Senin, 04 Februari 2019

KONFUSIANISME DALAM MASYARAKAT ZAMAN EDO DI JEPANG

www.japan-guide.com


  
        Asia Timur terdiri dari negara-negara yang telah dikenal memiliki peranan penting dalam sejarah dunia. Hal ini terlihat dari sikap Jepang dan Tiongkok yang memiliki posisi strategis dalam Perang Dingin ataupun Perang Pasifik. Begitu pula negara di kawasan Asia Timur, seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan juga merupakan negara kuat di bidang ekonomi dan teknologi. Seperti yang telah diketahui bahwa kini Tiongkok merupakan salah satu penguasa ekspor dunia. Jepang dan Korea juga kini merupakan negara penghasil teknologi modern. Keberhasilan negera-negara tersebut tentu tidak terlepas dari adanya ajaran atau kepercayaan yang ada sebagai pedoman hidup. Mulai dari kepercayaan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun maupun kepercayaan yang terus bermunculan seiring perkembangan zaman dan juga adanya kepercayaan dari luar negara, seperti ajaran Konfusianisme, Buddhisme, Taoisme, dan Shinto[1]. Di Jepang sistem kepercayaan yang kebanyakan diketahui masyarakat luas adalah Shinto dan Buddha, namun dikarenakan penyebaran ajaran Konfusianisme dari Tiongkok, Jepang pun mulai menerapkan ajaran tersebut.
         Pada hakikatnya ajaran Konfusianisme tersebut menitik beratkan pada budaya tradisional Tiongkok sebagaimana memahami ilmu dalam berperilaku bijaksana sebagai manusia. Ajaran ini pertama kali diajarkan oleh Master Kong atau yang dikenal dengan Khong Fu Tzu (Konfusius nama latin yang diberikan orang Eropa). Konfusius tinggal di Negara Bagian Lu dan merupakan keturunan seorang pejabat pemerintahan. Ia lahir pada 551 SM dan hidup pada masa Dinasti Zhou sedang mengalami kemerosotan. Pada usia ke 15 tahun, Ia mulai bertekad untuk memberikan keadilan bagi setiap orang dan memutuskan menikah pada usia 19 tahun dengan Chi Kuan. Konfusius meninggal pada tahun 479 SM dan dimakamkan di Chu Fu.
         Pertengahan abad ke 3 SM hingga 3 M ajaran Konfusianisme ini mengalami perkembangan yang pesat di Tiongkok sendiri, bahkan sampai menjadi ideologi dasar kaisar Tiongkok[2]. Sebenarnya masih banyak buah pikir ajaran-ajaran dari pemikir Tiongkok yang dapat berkembang dengan pesat dan tidak hanya berada di negara asalnya namun juga dapat berkembang di berbagai penjuru dunia, seperti Lao-Tzu dengan ajaran Taoismenya.
         Konfusius sendiri lah yang menjadi tokoh utama dalam penyebaran ajaran Konfusianisme. Ajaran itu kemudian ia tulis dalam buku kumpulan kata-kata bijaknya. Setelah Konfusius wafat kemudian muncul banyak orang yang mempelajari dan mendalami ajarannya. Beberapa dari Konfusian ini ada yang menyempurnakan ada pula yang memiliki tafsiran yang berbeda. Konfusianisme memiliki perbedaan dengan filsafat Barat yang mana dalam pemikirannya memisahkan dari yang ideal dengan yang nyata. Konfusianisme hadir untuk menghubungkan keduanya. Konfusianisme hadir bahwa bentuk suatu obyek nyata di dunia ini terkait erat dan diciptakan oleh bentuknya sendiri.
         Dalam kepercayaan masyarakat Jepang dulu dan kini, jika dapat disimpulkan Jepang merupakan negara sekuler. Hal tersebut terlihat dari data-data pemerintah yang mengenai data kependudukan, identitas agama tidak dicantumkan bahkan tidak pernah ditanyakan[3]. Bahkan agama hanya diajarkan dalam ilmu sejarah saja tidak dalam pelajaran-pelajaran di kurikulum sekolah. Di tahun 1963 pernah dilakukan survey mengenai minat agama kepada orang Jepang. Hasilnya menunjukan bahwa 69% orang Jepang mengaku tidak menyukai agama. Prof. Ruth Benedict dalam Ajip Rosidi, mengatakan bahwa sebagai sikap hidup orang Jepang yang tidak mampu mempunyai rasa berdosa, melainkan hanya rasa malu. Rasa Berdosa tersebut timbul apabila seseorang percaya kepada Tuhan atau kekuasaan Yang Maha Tinggi yang menetapkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Melenggar hal itu membuat seorang menjadi berdosa. Sementara itu orang Jepang tidak mengenal konsep kekuasaan Yang Maha Tinggi. Istilah Tuhan atau Dewa menurut orang Jepang bukanhlah hal yang bersifat keTuhanan, karena jumlah kami ( Tuhan / Dewa dalam penyebutan Jepang) dapat saja bertambah dengan manusia yang memiliki prestasi lebih[4].
         Kebudayaan Jepang pada dasarnya memiliki unsur-unsur yang sama dengan kebudayaan pada umumnya. Budaya Jepang kini merupakan hasil dari pertahanan Jepang dalam emepertahankan budaya nenek moyangnya, namun juga terdapat pengaruh kebudayaan dari bangsa lain. Jepang mendapatkan pengaruh yang besar dari negara yang berada di kawasan yang sama yaitu di Asia Timur, seperti Tiongkok dan Korea. Jika melihat dari sejarahnya Jepang menerima budaya dari luar negeri secara berbeda. Hal itu dilakukan Jepang dengan tidak hanya menerima apa adanya dari luar, namun menerima secara terlebih dahulu menyesuaikan dengan budyadan tradisi Jepang serta mengubahnya [5]. Budaya dari Tiongkok sudah masuk ke Jepang mulai pada abad ke V pada kekekaisaran Yamato, budaya tersebut misalnya huruf kanji, ajaran Buddha, dan ajaran Konfusianisme. Dalam perkembangannya konfusianisme di Jepang mulai berkembang saat Restorasi Meiji. Peristiwa itu ditandai dengan runtuhnya pemerintahan feodal Edo yang mengisolasi negara dan dimulainya pemerintahan Meiji yang baru dan memungkinkan pengaruh dari luar untuk masuk ke Jepang[6]. Pada saat pemerintahan Meiji tersebut peran para pengikut konfusianisme dilibatkan dalam berbagai proses penentuan kebijakan.
            Di dalam perkembangan kehidupan masyarakat hingga masa kontemporer ini, tidak dapat dihindarkan bahwa ajaran Konfusianisme masih menjadi landasan hidup dalam tatanan sosial masyarakat maupun struktur politik masyarakat di kawasan Asia Timur, khusunya Jepang. Meskipun demikian pengaruh luar maupun dari tradisi dalam negeri juga dapat berpengaruh dalam posisi Konfusianisme. Akan tetapi, perkembangan dan penerapan Konfusianisme dalam ranah sosial masyarakat di Jepang tentu memiliki perbedaan karena terdapat perkembangan pemikiran lain yang terpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan yang berbeda pula. Hal tersebut tercermin dalam sejarah Jepang pada zaman Yamato  ( 230 -710 M ) dibuat undang-undang yang banyak dipenggaruhi oleh ajaran Konfusianisme juga Buddhisme[7].


KONFUSIANISME PADA ZAMAN EDO DAN PENGARUHNYA DALAM MASYARAKAT EDO.
         Pada tahun 1603 menjadi awal dari pemerintahan periode Edo. Pemerintahan ini dibentuk oleh Tokugawa Ieyasu yang sebelumnya diangkat sebagai Shogun. Pemerintahan ini terpusat di Edo ( Tokyo ), namun Kaisar tetap berada di Kyoto. Tokugawa Ieyasu ini memerintah selama beratus-ratus tahun ( 1603-1866)  dan menyebut pemerintahanya sebagai “pemerintahan periode Edo”[8]. Kemenangan Ieyasu atas pasukan Barat Toyotomi Hideyori pada Pertempuran Sekigahara (1600) memberinya kendali sesungguhnya atas Jepang. Pada zaman ini di Jepang terjadi pengisolasian negara dari luar maupun dalam sehingga perdagangan dan proses pertukaran tertutup dengan ketat. Hal tersebut juga tidak ditambah dengan upaya untuk berkesempatan bertukar budaya dengan negara luar. Di tahun 1633 sebagai shogun ketiga, Tokugaya Iemetsu membuat kebijakan untuk melarang orang Jepang berpergian ke luar Jepang. Berlanjut pada tahun 1639, di Jepang mulai menerapkan politik isolasi dengan tujuan untuk tidak berhubungan dengan dunia luar, namun hanya kebebasan yang sangat ketat kepada pedagang Tiongkok dan Belanda di Nagasaki. Di masa keshogunan Tokugawa inilah ajaran Konfusianisme mulai berkembang dimana ajaran ini menekankan pada pentingnya moral, pendidikan, dan hierarki dalam kelas-kelas sosial[9].
         Pada masa pemerintahan Edo, di Jepang terdapat empat kelas masyarakat yang dinamakan “Shinoukoushou.Shi” adalah bushi atau samurai, “Nou” adalah noumin atau petani ,”Kou” adalah shokunin atau tukang / pengrajin, dan “Shou” atau shounin adalah pedagang. Dengan urutan kelas ini kelasnya semakin rendah. Bushi atau samurai adalah kelas paling atas, meskipun tidak banyak memiliki kekayaan ( uang ) namun samurai sangat dihormati masyarakat. Petani bekerja sebagai pembuat makanan. Tukang / pengrajin bekerja untuk membuat barang-barang. Posisi samurai berada dipaling atas tidak dikarenakan bahwa samurai memiliki kemampuan perang yang baik, namun dikarenakan bahwa samurai memiliki etika yang tinggi dibanding yang lain. Semangat itu yang kemudian dikenal sebagai bushido , yakni etika yang mengajarkan perilah melayani tuannya, mementingkan kehormatan, memperhatikan tata krama, tidak pengecut, jujur, dan tulus.
         Ajaran tradisional Jepang seperti bushido tersebut tidak lepas karena pengaruh kuat pola pikir Konfusianisme. Bagi orang Jepang tradisional, perihal kesetiaan atau loyatias merupakan hal terpenting yang harus tertanam untuk diabdikan kepada majikan / tuannya. Ajaran moral Konfusianisme seperti kesetiaan meupakan ajaran yang penting. Selain itu, bakti juga salah satu ajaran Konfusianisme yang penting dan berjalan berdamping dengan kesetiaan. Bakti di dalam ajaran Konfusianisme berarti perihal mematuhi orang tua, menjaga dengan baik orang tua, dan mau melakukan sepenuh hati untuk orang tua. Memang terdapat waktu saat kesetiaan dan bakti sulit untuk berjalan beriringan karena harus memilih untuk mendahulukan orang tua atau majikan. Hanya di Jepang yang mana ajaran Konfusianisme ini dititik beratkan pada kesetiaan, berbeda dengan negara Konfusianisme lain seperti Tiongkok dan Korea yang lebih menitik beratkan pada bakti[10]. Konfusianisme pada umumnya memiliki ajaran seperti diatas dan melihat pada ajaran prinsip-prinsip seperti xiao (bakti), li (ritual), yi (kebenaran/keadilan), zhong (loyalitas).
         Pada zaman Edo terdapat beberapa jenis pendidikan yang berkembang dan memberi tekanan pada elemen nasionalisme yang dilandasi dengan ajaran Konfusianisme dan Shintoisme[11]. Pendidikan sendiri merupakan aspek yang sangat penting untuk perkembangan perihal pengetahuan dan moral masyarakat yang lebih beradab. Pada zaman ini berkembanganya pendidikan memperlihatkan bahwa masyarakat menganggap bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Terlebih terdapat pendidikan sesuai dengan kelas dan peranan masing-masing kelas seperti diatas untuk menjalani perannya di dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian utama Tokugawa dalam memberikan pendidikan adalah pada kelas paling atas yaitu samurai. Pada awalnya pengajar adalah dari kalangan pendeta dari kuil-kuil Buddha, namun pada zaman Edo ini mulai tergantikan dengan cendikiawan Konfusianisme sebagai pendidik didalam sekolah mereka yang kebanyakan berada didalam kastil. Sedangkan dalam masyarakat feodal, pendidikan diberikan antara lain ajaran kebajikan dan dengan melatih keterampilan yang akan diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan sesuai dengan peran dan kelas mereka.
         Pusat pendidikan untuk rakyat biasa disebut  kyoyujo yang memang dikembangkan untuk masyarakat kelas kecil[12]. Kurikulum yang diajarkan pun dimulai dengan kaligrafi dimana murid mencoba mempraktekkan dengan mencontoh pengajar. Sebutan sekolah untuk rakyat biasa pada zaman Edo disebut sebagai terakoya. Di sekolah itulah rakyat biasa menggantungkan pendidikan formalnya untuk belajar membaca dan menulis. Terakoya mulai ada menjelang periode pertengahan zaman Edo dan mendapat fasilitas yang didirikan di kuil Buddha. Sekolah ini kemudian mulai meningkat dan pada akhir zaman Edo sekolah ini menjadi umum dan berada di kota-kota besar seperti di Edo dan Osaka. Sebelumnya sekolah ini bisa ditemukan di pesisir pantai terpencil dan di daerah pegunungan. Penggunaan sempoa dan kaligrafi pada zaman Edo mendapat posisi yang penting dalam perekonomian pedagang, terlebih pada masa akhir zaman Edo kemampuan menghitung dengan sempoa tersebar luas. Perempuan utamanya dalam usia anak-anak pada zaman ini tidak menerima pendidikan tingkat tinggi yang dibuat untuk anak laki-laki. Anak perempuan hanya diajarkan di dalam berbagi urusan rumah tangga dan ajaran beretika di dalam rumah. Sebagian anak perempuan dari samurai mendapat ilmu kesenian dan literatur klasik hanya sebagai tambahan dari pelajaran kaligrafi dan membaca, tapi secara umum seperti diatas pendidikan untuk perempuan pada zaman Edo hanya diperuntukan untuk menjadi Ibu dan Istri yang tidak melanggar etika dan berperilaku baik.
         Pemerintah saat itu kemudian memberikan dukungan terkait studi akademis mengenai karya Tiongkok klasik, khusunya pada Konfusianisme. Selanjutnya banyak tokoh Konfusian yang dizinkan untuk mendirikan sekolah yang mempelajari kebudayaan Tiongkok atau yang disebut dengan kangakujuku. Dalam perkembangannya sekolah ini tumbuh dengan pesat sepanjang zaman Edo.
         Selanjutnya pada zaman Edo perkembangan ajaran Konfusianisme memiliki banyak perspektif atau alkran baru dari Konfusianisme. Seperti Neo-Konfusianisme / Konfusianisme baru, aliran Chu Hsi / shushigaku, kogaku, kokugaku / pengetahuan Nasional. Kokugaku merupakan aliran yang hanya sedikit mendapat pengaruh Konfusianisme, sebagian besar tidak memakai ajaran lama dan murni mempelajari budaya Jepang. Beberapa cendekiawan Neo-Konfusianisme yang cukup terkenal zaman itu antara lain Fujiwara Seika, Hayazi Razan, Yamazaki Ansai. Hayazi Razan lahir pada tahun 1583 di Kyoto, ia memulai mempelajari mengenai Cina pada usia belasan tahun dan kemudian pergi ke Fujiwara Seika seorang Konfusian tidak resmi Tokugawa Ieyasu. Dia kemudian direkomdasikan untuk melayani Tokugawa Ieyasu sebgai guru pribadi shogun atau bisa dibilang sebgai penasihat resminya. Selanjutnya Hayazi Razan melanjutkan perjuangan Neo-Konfusianisme dan menemukan persamaan alami ajaran Shinto dengan Neo-Konfusianisme yaitu aliran Chu Hsi. Perjuangan Konfusianisnya kemudian dilanjutkan dengan keturunannya. Razan banyak mengajarkan tentang Konfusianisme ( Neo-Konfusianisme ) aliran Chu Hsi. Dia juga kemudian banyak menyebarkan tentang etika bagi samurai.
         Sepanjang zaman Edo ajaran Konfusianisem dipelajari awalnya hanya oleh kalangan atas, khusunya samurai atau bushi. Karena perihal tersebut yang menjadi faktor mengapa keshogunan Tokugawa dapat bertahan hingga berabad-abad. Konfusianisme pada zaman itu juga menekankan pada hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan dengan keliama kebijakan / gojo. Seperti ajaran seorang penguasa yang tidak seharusnya memerintah dengan seenaknua tetapi awalnya harus mengedepankan kebaikan moralnya agar rakyat yang dipimpinnya juga baik secara moral. Namun, terdapat kerugian pula yang diakibatkan oleh faktor ekonomi, masyarakat kelas bawah diperintahkan untuk membayar pajak yang tinggi pada pemerintah. Konfusianisme di zaman Edo juga sedikit menyeleweng dari ajaran Konfusius yang mengajarkan pentingnya sseorang menduduki jabatan tertentu atas prestasi dan jasanya, namun yang terjadi adalah pemeberian jabatan dan jabatan turun-temurun. Ajaran Konfusianisme pada zaman Edo yang masih terasa adalah kebudayaan sempai-kohai yang mengajarkan dari lima hubungan dasar manusia, yaitu antara antasan dan bawahan, suami dan istri, ayah dan anak, kakak dan adik, serta sesama teman. Perasaan kesetiaan orang Jepang pada keluarga atau perusahaan tempat bekerja, dan kesetiaan pada negara adalah salah satu warisan Konfusianisme.





DAFTAR PUSTAKA
__________ , 2008, Tersedia https://plato.stanford.edu/entries/japanese-confucian/ diakses pada Kamis, 5 Januari 2017.
Chamberlain, Basis Hall. Things Japanese : Being Notes on Various Subjects Connected with Japan. Cambridge University Press.
Febriani, Arni. 2013. Reformasi Shito Pada Masa Tokugawa ( 1603-1868).Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia http://repository.upi.edu/3211/4/S_SEJ_0800135_Chapter1.pdf diakses pada Rabu, 4 Januari 2017.
Hutabarat, Melda. 2007. Tokugawa dan Konfusianisme. Universitas Sumatera Utara. Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
Irsan, Abdul. 2007. Budaya dan Perilaku Jepang di Asia. Jakarta Selatan : Grafindo Khazanah ilmu.
Mauilidiyah, Najiyah Rizqi. 2014.  Konfusianisme di Asia Timur dan Pengaruhnya terhadap Krisis di Asia Timur Tahun 1997 . Universitas Airlangga. Tersedia, http://najiyah-rizqi-maulidiyah-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-93481-MASYARAKAT%20BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Konfusianisme%20di%20Asia%20Timur%20dan%20Pengaruhnya%20terhadap%20Krisis%20%20di%20Asia%20Timur%20Tahun%201997.html diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
Rosidi, Ajip. 1981. Mengenal Jepang. Jakarta : PT DUNIA PUSTAKA JAYA.
Shindo, Yusuke. 2015. Mengenal Jepang. Jakarta : Kompas.


[1] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 6 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
[2] Najiyah Rizqi Mauilidiyah. Konfusianisme di Asia Timur dan Pengaruhnya terhadap Krisis di Asia Timur Tahun 1997 . 2014. Tersedia, http://najiyah-rizqi-maulidiyah-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-93481-MASYARAKAT%20BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Konfusianisme%20di%20Asia%20Timur%20dan%20Pengaruhnya%20terhadap%20Krisis%20%20di%20Asia%20Timur%20Tahun%201997.html  diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
[3] Arni Febriani. Reformasi Shito Pada Masa Tokugawa ( 1603-1868). 2013. Hlm 1. Tersedia http://repository.upi.edu/3211/4/S_SEJ_0800135_Chapter1.pdf diakses pada Rabu, 4 Januari 2017.
[4] Ajip Rosidi. Mengenal Jepang. 1981. Hlm 80-82.
[5] Yusuke Shindo. Mengenal Jepang. 2015. Hlm 3.
[6] Ibid. Hlm 12.
[7] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 8 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017
[8] Abdul Irsan. Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia.  2007. Hlm 18.
[9] Ibid.
[10] Yusuke Shindo. Mengenal Jepang. 2015. Hlm 131-139.
[11] Abdul Irsan. Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia. 2007. Hlm 19.
[12] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 71 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf  , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.

PERAN WANITA DI ASIA TENGGARA : PEREMPUAN-PEREMPUAN DALAM PERANG VIETNAM

www.thirteen.org


            Dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan tercatatat dalam historiografi sejarah. Terlihat bahwa sejarah hanya menuliskan peran kaum laki-laki. Di dalam kehidupan, sejak dahulu wanita diposisikan di bawah status laki-laki. Hal tersebut memiliki dampak yang luas dalam tatanan hidup masyarakat. Pada zaman jahiliah di kawasan Arab misalnya, kaum wanita tidak berharga di mata laki-laki, bahkan wanita dianggap sama dengan binatang atau wanita itu berambut panjang, tetapi berpikir pendek[1]. Masih banyak perkataan lain yang intinya adalah merendahkan derajat wanita. Begitu pun pada pola kehidupan sosial saat dulu wanita hanya sebagai pelengkap untuk kepentingan dan kebutuhan para lelaki. Akibatnya, ruang gerak wanita dibatasi dan hanya di ranah domestik atau lokal saja. Adanya anggapan di atas kemudian menyebabkan pula berbagai tindakan yang semena-mena terhadap kaum wanita, seperti kekarasan, penindasan, pelecehan seksual, dan sebagainya[2].
             Tekanan yang dihadapi kaum wanita hampir dirasakan di seluruh kawasan di dunia. Di India, Tiongkok, Arab, dan Perancis, wanita atau seorang istri yang melahirkan seorang anak perempuan akan dibunuh. Salah satu faktor hal itu terjadi adalah belum adanya peraturan atau hukum dan juga belum adanya pemahaman umat-umat saat itu terhadap tafsiran ajaran agama. Sejak itulah wanita mulai berjuang untuk menuntut kebebasan dan haknya agar setara dengan kaum lelaki. Dalam perjuangan ini, wanita tidak putus asa. Mereka yang sudah tiada digantikan oleh pejuang baru[3]. Gerakan penyadaran terhadap kesetaraan gender mulai digiatkan melalu interpretasi kembali terhadap pemahaman ajaran agama yang berspektif gender.
           
            Di wilayah yang berjumlah sebelas negara dan memiliki keragaman budaya dan bahasa yang besar, kawasan Asia Tenggara memiliki posisi yang relatif menguntungkan kaum wanita. Dibandingkan dengan wanita di Asia Timur dan Selatan, wanita di Asia Tenggara memiliki keuntungan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah aspek budaya tradisi (menghormati wanita); tidak ada pembebanan pada faktor kemewahan, utamanya dalam tradisi pernikahan (prosesi mahar); jika telah menikah akan sering tinggal bersama atau dekat dengan orangtua; wanita memiliki peran penting dalam pembagian ritual adat; mereka juga berperan penting dalam pertanian dan mendominasi di dalam pasar lokal[4].
Jauh sebelum itu, pengaruh wanita di Asia Tenggara pada sekitar abad XV-XVI memiliki perbedaan utama dalam hal peranan dan memiliki otonomi yang lebih dalam hal sosial-ekonomi, meskipun batas-batas bidang pekerjaan laki-laki dan wanita masih tampak jelas. Bidang kaum wanita mencakup penyemaian benih, penuaian, penanaman sayuran, penenunan, pembuatan pot, berbelanja di pasar, dan melakukan upacara-upacara menyangkut leluhur, serta sebagai perantara dengan alam roh[5].
            Pada abad XIX, Asia Tenggara memiliki sumber ekonomi dan secara geografis memiliki posisi yang strategis antara India dan Cina. Kedua hal tersebut menyebabkan keterlibatan Eropa. Di akhir abad XIX atau sebelumnya, seluruh wilayah di Asia Tenggara telah dibawah kendali Eropa, kecuali di Thailand. Di beberapa wilayah, kaum wanita banyak direkrut sebagai buruh atau tenaga kerja yang diupah murah dan dipekerjakan di perkebunan, seperti teh, gula, tembakau, dan pabrik pengolahan. Pada awal tahun 1900-an, masih banyak juga wanita yang bekerja dalam pelayanan domestik, seperti pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Pekerjaan yang demikian dinilai oleh wanita sebagai pekerjaan yang aman dan tidak menimbulkan presepsi yang buruk karena dikerjakan di dalam rumah. Selain itu jam kerja juga tidak terlalu banyak dan berbeda dengan wanita pekerja di pabrik yang bekerja dari pagi hingga malam hari[6].
            Penguasaan Kolonial di Asia Tenggara juga merubah tatanan kehidupan di dalam masyarakat, begitu pula posisi dan peran wanita. Seperti dalam tingkatan desa, pemerintahan kolonial memperkuat posisi kaum laki-laki sebagai kepala keluarga dan terdapat reformasi di dalam hukum adat yang memberikan otonomi yang cukup kepada wanita. Diberbagai wilayah hukum-hukum keluarga juga diperkuat dengan hukum patrilineal. Hal tersebut juga semakin mendorong untuk lebih memilih anak laki-laki dari pada anak perempuan. Meskipun demikian, wanita masih banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, bahkan juga menjadi seorang tokoh pergerakan untuk memberontak pemerintah kolonial. Begitupun peningkatan angka melek huruf (terutama di Filipina) dan adanya penyebaran paham feminisme sehingga mendorong wanita untuk menghadapi permasalahan ketidaksetaraan gender dengan kaum lelaki.
            Di akhir abad ke-XIX gerakan nasionalis dan pemberontakan kepada penjajah berkembang di seluruh Asia Tenggara. Dalam hal ini tokoh laki-laki memiliki fokus yang lebih utamanya dalam politik dan kemerdekaan. Meskipun demikian, keterlibatan aktif wanita dalam gerakan anti-kolonial dan juga sebagai tokoh pejuang akan tetapi sering dipandang hanya sebagai pembantu bukan mitra[7]. Sikap seperti itu juga masih terlihat dalam gerakan kemerdekaan setelah kekalahan Jepang di Perang Asia Pasifik yang menduduki sebagian besar Asia Tenggara diantara tahun 1942 dan 1945.
            Pada akhir Perang Dunia ke II kolonialisme Eropa di Asia Tenggara mulai runtuh. Disebabkan hal tersebut negara-negara yang menyatakan kemerdekaannya kemudian berkomitmen ke depan untuk kesetaraan gender. Dalam perkembangannya wanita Asia tenggara yang berperan secara langsunng dan memiliki jabatan politik meningkat, terutama dalam pemerintah daerah, namun hanya di Filipina yang memiliki representasi perempuan yang berperan di pemerintah nasional yang meningkat. Saat wanita berhasil menduduki jabatan dan memasuki arena politik maka mereka akan menemukan budaya dominasi dan pengaruh laki-laki. Beberapa individu wanita telah mencapai jabatan politik tertinggi pada abad ke XX di kawasan Asia Tenggara mengalami kemajuan. Hal itu juga dikarenakan terdapat wanita yang berpengaruh dan kemudian menjadi tokoh penting di negara yang  dipimpinnya. Seperti Aung San Suu Kyi (lahir 1945) seorang aktivis politik di Myanmar dan menjadi pemenang Nobel Perdamaian di tahun 1991, Corazon Aquino sebagai seorang tokoh politik dan pemimpin wanita dari Filipina saat krisis politik melawan tokoh oposisi Ferdinand Marcos[8]. Begitupun pergerakan kaum wanita Indonesia yang tidak ketinggalan dalam memenuhi kewajibannya untuk ikut memperkuat kemerdekaan tanah airnya. Beberapa tokoh wanita Indonesia yang ikut andil peran dalam memperjuangkan kemerdekaan sering didengar dan sering ditulis dalam buku-buku sejarah seperti R.A. Kartini, Tjut Nja Din, Dewi Sartika, dan lain sebagainya. Jika diilihat lebih dalam lagi para pemimpin wanita tersebut kebanyakan besar adalah terlahir dari keluarga elite politik atau memiliki peran besar sebelumnya. Kesempatan untuk berperan dan tampil didepan publik juga akan lebih banyak dimiliki oleh kalangan menengah atas karena akses pendidikan yang lebih tinggi dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan wanita dari kalangan bawah.
            Peranan atau partisipasi wanita di Asia Tenggara utamanya dalam hal berpolitik tidak jauh berbeda dari yang terjadi di Asia Selatan. Diantaranya yaitu masih adanya pemikiran stereotip gender, mitos yang berkaitan dengan sosial budaya, bahkan ajaran agama. Misalnya, umat Buddha yang masih percaya jika kelahiran seorang wanita menunjukan bahwa ada hutang/jasa yang harus dibayar dalam kehidupan masa lampau. Walaupun negera-negara Asia Tenggara telah membuat kemajuan untuk mempromosikan kesetaraan gender, namun terutama di Vietnam dengan budaya warisan Konfusius yang masih kuat[9].
            WANITA “MILITER” DALAM PERANG VIETNAM.  
            Peran wanita seperti dipaparkan diatas hanya sedikit dituliskan dalam sejarah begitupun perannya kebanyakan dalam kegiatan perekonomian dan kaum pekerja (buruh). Pada abad ke XX barulah peran wanita mulai tampak kepublik yaitu dengan menjadi jabatan tertinggi di dalam kancah politik. Pada tahun 1950-an saat di beberapa negara di Asia tenggara telah menyatakan kemerdekaanya, di Vietnam terjadi perang dan berlangsung cukup lama yang dikenal dengan Perang Vietnam atau Prang Indocina kedua. Perang Vietnam terjadi setelah terjadi kesepakatan dalam Persetujuan Jenewa pada tanggal 21 Juli 1954, yang hasilnya membagi Vietnam menjadi dua bagian. Vietnam bagian utara menamakan diri sebagai Republik Demokrasi Vietnam dengan ideologi komunis, sedangkan Vietnam Selatan menamakan diri dengan Republik Vietnam yang berideologi nasionalis. Setelah perjanjian tersebut kemudian diadakan pemilihan raya / pemilihan umum yang bertujuan untuk menyatukan kembali kedua wilayah tersebut. Pihak Vietnam Selatan berkeberatan dengan alasan bahwa pemilihan umum secara bebas tidak mungkin dilaksanakan selama Vietnam Utara dibawah kekuasaan komunis[10].
            Persetujuan Jenewa kemudian melahirkan dua pihak Vietnam yang saling bertentangan. Pertentangan tersebut akhirnya memeuncak pada perang saudara. Masing-masing belah pihak dengan ideologi yang berbeda kemudian dibantu oleh negara yang berideologi sama. Vietnam Utara yang berideologi komunis mendapatkan bantuan militer baik tenaga maupu peralatan oleh Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina dan Vietnam Selatan mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat.
Kedua kubu tersebut diatas kemudian melahirkan adanya Gerakan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan ( FPNVS )[11]. Gerakan tersebut bertujuan untuk melawan rezim yang dikuasai oleh Amerika Serikat untuk menerapkan tujuan dari ideologi bebasnya. Perselisihan tersebut mendesak Amerika Serikat untuk berhadapan dengan pasukan dari Vietnam Utara yang dipimpin oleh Ho Chi Minh dan pasukan Viet Kong di Vietnam Selatan. Pada akhir perang ini diselenggarakan perjanjian di Paris pada thun 1973 yang berisi bahwa Amerika menyerah tanpa syarat kepada Vietnam dan Ho Chi Minh berhasil menguasai Vietnam.

Didalam perang ini tentu terdapat peran wanita dari pihak Vietnam utamanya. Peran wanita Amerika juga terlihat, bahkan hampir ribuan wanita yang turut andil ikut dalam perang ini dan kebanyakan berprofesi sebagai perawat dan jurnalis perang. Dalam hal ini wanita Vietnam mengambil peran besar dan aktif terlibat langsung dalam perang. Hal tersebut sejatinya melanggar ajaran Konfusius yang masih melekat di kehidupan masyarakat Vietnam. Dimana wanita Vietnam sejatinya harus menjaga kesucian dan menguasai keahlian tertentu seperti memasak serta menjahit. Namun dogma-dogma tersebut harus berbenturan dengan kondisi nyata di Vietnam saat itu yang mengharuskan mereka mengangkat senjata dan berperang. Dari tahun 1920 sebenarnya beberpa organisasi wanita di Vietnam terbentuk. Pembahasan mengenai wanita juga banyak dibahas dalam media dan literatur yang saat itu Vietnam masih dikuasai oleh Perancis. Peran Partai Komunis Vietnam juga membuka pintu untuk Wanita Vietnam berperan dan bergabung di dalam partai. Selama bergabung, bersama-sama Wanita Vietnam berpartisipasi dalam perjuangan untuk membebaskan negara mereka, menjanjikan mereka kembali hak-hak politik, sosial, dan ekonomi yang sama dan status di bawah rezim baru[12].
            Pada masa perjuangan untuk membebaskan negaranya, wanita Vietnam di utara dan selatan berdiri dan mengangkat senjata untuk kemerdekaan mereka. Meskipun seperti dijelaskan diatas bahwa persepsi yang tertanam dalam diri wanita adalah untuk tetap bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya dan mengurusi rumah tangga. Selain itu juga wanita harus berperan dan bertanggung jawab dalam produksi pertanian (makanan) agar para prajurit dapat makan.
 Banyak wanita Vietnam saat itu masih belum mengerti apa yang dilakukan Amerika terhadap negaranya. Disana mereka hanya mengerti bahwa negaranaya telah diserbu dan mereka dibutuhkan untuk membantu dan melindungi Vietnam. Di Vietnam Selatan banyak wanita yang bergabung dengan pasukan pejuang Viet Kong, sedangakan wanita di bagian utara ikut dalam Viet Minh. Ho Chi Minh sebagai penguasa saat itu mengetahui bahwa jumlah wanita di Vietnam saat itu berjumlah banyak bahkan hampir setengah jumlah warga Vietnam. Dia berpikir bahwa jika wanita tidak merdeka maka semua warga pun tidak akan merdeka dan berjuang.
  Di Vietnam Selatan terdapat tokoh wanita, Nguyen Thi Ut Tich yang berjuang secara gerilya. Pada awalnya dia hanya sebagai prajurit baru kemudian dia dibesarkan dengan latar belakang prajurit. Saat suaminya meninggal dia melanjutkan perjuangannya hingga dia terbunuh pada tahun 1965. Nguyen Thi memiliki keahlian untuk merencanakan dan mengeksekusi penyergapan. Hasil strateginya juga berhasil membunuh musuh. Berkat keahliannya, dia juga berhasil menyita pos-pos musuh dan menjalin hubungan dengan komandan prajurit dan melucuti senjata musuh. Bahkan dia juga mendapat gelar “Srikandi” dari Tentara Pembebasan Vietnam. Sepeninggal Nguyen Thi, kemudian banyak gadis muda dari Viet Kong yang berusaha untuk menirunya.
           
Wanita yang berperan lain seperti Nguyen Thi Dinh dan Ca Le Du juga berhasil menjadi pemimpin perjuangan mereka. Hal tersebut juga mendapat dukungan di Vietnam Utara banyak wanita yang bersedia mengajukan diri untuk bekerja di ladang mereka ataupun di industri untuk upaya perang. Selain menjalankan profesi sebagai pekerja, wanita Vietnam juga dilatih menggunakan senjata. Selain itu juga dilatih oleh milisi pejuang untuk mempertahankan jalan dan jembatan. Wanita dari Vietnam Utara ini juga membantu pasukan lain dengan membawakan makanan dan amunisi. Wanita pada perang Vietnam mampu memeberi semangat juang dalam memerangi ancaman terhadap negara mereka. Ketika perang berakhir wanita Vietnampun akhirnya bertransformasi kembali ke peran utama mereka yakni sebagai seorang istri, ibu dan penghibur[13].
           
DAFTAR PUSTAKA
Ani, Hajjah Idrus. 1980. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. Medan : PT Percetakan dan Penerbitan Waspada.
Iljas, Bachtiar.1967.Perang Vietnam dan Netralisasi Asia Tenggara.Yogyakarta.
Musdah, Siti Mulia dan Anik Farida. 2005. Perempuan dan Politik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga1450-1680 Jilid I Tanah di Bawah Angin. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Omet Rasidi. 2014. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. Bandung : UPI (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________. http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
_____________.  http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________.  http://www.womeninworldhistory.com/essay-02.html . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).
_____________. http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).


[1] Hajjah Ani Idrus. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. 1980. Hlm 1.
[2] Siti Musdah Mulia dan Anik Farida. Perempuan dan Politik. 2005. Hlm vii
[3] Ibid.
[4] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[5] Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin. 2011. Hlm 187
[6]  Adinda Fatin. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160796-RB04A89pd-Peran%20dan.pdf. 2009. Hlm 1. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[7] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. Diakses pada Jumat, 30 Desember 2016.
[8] Ready Susanto. Ensiklopedi Tokoh-Tokoh Wanita, Dari Mistikus Hingga Politikus. 2008. Hlm 34,50.
[9] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[10] http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[11] Omet Rasidi. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. 2014. Hlm 2. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[13] http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).

Minggu, 03 Februari 2019

INDIA DAN ASIA TENGGARA



www.7continentslist.com
             
     Wilayah Asia Tenggara secara geografis menjadi sangat strategis untuk jalur pelayaran dan perdagangan pada masa lalu. Secara otomatis bangsa-bangsa dari luar banyak yang singgah dan berhubungan dengan masyarakat Asia tenggara. Konsep pelayaran yang semakin maju dengan berkembangnya ilmu perkapalan dan pelayaran utamanya di India dan Cina. Pengaruh bangsa luar terhadap masyarakat Asia Tenggara tentu banyak membawa perubahan yang signifikan. Masyarakat Asia Tenggara mulai mengadopsi budaya-budaya luar, kerajaan-kerajaan mulai mucul di Nusantara dengan mempratekkan agama dari India dan bahasa Sansekerta[1]. Proses masuknya pengaruh India atas Asia Tenggara ini banyak dikenal dengan istilah “Indianisasi”, yang dipakai oleh George Coedes. Namun dalam perkembangan Hinduisasi di Asia Tenggara juga beriringan dengan proses masuknya Buddhisme. Masuknya aliran kepercayaan yang dianggap baru oleh masyarakat pribumi ini juga melebur dan terakulturasi dengan kepercayaan lokal pada saat itu yakni penyembahan terhadap roh nenenk moyang dan benda-benda magis (animisme dan dinamisme). Perkembangan kebudayaan juga berkembang dan mulai diadopsi masyarakat lokal seperti arsitektur atau seni bangunan, seni sastra, dan sistem sosial yang berlandaskan budaya Hindu Buddha namun tetap berakulturasi dengan budaya lokal masyarakat setempat.
            Pengaruh budaya India diatas terus berkembang hingga mempengaruhi tatanan sosial politik masyarakat Asia Tenggara. Terbukti dengan pendirian kerajaan-kerajaan di kawasan Asia Tenggara saat itu yang beraliran Hindu dan Buddha. Coedes menganalisis bahwa perubahan tempat perdaganagan menjadi suatu tatanan politik yang terorganisir tersebut dapat terjadi dengan dua jalan: adanya paksaan India kepada penduduk pribumi yang telah meresapi unsur-unsur India atau seorang pribumi yang mengukuhkan kekuasaan dan menerima unsur luar dengan memeluk agama dari India. Tentunya dalam praktik berpolitik di dalam kerajaan utamanya yang beraliran Hindu masih menggunakan sistem kasta yang dikenal di India namun telah mengalami perubahan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat pribumi[2]. Dalam persebaran kebudayaan India terdapat asumsi yang berbeda dari beberapa tokoh sejarawan. R.C Majundar mengutarakan pendapatnya bahwa kaum ksatria dan prajurit India lah yang menyebarkan kebudayaan India dan mendirikan beberapa koloni di kepulauan Indonesia. N.J. Krom lebih menekankan pada para kaum pedagang India yang berinteraksi langsung bahkan melakukan perkawinan dengan pribumi. Menurut Van Leur kaum Brahma lah yang berperan menyebarkan budaya India ditambahi dengan keperluan keagamaan.
            Penyebaran pengaruh kebudayaan India diikuti dengan proses masuknya Hindu-Buddha di Asia Tenggara mengubah pola kehidupan masyarakat di kawasan itu, terutama dalam aspek politik, agama, dan sosial. Kehidupan politik mencakup pemerintahan dan pengaturan masyarakat. Kehidupan beragama tercermin dari corak kepercayaan dan tata cara atau upacara keagamaan. Kehidupan sosial mencakup penataan kelompok di dalam masyarakat. Seperti dituliskan diatas bahwa proses penyebaran itu berlanjut hingga beberapa abad hingga dapat berdiri kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha. Dilihat dari sumber-sumber awal proses Indianisasi juga banyak ditemukan baik sumber arkeologi , epigrafi ataupun sumber bangsa asing. Seperti Niddesa, sebuah teks yang menggunakan bahasa Pali berasal dari awal tarikh Masehi, menurut Coedes merupakan suber yang lebih meyakinkan karena disebut satu daftar nama tempat dalam bahsaa Sansekerta yang diintesifikasinya dengan suatu tempat di India[3]. Prasasti Sansekerta tertua di Fu-nan yang terletak di sebelah hilir dan delta sungai Mekong, Vietnam bagian selatan, yang ditetapkan sebagai masa berdirinya Fu-nan berikut pernikahan seorang Brahmana dengan seorang perempuan. Arca-arca Budha asal India sebelum abad ke-5 M juga banyak ditemukan di Vietnam dan Sulawesi menunjukan bahwa pengaruh India sejak awal abad masehi telah sampai wilayah yang cukup jauh.
            Proses Indinanisasi pada masyarakat Asia Tenggara khususnya, meskipun dari asumsi sejarawan ada yang dibawa oleh kaum ksatria atau prajurit, namun tidak sampai terjadi penaklukan militer atau penjajahan secara politik atas nama suatu wilayah. Berdirinya kerajaan Hindu-Buddha itu menurut Coedes hanya memiliki hubungan tradisi dengan dinasti yang memerintah di India. Hal ini berlawanan dengan cara penyebaran kebudayaan Cina yang memang berjalan bersamaan. Orang Cina bertindak dengan cara penjajahan dan pencaplokan kawasan-kawasan suatu wilayah untuk menyebarkan kebudayaannya. Hingga negeri yang ditaklukan Cina dipaksakan untuk meniru adat, kebiasaan, dan bahasanya[4]. Meskipun beriringan budaya India lebih mendominasi dan dapat diterima banyak masyarakat di kawasan Asia Tenggara hingga berdampak pada pelbagai aspek kehidupan, budaya, dan tatanan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Coedes, George, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2010 ;
Hall, D.G.E. Sejarah Asia Tenggara I (Terj. I.P. Soewarsha). Surabaya: Usaha
            Nasional, 1988.
Indonesia Dalam Arus Sejarah, jilid II, PT Ictiar Baru van Hoeve kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012



[1] D.G.E.Hall, Sejarah Asia Tenggara. Hlm 14
[2] George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. 2010. Hlm : 53
[3] Ibid. Hlm : 44
[4] Ibid. Hlm : 66

KOMIK STRIP TENTANG KERUSAKAN LINGKUNGAN







Rabu, 16 Januari 2019

Satu Tahun dengan BEM FIB UNAIR: Mengedepankan Kekeluargaan dalam Organisasi


Tepat pada bulan Pebruari tahun 2017 lalu saya dengan ketua ormawa (organisasi mahasiswa) di Fakultas Ilmu Budaya menandatangani Surat Keputusan. Dari SK itulah kemudian secara sah saya dan teman-teman lain menjadi pemegang amanah dalam setahun kedepan. Secara simbolis saya menandatangani kepengurusan yang baru dan kemudian ada perwakilan untuk kepengurusan yang telah selesai.

Singkat cerita awal saat memberanikan diri mencalonkan menjadi calon Ketua BEM FIB bukan keputusan yang mudah. Pada akhir tahun 2017 memang saat itu secara probadi saya memiliki proyek pribadi yaitu Perpustakaan keliling "Prasojo" dan masih menjadi peserta di Rumah Kepemimpinan, Surabaya serta memilih untuk fokus dalam bidang menulis buku anak-anak. Lalu tawaran pun muncul dari beberapa kawan, salah satunya Lusmitasari (yang kahirnya menjadi wakil ketua BEM FIB). Tawaran itu tidak serta merta saya terima begitu saja, setiap malam saya berpikir dan meminta pertimbangan dari Ibu. Jawabanya pun diserahkan kepada saya pada akhirnya. Melihat kondisi ini dalam tubuh saya merasa mendapatkan tantangan tersendiri untuk kemudian meyakinkan diri.

Bertukar pikiran dengan beberapa kawan terkait permaslahan dan solusi kedepan untuk fakultas ini juga memberikan saya masukan secara pribadi dan semakin mantab untuk menawarkan solusi ini. Pada masa akhir pendaftaran saya masih mendengar berita bahwa ada kawan juga yang mendaftarkan diri menjadi calon ketua BEM FIB akhirnya setelah saya dan Lusmita mendaftarkan diri tidak ada kawan saya lagi yang mendaftar dan akhirnya saya menjadi calon tunggal untuk pemilihan calon ketua bem ini. Sedih dan bingung sempat saya rasakn saat itu. Namun saat perjalanan kampanye saya malah mendapatkan respon dengan dukungan yang cukup banyak dari kawan-kawan fib bahkan mereka juga mengganti foto profil di Line dengan poster kampanye saya, disinilah kemudian saya merasa ada tanggung jawab yang besar untuk dapat memberikan wadah untuk kawan-kawan di fib nantinya, Malam hari saat penghitungan suara saya hadir sampai selesai dan kemudian saya dipeluk dengan suka cita oleh kawan-kawan untuk menjadi pemegang amanah di bem fib kedepan.

Pada saat itu saya dengan Lusmita berpikir bagaimana bisa memberikan wadah untuk semua kawan-kawan di fib. Tentunya hal itu tidak dilihat dari golongan manapun dan jabatan apapun. Akhirnya kami memberikan nama kabinet "Guyub Rukun". Hal ini ditujukan agar bem fib tidak hanya menjadi organisasi struktural diatas semua ormawa namun juga dapat menjadi kawan dan dapat merasakan bagaimana dalam berkegiatan di semua ormawa. Logo kabinet saya terinspirasi oleh semut, dengan prinsip gotong royongnya semut dapat bekerja sama dan akan terasa ringan jika berkerja dengan orang banyak. Semut juga "murah senyum" ketika bertemu dengan kawannya. Pendaftaran menteri dan wakil menteri sudah kami buka, beberapa orang kemudian mendaftrakan diri dengan potensi masing-masing. Tentu berat saya dan Lusmita kemudian menyeleksi kawan-kawan hebat ini. Tentu sesuai dengan porsi dan potensinya masing-masing saya kemudian memploting dengan kementrian yang saya tawarkan. Berkat kawan-kawan hebat itulah kemudian saya membuka seluas-luasnya calon anggota baru bem fib untuk kepengurusan 2018. Dilihat dari antusiasnya saya berbahagia bahkan kawan-kawan merasa kesulitan dengan memilih anggota barunya.




Dari visi misi yang saya utarakan diawal saat pencalonan kemudian saya rincikan kedalam program kerja selama satu tahun kedepan. Tentunya hal itu saya rundingkan bersama menteri dan wakil menteri terpilih untuk kemudian menyusun agenda selama satu tahun kedepan. Tidak semuanya juga program kerja yang pada periode sebelumnya masih belum terlaksana. Kami juga akhirnya menentukan kegiatan yang sekiranya dapat memberikan dampak positif yang luas. Antara lain kami ingin dalam periode kedepan ada kampung dan desa mitra bem fib sehingga kami dapat memberikan pengabdian dan kontribusi yang nyata untuk masyarakat, untuk kajian kami memutuskan setiap bulan mengadakan kajian rutin di tanggal 25 kami namai "selawean" dengan mengangkat topik yang berbeda, kami juga menyusun lomba karya tulis atau esai tentang kebudayaan secara nasional, dan kami juga merencakaan kegiatan yang sebelumnya sudah ada utuk dikemas secara sederhana namun dapat dinikmati oleh semua masyarakat fib.

Puji syukur berkat kerja keras kawan-kawan semua program kerja bem fib selama satu tahun dapat terlaksana semua. Bahkan kegiatan yang pada awalnya kelihatan tidak mungkin untuk dilaksanakan akhirnya dapat dilaksanakan dengan lancar.  Tentunya tidak semudah mencari warung kopi berwifi seperti skearang, tentunya terdapat banyak permasalahan disana. Namun diawal saya sudah memberikan masukan kepada kwan-kawn semua untuk tetap respect kepada siapapun dan terus bertanggung jawab atas semua yang sudah ditugaskan. Permasalahan itu bukan hanya masalah pendanaan juga berbagai hiruk-pikuk birokrasi kampus, kemoloran acara, bahkan berganti konsep dan masih banyak yang lain. Secara pribadi saya merasakan bahwa permaslahan yang ada di depan mata selalu ada jalan keluarnya yang mana pembuat permaslahan itu adalh diri kita sehingga terkadang diri sendiirlah yang kemudian menghambat dan berpikir bahwa permasalahan itu berat. JIka dijalani dan tidak terasa bahkan satu tahun ini kami berjalan bersama dan tidak terasa berat.





Prinsip yang saya pegang dalam berorganisasi adalah saya tidak ingin terlalu formal dan terlalu protokoler dalam setiap rapat aatau berkegiatan. Untuk itu saya memberikan rasa egaliter dalam bem fib 2018 ini agar kawan-kawan yang sudah tergabung dalam bem dapat merasakan kenyamanan dan tidak ada rasa sungkan atau takut kemudian. Melalui sapaan kemudia gaya yang tidak formal kemudian saya lakukan untuk memberikan gaya baru dalam bem fib. Dalam satu tahun kepengurusan juga saya banyak mengikuti kegiatan kawan-kawan ormawa lainnya bukan untuk tujuan mencari perhatian hanya ingin mengetahui bagaimana susahnya kawan-kawan saya dalam menjalankan sebuah kegiatan. Dari situlah kemudian bem tidak hanya menjadi organ tunggal yang secara struktur diatas ormawa lainnya, namun juga dapat membaur dan menjadi satu kembali dengan masyarakat fib.











Permohonan maaf dan ucapan terima kasih dalam tulisan ini sebagai penutup. Terima kasih kepada kawan-kawan fib semuanya, anggota bem, anggota ormawa, mentri, wakil menteri, seketaris, bendahara, wakil, bapak/ibu dekanat, mas gondrong kantin, bapak/ibu penjaga kebersihan, mas isnan dkk, dan semua warga fib yang sudah kami buat repot dengan ulah kami. Untuk kedepan saya sudah banyak memberikan tugas kepada pengurusan 2019 agar jauh-jauh lebih baik dan dapat benar-benar membawahi ormawa di fib. Terus berkarya dan mengabdi untuk sesama dengan ini kabinet Guyub Rukun undur diri. Jangan hanya berhenti disini masih banyak ruang untuk mengembangkan diri lebih baik lagi. Untuk para adik-adik masih terbuka pintu untuk berkontribusi dalam kepengurusan lagi, atau ingin memilih jalan masing-masing. Tak apa namun saya hanya mengigatkan jangan sampai lupa karena kita punya korsa merah yang sama.


Wassalam. Rahayu...
Malang, 16 Januari 2019



Yunaz Karaman





CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...