahwa tarian caci merupakan budaya khas Flores dan
merupakan salah satu potensi budaya dan pariwisata. Secara filosofis tarian ini
sarat makna. Bahkan setiap gerakan dan nyanyiannya merupakan gambaran kehidupan
manusia. Walaupun terdapat unsur kekerasan ( main cambuk ) dalam tarian ini
namun hal itu malah memiliki arti sportifitas, saling toleransi, saling
menghormati, dan merupakan jiwa kepahlawanan. Dialog kami ini kemudian
diteruskan saat berada di rumah adat Gendang. Sampai di rumah adat Gendang yang
berlokasi di tengah lapangan cukup luas dengan terdapat patung Bunda Maria dan
batu kuno sebagai sarana penggamabaran alam roh. Bentuk rumah Gendang kini sudah mengalami renovasi,
atapnya sudah menggunakan seng dan sudah dipaku. Menurut ucapan Pak Bona dulu
rumah Gendang dibuat secara tradisional dengan tidak ada kayu untuk
menyambungkan tiap kayu dan atapnya dulu berasal dari ijuk yang diikat. Didalam
Rumah Gendang sebagai alas sudah terjajar rapi semacam “bantal” dengan kapas
alami didalamnya yang dibungkus semacam karung. Di atap-atap Rumah Gendang juga
terdapat perlengkapan tarian Caci dan perlengkapan adat lainnya. Disana saya
melihat pecut yang digunakan dalam tarian caci adalah berasal dari kulit
kerbau. Begitupun tameng dan perlengkapan lainnya. Siang itu kami disuguhi air
kelapa yang masih segar lengkap di dalam batok kelapa. Karena perjalanan yang
cukup menguras tenaga, kami langsung lahap untuk menghabiskan kelapa segar yang
jarang kami jumpai di perkotaan itu. Perjumpaan kami dengan tokoh adat beserta
Pak Bona selaku Camat disana diisi dengan cerita Pak Bona tentang cerita daerah
Flores tepatnya Manggarai dan Pota Wangka. Jika ditinjau dari sejarahnya
Manggarai Barat dulunya merupakan salah satu lokasi tujuan diaspora masyarakat
dari beberapa suku. Perjalanan sejarah itu juga saya banyak mendengar berasal
dari legenda setempat, seperti arti desa Pota Wangka, “Pota” yang artinya
melihat dan “Wangka” yang artinya perahu. Memang secara geografis letak Desa Pota
Wangka memiliki ketinggian diantara desa lain, sehingga dulu digunakan untuk
mengintai perahu yang datang dari luar pulau.
| Nampak dari jauh gereja |
| Kemiri yang dipanaskan |
Akhirnya
perbincangan kami selesai dan kami berpamitan untuk kembali ke rumah Pak Theo
untuk melakukan kegiatan kami selanjutnya. Dalam perjalanan pulan itu,
anak-anak desa yang sudah pulang dari sekolah membuntuti kami dan mengajak kami
bermain sepanjang perjalanan. Keceriaan anak-anak yang jauh dari genggaman gadget itu menambah semangat kami untuk
mengabdi. Kamipun sampai di rumah Pak Teho pada sore hari dan langsung
menyiapkan program pembinaan ekonomi warga dengan membuat minyak kemiri secara
sederhana. Kami berbagi tugas, ada yang memecah kemiri, ada yang menggerus
kemiri. Kegiatan itu dengan ceria kami lakukan. Bahkan mungkin ini yang pertama
dan terakhir bagi kami untuk membuat minyak kemiri secara tradisional. Setelah
biji kemiri yang digerus halus selesai, langkah selanjutnya adalah merebus
gerusan itu untuk agar tidak ada uap airnya. Dan pada malamnya mas Reyhan
bertugas untuk mngaduk-aduk rebusan kemiri itu untuk ditiriskan hingga keluar
minyak kemiri. Warga Pota Wangka, terutama ibu-ibu yang melihat kegiatan kami,
memiliki keinginan untuk membuat lebih minyak kemiri itu, meskipun belum teruji
namun setidaknya kami memberikan pelatihan guna memanfaatkan hasil alam disana.
Malam
hari sesuai jadwal kami mengadakan nonton bareng video anak dan film sejarah. Berdasarkan
informasi bahwa di Desa Pota Wangka terkair kali melakukan kegiatan ini yaitu
sejak tiga puluh tahun lalu ! Mendengar hal itu saya pribadi merasa bersyukur
karena masih diberikan banyak kesempatan Allah untuk melakukan hal yang sama.
Dengan senang hati saya membuka kegiatan itu. Tak heran banyak pemuda,
anak-anak, dan warga dari desa sebelah yang juga ikut menyaksikan pada malam
itu. Kami menggunakan punggung banner dan proyektor untuk bisokop dadakan itu.
Sorotan lampu dari proyektor pada malam itu menjadi satu-satunya penerangan. Lalu
kami melihat secara bergantian yaitu video cerita anak seperti Malin Kundang,
Lutung Kasarung, Bawang Merah dan Bawang Putih, serta video mengenai sejarah
singkat Bangsa Indonesia. Suara teriakan dan tawa anak-anak malam itu membuat
malam itu semakin ramai. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WITA
dan anak-anak diutus untuk pulang kerumah karena esok hari mereka masih masuk
sekolah. Sedangkan pemuda dan warga lainnya masih bertahan duduk di kursi
plastik dengan sarung yang mlilit tubuh mereka. Sembari kemudian kami makan
malam di rumah pak Theo, kami memainkan film “Habibie dan Ainun” yang sudah
rilis di tahun 2012 lalu. Rupanya film ini pertama kali dilihat oleh warga
disana pada malam itu. Kami yang melihat dari dalam rumah menyaksikan mereka
khidmat dalam menonton film itu. Dengan durasi hampir dua jam, kemudian film itu
berakhir. Waktu menunjukan pukul 23.30 WITA sembari kami membereskan proyektor
dan laptop, kemudian kami dihampiri beberapa warga yang terkesan dengan film
biografi presiden ketiga itu. Bahkan salahs seorang guru mengapresiasi kegiatan
kami itu dan berusaha membuka mata warga desa Pota Wangka agar bisa menjadi
orang sukses dan berpendidikan seperti Presiden Habibie. Malam itu berakhir
dengan suka cita, kemudian kami mempersiapkan kegiatan untuk besok dan mulai
beristirahat.
![]() |
| Nobar film anak |
HARI
KE III / POTA WANGKA, SABTU – 25
FEBRUARI 2017
“
TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH SELAIN PENDIDIKAN DAN CITA-CITA”
Dihari
ketiga ini kami memfokuskan kegiatan pengabdian kami yaitu pada pendidikan. Di
Desa Pota Wangka terdapat satu SD yaitu SDK Wangkung, satu SD Program Khusus
(Progsus, khusus siswa kelas enam terbaik di kecamatan Boleng) dan satu SMP
yaitu SMPN 2 Boleng. Di hari Sabtu ini semua siswa sudah diberi tahu bahwa akan
ada kegiatan yang diisi oleh kami. Kegiatan ini difokuskan di satu tempat yaitu
di gedung SMPN 2 Boleng. Jarak yang tidak terlalu jauh dengan rumah Pak Theo
membuat sekolah ini mudah dijangkau dan bertempat di tengah lapangan dan dekat
dengan Gereja.
Pertama-tama
kami mendapatkan sambutan oleh guru dan kepala sekolah yang semuanya berjumlah
enam orang. Kebanyakan dari mereka adlaah putra daerah dan baru saja diangkat
menjadi guru disana. Ruang guru yang sangat sederhana dengan dua almari kayu
didalamnya. Diatas meja juga bertumpuk prakarya siswa dan beberapa soal-soal try out Ujian Nasional untuk siswa kelas
sembilan. Pak Marcelinus Victor sebagai kepala sekolah kemudian menyambut
kedatangan kami dengan baik. Dalam sambutannya beliau kemudian mngharapkan
kegiatan ini untuk terus dilakukan, bahkan menurut beliau jarang sekali ada
kegiatan semacam ini. Beliau juga mengapresiasi kami yang juga berasal dari
berbagai daerah di Indonesia, berbagai kampus, dan berbagai disiplin ilmu.
Kami
terbagi menjadi dua kelompok yang akan mengajar siswa SD dan SMP nantinya.
Sebelum kami datang, semua siswa sudah bersiap di dalam kelas. Karena jumlah
siswa SD dan SMP yang tidak banyak maka cukuplah dua kelas untuk SD dan SMP.
Saat memasuki kelas, kami disambut dengan teriakan histeris mereka yang sudah
menunggu kami sejak pagi. Siswa SMPN 2 Boleng, di hari itu menggunakan atasan
seragam olahraga. Namun ada hal yang membuat saya terhening sejenak. Meskipun
mereka memakai atasan seragam olahraga saya melihat bawahan seragam mereka
bebas dan tidak menggunakan sepatu. Mereka semua bahkan siswa SD juga
menggunakan sandal untuk bersekolah. Didalam kelas terdapat meja dang kursi
kayu dan meja guru lengkap dengan satu papan tulis putih. Diatap kelas saya
melihat tidak ada tempat lampu beserta lampu dan didinding tidak ada saklar,
memang listrik disini masih sangat sulit. Berbeda jauh dengan fasilitas yang
ada di kota, namun saya pribadi disini merasakan atsmosfer pendidikan yang
lebih dengan keterbatasan yang ada.
Pada
sesi ini kami awalnya mempernalkan diri. Di tim SMP ada saya, mas Dewa, mas
Taisar , mbak Vira, mbak Tanya dan mbak Nanda . Sedang lainnya bertugas di tim
SD. Pagi itu kami menjadwalkan akan memberikan kelas inspirasi sesuai dengan
disiplin ilmu yang kami tempuh. Seperti mbak Nanda yang berlatar belakang
kedokteran memberikan informasi mengenai profesi dokter, saya yang berlatar belakang
sejarah memberikan gambaran pentingnya sejarawan ataupun guru sejarah, dan mas
Dewa yang berlatar belakang ilmu komunikasi menjelaskan bagaimana pentingnya
manusia berkomunikasi. Disela-sela kami
mengisi kami juga membagikan hadiah yaitu berupa alat tulis yang kami
persiapkan. Begitupun saya juga membagikan buku Cerita Rakyat dan Budaya Tradisi Nusantara yang baru saja saya
terbitkan secara gratis kepada siswa yang berani menjawab pertanyaan saya
kedepan. Kami juga melatih kemampuan
mereka berbicara di depan, mamng awalnya mereka hampir semua masih malu
terlebih dengan orang baru, namun di akhir sesi ini mereka sangat antusias
untuk mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan dari kami.
Selain
kelas inspirasi kami juga memberikan pengetahuan pentingnya mencuci tangan
dengan cara yang benar. Kami mengajarkan hal itu kepada mereka dengan lagu yang
sudah dibuat mas Dewa dan kami praktikan pagi hari sebelum kami berangkat ke
sekolah, berikut liriknya
Ingin
sehat dan selamat cuci tangan (prok,prok,prok)
Telungkupkan
dua tangan bergantian (prok,prok,prok)
Mangait
dan mengunci, lalu putar ibu jari
Yang
terakir gosok-gosok ujung jari.
Di akhir kegiatan kemudian kami menunjuk
salahs satu dari siswa untuk menjadi dokter cilik yang akan membantu
teman-temannya bagaimana cuci tangan dengan cara yang benar. Sesuai dengan nama
kegiatan kami yaitu “Kelas Inspirasi” terakhir sebelum kami berpisah, siswa
SMPN 2 Boleng kemudian menuliskan cita-cita mereka di dalam kertas lipat yang
sudah dibuat mas Reyhan menjadi bentuk balon udara. Saya melihat cita-cita
mereka tidaklah bisa dipandang remeh. Mereka semua memiliki cita-cita yang
tinggi, seperti Dokter, Guru, Perawat, Tentara, dan Pilot serta masih banyak
cita-cita mulia lainnya. Kami semua hanya bisa mendoakan dan menyulutkan
semangat untuk meraih cita-cita mereka. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia
ini, selagi api semangat dan tekad yang masih kuat maka apapun bisa diraih.
Selain itu secara pribadi di hari ini saya merasakan pentingnya pendidikan
untuk anak-anak. Masa anak-anak memang harus penuh dengan suka cita termasuk
bermain dan belajar yang menyenangkan. Meskipun dengan keterbatasan disini,
saya mendengar semangat mereka belajar saat tidak ada lampu yaitu dengan
menggunakan pelita. Sedangkan kita yang ada di kota masih mengeluh dengan tugas
yang seumbruk, malas membaca dan belajar dan alasan lainnya.
Di
siang hari saya membuka “Taman Baca Komodo” dengan membuka perpustakaan gratis
dan dengan buku-buku yang kami bawa. Kami melihat antusias siswa dan guru terkait
minat baca sangat tinggi. Bahkan akhirnya kami memberikan sebagian buku kami
untuk disumbangkan di sekolah itu. Kegiatan kami selanjutnya dilakukan di SD
ProgSus. Dinamai Program Khusus karena siswa disini hanya siswa kelas enam dan
merupakan siswa terbaik di berbagai sekolah dasar di kecamatan Boleng. Hal itu
kami bkuktikan dengan keberanian mereka saat kami menanyakan pertanyaan. Bahkan
sempat kami kebingungan karena semua siswa disini aktif dan mudah memahami
sesuatu. Kami juga mendengar cita-cita mereka yang beragam. Di sesi terakir
saya juga membagikan buku saya kepada siswa yang berani berbicara didepan dan
bertekad untuk meraih cita-citanya. Siang hari itu dengan berat hati kami harus
meninggalkan siswa-siswa harapan Desa Pota Wangka itu. Kami meninggalkan
balon-balon udara yang sudah diisi dengan cita-cita mereka di setiap kelas.
Pada
sore hari setelah kami bersih-bersih diri di rumah Pak Theo, kami mengadakan
kegiatan pelatihan pengoperasian komputer. Sasaran dari kegiatan ini yaitu
untuk melatih secara teknis para aparatur desa untuk mengoperasikan microroft word, microsoft excel dan
sebagainya. Dari pelatihan ini saya melihat sebenarnya aparatur desa sudah
mengetahui cara pengoperasian hanya saja kurang terbiasa, kata jawa “iso jalaran soko kulino” artinya bisa
karena terbiasa. Kegiatan itu kami lakukan bergantian hingga menjelang malam.
Diwaktu yang bersamaan di halaman rumah Pak Theo sudah berkumpul anak-anak SD
maupun SMP yang kami undang untuk penyerahan hadiah dan beberapa games menarik.
Kami juga membagikan doorprize berupa
peralatan sekolah. Kegembiraan yang terpancar dari senyuman bocah Flores
menambah haru dan bahagia kami. Rasa lelah mengajar siang tadi, luntur entah
kemana.
Seperti hari sebelumnya, dimalam hari kami
mengadakan nonton bareng beberapa
video dan film. Kegiatan itu kemudian dipandu oleh Mas Ando dan saat itu kami
memutar film Satu Hati Satu Tujuan.
Film itu menarik karena berlatar belakang Indonesia timur dan juga mengambarkan
arti kebhinekaan itu sendiri. Masyarakat malam itu semua antusias begitupun
anak-anak menghabiskan malam Minggunya disana. Kami akhirnya memetik pesan yang
ingin disampaikan pada film itu yakni meskipun banyak suku dan etnis di
Indonesia namun kita masih memiliki tujuan yang sama, mimpi yang sama, dan
tanah yang sama. Dipenutupan malam itu kami berdiskusi sejenak dan memberikan
pesan kepada masyarakat perihal kegiatan kami selama dua hari itu. Masyarakat
pula bergantian mulai dari perwakilan Toua Golo, perwakilan pemuda, perwakilan
guru untuk menyampaikan pesan kepada kami. Dimalam itu kami juga merasa bahwa
kami lah yang pantas belajar banyak kepada mereka. Belajar mengerti arti
kehidupan, meskipun terdapat beberapa “kekurangan” dalam menjalani hidup mereka
masih dapat tersenyum, bekerja, dan berkarya. Belajar arti kesederhanaan,
kekeluargaan, dan kebersamaan. Kami juga merasakan harapan-harapan yang akan
dibawa anak-anak disini, saya pribadi yakin dengan pendidikanlah bisa membuat
diri mereka menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat.
![]() |
| Mas Ando(kanan) bersama Tua Golo(kiri) |
HARI
KE IV / POTA WANGKA, MINGGU – 26
FEBRUARI 2017
“PAMIT”
Hari
Minggu ini merupakan hari terakir kami di Desa Pota Wangka. Kami juga akn
melakukan kegiatan kami yang terakhir yaitu cek kesehatan gratis. Dikarenakan
hari ini adalah hari Minggu, semua warga disini beribadah di gereja. Sembari
menunggu warga selesai beribadah, kami mempersiapkan kegiatan kami ini yang
akan diselenggarakan di ruang kelas SMPN 2 Boleng. Kegiatan ini kami juga
terbatas oleh alat dan tenaga, karena di bidang kesehatan hanya Kak Nanda dan
Kak Fifit, sedang kami lainnya membantu mempersiapkan dan mendokumentasikan
kegiatann itu.
Pukul
10.00 WITA ibadah di gereja sudah selesai. Saya melihat warga disana yang
lelaki memakai songket khas Flores dengan motif-motif yang khas. Setelah itu
kami mengumumkan warga khusus yang berusia 45 tahun ke atas. Warga langsung
saja berbaris mengantri di depan kelas. Kami kemudian membagi kupon yang memuat
nama, usia, dan data kesehatan. Dalam kegiatan ini kami melakukan pemeriksaan
kesehatan dasar yaitu tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Saya
melihat antusisme warga yang cukup tinggi, bahkan menurut info dari Pak Theo,
kegiatan semacam ini jarang sekali dilakukan dan juga peran dokter desa disini
masih belum maksimal. Hal itu mungkin juga dikarenakan keterbatasan tenaga.
Secara
bergantian warga bersabar menunggu giliran pemeriksaan. Saya juga melihat kak
Nanda yang melakukan pemeriksaan sendiri sedikit kualahan. Kak Arni kemudian
membantu untuk menulis hasil pemeriksaan itu di tiap-tiap kupon warga.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kak Nanda, warga disana jika dilihat dari
kebiasaan hidup dan pola makannya, banyak juga yang kadar asam uratnya tinggi.
Hal itu karena warga disana sering mengkonsumsi kacang-kacangan. Tekanan darah
warga disana juga cukup tinggi, hal itu juga dikarenakan karena tingginya
konsumsi kopi. Memang itu juga saya alami, selama beberapa hari disana setiap
pagi dan malam serta setiap kami berkunjung ke rumah warga kami disuguhi kopi.
Berjam-jam kegiatan ini berlangsung, warga yang masih setia mengante dengan
bersabar menunggu giliran mereka. Jumlah total warga yang melakukan pemeriksaan
kesehatan ini berjumlah 47-an orang.
Akhirnya
kegiatan kami ini selesai pada sekitar pukul 15.00 WITA. Bersamaan dengan warga
pulang ke rumah, kami pun bergegas kembali ke rumah Pak Theo dan langsung saja
kami repacking barang-barang kami. Didepan
rumah Pak Theo sudah banyak warga yang menunggu kami dalam upacara perpisahan.
Begitu juga OTOKOL yang sudah stand by
untuk mengantarkan kami ke kota.
Perwakilan
Tua Golo menggiring kami ke dalam rumah Pak Theo. Kami kemudian melakukan
upacara adat untuk pelepasan sekaligus perpisahan. Upacara itu teknisnya sama
persis dengan saat upacara penyambutan kami. Dengan bahasa daerah kami diwakili
mas Ando yang isinya permohonan maaf dan ucapan terimakasih telah menerima kami
dengan baik. Akhirnya ada pertemuan maka selalu akan ada perpisahan. Dengan
berat hati kami harus berpisah dan mengakhiri kegiatan pengabdian kami ini.
Rasa haru menyelimuti sore itu. Saat kami keluar rumah sudah berbaris warga
yang melepas perpisahan kami ini. Kami menyalami satu persatu warga yang ada di
sore itu, tak terkecuali anak-anak kecil. Saya pribadi menyadari bahwa sore ini
adalah hal paling berat selama kegiatan disini. Terakhir kami akhrinya foto
bersama di bawah tugu salib di depan rumah Pak Theo. Kami lantas naik OTOKOL
dan lambaian tangan warga Pota Wangka mengiringi deru mesin truk itu membawa
kami ke kota. Anak-anak yang bermain di lapangan bola berteriak dan melambaikan
tangannya saat kami melintasi mereka. Sebaran padang rumput hijau itu kini
hanya dapat kami lihat dari gallery
handphone kami. Jalan yang mengombak-ombak kami hadapi di malam perpisahan
ini. Yaa, hanya terimakasih, terimaksih dan terimakasih yang dapat kami
sampaikan. Kami sampai di kota pada pukul 20.30 WITA di rumah saudari mas Ando
kami bersantap malam dan melakukan evaluasi kegiatan kami. Tidak banyak yang
dievaluasi karena kami telah banyak belajar arti kehidupan yang pasti
Mau
tidak mau kami harus meninggalkan tempat itu. Harus kembali dekat dengan gadget dan disibukkan dengan hiruk-pikuk
perkotaan. Tidak lagi kebungungan karena sinyal dan listrik. Mendengar lagi
suara bising kendaraan 2 tak. Memahami kembali arti kebhinekaan yang selama
empat hari itu kami rayakan. Mendengar kembali pidato-pidato pemimpin bangsa
yang katanya masih peduli dengan rakyat. Yah memori Pota Wangka kini menjadi core memory di dalam pikiran dan benak
kami. Tak akan terlupakan selama hidup kami. Juga, jika masih diberi umur
panjang dan kesempatan kami memiliki misi yang sama di berbagai daerah lagi.
Dikarenakan juga belajar di ruang kelas tidak lah cukup !, bahkan kurang. Kita
hanya mempelajari diktat, buku dan materi-materi sedangkan jauh disana masih
banyak orang yang hidup dengan keterbatasan. Saya pribadi menjadi lebih
memahami arti kesederhanaan, yang mana itu menjadi kata motivasi saya dalam
bahasa Jawa “Urip kang prasojo lan
migunani liyan” yang artinya Hidup apa adanya dan berguna bagi orang lain. Karena
mengabdi itu dari hati, tidak ada eksistensi yang dicari, apa lagi kesombongan
diri. Semoga masih banyak pemuda-pemuda Indonesia yang mau peduli dan mengabdi,
tidak hanya sibuk dengan urusan duniawi. Juga pemerintah yang memiliki jasa,
harus bisa memenuhi hak-hak warganya, tidak hanya disibukkan dengan Jakarta,
namun juga harus melirik Pota Wangka dan lainnya.
Foto by : Mas Reyhan ( matur nuwun mas)
Langganan:
Komentar (Atom)
CERITA DARI MAHAKAM DULU
Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...
-
makanansehat.biz Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan sejara...
-
"Dari Depok Kecil ke Depok Besar: Sahabat-sahabat dan Sastra Indonesia Universitas Indonesia" PENULIS : HARRITS RISQI BUDIMA...





































































