Minggu, 14 April 2019

CISAK 2019 : Bukti Kecintaan pada Bangsa Indonesia

Setelah penutupan kami foto bareng

Yapss kali ini saya mau cerita pengalaman waktu di Korea beberapa waktu lalu. Saya akan bagi dalam dua tulisan yaitu waktu di Busan dan di Seoul. Dua kota ini memiliki keunikan masing-masing dan sangat berbekas di hati saya sampai sekarang. Oke lanjott, pada awalnya saya bersama kawan saya Eka dan Dio (temen satu jurusan) mencari-cari kegiatan konferensi atau LKTI semacamnya. Mengingat karena kita adalah mahasiswa semester akhir jadiii kapan lagi kan saya bisa ngerasain ikutan lomba. Jujur pada awalnya saya belum pernah ikut lomba LKTI semacam ini. Saya sering ikut kegiatan pengabdian dan sosial masyarakat. Okelah ini merupakan tantangan buat saya sendiri.

Melihat banyak yang membagikan poster kegiatan CISAK, saya pun penasaran kemudian. Apa itu CISAK? mulailah tangan ini menelusuri di internet. Ternyata kegiatan ini sudah berlangsung lama dan pesertanya setiap tahun tambah banyak. Saya semakin yakin buat ikut dalam kegiatan ini. Cisak atau Confrence of Indonesian Students in South Korea yang ke 11 di tahun 2019 ini diakan di Busan, Korea Selatan 30-31 Maret 2019. Tema pada tahun ini yaitu "Empowering Innovation and Prosperity Through Industry 4.0 in Indonesia". Nahh sesuai denga tema ini kelompok saya melihat suatu potensi wisata urban heritage yaitu di Kampung Peneleh, Surabaya. Taukann?? di kampung ini banyak potensi wisata bersejarah. Seperti Rumah H.O.S Tjokroaminoto yang dulunya dihuni oleh orang-orang kece seperti Kartosuwiryo, Bung Karno, Musso dan lainnya. Juga masih banyak bangunan arsitektur yang bernuansa kolonial sertaa yang kami bawa adalah bagaimana masyarakat di peneleh memetakan sendiri potensi terutama makanan khas per gang di kampung Peneleh. Nahh dari potensi itu kemudian kami kemas dengan menggunakan media digital sehingga dapat dengan mudah diakses orang-orang.

Waktu itu cukup dekat dengan batas pengumpulan abstrak sehingga kami sering ketemu buat bahas paper ini. Akhirnya untuk memangkas waktu kami bagi tugas, saya kebetulan dapat di bagian pendahuluan dan abstraknya. Oke cus, buat temen-temen yang mau ikut CISAK tahun depan jangan bingung karena di website resmi CISAK sudah ada contoh penulisan paper yang sesuai sehingga memudahkan peserta. Kami juga mengirimkan abstrak di hari terakhir. Daaann alhamdulillah waktu pegumuman lolos abstrak kami dibalas dengan email dari panitia bahwa abstrak kami diterima. Wah senang saat itu karena baru pertama ikut lomba semacam ini dan akhirnya dapat diterima.

Masalah baru muncul, yakni kami harus segera mengurus visa korea, membuat proposal pengajuan dana ke kampus dan perusahaan (buat sponshorship), serta membereskan full papernya. Sebab keluarnya surat LOA (letter of acceptance) nya cukup mepet jugaa jadi tidak ada waktu lagi harus segera mengurus visa. Untuk pembuatan visa korea saya akan tulis terpisah yaa, stay tune!!

Buat yang mau step-step ikutan CISAK sebenernya hampir sama dengan kegiatan yang sama. Kalian tinggal bikin abstrak (Bahasa Inggris) sesuaikan dengan tema tahun itu, pilih kluster yang memang sesuai dengan ranah ilmu kalian, buat satu topik yang menarik dan tentu belum pernah ditulis dan dipublish oleh siapapun, cari refrensi dann catat tanggal atau deadline pengiriman abstrak di web resmi CISAK (sesuaikan dengan prsedur atau tata aturan penulisan paper yang dinginkan CISAK), setelah kirim abstrak tunggu sampai keluar email balasan dari panitia bahwa abstrak kamu lolos, setelah itu siapkan full papernya (dengan format yang sama), dannn persiapkan dokumen keberangkatan, terakhirr nikmati perjalananmu dan siapkan diary tuliskan kisahmu. 


Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang tersenyum

Yaps, suatu masalah kan tetap menjadi masalah jika kita tidak membuat suatu gerakan atau langkah kedepan bagaimana caranya untuk menyelesaikannya. Akhirnya dengan beberapa usaha saya bisa menyelesaikan permaslahan diatas. Terlebih ada bantuan dari orang-orang yang mempercepat proses sampai saya bisa terbang ke Negeri Gingseng ini. 

Kembali ke CISAK 2019, taun ini dibagi dengan 8 kluster ilmu dan saya kedalam Social Science. Saya berangkat ke kegiatan ini dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur (bisa dibaca di) https://yunazkaraman.blogspot.com/2019/04/bermalam-di-malaysia.html .Pada akhir bulan Maret di Korea masih musim semi, sehingga suhu udara cukup dingin.

Cisak pada tahun ini dilaksanakan di Busan, Korea Selatan tepatnya di Korean Ocean and Maritime University. Kampus ini terletak di tepi laut dan benar-benar di tepi laut. Cheery Blosom di Busan terlebih dulu bermekaran sehingga di jalan-jalan kampusnya banyak ditumbuhi pohon cantik ini. 

CiptaanNYA

Jalan di kampus





Dihari pertama Sabtu 30 Maret 2019, kelompok kami dan kelompok lain se-fakultas yang memang sengaja bareng berangkat dari hostel menuju ke bus penjemputan yang tidak jauh dari hostel kami. Karena cuaca dingin kami memakai jaket dan pakaian teball (suhunya cuman satu digit aja guys!) Bis yang disediakan panitia hanya pada keberangkatan saja dan hanya pada hari pertama ini. Model busnya mini bus yang mungkin cukup sampai 15 orang. Pada awal pembukaan kegiatan ini dibuka dengan tarian dari kawan-kawan PPI Korea (PERPIKA) dilanjutkan dengan sambutan sambutan baik dari Ketua Pelaksana CISAK 2019, Ketua PERPIKA. Saya merasa hangat dipagi hari itu, bukan karena didalam gedung sehingga hangat saja namun disini saya melihat banyak kawan-kawan dari berbagai kampus dari Indonesia. Bahasa Indonesia yang sempat jarang saya dengarkan beberapa hari ini mendadak membludak di kampus ini. 

Setelah dibuka kegiatan ini dilanjutkan dengan seminar yang menurut saya cukup unik. Karena pembicaranya menarik dan bahasan yang didiskusikan juga menantang otak untuk terus bekerja. Dihadiri oleh Keynote Speaker, Prof. Tomi Suryo Utomo, SH., LL.M.,Ph.D (Dosen di Universitas Janabadra Yogyakarta dan UGM), Chusnul Tri Judianto, S.T. (Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Penerbangan dan Antariksa LAPAN), Jonathan Xavier Barki (Vice President Gojek Indonesia) dan Muhammad Farras Bari Zain (Co-Founder Damogo). 




Para narasumber

Pada hari ini jadwal untuk presentasi paper tidak semua  sehingga dibagi juga dengan hari kedua di hari Minggunya. Salah satu kawan dari fakultas kami mendapat giliran maju di hari pertama, sehingga kami menunggu mereka dengan berjalan-jalan di sekiling kampus dan menyiapkan presentasi kelompok kami untuk besok. Kegiatan di hari pertama ini selesai kurang lebih pada pukul 18.00 waktu Korea. Akhirnya kami langsung naik bus umum yang memang di dalam kampus terdapat halte pemberhentian terakhir daan sampai di depan jalan hostel. 

Makan siang kami



Di hari kedua kami tidak disediakan bus dari panitia jadi kami menaiki bus umum dan turun di pemberhentian terakir di Kampus lokasi. Naik bus cukup murah di sini melalui t money/t cash sekitar 1.200 won. Kelompok saya mendapat waktu presentasi pada pukul 11 sehingga kami segera dengan membawa koper, karena ini hari terakir kami berada di Busan untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul.

Presentasi kami cukup singkat yakni kurang lebih sekitar 15 menit lamanya. Dalam kloster social science ada 5 kelompok. Diawali dari perwakilan UB, UGM, UNDIP dan dua kelompok dari UNAIR termasuk kami. Dari presentasi kawan-kawan mereka sangat inovatif  dan banyak terobosan baru yang ada. Seperti dari perwakilan UGM dengan analisisnya terkait aplikasi pencarian pekerjaan untuk penyandang difabel. menarik dan sekali lagi saya melihat banyak kawan-kawan muda  yang berprestasi dan punya cita-cita yang visioner.

Bersama Dio

Bersama Aiman, kawan se asrama


Cluster Social Science

Di hari terakhir ini yaitu acara penutupan dengan sekaligus pemberian penganugerahan pada best presenter dan best paper. Best presenter pada kluster saya adalah perwakilan dari UB. Akhirnya kami berfoto bersama dann kami selesai dengan kegiatan ini. 
Dari sini kami langsung menuju bus dan melanjutkan perjalanan ke Seoul dengan bus. 

CISAK tahun ini tidak akan saya lupakan dalam ingatan saya karena ini adalah pertamakalainya saya mengikuti lomba berbau akademik atau penelitian. Selain itu CISAK membukakan pintu pengalaman dan lembaran diary saya untuk dituliskan kisah-kisah di Korea Selatan. Tentunya pada awal menerima kabar bahwa lolos abstrak tentu tidak terbendung senangnya apa ini juga pertama kalinya saa ikut dalam kegiatan semacam ini. Jangan takut untuk speak up, karena saat presentasi saya masih protol dan banyak pengucapan yang salah. It's okay guys!! yang penting percaya diri dan terus bergerak secara mandiri. Menurut saya pengalaman semacam ini yang akan terus mengasah kemampuan dan kepercayaan diri kita. Dari sini juga saya makin percaya pada bangsa ini bahwa anak-anak mudanya bisa bersaing secara global dan siap untuk memberikan harapan baru entah kapan. Semua pasti ada waktunya dan hal itu sudah dituliskan. Tinggal  kita sebagai generasi muda untuk terus berinovasi, berkarya, dan berdoa. Karena bangsa ini bukan hanya butuh omong-omong besar tapi juga karya-karya besar. Hal yang perlu diingat lagi adalah bagaimana kita menjadi manusia untuk bisa terus bermanfaat kepada orang lain, meskipun dengan hal yang sederhana. Agar senantiasa melihat ke bawah (bersyukur) dan melihat ke atas (berdoa).



Jumat, 12 April 2019

Bersyukur Dan Berdoa Di Sini



Semua tak ada ruginya. Setiap orang akan memanen apa yang ia tanam. Di setiap kehidupan selalu ada tantangan dan kesempatan. Berjanji pada diri sendiri untuk bisa menghadapi hari demi hari. Saya yakin bahwa kesempatan dalam hidup tidak akan bisa terulang kembali dengan mudah. Mungkin saja tapi akan butuh tenaga dan waktu yang lama.

Hari ini aku di Kuala Lumpur, melihat warga dari seluruh penjuru dunia. Beragam wajah tapi satu senyuman. Orang-orang disini tak akan lihat apa warna kulitmu dan dari mana asalmu. Hanya berbuat baiklah kita akan mendapat balasan dan ucapan yang baik pula, namun juga kadang tak dapat. Tak apa, tentu bukan itu yang kita harapkan.

Bersatu padu dan sibuk mendorong koper sudah lama hal ini terjadi disini. Berbagai tujuan sering dilihat orang-orang di papan pengumuman. Melihat di layar telepon genggam untuk sekadar melihat chat atau menelpon dengan orang yang disayang.

Berbagai bahasa terdengar disini. Tak apa, Tuhan hanya satu dan ia tahu apa yang kita mau. Bahasa hati yang dapat menyambung langsung dengan ilahhi. Aku sangat bangga dengan perjalananku. Aku lebih bangga jika berkeliling ke tempat baru. Banyak hal yang didapat dan untuk pembelajaran diri.

Dalam hati aku akan terus berusaha untuk membayar utang budiku kepada orang-orang yang memberikan semangat. Karena sumbangan itu aku bisa berdiri di depan menara petronas.

Senin malam kemarin meski berjalan jauh aku jadi terus bersyukur dengan semua ini. Aku ingat bagaimana dulu beranjak dewasa banyak hal yang membuatku menyesal kini. Tak mengapa hanya butuh proses dan pembelajaran untuk dijadikan spion dan melihat kebelakang.


Kuala Lumpur, 28 Maret 2019

Kamis, 11 April 2019

Jom Jadi Orang Baik-Baik: Bermalam di Malaysia




Perjalanan ke Malaysia ini merupakan awal perjalanan panjang nantinya. Perjalanan ini juga jadi pertamakalinya berkeliling di negeri tetangga ini. Saya memilih Kuala Lumpur sebagai gerbang awal untuk transit karena biaya yang lebih murah untuk ke Korea. Kesempatan ini saya peroleh saat mengikuti kegiatan Cisak atau Confrence of Indonesian Students in South Korea yang ke 11 di tahun 2019 ini. Acara intinya berlangsung di Busan tanggal 30-31 Maret 2019. Tapi kami (saya dan Dio, satu kelompok dari kampus) merencanakan untuk berangkat dari Juanda ke Kuala Lumpur terlebih dulu dan bermalam cukup satu hari saja.

Perjalanan dari Surabaya kami mendapat jadwal paling pagi sehingga sampai di Kuala Lumpur masih sekitar pukul 8.00 WIB. Saat check in di Juanda kami ada beberapa masalah terkait bagasi jadi harus naik turun lagi. Kami sudah terlebih dahulu memesan sebuah hotel di Malaysia yang terletak tidak jauh dari KL Central dan beberapa tempat icon di Kuala Lumpur. Seperti gayanya mahasiswa tanggal tua, saat memesan hotel di website kami melihat dari sisi kanan dulu yaitu harganya baru, fasilitas dan alamat hehehe. Akhirnya kami memilih untuk menginap di First and New Star Hotel di Jalan Metro Pudu 2, Kuala Lumpur dengan tipe kamar double standard dengan harga IDR 171.000 dan dibagi dua jadi kurang lebih IDR 85.500 per orang. Saya rasa memilih hotel yang tepat karena di jalan Metro Pudu ini merupakan Bussines Park yang terdiri dari ruko-ruko yang berjualan makanan, seven eleven, dan bahkan ada sekolah tinggi.

Bandara Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2)  hampir mirip seperti bandara internasional lainnya. Dilihat dari fasilitas didalamnya dikemas seperi mall dan banyak toko oleh-oleh dan makanan di sana. Oke lanjut, sehabis sampai dan tuntas menganteee panjang di imigrasi kami istirahat sejenak di lantai dasar daaaaan kami membawa nasi padang yang sengaja kami bawa untuk sarapan disana. Wah mungkin saat antre imigrasi orang-orang pada mencium bau-bau peyek udang dan rendang yang saya bawa luntang-lantung di bandara. Keliahatan jelas malah peyeknya mecungul dari kreseknya hehehe.

Beberapa spot di KLIA2



Banyak clothing store dan restoran


Untuk menuju pusat kota di Kuala Lumpur bisa diakses dengan beberapa moda transportasi. Kami memakai  Aero Bus atau bisa juga Skybus yang terbilang cukup terjangkau untuk menuju KL central  dengan harga 12 ringgit. Sebenarnya bisa juga memakai taksi yang ada di lantai atasnya. Di bis kami bertemu dengan peserta lain Cisak yang berasal dari UGM dan bapak-bapak dari Surabaya. Yahh disuasana yang berbeda kami masih berbicara “jowoan” dalam bus hehe serasa masih di Indonesia saja. Itu yang membuat saya secara pribadi bangga terlebih  diberi semangat oleh bapak-bapak tadi yang sedang bekerja di Kuala lumpur, dengan tulisan ini saya juga mendoakan beliau (yang tidak sempat berkenalan) agar selalu sehat.

Uniknya didalam bus ini terdiri dari seat 2x2 dan ada jadwal yang memudahkan kita untuk menuju klcentral atau kembali ke bandara. Diatap bus saya sempat memotret bendera Palestina yang sengaja dipasang di atap bus. Secara pribadi saya sangat hormat dengan apa yang dilakukan pihak bus ini. Perjalanan kurang lebih 45 menit-1jam (tergantung macet atau kondisional) untuk sampai di terminal KL central. Ternyata terminalnya di jalan paling bawah dan kami langsung naik lift untuk masuk ke mall yang berada tepat diatas terminal. Selain itu kita bisa melihat keberangkatan bus selanjtnya untuk jadwalnya, bisa dicek di https://www.skybus.com.my. Sebenarnya bisa juga naik KLIA Express (semacam kereta cepat) tapi harganya berkali lipat dari bus sektar 55 ringgit (saat itu 1 ringgit 3.500 rupiah).


Bendera Palestina di atap bus

Pemandangan saat perjalanan

Jadwal keberangkatan bus 

Tiket bus

Disini saya melihat pemerintah Malaysia mengintegrasikan semua moda tranportasi, sehingga seperti kami atau orang yang pertama menggunjungi Kuala Lumpur akan sangat terbantu. Suasana disana sangat ramai sekali dan cuacanya sangat cerah, bahkan panasnya seperti di Surabaya. Saat itu sedang jam istirahat kantor atau jam makan siang, sehingga di dalam mall dan jalan-jalan banyak orang berlalu lalang entah membawa kresek makanan atau membawa koper seperti kami. Di KL central juga terdapat stasiun kereta api dan banyak jenis kereta api disini seperti komuter, KLIA Express, Monorail.





di depan lobby KL Central

Disana kami mengaso dan berfoto ria sejenak kemudian menuju ke arah lobby depan mall. Kami memesan grab car untuk langsung menuju hotel yang ternyata memang benar tidak terlalu jauh jaraknya. Di Malaysia Grab hanya mobil sedangkan sepeda motor untuk mengantar makanan. Harga dari kl central ke hotel kami 10 ringgit, cukup murah kan dibagi dua hehe. Saat itu siang hari semakin terik, kami sempat berjalan cukup jauh karena belum mengetahui lokasi tepatnya hotel kami. Ternyata letaknya “mucuk” atau mojok di Jalan itu hehehe. Saat check in sesuai dalam email balasan (invoice) pembayaran ditulis disana harus bayar 10 ringgit untuk pajak hotel daan kami juga diminta 50 ringgit untuk uang jaminan yang nantinya saat check out akan dikembalikan.

Resepsionis hotel








Hotelnya dari luar terlihat kecil dan dihiasi dengan beberapa hiasan imlek, dengan lampion dan amplop angpao warna merah-merah. Saat itu siang hari diluar makin panas apalagi kami sedikit olahraga dengan menggeret koper dan berkeringat. Fasilitas hotel disini juga ada ac, heater, air mineral, handuk, air panas. Saya langsung membuka koper yang berisi makanan dan mengeluarkan sebuah penyelamat yaitu Pop Mie rasa Kari Ayam dan sebungkus Energen. Lalu kami istirahat sejenak dan sudah merencanakan untuk nanti sehabis magrib berjalan ke menara petronas!! Sepertinya siapapun pelancong yang ke Malaysia kudu ke ikon satu ini.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki (memang dari atas hotel, kelihatan sangat dekat). Saya memakai sarung dan sandal jepit karena cuaca cukup bersahabat. Yah perjalanan kami melewati dan menyeberangi beberapa jalan besar hingga kurang lebih 4-5 km ternyata. Yaah kaki saya sudah seperti ngesot sajaa. Akhirnya kami bisa sampai didepan menara ini. Indah dengan pemandangan cahaya citylight Kuala Lumpur yang sangat menawan malam itu. Asyik dan hal ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Saya lihat disini juga banyak orang Indonesia (dari logatnya) dan orang-orang yang menawarkan fish eye buat dipasang di kamera ponsel. Ada juga jasa pemotretan yang saya tidak tahu berapa harganya.

Kurang lebih 15 menit kami mengaso dan menjepret di beberapa sisi menara kembar ini kami memutuskan untuk kembali ke hotel, karena besok kami harus meninggalkan kebangsaan Boboboy ini. Karena kaki yang sudah timeout dan jika dipaksakan nanti malah bisa-bisa nanti dengkul saya ngambek. Akhirnya kami menuju ke seven eleven terdekat dan beli air minum juga kami memesan grab untuk kembali ke hotel. Biayanya hanya 6 ringgit, memang jika dalam jarak cukup dekat hehe. Kami sampai dihotel dan langsung istirahat untuk menyiapkan besok.










Kami bangun kira-kira jam 7, setelah sholat Shubuh perut saya berteriak dan meminta bekerja. Akhirnya kami keluar hotel dan menuju ke beberapa mini market disana untuk mencari roti atau sejenisnya. Tapi saya sudah keluar masuk 2 mini market dan belum menemukan makanan yang mengeyangkan akhirnya kami ingat di depan terdapat banyak retoran melayu dan saya ingin merasakan nasi lemak. Yaa kami menemukan restoran yang menyetel lantunan Ayat Quran dan lansgung duduk disana. Saya lihat menu disana dan nasi lemak lah yang saya pilih. Ternyata untuk sarapan seperti di Surabaya atau Jogja nasinya sudah dibungkus daun sehingga mirip dengan nasi kucing. Harganya sangat murah hanya 3.5 ringgit. Isinya nasi yang cukup padat dengan kacang, ikan teri, telur dan bumbu bali. Enak dan mengeyangkan. Tapi saya penasaran dengan ROTI MILO? hah apa itu? Yasudah saya memesan satu ddaaan ternyata itu adalah Roti Canay yang diisi bubuk milo kemudian di goreng. Roti itu disajikan dengan “saus” kuah kare. Coba deh bayangkan saya merasakan manis roti+milo dengan kuah kare yang berasa asin-asin pedas. Harganya 4 ringgit dan saya langsung merasa kenyang. Puji syukur kami sekaligus merapel makan siang kami disini.



Roti Milo

Karena check out pukul 11 waktu Malaysia (lebih 1 jam dari wib) kami langsung menata kembali koper kami sendiri. SAya juga sudah mandi dan langsung ke lantai bawah untuk check out dan memesan grab car ke KL Central. Mobil yang kami naiki cukup necis dan gaul. Kami tidak langsung menuju ke KLIA2 tapi kami memilih untuk jalan-jalan sejenak di terminal bus dan mall di KL central sampai menunggu sore hari. Tak terasa kami membuang waktu dengan cepat (saya rasa) kami naik Skybus pada pukul 15.00 dan langsung menunggu di bandara. Yaah kami menunggu cukup lama disini. Kebetulan kawan kami dari Surabaya juga sedang melakukan perjalanan ke Korea dan transit disini, kira-kira pukul 7 kami akhirnya bertemu. Makan malam dan pergi ke surau kami mencoba menghibur diri sambil menunggu pukul 10 waktu sana untuk melakukan check in.

Saya kira check in disini sangat ketat, saya memakai maskapai Air Asia. Saat passport saya dicek saya dilihat beberapa kali karena foto saya di paspor saat saya masih gondrong sehingga sangat berbeda dengan saya yang saat itu mau flight. Nama pun saya lihat mbaknya meneiliti sekali. Berbeda jauh dengan pelayanan check in di Juanda dengan maskapai yang sama. Sata itu nama tiketnya nama saya semu sedangkan Dio tidak ada, wah ini sih human error dari si Air Asianya yang membuat kami repot diatas. Setelah itu kami langsung masuk dan menuju ke gate keberangkatan kami. Saya mempir sebentar ke toko oleh-oleh untuk beli post card karena saya sedang mengoleksi dari beberapa negara. Di depan gate saya juga melihat beberapa orang dengan membawa paspor Korea seliweran di samping tempat duduk.


Menuju Gate Keberangkatan



Malam itu saya seperti tidak percaya, dengan keberangkatan saya ke Korea ini. Saya pun dibangku menulis dalam diary saya dan rasanya ingin meneteskan air mata. Karena selalu ingat bagaimana kerja keras orang yang selama ini dapat memberikan support baik secara material maupun moral. Terutama ibu yang saya juga sempat video call sebelum berangkat masuk ke pesawat. Dipostingan selanjutnya akan saya post tulisan saya yang dibuat malam itu.

Di dalam pesawat kami hanya merasakan dingin dan turbulensi pesawat yang cukup keras. Awan mendung saya lihat di jendela pesawat sedang dilawan. Saya hanya berdoa dan tidur saja. Dalam hati perjalanan ini merupakan perjalanan awal dan terlama saya selama hidup 21 tahun ini. Sangat bersyukur  memiliki support system yang tidak lekang oleh waktu dan ruang selalu memenuhi jiwa raga saya. Malaysia terima kasih, jom!! menjadi jadi orang baik-baik.

Senin, 04 Februari 2019

PERKEMBANGAN FOLKLORE DI INDONESIA

www.folkloretravel.com



Kebudayaan yang kini berkembang di masyarakat merupakan hasil pewarisan dari kebudayaan luhur terdahulu. Melalui banyak metode/cara tradisi masyarakat dapat tersalurkan dan terwarisi oleh generasi selanjutnya. Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan system, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka menghidupi kehidupannya serta dijadikan sarana untuk belajar. Wujud dari kebudayaan itu antara lain ide/gagasan/norma/aturan/nilai yang kesemua itu menghasilkan wujud benda/fisik budaya.
Kebudayaan hanya dapat berkembang di dalam masyarakat. Hal itu jelas bahwa tanpa adanya subyek yakni masyarakat tentu budaya tidak akan pernah ada dan berkembang. Di saat kebudayaan ini berkembang tentu menjumpai adanya budaya baru dari luar budaya induknya. Hal tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mengakulturasi atau terjadinya proses percampuran budaya atau malah menjadi salah satu faktor untuk degradasi budaya (penurunan budaya).
Folklore merupakan salah satu wujud dari hasil kebudayaan. Hal tersebut dikarenakan Folklore juga mrupakan hasil cipta manusia yang kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya dengan metode yang berbeda-beda. Tentu sebagai hasil dari kebudayaan, folklore banyak yang mengalami asimilasi dengan budaya lain. Pada setiap suku bangsa pastilah memiliki hasil kebudayaan folklore yang berbeda-beda. Folklore dengan sendirinya dapat hidup di tengah-tengah masyarakat, yang mulanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menurut Prof. James Danandjaja folklore secara istilah merupakan pengindonesiaan dari kata Inggris folklore. Folklore terdiri dari dua kata dasar yaitu folk dan lore. Folk yaitu sekelompok orang atau masyarakat yang memiliki ciri pengenal fisik dan kebudayaan sendiri. Ciri pengenal itu bias berbentuk warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, pendidikan, dan agama.Hal itulah yang kemudian membedakan dengan masyarakat lain. Lore adalah tradisi yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Jika dilihat dari pengertian diatas maka studi folklore di Indonesia sangatlah luas. Sebagai contoh dilihat dari perbedaan ciri fisik di Indonesia dapat dikaji folklore orang berkulit hitam, coklat, putih asalkan harus berwarga Indonesia.
Prof. James memiliki pendapat mengenai perkembangan folklore di Indonesia. Menurut beliau folklore pertama dikenalkan oleh William John Thom seorang ilmuan dari Inggris. William John Thom mulai mengenalkan folkore pada majalah The Athenaeum. Tepatnya dimulai pada abag ke-19. Pada tahun-tahun tersebut penyebutan culture pada kebudayaan masih belum ada, oleh sebab itu masyarakat umum pada kala itu menyebut folklore sebagai kebudayaan.
Sedang di Indonesia, folklore belum lama mendapatkan porsi khusus untuk dikembangkan dalam ilmu pengetahuan. Namun, pada masa pemerintahan Belanda terdapat lembaga Panitia Kesusastraan Rakyat yang bertugas untuk mengumpulkan dan menerbitkan hasil kesusastraan tradisional yang terdapat di Indonesia. Pada perkembangan kesadaran sejarah di Indonesia, folklore juga berjalan beriringan. Meskipun menurut beberapa ahli dan metode penyusunan penulisan sejarah folklore bisa dibilang ahistoris, namun hasil folklore setidaknya dapat memberikan imajinasi zaman atau peristiwa di masa lampau. Seperti terlihat pada hasil tradisi besar hasil kesusatraan terdapat pada babad-babad, cerita rakyat, pepatah dan sebagainya.
Masyarakat di Indonesia lebih banyak untuk mewariskan kebudayaanya secara lisan/tradisi lisan. Tradisi lisan itu kemudian diwariskan secara turun temurun seperti dijelaskan diatas dengan semangat zaman yang berbeda-beda. Dengan sifat folklore terutama cerita rakyat yang cenderung belum bias diketahui kenyataanya (khayal), namun dengan pewarisan kebudayaan folklor ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah dapat memahami dan menjelaskan kondisi lingkungan zamannya.




Sumber:
Sumaryadi, Rumi Wiharsih. Modul Pembelajaran Kajian Folklor. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Bahasa dan Seni. Tersedia online http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/modul%20pembljrn%20folklor.pdf diakes pada Senin, 11 September 2017.




JEJAK KULINER NUSANTARA JAWA TIMUR

makanansehat.biz


                 Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan sejarah Indonesia sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh bangsa-bangsa luar. Pengaruh itu meliputi keragaman dari banyak hal seperti halnya sistem pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, sistem perekonomian, teknologi dan sebagainya. Namun juga terdapat suatu hal yang maenarik yaitu dengan adanya pengaruh dari pihak luar budaya tradisional bangsa Indonesia tidak tergantikan. Seperti halnya adat istiadat, norma, bahkan pada keragaman jenis makanan. Makanan sebagai suatu hasil dari kebudayaan manusia pertama-tama memiliki peran sebagai alat pemenuhan kebutuhan primer. Tidak hanya itu peran makanan dalam kehidupan manusia bahkan sampai pada ranah untuk kegunaan religuisitas. Hal itu tercermin dari kebudayaan Jawa yang banyak melakukan ritual-ritual adat dan makananpun menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan[1].
Keberadaan makanan tradisional itu pada umumnya tidak terlepas dari adat istiadat suatu masyarakat tertentu. Sehingga makanan tradisional dapat menjadi cerminan budaya suatu masyarakat[2]. Hal itu juga dikarenakan oleh kebiasaan  masyarakat turun-temurun, kesediaan bahan mentah, dan sumber daya teknologi yang berbeda. Sebagai contoh didaerah dekat pantai, ketersediaan bahan makanan disana adalah berupa ikan dan hasil laut, begitu pun daerah dataran tinggi yang banyak  menghasilkan komoditas bahan makanan berupa sayuran. Hal itulah yang kemudian menunjukkan suatu kebudayaan yang khas dari budaya lain. Misalnya pada salah satu bahan makanan pokok singkong di daerah Maluku atau Indonesia Timur singkong biasa digunakan seperti halnya nasi (beras) di daerah Jawa.
Ketersediaan bahan makanan itu juga akan menghasilkan beraneka makanan pula. Hal itu kemudian menciptakan suatu makanan khas dari suatu daerah itu. Seperti contohnya, di Surabaya terkenal dengan lontong balap, Malang dengan baksonya, Yogyakarta dengan gudegnya, dan Jakarta dengan ketopraknya. Seperti pada penjelasan diatas bahwa keanekaragaman makanan juga ditentukan oleh beberapa faktor selain ketersediaan bahan makanan juga karena faktor sosial dan geografis. Pada contoh diatas, makanan khas Jawa Timur khusunya kebanyakan berasa pedas, karena  dikarenakan beberapa daerah di Jawa Timur berbudaya dialek arek yang terkesan tegas dan berani serta karena bahan pemedas yang berlimpah. Begitupun di Yogyakarta atau Jawa Tengah yang kebanyakan masakannya berasa manis, yang dikarenakan budaya masyarakat mataraman yang halus dan sopan.
Makanan khas daerah di Indonesia juga banyak yang tidak bisa dilepaskan karena pengaruh penjajahan atau datangnya bangsa luar. Hal itu dulu dilakukan oleh bangsa luar karena alasan untuk mencari bahan makanan lokal di Indonesia. Oleh sebab itulah bangsa luar itu membawa budayanya ke dalam Indonesia. Terlihat sampai sekarang di beberapa daerah khusunya yang dulu menjadi kota pelabuhan atau kota strategis masih banyak ditemui makanan yang berasal dari bangsa luar, seperti Tiongkok (chinesee food), India, dan Arab (arabian food).  Hal itu semakin kompleks saat bangsa Eropa mulai menanamkan pengaruhnya di Indonesia sejak adab ke-16 sampai abad ke-18. Kemudian masuknya bangsa Eropa itu juga membawa berbagai jenis bahan makanan baru. Dalam kurun waktu ini jugalah yang menjadi penentu bagi perkembangan serta pembentukan berbagai jenis makanan di Indonesia pada abad setelahnya (abad ke-19 hingga masa kemerdekaan). Hingga pada tahun 1950-1967an saat itu pemerintah Indonesia mulai mengencarkan program-program mengenai makanan sehat untuk masyarakat luas. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan membuat buku ilmu-ilmu makanan. Salah satu buku itu adalah Mustika Rasa yang berisi mengenai konsep-konsep dasar dan utama tentang makanan Indonesia. Hal itu dibuat pemerintah juga untuk menumbuhkan identitas bangsa. Banyak sekali resep-resep masakan yang ada di buku ini, seperti resep “lawas”, resep lokal, hingga resep baru dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun juga berbagai jenis makanan di Jawa Timur itu dipengaruhi oleh adanya orang-orang luar Jawa Timur yang bermigrasi kemudian menetap di Jawa Timur, ataupun karena adanya pengaruh dari wilayah di sekitarnya. Seperti makanan di Surabaya yang masih banyak terpengaruh oleh masakan Madura. Sebagai penghasil garam terbesar sehingga rasa asin mempengaruhi masakan di Surabaya. Juga di Surabaya jenis makanannya kebanyakan berdasar petis, seperti rujak cingur, semanggi, lontong kupang, dan tahu campur[3].

Fungsi makanan di Jawa Timur sama seperti makanan di daerah lain di Indonesia. Ada yang merupakan makanan pokok, makanan jajanan, dan makanan upacara / ritual. Makanan pokok di Jawa Timur sama seperri mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu beras (nasi), hal itu juga dikarenakan masih banyaknya ladang padi di Jawa Timur, meskipun biasanya juga dikombinasi dengan jagung atau singkong. Dapat dikatakan bahwa makanan pokok itu merupakan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan fisik (tubuh) agar seseorang dapat terpenuhi gizi tubuh dan agar tetap hidup dan sehat. Sedangkan makanan jajanan bisa dikatakan sebagai selingan makanan pokok. Makanan jajanan biasa juga disebut dengan jajanan camilan atau jajanan pasar. Di Jawa Timur khusunya, masih banyak ditemui makanan jajanan di pasar tradisional maupun di kios-kios. Meskipun sudah dikemas secara modern namun itu tidak menyebabkan rasanya berbeda. Biasanya dalam pembuatan makanan jajanan, resepnya adalah turun-temurun dari keluarga sebelumnya. Kebanyakan makanan jajanan ini juga dijadikan sebagai komoditas oleh-oleh khas suatu daerah, misalnya di Bojonegoro terkenal dengan ledre, Lamongan (Babat) dengan wingkonya, Madiun dengan brem nya, dan Batu dengan keripik buahnya. Kebanyakan juga makanan jajanan tradisional itu wujudnya kue kering, kue basah (jajanan pasar), dan gorengan. Wujud-wujud makanan ini banyak dijumpai di hampir seluruh daerah di Jawa Timur.
Makanan untuk upacara sesuai dengan namanya biasanya digunakan sebagai pemenuhan atau penyajian saat ritual-ritual tertentu.  Selain itu makanan upacara juga sarat akan nilai-nilai filosofis baik dalam penamaan , bahan baku, maupun bentuk fisik dari makanan itu sendiri. Jika ingin membuat makanan upacara biasanya bahan bakunya cukup mudah ditemukan dan dibuat secara tradisional sesuai tata adat secara turun temurun.
Eksistensi berbagai jenis makanan itu tidak terlepas dari adanya restoran, kios, atau warung makan atau rumah makan. Kini restoran atau rumah makan bervariasi, mulai dari variasi harga, makanannya sendiri, dan juga “golongan” masyarakat penikmat makanan itu sendiri. Mulai dari golongan atas yang kebanyakan menyukai makan di restoran atau fastfood hingga golongan menengah yang lebih suka makan di rumah makan atau depot makan. Salah satu jenis restoran adalah restoran tradisional, yang mana restoran ini mulai dari sistem pelayanan hingga desain ruangannya menggunakan gaya tradisional. Kebanyakan restoran tradisional ini menyediakan makanan tertentu, seperti makanan tradisional khas Jawa Timur[4].  Restoran tradisional ini juga biasanya membawakan kesan nostalgia kepada penikmat makanan terkait dengan makanan yang ditawarkan.
Sebagai kota ikonik di Jawa Timur, di Surabaya dalam perkembangan kotanya sudah mampu memebrikan warna pada kuliner di Jawa Timur. Hal ini ditandai dengan banyaknya masakan yang dibawa orang-orang luar Surabaya yang kemudian bermukim disana. Tak heran karena terdapat etnis Tionghoa di Surabaya juga banyak makanan yang beberbau chinesee food. Kini dalam perkembangannya Surabaya juga dapat mempromosikan beragamnya makanan khas Jawa Timur. Cara itu sudah dilakukan khusunya oleh pemerintah Surabaya ataupun Jawa Timur dengan menggelar acara khusus hingga umum.



           

           


DAFTAR PUSTAKA
Brahmana Ritzky K.M.R.,2015, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
Sabana ,Setiawan, 2017, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ),  ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
Susanto,Rizky Alim, 2015, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015).
Adrianto, Ambar,  2014, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).



[1] Ambar Adrianto, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), hlm. 12, ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).
[2] Setiawan Sabana, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ), hlm 10. ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
[3] Ritzky K.M.R. Brahmana, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), hlm. 113, ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
[4] Rizky Alim Susanto, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), hlm. 16, (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015)

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...