Selasa, 02 Januari 2018

Bertemu dengan orang-orang baik #4 Aceh

   

    Kali ini saya dizinkan untuk menapakkan kaki diujung barat Indonesia, Aceh. Perjalanan kali ini tergolong singkat namun saja saya mendapati perlbagai pengalaman dan tentu bertemu dengan oreang-orang baik. Mengharuskan untuk cancel pada kegiatan di salah satu negeri sebagai gantinya bisa beralih ke negeri sendiri dengan segala kemudahan dan beserta doa orang tua. Tanpa ada beberapa biaya yang dikeluarkan namun tetap menjadi beban dan amanah saat kembali. Tentunya pada wadah pengabdian dan belajarku di Mahagana (mahasiswa tanggap bencana).

       Pada awal bulan Oktober secara pribadi saya dipanggil untuk menemui Wakil Rektor III, yaitu Prof. Amin sapaanya. Sempat kaget dengan panggilan langsung seketaris beliau ini untu segera mengahadap. Derap jantung begitu cepat saat menunngu beliau. Ternyata kabar baik diluar ekspetasi sebelumnya, yakni perwakilan mahagana ditunjuk untuk menghadiri pelaksanaan 12th Council of Rector Indonesia State University- Council Of University President of Thailand (CRISU CUPT) 2017. Kenapa yang ditunjuk mahagana, dikarenakan konfrensi kali ini bertemakan "Enchanging Disaster Resilience through Education: Opportunities and Challenges for Indonesian and Thai Universities" intinya adalah tentang pendidikan kebencanaan. Saya diberitahu kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 Oktober 2017, untuk itu saya mempersiapkan diri dengan membawa nama baik mahagana. Secuil tentang forum ini merupakan kerjasama antar rektor Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dan Thailand yang setiap tahun diadakan di Indonesia dan Thailand, kebetulan saja tahun ini dilaksanakan di Indonesia tepatnya di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bertepatan juga tahun ini forum tersebut mengambil tema mengenai kebencanaan dan tepat dilakukan di Aceh yang mana masih terngiang di telinga kita pada tahun 2004 melanda ujung barat Indonesia ini. 

     Kabar gembira ini saya sampaikan kepada kawan-kawan mahagana. Alangkah senangnya kawan-kawan mahagana, dengan mengikuti kegiatan ini selain bisa membuka jaringan baru dan sebagai wadah untuk menggaungkan nama mahagana diluar kampus. Dari pihak kampus menunjuk lima orang perwakilan diantaranya yakni: Prof. Moch Amin Alamsjah., Ir., M.Si., Ph.D. (Wakil Rektor III Unair), Prof. Soetojo (dekan FK Unair), Dr. Nurul Hartini., M.Kes. (Dekan Fak. Psikologi Unair), Dr. Christrijogo Sumartono, dr. SPAn. KAR (Ketua Magister Manajemen Bencana Unair), serta saya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Seluruh persiapan sudah diurus sehingga tinggal menunggu tanggal keberangakatan saja. Meskipun bertepatan dengan jadwal UTS semester ganjil, namun karena surat izin dari rektor sudah turun sehingga langsung saya urus pada bagian akademik dan panitia ujian. 

 Prof. Moch Amin Alamsjah., Ir., M.Si., Ph.D.

Dr. Christrijogo Sumartono, dr. SPAn. KAR (saat diliput media cetak)

Dr. Nurul Hartini., M.Kes

Prof. Soetojo

     Saya berangkat menunju Aceh pada hari Rabu (11/10) pukul 05.30 WIB. Diantar kawan se asrama saya menuju Juanda sebelum waktu Shubuh agar dapat mempersiapkan diri. Mata yang masih sangat berat memaksa untuk melihat lalu lalang orang di Bandara. Sempat tertinggal saat check in untung saja masih bertemu dengan Prof. Toyo di belakang antrian. Dikarenakan pesawat menuju ibukota, suasana pagi Juanda dipadati dengan pelbagai macam rupa, mulai dari pebisnis hingga seniman, mulaid ari yang berambut klimis hingga berambut gimbal. Perjalanan satu jam kami transit sebentar di CGK, Jakarta. Pagi Jakarta yang berembun memulai dialog saya dengan para petinggi kampus ini. Mulai bercerita masa mudanya dulu hingga dapat berkeliing diluar negeri. Perjalanan kami berlanjut dengan sarapan nasi goreng diatas kabin pesawat Batik Air. Sebelah saya Prof. Amin bercerita banyak tentang Nagasaki. Beliau telah bertahun-tahun tinggal disana dengan menyelesaikan studi Doktoralnya. Pernah menjabat sebagai PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Nagasaki dan Ketua Komunitas Muslim disana beliau bercerita bagaimana bisa mendapatkan beasiswa penuh dan hidup survive di Jepang. Saya menilai bahwa beliau adalah orang yang teliti dan tekun, disetiap beliau bercerita selalu saya membayangkan bagaimana beliau tidak pernah keluar dari labolatorium untuk menyelesaikan penelitiannya. 

    Cuaca yang cerah memperlihatkan keindahan alam Sumatera dengan bukit berbaris dan sungai yang menyerupai ular anaconda. Namun juga kadang tertutup oleh awan tebal yang menyilaukan mata. Perjalanan ini ditempuh selama dua jam lebih saya gunakan untuk menyelesaikan waktu tidur yang sempat tertunda beberapa jam lalu. Dari kokpit pilot dikabarkan bahwa akan segera sampai di bandara Sultan Iskandar Muda. Kami disambut dengan gerimis kecil yang cukup menyegarkan pikiran dan jasmani. Terkejutnya saat kami menuju kepada panitia yang sudah menjemput di pintu keluar terdaat kios "Bakso Malang" tepat disebelah pintu keluar bandara, wah jauh-jauh kesini masih saja terasa berada di rumah. Kami menuju hotel dengan mobil dari Fakultas Keperawatan Unsyah bersama beberapa peserta lainnya. Dikaenakan masih pukul 10.35 WIB dan belum waktunya untuk check in hotel, saya diajak bersama kolega (junior) dari Prof. Toyo yang juga dokter yang bertugas di Aceh. Langsung saja kami diajak menuju rumah makan cukup terkenal disini yakni Rumah Makan Hasan, dengan menu andalannya, Ayam Tangkap. Ayam goreng dengan pelbagai daun yang digoreng garing. Rasanya cukup enak dan saya dipersilakan untuk mencicipi makanan itu. Saya hanya menganguk dan merasakan rempah-rempah yang kental disetiap gigitan. Makan siang saya ini ditutup dengan timun serut yang menyegarkan.

    Masuk waktu Dhuhur saya diajak menuju masjid kebanggaan masyarakat Aceh, Masjid Baiturrahman. Cuaca yang masih mendung dan sedikit gerimis semakin medinginkan suasana hati disana. Begitu megah memang masjid yang tidak roboh saat diterjang tsunami lalu. Terliaht betapa kuatnya hati dan jiwa masyarakat Aceh dari masjid ini, meskipun diluluh lantakkan sedemikian rupa, tapi masih dapat berdiri kokoh dan menjalani aktifitas sehari-hari dan beribadah dengan khusuk. Masjid berkubah hitam ini juga memiliki payung peneduh seperti di Masjid Nabawi, jika hujan atau panas terik payung itu akan mekar sedang jika malam atau cuaca sedang baik maka akan menutup. Kami shalat berjamaah pada shaf pertama dibelakang mimbar kayu yang diukir apik itu. Setelah itu saya diminta untuk memfoto semua secara bergantian, saya pun difotokan Prof.Amin selaku Warek III, bahkan saya sempat sungkan, namun beliau mudah bergaul sehingga tidak masalah. Selanjutnya kami mengelilingi masjid Baiturrahman sampai didepan kolam dengan ditemani gerimis yang semakin deras. Selepas itu kami mampir sejenak di pusat perbelanjaan oleh-oleh untuk sekadar membeli souvenir. Di beberapa toko penjual oleh-oleh itu kebanyakan menjual Kopi Gayo, kerajinan tas, kopiah rajutan dengan corak khas Aceh, hiasan dinding rencong, sampai gelang etnik yang ciamik.









     Selepas pukul 14.00 WIB kami kembali ke hotel untuk check in dan beristirahat sejenak. Di lobby hotel peserta dari Thailand juga sudah berkumpul beserta koper dan tas jinjingnya. Kurang lebih sejumlah 30 lebih delegasi mereka menunggu key card hotel. Saya langsung menuju kamar yang sudah terpesan. Beristirahat sejenak melihat suasana sore Banda Ach dari jendela lantai empat. Konferensi ini dibuka malam ini dengan makan malam bersama Wali Kota, Banda Aceh di gedung balaikota yang tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Waktu shalat disini berselang satu jam dari waktu shalat Surabaya, sehingga kami berangkat menuju lokasi selepas shalat Isya. Gdung walikota yang dituju terlihat baru dengan gaya arsitektur dan berbagai corak khas Aceh. Pelbagai tarian pembuka meriahkan malam itu. Tari saman yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan bergantian membuka konferensi ini. Delegasi dari Thailand dengan tanggap memgang telepon genngamnya untuk sekadar mengabadikan atau memvideo salah satu budaya Nusantara ini. Bapak wali kota, Rektor, dan perwakilan dari Thailand bergantian memberikan sambutan untuk membuka kegiatan ini. 
    
     Acara pembukaan yang cukup singkat ini, membuat dokter Cris dan Prof. Toyo untuk berkeinginan mengelilingi sudut malam Banda Aceh, sedangkan saya hanya manut saja diajak. Kami selanjutnya menuju kedai kopi Solong, Ulee Kareng. Disana saya mencoba minuman khas Aceh, Teh Tarik. Disetiap meja sudah disediakan berupa kudapan ringan untuk menemani secangkir kopi atau teh tarik, seperti kacang aceh, telor, roti. dan kerupuk. Kedai kopi disini berbeda dengan kebanyakan di Jawa atau biasa disebut angkringan, giras, atau cangkrukan. Biasanya kedai kopi di Jawa cenderung dengan gaya lesehan dan berada di trotoar jalan, jika di Aceh kedai kopinya berada di ruangan seperti rumah makan pada umumnya berikut meja dan kursinya. Selepas itu kami langsung menuju hotel untuk beristirahat dan saya mempersiapkan materi jika memang ada beberapa hal untuk dipresentasikan. Malam yang rencananya untuk berkeliling mengitari Aceh luluh dengan kasur hotel.

Saat acara pembukaan

Teh Tarik Hangat yang menemani lidah 

          Keesokan hari adalah acara inti yakni konferensi, dengan menggunakan almamater lengkap saya ternyata peserta paling awal datang. Dengan maksud menunggu Prof. Amin dan dokter Cris saya membaca buku di depan hall hotel yang digunakan sebagai tempat konferensi. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan dibuka oleh speakers pertama dari perwakilan Thailand yang memaparkan kondisi geografis Asia Tenggara dengan Asia Timur yang tidak jauh berbeda yakni rawan bencana. Namun yang membuat berbeda adalah bagaimana dengan cepat negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dalam menanggulangi bencananya, seperti Tsunami dan gempa bumi yang beberapa tahun lalu melanda Jepang. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari perwakilan Indonesia yang di sampaikan dari perwakilan POLHUKAM RI yang memaparkan pentingnya menjaga kesatuan bangsa dari ancaman bencana teror, termasuk didalamnya teroris dan segala upayanya. 

     Masuk pada siang hari, yakni dibagi menjadi tiga forum rector, dean and student (rektor, dekan, dan mahasiswa) kami terbagi menjadi tiga ruangan yang berbeda. Saya sedikit terlambat dikarenakan sehabis diajak berkeliling (lagi) oleh Prof Toyo untuk menemui juniornya. Dalam forum kami berdiskusi lintas kampus bahkan lintas negara (Indonesia-Thailand). Saya melihat ada yang antusias mengikuti diskusi ada juga yang masih sibuk menggengam gawainya. Kami ditugaskan untuk mendiskusikan terkait bagaimana nanti kerjasama Indonesia-Thailand dalam forum ini kedepan. Akhirnya saya tergabung dalam kelompok dengan tiga orang dari Indonesia (2 mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Yogyakarta), (4 dari Thailand) bahasan yang kami ajukan adalah mengenai tingginya angka Korupsi di kedua negara. Kami melihat di pelbagai sumber untuk menguatkan data akan hal ini ternyata memeang benar bahwa di Indonesia dan Thailand hampir sama banyaknya tindak korupsi yang terjadi. Kami pun menulis data dari pelbagai sumber dan harapan apa yang kami mau untuk hubungan kedua negara ini. MAsing-masing kelompok kemudian maju kedepan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dari ke tujuh kelompok kami kelompok terakhir yang maju untuk mempresentasikan hasil diskusi. AKhirnya dari semua kelompok dipilih kelompok kami untuk mewakili student forum yang nanti akan presentasi didepan dekan dan rektor peserta konfrensi. Akhirnya siap tidak siap kami bersedia dan betapa bahagianya kami mendapat respon yang sangat baik dari peserta. Bahkan kami diberikan hadiah berupa souvenir dari Chulalongkorn University




      Berakhirlah acara inti konfrensi ini dengan pelbagai kesepakatan yang cukup banya dari hasil forum tersebut. Setelah itu nanti malam terdapat acara penutupan di kampus Universitas Syah Kuala. Sebelum itu saya rehat sejenak begitupun seluruh peserta dan kembali pukul 19.00 WIB. Saya yang tertinggal bus akhirnya memesan gojek menuju Unsyah, memang jaraknya cukup jauh dari hotel, namun masih di dalam kota Banda Aceh. Acara malam ini ditutup dengan sambutan-sambutan dan pertukaran budaya dari masing-masing negara. Aceh dengan kakayaan budayanya tidak henti-hentinya mengahdirkan tarian yang semarak. Tidak kalah dari perwakilan Thaliland juga mengajak kami menari bersama. Namun bukan hanya bersorak-sorak yang saya dapatkan melainkan bagaimana kita saling menjaga kerukunan satu sama lain.

      Meskipun terbilang singkat, pegalaman oleh Serambi Mekah ini saya mendapatkan pelbagai hal yang tidak akan dapat saya lupakan. Pertama, memang rencana Allah selalu ada dan selalu membrikan kejutan yang tidak terkira. Hal ini saya rasakan saat sebelum berangkat ke Aceh saya sudah berencana untuk berangkat dalam sebuah kegiatan pengabdian di India sebagai LO, namun karena pelbagai hal jadi saya belum bisa berkesempatan untuk hadir disana, Allah menjawab lain dengan memberikan kesempatan saya menginjakkan kaki di Masjid Baiturrahman, Aceh. Kedua, saya melihat bahwa sejatinya setiap manusia tidak memiliki sifat jahat, hanya saja kesempatan dan masa lalu yang membuat berbuat buruk. Bertemu dengan orang baru, kawan baru, sahabat baru memberikan pandanganan yang luas akan arti perbedaan. Sifat manusia yang baik sudah tampak pada diri hanya saja bagaimana kita menghadapi orang tersebut selayaknya kita bercermin. 


    
      

Senin, 16 Oktober 2017

Bertemu dengan Orang-orang Baik#2, Yogyakarta



  • Kereta Gajah Wong mengantarkan saya ke wadah lainnya. Ya, Yogyakarta aku akan kembali, selalu akan pulang kembali. Selalu saat kemari saya berpetualang untuk mencari suaka buku. Sembari saya menyelesaikan ilustrasi dongeng dan membaca Sirkus Pohon, saya duduk lesehan di perpustakaan Grhatama Pustaka.
    Dari perjalanan ke Jogja kali ini saya membawa misi yang tidak biasa. Ya, misi pengabdian. Saya mengikuti Sosmas Camp V, yang diselenggarakan dengan baik oleh kawan-kawan BEM KM UGM. Seperti biasa dengan kegiatan seperti ini saya tidak lelah untuk membuka pintu jejaring dan rezeki baru. Bertemu dengan kawan-kawan dari penjuru Indonesia apalagi mereka memiliki misi yang sama dengan saya menambah gairah saya untuk mengabdi. Kami mengabdi beberapa hari di Kecamatan Turi, Dusun Gondoarum, Desa Wonokerto, Sleman, DIY. Desa dengan segala impian dan pekarangan Salak. Desa dengan segala kesejukan dan keramahannya. Desa dengan masakan yang manis dan segala kegermerlapan malamnya.






    Kami merasakan pula hari Raya Idul Adha dengan masyarakat disana, meskipun tak ada beda namun memori memiliki dan merasakan suasana Akbar bersama keluarga baru sangat membekas hingga kini. Tak hanya bertegur sapa dengan warga, kami juga mengundang beberapa tokoh dan berdiskusi bersama. Tak khayal memang kawan-kawan adalah orang hebat yang rela mengabdi, terlihat dari upaya,keringat, dan darah yang tak peduli mengucur dipenjuru badannya.



    Jujur saja, saya akan lebih memilih kegiatan semacam ini daripada mengikuti seminar, pelatihan, atau hanya perkuliahan di ruang kelas atau ballroom. Saya akan lebih tau permasalahan masyarakat dan setidaknya langsung berkontribusi untuk membatu menyelesaikan permasalahan itu. Daripada hanya berdebat tiada ujung dan nihil solusi.







    Matur Nuwun bang Alfath, bang Fathan, bang Ridho, bang Fardhan, bang Nabil, Pak Edi Sutrisno sekeluarga, Fisal (dengan semua misteri kosnya dkk), kawan-kawan BEM KM UGM dan semua orang-orang baik di Jogja.

    Tuhan memang suka bergurau
    Menghadirkan orang-orang baru
    Suasana baru
    Kesempatan baru

    Namun alangkah merugu
    Jika di isi kesalahan yang sama (LA)

    Jogja, Jogja tentu aku kembali

  •  




Minggu, 17 September 2017

Bertemu dengan Orang-Orang Baik#1. Jakarta

            


     Agustus 2017 menjadi bulan penuh makna bagi pribadi saya. Tak henti-hentinya kegiatan mengasah diri saya ikuti. Tentu saya hanya sekadar ikut untuk tetap mencari jati diri. Dua kota besar menjadi persinggahan saya pada bulan ini. Bertemu dengan kawan baru membukakan jendela rezeki dan pengetahuan. Bertemu dengan permasalahan baru semakin mengukir jiwa untuk mendewasakan diri. Berderu dengan bis, kereta komuter, dan kereta Gajahwong membawa langkah saya selanjutnya.


Perjalanan akhir bulan ini,saya mulai dari Stasiun Wonokromo, Surabaya. Di salah satu stasiun lawas Kota Pahlawan ini saya bersama beberapa kawan tepat waktu menunggu kedatangan kereta Gaya Baru Malam. Hiruk pikuk stasiun, tukang becak, tukang parker, dan sopir taksi online seakan sudah biasa membersamai bunyi lonceng kereta itu. Tidak begitu ramai di dalam kereta, kami langsung mencari bangku sesuai yang kami pesan. Untungnya kami dapat satu gerbong dan hanya berselisih satu bangku saja. Kami ramai berswafoto diluar kereta namun diam saat duduk dan selesai menaruh koper. Ada yang membaca Al-Quran, membaca novel Pram, ada juga yang melanjutkan menulis paper. Sedang saya sibuk dengan kuas dan cat akrilik warna biru,merah, dan putih.
            Stasiun kota tetangga sudah kami lewati. Suasana khas senja hari dan pekarangan sawah memanjakan perjalanan kami. Hingga tak terasa hampir Magrib kami sampai Jogja. Berhenti cukup lama saya sampaikan salam pada suasana khas Jogja. Keluar dari gerbong dan melihat awan diatas Lempuyangan membuat saya selalu merindukan kota ini. Tangan-tangan pedangang makanan menyuguhkan nasi bungkus seharga dua belas ribu lengkap dengan sendok bebeknya. Banyak kawan yang akhirnya tersipu dengan tawaran pedagang itu. Luamayan, nasi sayur plus ayam goring untuk mengganjal perut sampai dini hari nanti.
            Selepas magrib kami lanjutkan perjalanan menuju ibukota. Jendela yang buram ditambah gelap malam seakan membutakan mata saya untuk melihat dunia luar. Akhirnya saya sibuk dengan earphone dan kuas imajinasi saya. Kanan kiri saya liat mata-mata tertidur dengan lelapnya, seakan tak memikirkan utang atau tugas kuliahnya. Beberapa kali saya mengunjungi kamar mandi untuk sekadar mencuci muka atau menghirup bau khas kereta. Sering pula kawan-kawan berdiri dan berkeliling untuk membuang penat.
            Saya mencoba tidur dengan beberapa gaya. Entah sudah beberapa gaya saya coba, dan hasilnya nihil. Hanya mata yang tertutup namun pikiran masih hidup. Punggung sudah berteriak ingin rebahan, namun harus bersandar di kursi 900 itu. Beberapa lampu stasiun kota yang hanya dapat terbaca malam itu.
            Pukul 02.00 kereta kami melewati stasiun terakhir sebelum Pasar Senen, ya Jatinegara. Satu dari kawan kami turun disana untuk segera pulang kerumah. Sedang kami harus merapikan wajah dan menurunkan koper untuk bersiap menginjakkan kaki di Ibukota. Tiga puluh menit kemudian kami benar-benar bebas dari hotel gerbong Gaya Baru Malam itu. Kami mencari suaka (masjid) untuk sekadar rebahan namun masih terunci. Belum waktu Shubuh akhirnya kami menggelandang di sekitaran stasiun untuk istirahat. Dengan perut berteriak saya memutuskan untuk membeli segelas mi instan agar menenangkan lambung saya.
            Sampai pada waktu shubuh kami langsung beranjak ke masjid depan. Air wudhu membangunkan kedua mata kami. Segarnya udara air conditioner masuk ditiap pori-pori kaus kami. Khusyuk saya melihat kawan-kawan dan warga ibukota melaporkan diri pada Sang Maha Esa.
            Kami menunggu ditemani Fajar yang mulai memanaskan ibukota. Menunngu KRL yang akan lewat dan siap kami tumpangi. Sembari menunggu kami mulai berimajinasi dengan buku-buku yang kami bawa. Sedang saya duduk diatas bangku besi dan kaki penuh gigitan nyamuk. KRL jurusan Depok datang dengan tergopoh-gopoh langsung kami naiki. Pintu gerbong terbuka semua, masih longgar, kosong belum ada suasana khas ibukota. Stasiun demi stasiun kami hampiri, banyak juga insan yang sudah berpakaian rapi mengawali pekan ini dengan earphone menggantung ditelinga.
            Suasana khas ibukota mulai nampak. Kami smua berjejal masuk gerbong demi gerbong. Kami yang masih dihantui rasa kantuk menyelesaikan hak mata kami untuk sekadar tidur. Akhirnya kami turun di stasiun terdekat kantor pusat Rumah Kepemimpinan, yaitu stasiun Universitas Indonesia, ya kampus U and I. Pagi itu kami berjalan bersama mahasiswa yang membawa jakun kemana-mana. Kami berhenti di halte bikun FIB untuk melanjutkan ekspedisi ini. Sempat beberapa kami naik bis kuning ini malah jauh dari koridor tujuan kami. Tak sengaja kami menaiki jalur yang sama dan turun di halte menwa. Lewat jembatan penyeberangan jalan kami dapat memandangi warga dari ketinggian. Hanya berjarak sekitar 300 meter dari halte, kami sudah disambut dengan logo instansi kebanggan kami, Rumah Kepemimpian.
            Kami sampai di markas utama. Lansung saja para Ksatria (sebutan regional RK Putra Jakarta, Universitas Indonesia) untuk sekadar rebahan di asrama. Dari kami ada yang melajutkan permintaan mata untuk tertidur dan ada yang menuruti permintaan perut yang masih kosong. Saya termasuk yang kedua. Akhirnya kami sarapan di warung nasi uduk dekat asrama pusat. Harga yang hampir sama di Surabaya tak mengagetkan saya. Pisang goreng saya pilih untuk hidangan pencuci mulut. Selepas itu saya bersiap untuk menemui kawan hidup saya yang sedang berkarya di UI, ya siapa lagi kalau bukan penyair ini, Harrits. Sebelum shalat Jumat saya bersiap untuk segera menuju kampus Ukhwah Islamiah (masjid kampus UI) sekaligus berjumpa dengan Harrits.
            Jumat itu di UI sedang berlangsung wisuda periode Agustus. Kebetulan juga saya memiliki saudara sambung yang sedang diwisuda untuk resmi menjadi Sarjana Humor hehe  (Sarjana Humaniora, sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI) yang mengambil program studi Sastra Jawa. Siapa lagi kalau bukan mantan jenderal PSAMABIM, Mba Sifa aku memanggilnya. Saya dipacu waktu. Waktu shalat semakin dekat, alhasil saya shalat tepat dipintu gerbang masjid UI. Panas terik saat itu tak melelhkan kekhusukan kami mendekatkan diri pada Sang Maha Tinggi. Selesai dua rakaat saya berteduh di bawah pohon menunggu Harrits nonggol. Tak sampai lima menit kami bertemu kembali. Tak ada beda dari awak Harrits, hanya saja bertambah panjang kumis dan jenggotnya.
            Kami kemudian menuju FIB untuk mencari seteguh es teh. Di Kansas kami bertukar kabar dan saling membagi lawakan. Saya selalu ingat perjuangan kami berdua di tahun 2016 lalu jika mengunjungi tempat ini, terlebih Taman Arkeologi. Sore hari saya mengantar Harrits untuk berkumpul dengan prodinya (Sastra Indonesia). Disana mereka menyiapkan para wisudawan seniornya untuk sekadar memberikan salam selamat. Di depan rektorat UI juga sudah banyak berdiri banner beberapa program studi. Sore, saat semua wisudawan keluar kami berdua berupaya berenang dilautan manusia itu untuk mencari Mba Sifa. Kami bertemu dan seperti biasanya kami langsung berpose untuk diambil gambar dari kamera Cannon.

            Saya juga sempat menemui kawan Sejarah UI saya, Alam. Dia saya temui sedang berada dalam kerumunan Rakyat Militan Sastra lengkap dengan drum gendering perangnya. Suasana padat hingga tak terasa petang hinggap. Kami berdua berpamitan dan melanjutkan laporan Magrib di masjid UI. Jalan yang riuh seusai pelepasan wisudawan memutuskan kami untuk mengambil jalan tikus melewati kutek dan berputar nun jauh sampai mendarat di kantor pusat Rumah Kepemimpinan lagi.
            Malam itu saya dan Harrits harus berpamitan untuk sementara waktu. Saya langsung bergegas menuju lantai dua untuk bersih diri, mengambil jas Rumah Kepemimpinan dan ikut dalam acara malam yaitu arahan peserta selama dua hari kedepan. Pada bulan ini Rumah Kepemimpinan sedang merayakan milad ke-15nya. Tentu usia yang sudah beranjak “remaja” ini telah banyak menunjukan hasilnya pada dunia. Terlihat dari prestasi dan kontribusi para alumni dan peserta yang malang melintang di berbagai bidang, seperti entrepreneur, akademisi, hingga politisi.
            Secara keseluruhan kegiatan milad ke-15 tahun Rumah Kepemimpinan ini dinamai National Leadership Camp (NLC). NLC pada kegiatan ini memiliki jargon yakni “Kontribusi Untuk Negeri”. Hari pertama dan kedua dikemas dengan talkshow perihal kepemimpinan dan wawasan kebangsaan. Tak tanggung-tanggung pembicara yang mengisi dan menyumbangkan suaranya pada kegiatan ini banyak dari tokoh nasional.
            Acara ini secara resmi dibuka dengan Opening Ceremony oleh direktur pusat Rumah Kepemimpinan, Bang Bachtiar Firdaus. Dalam sambutannya seperti biasa, beliau dengan nada tegas membakar jiwa-jiwa kami yang kerdil ini untuk menjadi raksasa. Bahkan, beliau mengingatkan peserta semua sebab sudah tiga belas bulan masa pembinaan Rumah Kepemimpinan, namun masih juga banyak hal yang belum mencapai target awal. Kembali lagi, saya menanyakan kepada diri saya selaku pengemban amanah ini. Introspeksi diri pagi itu memerlihatkan apa saa yang telah saya lakukan untuk kebermanfaatan orang banyak sesuai dengan misi Idealisme Kami Rumah Kepemimpinan. Menyesal sudah barang tentu saya rasakan pagi itu. Tiada kata lain untuk saling berbenah dan mengingatkan satu sama lain agar tidak lagi kata penyesalan di akhir. Bahkan setiap pekan kami kumandangkan “kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri”. Sungguh berat, namun mengapa harus takut jika ada kekuatan Maha Besar diatas?

            Pada sesi pertama kami disuguhi materi oleh Dr. Bambang Widjojanto, S.H, M.H selaku pernah menjabat orang kedua di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Beliau menusukkan materi pada kami tentang banyak hal, terutama permaslahan dan upaya anti korupsi. Sebagai orang yang pernah berjibaku dan memerangi koruptor beliau sudah tegas dengan captionnya untuk menjauhi dari perbuatan najis itu. Pada akhirnya beliau juga menggambarkan bahwa integritas seseorang akan terlihat tanpa sadar dengan perilaku yang dilakukannya, serta beliau juga menyusupkan pentingnya brperilaku jujur dan terbuka dalam setiap melakukan aktivitas.


            Sesi talkshow dilanjutkan bersama Dr.Ir. Nur Mahmudi Ismail. Beliau pernah menjadi orang nomor satu di Depok. Bahkan tidak cukup satu kali, beliau pernah menjabat dua kali periode kepemimpinan. Beliau yang asli Jawa Timur ini memberikan wasiat kepada kami mengenai kepemimpinan disektor publik. Kemampuannya untuk bertemu,berunding,dan bercakap dengan masyarakat luas sudah tidak diragukan lagi.
            Hari ini saya merasa sangat panjang. Otak saya kembali dibuka untuk wawasan baru dan mata saya disegarkan dengan tokoh-tokoh yang hadir mengisi podium hari ini. Sore hari menurut saya sebagai klimaksnya. Kami kedatangan Dr.(HC) H. Zulkifli Hasan, S.E, M.M selaku ketua MPR RI. Pembawaan sederhana beliau mencurahkan pelbagai pengalaman dimasa mudanya. Akhir acara saya memberikan buku pertama saya kepada beliau. Meskipun sederhana namun saya ingin memberikan kenang-kenangan abadi kepada setiap orang baru yang saya temui, salah satunya adalah Zulkifli Hasan ini.



            Malamnya kantor pusat ramai dengan dipenuhi mobil diparkiran. Di dalam para donatur, penyantun, dan petinggi yayasan sedang bertasyakuran. Beberapa dari kami juga diajak untuk mengikuti kegiatan sakral ini. Sedang saya dan semua peserta mendiskusikan untuk penampilan persembahan angkatan kami. Kami berunding dan sepakat untuk membagi setiap regional dalam pelbagai peragaan alur cerita.
            Hari kedua dimulai dengan kegiatan Kajian Islam Kontemporer yang diisi oleh bapak kami (begitu kami menyebutnya) Ust. Musoli. Beliau memberikan ilmu-ilmu Islami dalam kehidupan kekinian serta sedikit mendiskusikan permasalahan hari ini. Pagi itu tak banyak dari kami yang masih berbau guling. Beberapa dari kami yang mengangguk-anggukkan kepala sembari menutup matanya. Kami dijejali kembali oleh pengalaman dan ilmu-ilmu dari alumni Rumah Kepemimpinan yang telah mulai menunaikan citanya. Tak terasa sudah siang hari, waktunya kami bermain peran sesuai dengan yang telah kami bagi kemarin. Alur cerita yang mencerminkan kami, seakan menyadarkan saya pribadi bahwa kami bukan siapa-siapa, masih bukan siapa-siapa dan memang bukan siapa-siapa. Idealisme yang besar dan kuat diperagakan kawan-kawan dengan ekspresi dan tingkah yang lucu. Idealisme itu kemudian luntur dan dibenturkan oleh realita. Begitu lah kami, yang masih memiliki gagasan besar, namun kami akan sadar bahwa kami bias, bias, dan bisa mewujudkannya, demi bangsa yang mulia. Kegiatan haru ini ditutup dengan persembahan cinderamata dari peserta dan panitia. Saya membawakan lukisan dengan topeng wajah sebagian tertempel dikanvas. Saya berikan untuk menjadi cerminan bahwa 15 tahun Rumah Kepemimpinan, masih memiliki banyak tantangan dan harapan nantinya.


            Akhirnya kami berkemas dan bersalam-salaman, ada yang bertukar nomor telepon ada yang bersenda gurau dan sebagainya. Kawan-kawan Bogor, Bandung, Jogja, Medan, Makassar harus kembali ke wadah penggodokannya ini. Saya cukup puas dengan dua hari ini. Banyak hal yang baru dan mewarnai jalan pikiran saya. Bahkan hingga kini saya menjadi malu dan merasa bersalah jika masih belum bisa berbuat lebih untuk kebermanfaatan orang lain. Sekali lagi terima kasih benderaku, jaya selalu, terus tempa kami hingga menjadi manusia-manusia yang berguna bagi bangsa yang lebih bermartabat dibawah lindungan Allah pencipta alam semesta.
            Agenda saya selanjutnya adalah menetap selama dua hari di Jakarta utnuk langsung mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat di Jogja. Saya dijemput Harrits pukul 15.00 dan langsung menuju rumah saudara Harrits, mas Bagos di daerah Sudirman. Pertemuan satu tahun lalu saat saya mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru disini terulang kembali. Mas Bagos dengan segala kebaikannya menerima saya dan menganggap saya sebagai saudara sendiri. Hasrat ingin berjalan-jalan malam di Ibukota membara. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan melepas beban ke Gramedia Matraman. Seperti biasa jika ke toko buku, mata saya tidak bisa terkontrol. Tangan ingin menyabet buku di rak kanan dan kiri melihat judul yang menarik dan membaca sinopsis. Akhir dari perjalanan saya adalah membeli buku terbaru Andrea Hirata Sirkus Pohon. Wow, judul yang menarik dan saya rasa imajinasi saya akan terbang bebas dengan buku ini saat sekilas membaca buku yang telah lepas plastiknya.


            Kami pulang malam hari ke rumah mas Bagos di Cibinong. Jauh saya rasa, badan serasa dilipat dalam koper dan diterjunkan dari langit Jawa. Tak panjang lebar kami bercerita malam itu, kami langsung menutup hari yang panjang ini. Pagi hari kami bersiap mandi pagi dan shalat Shubuh dengan air wudhu yang membangunkan kami. Eh, tapi gravitasi kasur lebih besar dari yang kami pikirkan, kami terlelap hingga pukul 10.00. Gupuh! Kami melihat jam. Langsung meloncat menuju supra fit milik Harrits kami meluncur menuju kampus UI yang sedang pertama kali masuk perkuliahan, wah tepat sekali saya pikir.
            Jalanan Depok yang semrawut ditambah cegatan polisi mingguan menambah kegelisahan kami pagi itu. Sampai parkiranpun kami mendapat posisi pojok disamping vespa klasik warna hijau tosca. Sedang si Harrits menemui jurusannya saya menemui kawan sejarah UI dan berbincang dengannya hingga siang hari. Tak lama kemudian saya berjenjian untuk bertemu dengan kawan yang dulu di UNAIR dan kini memakai Jakun UI dengan makara abu-abu itu.
            Puas bertemu kawan-kawan lama, kami menancap gas dan berlikuk di jalan Ibukota (lagi). Kali ini kami menuju jalan Ampera untuk sekadar berkunjung ke ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Saya sengaja mendatangi tempat ini untuk nanti keperluan studi saya dalam mencari sumber sejarah. Tepat kami sampai di tangga pusat layanan, si pak satpam memberitahu kami bahwa mereka telah tutup. Yah, namun saya mencoba mencari informasi terkait alur masuk dan peminjaman arsip disana. Kami lanjut dan makan bubur ayam di depan mini market tak jauh dari ANRI. 


       Malam membuntuti kami, rasanya rugi jika langsung pulang. Kami memarkir sepeda ke rumah mas Bagos lagi dan menuju halte bus transJakarta dan menuju Blok M. Suasana ibukota sepulang kerja semakin mendesak kami mendekat dengan pintu keluar. Awalnya kami akan turun di halte senayan untuk melihat gedung rakyat, namun tidak, kami tetap menuju koridor Blok M. Suasana perbelanjaan malam dan Kedai Filosofi Kopi menyilaukan mata saya. Harrits mengajak saya untuk ke lantai bawah dan melihat kaset dan buku klasik yang dijual disana. Rute pulang juga sama dengan awal kami berangkat, bahkan lebih, tidak hanya koper, tubuh saya serasa ditekuk di lemari es bagian bawah. Malam terakhir di ibukota ini menjadi haru dengan sejuknya kota Bogor tak jauh-jauh dari badan saya. Esok saya harus berangkat pagi menuju Stasiun Pasar Senen untuk mengejar kereta Gajah Wong pukul 06.45 menuju kota penuh kenangan Jogjakarta. Sudah, cukup banyak orang-orang baik yang saya temui pada kurang dari sepekan ini. Tak henti-hentinya mata, hati, dan telinga ini membuka dialog dengann orang-orang baru. Pintu rezeki terbuka, wawasan bertambah-tambah, dan pasti semangat untuk berkarya akan lebih menjulang tinggi.

Jakarta, entah kau akan jadi lahan kemahku nanti atau tidak, yang jelas kau sudah mempertemukan dengan orang-orang baik.




             

Kamis, 06 April 2017

Menengok Semen Indonesia, Pabrik Rembang


Menjadi seseorang haruslah bijak dalam memilih. Memilih dalam suatu keputusan ataupun keberpihakan, semuanya bebas sesuai dengan kemerdekaan hati nurani manusia. Seperti pada permasalahan yang terjadi pada persoalan pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Bolehlah setiap dari kita memiliki pilihan untuk berargumentasi dan memihak mana yang harusnya dibela. Menuut saya diperlukan kesepakatan win-win solution antara warga dan Semen Indonesia serta kebijakan yang tetap berpatokan pada hukumlah yang memang sekiranya perlu dilakukan. Sehingga tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan dan salah satu pihak diintimidasi serta terpuruk. Untuk memihak juga harusnya tidak hanya diarahkan dan diprovokasi oleh media-media. Diperlukan data Dan fakta yang valid akan suatu permasalahan itu. 

Pada hari Rabu (5/4) Ikatan Alumni UNAIR dan beberapa mahasiswa turun langsung ke lapangan yaitu ke PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pabrik Tuban dan Rembang agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan sebagai langkah pengumpulan data dan fakta .Beberapa hal dipaparkan dalam kegiatan kemarin. Seperti sistem Clean Industry dimana Semen Indonesia pabrik Tuban  telah memakai sistem yang tidak menjadikan udara sekitar berdebu dan polusi dengan menanam pohon memutari pabrik ,serta dengan merelokasi bekas tambang untuk dijadikan lahan pertanian oleh warga sekitar, seperti ditanami singkong dan pohon jati. Bahkan beberapa lahan jika dilihat sudah rimbun dan juga terdapat green belt / sabuk hijau yaitu penanaman pohon yang mengitari lokasi pabrik Tuban dengan berbagai fungsi. Tepatnya di bekas tambang tanah liat juga setelah selesai ditambang akan digunakan warga sebagai tambak dan budidaya ikan. Selain itu banyak lagi dampak perekonomian warga yg berkembang dari adanya pabrik semen di Tuban ini, seperti adanya warung, kios, dan rumah Kos. Seperti halnya di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pabrik Rembang yang kini sudah hampir 100% selesai dibangun. Pabrik itu dibangun  di 5 Desa  di 2 kecamatan. 
Dari berbagai sumber meskipun masih dalam tahap pembangunan pabrik, disana banyak perubahan yang terjadi seperti banyak ya warga yang terserap untuk menjadi pekerja dengan total 6075 jiwa, begitupun aspek ekonomi formal maupun non formal warga. Peningkatan PAD Kabupaten Rembang kini juga disokong dengan sektor pertambangan
ini. Masalah keterbatasan air di daerah ini juga telah diprogram pihak semen untuk dibuatkan embung dan pipanisasi untuk dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun saya belum mendengar data tersebut secara pribadi dari pihak aktivis lingkungan atau dengan pihak warga. Masalahnya kesejahteraan warga belum bisa hanya diukur hanya dengan PAD saja dan lapangan pekerjaan yg dibuka SI juga membutuhkan tenaga-tenaga ahli. Juga perubahan dengan dibangunnya pabrik semacam ini tentu akan memberikan perubahan social-culture dari masyarakat. Jika memang hanya mengenyangkan satu pihak saja maka tak ada yang pantas dibela selain kemanusiaan guna melindungi hak-hak warga dan lingkungan. 

Sabtu, 01 April 2017

MELATIH JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN LEADERS AND LEADERSHIP DI RUMAH KEPEMIMPINAN



Memiliki cita-cita menjadi seorang pemimpin adalah impian setiap orang. Tidak hanya menjadi pemimpin negara ataupun pimpinan perusahaan, menjadi pribadi yang memberikan pengaruh pada orang lain juga bisa disebut pemimpin.  Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk mewujudkan cita-cita itu. Terlebih jika telah dipersiapkan secara matang sejak dini dengan ikut berbagai kegiatan yang melatih diri menjadi seorang pemimpin. Saat ini beragam kegiatan pelatihan kepemimpinan itu sering kali diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga kemasyarakatan, dan institusi lainnya. Umumnya saat pelatihan itu diberikan materi-materi yang membangun jiwa kepemimpinan oleh seorang pemateri yang unggul dalam bidangnya.
Kegiatan pelatihan, motivasi, ataupun seminar tentang kepemimpinan kini banyak diminati oleh pemuda. Hal itu dikarenakan jiwa muda selalu memiliki ambisi dan impian yang besar, utamanya untuk menjadi pemimpin dimasa depan. Salah satu institusi yang memiliki visi tersebut adalah RUMAH KEPEMIMPINAN Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS). RUMAH KEPEMIMPINAN memiliki program pembinaan yang ditargetkan kepada mahasiswa. Terdapat tujuh cabang regional di seluruh Indonesia dan pesertanya dari berbagai universitas di tempat regional tersebut. Seperti pada Regional IV Surabaya dengan peserta sejumlah 35 orang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (UNAIR).
Program yang dijalankan di Rumah Kepemimpinan secara umum bertujuan untuk melatih peserta agar kelak menjadi seorang pemimpin. Setiap bulan atau bahkan setiap pekan di asrama Rumah Kepemimpinan yang terletak di Jalan Menur Pumpungan VIII / 6, Sukolilo, Surabaya itu disibukan dengan program kepemimpinan. Pada hari Rabu (22/3) di Rumah Kepemimpinan menyelenggarakan kegiatan Leaders and Leadership (LnL). Kegiatan itu diisi oleh bang Bachtiar Firdaus yang merupakan Direktur Rumah Kepemimpinan dan mantan Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999 atau setelah reformasi Indonesia. Seperti namanya kegiatan ini diisi dengan materi yang melatih jiwa kepemimpinan dengan mempelajari keteladanan dari tokoh, seperti Nabi Daud AS dan Nabi Yusuf AS. Juga melihat dan menafsirkan sifat-sifat tokoh tersebut pada surat yang mengkisahkan beliau pada Al Quran. Kegiatan ini berlangsung hingga hari Kamis (23/3) di pagi hari. 
THE GOOD IS THE ENEMY OF GREAT
Bang Bachtiar sebagai pemateri dengan pengalamannya memimpin di berbagai organisasi, membuat kami lebih termotivasi untuk menguatkan jiwa kepemimpinan. Bang Bactiar menjelaskan bahwa setiap usaha untuk perubahan umumnya berawal dari gagasan kaum elit. Faktor lain seperti Agama juga merupakan faktor legitimasi dan sakralisasi yang paling kuat dan efektif untuk usaha perubahan itu. Untuk menciptakan usaha perubahan itu juga dapat dimulai dari perlawanan revolusioner yang berangkat dari letupan massa itu sendiri. Perlawanan revolusioner itu memiliki dua kaidah, pertama lahir dari masyarakat itu sendiri, kedua memiliki wawasan intelektual yang luas serta mempunyai kekuatan fisik yang kuat, dan mampu memberikan pengaruh sekitar. Sebagai agent of change sebagi pemuda revolusioner akan lahir melalui dari proses penempaan yang berupa pergulatan dengan berbagai kenyataan (sosial-politik) yang penuh dengan konflik, sehingga akan mampu untuk menguasai opini publik dan dapat membuat suatu penyelesaian. 
Tidak hanya penjelasan materi oleh beliau, namun juga disesi terakhir dibuka diskusi dengan pertanyaan yang cukup menarik dari para peserta. Setelah kegiatan itu berlangsung seluruh peserta semakin bertambah wawasan kepemimpinannya dan juga semakin bergegas untuk berkarya. Kegiatan semacam ini menjadi kegiatan rutin sehingga kami sebagai peserta dan pemuda lainnya bisa terpengaruh menjadi pemimpin yang strategis di masa depan. 


BE A FIGHTER, BREAK THE LIMIT, KEEP POSITIVE

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...