Senin, 04 Februari 2019

PERKEMBANGAN FOLKLORE DI INDONESIA

www.folkloretravel.com



Kebudayaan yang kini berkembang di masyarakat merupakan hasil pewarisan dari kebudayaan luhur terdahulu. Melalui banyak metode/cara tradisi masyarakat dapat tersalurkan dan terwarisi oleh generasi selanjutnya. Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan system, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka menghidupi kehidupannya serta dijadikan sarana untuk belajar. Wujud dari kebudayaan itu antara lain ide/gagasan/norma/aturan/nilai yang kesemua itu menghasilkan wujud benda/fisik budaya.
Kebudayaan hanya dapat berkembang di dalam masyarakat. Hal itu jelas bahwa tanpa adanya subyek yakni masyarakat tentu budaya tidak akan pernah ada dan berkembang. Di saat kebudayaan ini berkembang tentu menjumpai adanya budaya baru dari luar budaya induknya. Hal tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mengakulturasi atau terjadinya proses percampuran budaya atau malah menjadi salah satu faktor untuk degradasi budaya (penurunan budaya).
Folklore merupakan salah satu wujud dari hasil kebudayaan. Hal tersebut dikarenakan Folklore juga mrupakan hasil cipta manusia yang kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya dengan metode yang berbeda-beda. Tentu sebagai hasil dari kebudayaan, folklore banyak yang mengalami asimilasi dengan budaya lain. Pada setiap suku bangsa pastilah memiliki hasil kebudayaan folklore yang berbeda-beda. Folklore dengan sendirinya dapat hidup di tengah-tengah masyarakat, yang mulanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menurut Prof. James Danandjaja folklore secara istilah merupakan pengindonesiaan dari kata Inggris folklore. Folklore terdiri dari dua kata dasar yaitu folk dan lore. Folk yaitu sekelompok orang atau masyarakat yang memiliki ciri pengenal fisik dan kebudayaan sendiri. Ciri pengenal itu bias berbentuk warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, pendidikan, dan agama.Hal itulah yang kemudian membedakan dengan masyarakat lain. Lore adalah tradisi yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Jika dilihat dari pengertian diatas maka studi folklore di Indonesia sangatlah luas. Sebagai contoh dilihat dari perbedaan ciri fisik di Indonesia dapat dikaji folklore orang berkulit hitam, coklat, putih asalkan harus berwarga Indonesia.
Prof. James memiliki pendapat mengenai perkembangan folklore di Indonesia. Menurut beliau folklore pertama dikenalkan oleh William John Thom seorang ilmuan dari Inggris. William John Thom mulai mengenalkan folkore pada majalah The Athenaeum. Tepatnya dimulai pada abag ke-19. Pada tahun-tahun tersebut penyebutan culture pada kebudayaan masih belum ada, oleh sebab itu masyarakat umum pada kala itu menyebut folklore sebagai kebudayaan.
Sedang di Indonesia, folklore belum lama mendapatkan porsi khusus untuk dikembangkan dalam ilmu pengetahuan. Namun, pada masa pemerintahan Belanda terdapat lembaga Panitia Kesusastraan Rakyat yang bertugas untuk mengumpulkan dan menerbitkan hasil kesusastraan tradisional yang terdapat di Indonesia. Pada perkembangan kesadaran sejarah di Indonesia, folklore juga berjalan beriringan. Meskipun menurut beberapa ahli dan metode penyusunan penulisan sejarah folklore bisa dibilang ahistoris, namun hasil folklore setidaknya dapat memberikan imajinasi zaman atau peristiwa di masa lampau. Seperti terlihat pada hasil tradisi besar hasil kesusatraan terdapat pada babad-babad, cerita rakyat, pepatah dan sebagainya.
Masyarakat di Indonesia lebih banyak untuk mewariskan kebudayaanya secara lisan/tradisi lisan. Tradisi lisan itu kemudian diwariskan secara turun temurun seperti dijelaskan diatas dengan semangat zaman yang berbeda-beda. Dengan sifat folklore terutama cerita rakyat yang cenderung belum bias diketahui kenyataanya (khayal), namun dengan pewarisan kebudayaan folklor ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah dapat memahami dan menjelaskan kondisi lingkungan zamannya.




Sumber:
Sumaryadi, Rumi Wiharsih. Modul Pembelajaran Kajian Folklor. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Bahasa dan Seni. Tersedia online http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/modul%20pembljrn%20folklor.pdf diakes pada Senin, 11 September 2017.




JEJAK KULINER NUSANTARA JAWA TIMUR

makanansehat.biz


                 Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan sejarah Indonesia sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh bangsa-bangsa luar. Pengaruh itu meliputi keragaman dari banyak hal seperti halnya sistem pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, sistem perekonomian, teknologi dan sebagainya. Namun juga terdapat suatu hal yang maenarik yaitu dengan adanya pengaruh dari pihak luar budaya tradisional bangsa Indonesia tidak tergantikan. Seperti halnya adat istiadat, norma, bahkan pada keragaman jenis makanan. Makanan sebagai suatu hasil dari kebudayaan manusia pertama-tama memiliki peran sebagai alat pemenuhan kebutuhan primer. Tidak hanya itu peran makanan dalam kehidupan manusia bahkan sampai pada ranah untuk kegunaan religuisitas. Hal itu tercermin dari kebudayaan Jawa yang banyak melakukan ritual-ritual adat dan makananpun menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan[1].
Keberadaan makanan tradisional itu pada umumnya tidak terlepas dari adat istiadat suatu masyarakat tertentu. Sehingga makanan tradisional dapat menjadi cerminan budaya suatu masyarakat[2]. Hal itu juga dikarenakan oleh kebiasaan  masyarakat turun-temurun, kesediaan bahan mentah, dan sumber daya teknologi yang berbeda. Sebagai contoh didaerah dekat pantai, ketersediaan bahan makanan disana adalah berupa ikan dan hasil laut, begitu pun daerah dataran tinggi yang banyak  menghasilkan komoditas bahan makanan berupa sayuran. Hal itulah yang kemudian menunjukkan suatu kebudayaan yang khas dari budaya lain. Misalnya pada salah satu bahan makanan pokok singkong di daerah Maluku atau Indonesia Timur singkong biasa digunakan seperti halnya nasi (beras) di daerah Jawa.
Ketersediaan bahan makanan itu juga akan menghasilkan beraneka makanan pula. Hal itu kemudian menciptakan suatu makanan khas dari suatu daerah itu. Seperti contohnya, di Surabaya terkenal dengan lontong balap, Malang dengan baksonya, Yogyakarta dengan gudegnya, dan Jakarta dengan ketopraknya. Seperti pada penjelasan diatas bahwa keanekaragaman makanan juga ditentukan oleh beberapa faktor selain ketersediaan bahan makanan juga karena faktor sosial dan geografis. Pada contoh diatas, makanan khas Jawa Timur khusunya kebanyakan berasa pedas, karena  dikarenakan beberapa daerah di Jawa Timur berbudaya dialek arek yang terkesan tegas dan berani serta karena bahan pemedas yang berlimpah. Begitupun di Yogyakarta atau Jawa Tengah yang kebanyakan masakannya berasa manis, yang dikarenakan budaya masyarakat mataraman yang halus dan sopan.
Makanan khas daerah di Indonesia juga banyak yang tidak bisa dilepaskan karena pengaruh penjajahan atau datangnya bangsa luar. Hal itu dulu dilakukan oleh bangsa luar karena alasan untuk mencari bahan makanan lokal di Indonesia. Oleh sebab itulah bangsa luar itu membawa budayanya ke dalam Indonesia. Terlihat sampai sekarang di beberapa daerah khusunya yang dulu menjadi kota pelabuhan atau kota strategis masih banyak ditemui makanan yang berasal dari bangsa luar, seperti Tiongkok (chinesee food), India, dan Arab (arabian food).  Hal itu semakin kompleks saat bangsa Eropa mulai menanamkan pengaruhnya di Indonesia sejak adab ke-16 sampai abad ke-18. Kemudian masuknya bangsa Eropa itu juga membawa berbagai jenis bahan makanan baru. Dalam kurun waktu ini jugalah yang menjadi penentu bagi perkembangan serta pembentukan berbagai jenis makanan di Indonesia pada abad setelahnya (abad ke-19 hingga masa kemerdekaan). Hingga pada tahun 1950-1967an saat itu pemerintah Indonesia mulai mengencarkan program-program mengenai makanan sehat untuk masyarakat luas. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan membuat buku ilmu-ilmu makanan. Salah satu buku itu adalah Mustika Rasa yang berisi mengenai konsep-konsep dasar dan utama tentang makanan Indonesia. Hal itu dibuat pemerintah juga untuk menumbuhkan identitas bangsa. Banyak sekali resep-resep masakan yang ada di buku ini, seperti resep “lawas”, resep lokal, hingga resep baru dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun juga berbagai jenis makanan di Jawa Timur itu dipengaruhi oleh adanya orang-orang luar Jawa Timur yang bermigrasi kemudian menetap di Jawa Timur, ataupun karena adanya pengaruh dari wilayah di sekitarnya. Seperti makanan di Surabaya yang masih banyak terpengaruh oleh masakan Madura. Sebagai penghasil garam terbesar sehingga rasa asin mempengaruhi masakan di Surabaya. Juga di Surabaya jenis makanannya kebanyakan berdasar petis, seperti rujak cingur, semanggi, lontong kupang, dan tahu campur[3].

Fungsi makanan di Jawa Timur sama seperti makanan di daerah lain di Indonesia. Ada yang merupakan makanan pokok, makanan jajanan, dan makanan upacara / ritual. Makanan pokok di Jawa Timur sama seperri mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu beras (nasi), hal itu juga dikarenakan masih banyaknya ladang padi di Jawa Timur, meskipun biasanya juga dikombinasi dengan jagung atau singkong. Dapat dikatakan bahwa makanan pokok itu merupakan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan fisik (tubuh) agar seseorang dapat terpenuhi gizi tubuh dan agar tetap hidup dan sehat. Sedangkan makanan jajanan bisa dikatakan sebagai selingan makanan pokok. Makanan jajanan biasa juga disebut dengan jajanan camilan atau jajanan pasar. Di Jawa Timur khusunya, masih banyak ditemui makanan jajanan di pasar tradisional maupun di kios-kios. Meskipun sudah dikemas secara modern namun itu tidak menyebabkan rasanya berbeda. Biasanya dalam pembuatan makanan jajanan, resepnya adalah turun-temurun dari keluarga sebelumnya. Kebanyakan makanan jajanan ini juga dijadikan sebagai komoditas oleh-oleh khas suatu daerah, misalnya di Bojonegoro terkenal dengan ledre, Lamongan (Babat) dengan wingkonya, Madiun dengan brem nya, dan Batu dengan keripik buahnya. Kebanyakan juga makanan jajanan tradisional itu wujudnya kue kering, kue basah (jajanan pasar), dan gorengan. Wujud-wujud makanan ini banyak dijumpai di hampir seluruh daerah di Jawa Timur.
Makanan untuk upacara sesuai dengan namanya biasanya digunakan sebagai pemenuhan atau penyajian saat ritual-ritual tertentu.  Selain itu makanan upacara juga sarat akan nilai-nilai filosofis baik dalam penamaan , bahan baku, maupun bentuk fisik dari makanan itu sendiri. Jika ingin membuat makanan upacara biasanya bahan bakunya cukup mudah ditemukan dan dibuat secara tradisional sesuai tata adat secara turun temurun.
Eksistensi berbagai jenis makanan itu tidak terlepas dari adanya restoran, kios, atau warung makan atau rumah makan. Kini restoran atau rumah makan bervariasi, mulai dari variasi harga, makanannya sendiri, dan juga “golongan” masyarakat penikmat makanan itu sendiri. Mulai dari golongan atas yang kebanyakan menyukai makan di restoran atau fastfood hingga golongan menengah yang lebih suka makan di rumah makan atau depot makan. Salah satu jenis restoran adalah restoran tradisional, yang mana restoran ini mulai dari sistem pelayanan hingga desain ruangannya menggunakan gaya tradisional. Kebanyakan restoran tradisional ini menyediakan makanan tertentu, seperti makanan tradisional khas Jawa Timur[4].  Restoran tradisional ini juga biasanya membawakan kesan nostalgia kepada penikmat makanan terkait dengan makanan yang ditawarkan.
Sebagai kota ikonik di Jawa Timur, di Surabaya dalam perkembangan kotanya sudah mampu memebrikan warna pada kuliner di Jawa Timur. Hal ini ditandai dengan banyaknya masakan yang dibawa orang-orang luar Surabaya yang kemudian bermukim disana. Tak heran karena terdapat etnis Tionghoa di Surabaya juga banyak makanan yang beberbau chinesee food. Kini dalam perkembangannya Surabaya juga dapat mempromosikan beragamnya makanan khas Jawa Timur. Cara itu sudah dilakukan khusunya oleh pemerintah Surabaya ataupun Jawa Timur dengan menggelar acara khusus hingga umum.



           

           


DAFTAR PUSTAKA
Brahmana Ritzky K.M.R.,2015, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
Sabana ,Setiawan, 2017, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ),  ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
Susanto,Rizky Alim, 2015, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015).
Adrianto, Ambar,  2014, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).



[1] Ambar Adrianto, Jajanan Pasar : Makanan Tradisional Masyarakat Jawa, ( Yogyakarta ), hlm. 12, ( dalam Jurnal Jantra / Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2014).
[2] Setiawan Sabana, Nilai Estetis Pada Kemasan Makanan Tradisional Yogyakarta,  ( Bandung : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ), hlm 10. ( Tersedia dalam jurnal online diakses pada Sabtu, 11 Maret 2017).
[3] Ritzky K.M.R. Brahmana, Persepsi Terhadap Makanan Tradisional Jawa Timur : Studi Awal Terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra Surabaya), hlm. 113, ( Tersdia dalam Jurnal Kinerja, volume 19, No. 2, 2015)
[4] Rizky Alim Susanto, Perancangan Interior Restoran Tradisional Jawa Timur di Surabaya, ( Surabaya : Universitas Kristen Petra ), hlm. 16, (tersedia dalam Jurnal Intra Vol.3, No 1, 2015)

KONFUSIANISME DALAM MASYARAKAT ZAMAN EDO DI JEPANG

www.japan-guide.com


  
        Asia Timur terdiri dari negara-negara yang telah dikenal memiliki peranan penting dalam sejarah dunia. Hal ini terlihat dari sikap Jepang dan Tiongkok yang memiliki posisi strategis dalam Perang Dingin ataupun Perang Pasifik. Begitu pula negara di kawasan Asia Timur, seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan juga merupakan negara kuat di bidang ekonomi dan teknologi. Seperti yang telah diketahui bahwa kini Tiongkok merupakan salah satu penguasa ekspor dunia. Jepang dan Korea juga kini merupakan negara penghasil teknologi modern. Keberhasilan negera-negara tersebut tentu tidak terlepas dari adanya ajaran atau kepercayaan yang ada sebagai pedoman hidup. Mulai dari kepercayaan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun maupun kepercayaan yang terus bermunculan seiring perkembangan zaman dan juga adanya kepercayaan dari luar negara, seperti ajaran Konfusianisme, Buddhisme, Taoisme, dan Shinto[1]. Di Jepang sistem kepercayaan yang kebanyakan diketahui masyarakat luas adalah Shinto dan Buddha, namun dikarenakan penyebaran ajaran Konfusianisme dari Tiongkok, Jepang pun mulai menerapkan ajaran tersebut.
         Pada hakikatnya ajaran Konfusianisme tersebut menitik beratkan pada budaya tradisional Tiongkok sebagaimana memahami ilmu dalam berperilaku bijaksana sebagai manusia. Ajaran ini pertama kali diajarkan oleh Master Kong atau yang dikenal dengan Khong Fu Tzu (Konfusius nama latin yang diberikan orang Eropa). Konfusius tinggal di Negara Bagian Lu dan merupakan keturunan seorang pejabat pemerintahan. Ia lahir pada 551 SM dan hidup pada masa Dinasti Zhou sedang mengalami kemerosotan. Pada usia ke 15 tahun, Ia mulai bertekad untuk memberikan keadilan bagi setiap orang dan memutuskan menikah pada usia 19 tahun dengan Chi Kuan. Konfusius meninggal pada tahun 479 SM dan dimakamkan di Chu Fu.
         Pertengahan abad ke 3 SM hingga 3 M ajaran Konfusianisme ini mengalami perkembangan yang pesat di Tiongkok sendiri, bahkan sampai menjadi ideologi dasar kaisar Tiongkok[2]. Sebenarnya masih banyak buah pikir ajaran-ajaran dari pemikir Tiongkok yang dapat berkembang dengan pesat dan tidak hanya berada di negara asalnya namun juga dapat berkembang di berbagai penjuru dunia, seperti Lao-Tzu dengan ajaran Taoismenya.
         Konfusius sendiri lah yang menjadi tokoh utama dalam penyebaran ajaran Konfusianisme. Ajaran itu kemudian ia tulis dalam buku kumpulan kata-kata bijaknya. Setelah Konfusius wafat kemudian muncul banyak orang yang mempelajari dan mendalami ajarannya. Beberapa dari Konfusian ini ada yang menyempurnakan ada pula yang memiliki tafsiran yang berbeda. Konfusianisme memiliki perbedaan dengan filsafat Barat yang mana dalam pemikirannya memisahkan dari yang ideal dengan yang nyata. Konfusianisme hadir untuk menghubungkan keduanya. Konfusianisme hadir bahwa bentuk suatu obyek nyata di dunia ini terkait erat dan diciptakan oleh bentuknya sendiri.
         Dalam kepercayaan masyarakat Jepang dulu dan kini, jika dapat disimpulkan Jepang merupakan negara sekuler. Hal tersebut terlihat dari data-data pemerintah yang mengenai data kependudukan, identitas agama tidak dicantumkan bahkan tidak pernah ditanyakan[3]. Bahkan agama hanya diajarkan dalam ilmu sejarah saja tidak dalam pelajaran-pelajaran di kurikulum sekolah. Di tahun 1963 pernah dilakukan survey mengenai minat agama kepada orang Jepang. Hasilnya menunjukan bahwa 69% orang Jepang mengaku tidak menyukai agama. Prof. Ruth Benedict dalam Ajip Rosidi, mengatakan bahwa sebagai sikap hidup orang Jepang yang tidak mampu mempunyai rasa berdosa, melainkan hanya rasa malu. Rasa Berdosa tersebut timbul apabila seseorang percaya kepada Tuhan atau kekuasaan Yang Maha Tinggi yang menetapkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Melenggar hal itu membuat seorang menjadi berdosa. Sementara itu orang Jepang tidak mengenal konsep kekuasaan Yang Maha Tinggi. Istilah Tuhan atau Dewa menurut orang Jepang bukanhlah hal yang bersifat keTuhanan, karena jumlah kami ( Tuhan / Dewa dalam penyebutan Jepang) dapat saja bertambah dengan manusia yang memiliki prestasi lebih[4].
         Kebudayaan Jepang pada dasarnya memiliki unsur-unsur yang sama dengan kebudayaan pada umumnya. Budaya Jepang kini merupakan hasil dari pertahanan Jepang dalam emepertahankan budaya nenek moyangnya, namun juga terdapat pengaruh kebudayaan dari bangsa lain. Jepang mendapatkan pengaruh yang besar dari negara yang berada di kawasan yang sama yaitu di Asia Timur, seperti Tiongkok dan Korea. Jika melihat dari sejarahnya Jepang menerima budaya dari luar negeri secara berbeda. Hal itu dilakukan Jepang dengan tidak hanya menerima apa adanya dari luar, namun menerima secara terlebih dahulu menyesuaikan dengan budyadan tradisi Jepang serta mengubahnya [5]. Budaya dari Tiongkok sudah masuk ke Jepang mulai pada abad ke V pada kekekaisaran Yamato, budaya tersebut misalnya huruf kanji, ajaran Buddha, dan ajaran Konfusianisme. Dalam perkembangannya konfusianisme di Jepang mulai berkembang saat Restorasi Meiji. Peristiwa itu ditandai dengan runtuhnya pemerintahan feodal Edo yang mengisolasi negara dan dimulainya pemerintahan Meiji yang baru dan memungkinkan pengaruh dari luar untuk masuk ke Jepang[6]. Pada saat pemerintahan Meiji tersebut peran para pengikut konfusianisme dilibatkan dalam berbagai proses penentuan kebijakan.
            Di dalam perkembangan kehidupan masyarakat hingga masa kontemporer ini, tidak dapat dihindarkan bahwa ajaran Konfusianisme masih menjadi landasan hidup dalam tatanan sosial masyarakat maupun struktur politik masyarakat di kawasan Asia Timur, khusunya Jepang. Meskipun demikian pengaruh luar maupun dari tradisi dalam negeri juga dapat berpengaruh dalam posisi Konfusianisme. Akan tetapi, perkembangan dan penerapan Konfusianisme dalam ranah sosial masyarakat di Jepang tentu memiliki perbedaan karena terdapat perkembangan pemikiran lain yang terpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan yang berbeda pula. Hal tersebut tercermin dalam sejarah Jepang pada zaman Yamato  ( 230 -710 M ) dibuat undang-undang yang banyak dipenggaruhi oleh ajaran Konfusianisme juga Buddhisme[7].


KONFUSIANISME PADA ZAMAN EDO DAN PENGARUHNYA DALAM MASYARAKAT EDO.
         Pada tahun 1603 menjadi awal dari pemerintahan periode Edo. Pemerintahan ini dibentuk oleh Tokugawa Ieyasu yang sebelumnya diangkat sebagai Shogun. Pemerintahan ini terpusat di Edo ( Tokyo ), namun Kaisar tetap berada di Kyoto. Tokugawa Ieyasu ini memerintah selama beratus-ratus tahun ( 1603-1866)  dan menyebut pemerintahanya sebagai “pemerintahan periode Edo”[8]. Kemenangan Ieyasu atas pasukan Barat Toyotomi Hideyori pada Pertempuran Sekigahara (1600) memberinya kendali sesungguhnya atas Jepang. Pada zaman ini di Jepang terjadi pengisolasian negara dari luar maupun dalam sehingga perdagangan dan proses pertukaran tertutup dengan ketat. Hal tersebut juga tidak ditambah dengan upaya untuk berkesempatan bertukar budaya dengan negara luar. Di tahun 1633 sebagai shogun ketiga, Tokugaya Iemetsu membuat kebijakan untuk melarang orang Jepang berpergian ke luar Jepang. Berlanjut pada tahun 1639, di Jepang mulai menerapkan politik isolasi dengan tujuan untuk tidak berhubungan dengan dunia luar, namun hanya kebebasan yang sangat ketat kepada pedagang Tiongkok dan Belanda di Nagasaki. Di masa keshogunan Tokugawa inilah ajaran Konfusianisme mulai berkembang dimana ajaran ini menekankan pada pentingnya moral, pendidikan, dan hierarki dalam kelas-kelas sosial[9].
         Pada masa pemerintahan Edo, di Jepang terdapat empat kelas masyarakat yang dinamakan “Shinoukoushou.Shi” adalah bushi atau samurai, “Nou” adalah noumin atau petani ,”Kou” adalah shokunin atau tukang / pengrajin, dan “Shou” atau shounin adalah pedagang. Dengan urutan kelas ini kelasnya semakin rendah. Bushi atau samurai adalah kelas paling atas, meskipun tidak banyak memiliki kekayaan ( uang ) namun samurai sangat dihormati masyarakat. Petani bekerja sebagai pembuat makanan. Tukang / pengrajin bekerja untuk membuat barang-barang. Posisi samurai berada dipaling atas tidak dikarenakan bahwa samurai memiliki kemampuan perang yang baik, namun dikarenakan bahwa samurai memiliki etika yang tinggi dibanding yang lain. Semangat itu yang kemudian dikenal sebagai bushido , yakni etika yang mengajarkan perilah melayani tuannya, mementingkan kehormatan, memperhatikan tata krama, tidak pengecut, jujur, dan tulus.
         Ajaran tradisional Jepang seperti bushido tersebut tidak lepas karena pengaruh kuat pola pikir Konfusianisme. Bagi orang Jepang tradisional, perihal kesetiaan atau loyatias merupakan hal terpenting yang harus tertanam untuk diabdikan kepada majikan / tuannya. Ajaran moral Konfusianisme seperti kesetiaan meupakan ajaran yang penting. Selain itu, bakti juga salah satu ajaran Konfusianisme yang penting dan berjalan berdamping dengan kesetiaan. Bakti di dalam ajaran Konfusianisme berarti perihal mematuhi orang tua, menjaga dengan baik orang tua, dan mau melakukan sepenuh hati untuk orang tua. Memang terdapat waktu saat kesetiaan dan bakti sulit untuk berjalan beriringan karena harus memilih untuk mendahulukan orang tua atau majikan. Hanya di Jepang yang mana ajaran Konfusianisme ini dititik beratkan pada kesetiaan, berbeda dengan negara Konfusianisme lain seperti Tiongkok dan Korea yang lebih menitik beratkan pada bakti[10]. Konfusianisme pada umumnya memiliki ajaran seperti diatas dan melihat pada ajaran prinsip-prinsip seperti xiao (bakti), li (ritual), yi (kebenaran/keadilan), zhong (loyalitas).
         Pada zaman Edo terdapat beberapa jenis pendidikan yang berkembang dan memberi tekanan pada elemen nasionalisme yang dilandasi dengan ajaran Konfusianisme dan Shintoisme[11]. Pendidikan sendiri merupakan aspek yang sangat penting untuk perkembangan perihal pengetahuan dan moral masyarakat yang lebih beradab. Pada zaman ini berkembanganya pendidikan memperlihatkan bahwa masyarakat menganggap bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Terlebih terdapat pendidikan sesuai dengan kelas dan peranan masing-masing kelas seperti diatas untuk menjalani perannya di dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian utama Tokugawa dalam memberikan pendidikan adalah pada kelas paling atas yaitu samurai. Pada awalnya pengajar adalah dari kalangan pendeta dari kuil-kuil Buddha, namun pada zaman Edo ini mulai tergantikan dengan cendikiawan Konfusianisme sebagai pendidik didalam sekolah mereka yang kebanyakan berada didalam kastil. Sedangkan dalam masyarakat feodal, pendidikan diberikan antara lain ajaran kebajikan dan dengan melatih keterampilan yang akan diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan sesuai dengan peran dan kelas mereka.
         Pusat pendidikan untuk rakyat biasa disebut  kyoyujo yang memang dikembangkan untuk masyarakat kelas kecil[12]. Kurikulum yang diajarkan pun dimulai dengan kaligrafi dimana murid mencoba mempraktekkan dengan mencontoh pengajar. Sebutan sekolah untuk rakyat biasa pada zaman Edo disebut sebagai terakoya. Di sekolah itulah rakyat biasa menggantungkan pendidikan formalnya untuk belajar membaca dan menulis. Terakoya mulai ada menjelang periode pertengahan zaman Edo dan mendapat fasilitas yang didirikan di kuil Buddha. Sekolah ini kemudian mulai meningkat dan pada akhir zaman Edo sekolah ini menjadi umum dan berada di kota-kota besar seperti di Edo dan Osaka. Sebelumnya sekolah ini bisa ditemukan di pesisir pantai terpencil dan di daerah pegunungan. Penggunaan sempoa dan kaligrafi pada zaman Edo mendapat posisi yang penting dalam perekonomian pedagang, terlebih pada masa akhir zaman Edo kemampuan menghitung dengan sempoa tersebar luas. Perempuan utamanya dalam usia anak-anak pada zaman ini tidak menerima pendidikan tingkat tinggi yang dibuat untuk anak laki-laki. Anak perempuan hanya diajarkan di dalam berbagi urusan rumah tangga dan ajaran beretika di dalam rumah. Sebagian anak perempuan dari samurai mendapat ilmu kesenian dan literatur klasik hanya sebagai tambahan dari pelajaran kaligrafi dan membaca, tapi secara umum seperti diatas pendidikan untuk perempuan pada zaman Edo hanya diperuntukan untuk menjadi Ibu dan Istri yang tidak melanggar etika dan berperilaku baik.
         Pemerintah saat itu kemudian memberikan dukungan terkait studi akademis mengenai karya Tiongkok klasik, khusunya pada Konfusianisme. Selanjutnya banyak tokoh Konfusian yang dizinkan untuk mendirikan sekolah yang mempelajari kebudayaan Tiongkok atau yang disebut dengan kangakujuku. Dalam perkembangannya sekolah ini tumbuh dengan pesat sepanjang zaman Edo.
         Selanjutnya pada zaman Edo perkembangan ajaran Konfusianisme memiliki banyak perspektif atau alkran baru dari Konfusianisme. Seperti Neo-Konfusianisme / Konfusianisme baru, aliran Chu Hsi / shushigaku, kogaku, kokugaku / pengetahuan Nasional. Kokugaku merupakan aliran yang hanya sedikit mendapat pengaruh Konfusianisme, sebagian besar tidak memakai ajaran lama dan murni mempelajari budaya Jepang. Beberapa cendekiawan Neo-Konfusianisme yang cukup terkenal zaman itu antara lain Fujiwara Seika, Hayazi Razan, Yamazaki Ansai. Hayazi Razan lahir pada tahun 1583 di Kyoto, ia memulai mempelajari mengenai Cina pada usia belasan tahun dan kemudian pergi ke Fujiwara Seika seorang Konfusian tidak resmi Tokugawa Ieyasu. Dia kemudian direkomdasikan untuk melayani Tokugawa Ieyasu sebgai guru pribadi shogun atau bisa dibilang sebgai penasihat resminya. Selanjutnya Hayazi Razan melanjutkan perjuangan Neo-Konfusianisme dan menemukan persamaan alami ajaran Shinto dengan Neo-Konfusianisme yaitu aliran Chu Hsi. Perjuangan Konfusianisnya kemudian dilanjutkan dengan keturunannya. Razan banyak mengajarkan tentang Konfusianisme ( Neo-Konfusianisme ) aliran Chu Hsi. Dia juga kemudian banyak menyebarkan tentang etika bagi samurai.
         Sepanjang zaman Edo ajaran Konfusianisem dipelajari awalnya hanya oleh kalangan atas, khusunya samurai atau bushi. Karena perihal tersebut yang menjadi faktor mengapa keshogunan Tokugawa dapat bertahan hingga berabad-abad. Konfusianisme pada zaman itu juga menekankan pada hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan dengan keliama kebijakan / gojo. Seperti ajaran seorang penguasa yang tidak seharusnya memerintah dengan seenaknua tetapi awalnya harus mengedepankan kebaikan moralnya agar rakyat yang dipimpinnya juga baik secara moral. Namun, terdapat kerugian pula yang diakibatkan oleh faktor ekonomi, masyarakat kelas bawah diperintahkan untuk membayar pajak yang tinggi pada pemerintah. Konfusianisme di zaman Edo juga sedikit menyeleweng dari ajaran Konfusius yang mengajarkan pentingnya sseorang menduduki jabatan tertentu atas prestasi dan jasanya, namun yang terjadi adalah pemeberian jabatan dan jabatan turun-temurun. Ajaran Konfusianisme pada zaman Edo yang masih terasa adalah kebudayaan sempai-kohai yang mengajarkan dari lima hubungan dasar manusia, yaitu antara antasan dan bawahan, suami dan istri, ayah dan anak, kakak dan adik, serta sesama teman. Perasaan kesetiaan orang Jepang pada keluarga atau perusahaan tempat bekerja, dan kesetiaan pada negara adalah salah satu warisan Konfusianisme.





DAFTAR PUSTAKA
__________ , 2008, Tersedia https://plato.stanford.edu/entries/japanese-confucian/ diakses pada Kamis, 5 Januari 2017.
Chamberlain, Basis Hall. Things Japanese : Being Notes on Various Subjects Connected with Japan. Cambridge University Press.
Febriani, Arni. 2013. Reformasi Shito Pada Masa Tokugawa ( 1603-1868).Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia http://repository.upi.edu/3211/4/S_SEJ_0800135_Chapter1.pdf diakses pada Rabu, 4 Januari 2017.
Hutabarat, Melda. 2007. Tokugawa dan Konfusianisme. Universitas Sumatera Utara. Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
Irsan, Abdul. 2007. Budaya dan Perilaku Jepang di Asia. Jakarta Selatan : Grafindo Khazanah ilmu.
Mauilidiyah, Najiyah Rizqi. 2014.  Konfusianisme di Asia Timur dan Pengaruhnya terhadap Krisis di Asia Timur Tahun 1997 . Universitas Airlangga. Tersedia, http://najiyah-rizqi-maulidiyah-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-93481-MASYARAKAT%20BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Konfusianisme%20di%20Asia%20Timur%20dan%20Pengaruhnya%20terhadap%20Krisis%20%20di%20Asia%20Timur%20Tahun%201997.html diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
Rosidi, Ajip. 1981. Mengenal Jepang. Jakarta : PT DUNIA PUSTAKA JAYA.
Shindo, Yusuke. 2015. Mengenal Jepang. Jakarta : Kompas.


[1] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 6 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
[2] Najiyah Rizqi Mauilidiyah. Konfusianisme di Asia Timur dan Pengaruhnya terhadap Krisis di Asia Timur Tahun 1997 . 2014. Tersedia, http://najiyah-rizqi-maulidiyah-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-93481-MASYARAKAT%20BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Konfusianisme%20di%20Asia%20Timur%20dan%20Pengaruhnya%20terhadap%20Krisis%20%20di%20Asia%20Timur%20Tahun%201997.html  diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.
[3] Arni Febriani. Reformasi Shito Pada Masa Tokugawa ( 1603-1868). 2013. Hlm 1. Tersedia http://repository.upi.edu/3211/4/S_SEJ_0800135_Chapter1.pdf diakses pada Rabu, 4 Januari 2017.
[4] Ajip Rosidi. Mengenal Jepang. 1981. Hlm 80-82.
[5] Yusuke Shindo. Mengenal Jepang. 2015. Hlm 3.
[6] Ibid. Hlm 12.
[7] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 8 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017
[8] Abdul Irsan. Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia.  2007. Hlm 18.
[9] Ibid.
[10] Yusuke Shindo. Mengenal Jepang. 2015. Hlm 131-139.
[11] Abdul Irsan. Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia. 2007. Hlm 19.
[12] Melda Hutabarat. Tokugawa dan Konfusianisme. 2007. Hlm 71 . Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13475/1/08E01523.pdf  , diakses pada Selasa, 3 Januari 2017.

PERAN WANITA DI ASIA TENGGARA : PEREMPUAN-PEREMPUAN DALAM PERANG VIETNAM

www.thirteen.org


            Dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan tercatatat dalam historiografi sejarah. Terlihat bahwa sejarah hanya menuliskan peran kaum laki-laki. Di dalam kehidupan, sejak dahulu wanita diposisikan di bawah status laki-laki. Hal tersebut memiliki dampak yang luas dalam tatanan hidup masyarakat. Pada zaman jahiliah di kawasan Arab misalnya, kaum wanita tidak berharga di mata laki-laki, bahkan wanita dianggap sama dengan binatang atau wanita itu berambut panjang, tetapi berpikir pendek[1]. Masih banyak perkataan lain yang intinya adalah merendahkan derajat wanita. Begitu pun pada pola kehidupan sosial saat dulu wanita hanya sebagai pelengkap untuk kepentingan dan kebutuhan para lelaki. Akibatnya, ruang gerak wanita dibatasi dan hanya di ranah domestik atau lokal saja. Adanya anggapan di atas kemudian menyebabkan pula berbagai tindakan yang semena-mena terhadap kaum wanita, seperti kekarasan, penindasan, pelecehan seksual, dan sebagainya[2].
             Tekanan yang dihadapi kaum wanita hampir dirasakan di seluruh kawasan di dunia. Di India, Tiongkok, Arab, dan Perancis, wanita atau seorang istri yang melahirkan seorang anak perempuan akan dibunuh. Salah satu faktor hal itu terjadi adalah belum adanya peraturan atau hukum dan juga belum adanya pemahaman umat-umat saat itu terhadap tafsiran ajaran agama. Sejak itulah wanita mulai berjuang untuk menuntut kebebasan dan haknya agar setara dengan kaum lelaki. Dalam perjuangan ini, wanita tidak putus asa. Mereka yang sudah tiada digantikan oleh pejuang baru[3]. Gerakan penyadaran terhadap kesetaraan gender mulai digiatkan melalu interpretasi kembali terhadap pemahaman ajaran agama yang berspektif gender.
           
            Di wilayah yang berjumlah sebelas negara dan memiliki keragaman budaya dan bahasa yang besar, kawasan Asia Tenggara memiliki posisi yang relatif menguntungkan kaum wanita. Dibandingkan dengan wanita di Asia Timur dan Selatan, wanita di Asia Tenggara memiliki keuntungan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah aspek budaya tradisi (menghormati wanita); tidak ada pembebanan pada faktor kemewahan, utamanya dalam tradisi pernikahan (prosesi mahar); jika telah menikah akan sering tinggal bersama atau dekat dengan orangtua; wanita memiliki peran penting dalam pembagian ritual adat; mereka juga berperan penting dalam pertanian dan mendominasi di dalam pasar lokal[4].
Jauh sebelum itu, pengaruh wanita di Asia Tenggara pada sekitar abad XV-XVI memiliki perbedaan utama dalam hal peranan dan memiliki otonomi yang lebih dalam hal sosial-ekonomi, meskipun batas-batas bidang pekerjaan laki-laki dan wanita masih tampak jelas. Bidang kaum wanita mencakup penyemaian benih, penuaian, penanaman sayuran, penenunan, pembuatan pot, berbelanja di pasar, dan melakukan upacara-upacara menyangkut leluhur, serta sebagai perantara dengan alam roh[5].
            Pada abad XIX, Asia Tenggara memiliki sumber ekonomi dan secara geografis memiliki posisi yang strategis antara India dan Cina. Kedua hal tersebut menyebabkan keterlibatan Eropa. Di akhir abad XIX atau sebelumnya, seluruh wilayah di Asia Tenggara telah dibawah kendali Eropa, kecuali di Thailand. Di beberapa wilayah, kaum wanita banyak direkrut sebagai buruh atau tenaga kerja yang diupah murah dan dipekerjakan di perkebunan, seperti teh, gula, tembakau, dan pabrik pengolahan. Pada awal tahun 1900-an, masih banyak juga wanita yang bekerja dalam pelayanan domestik, seperti pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Pekerjaan yang demikian dinilai oleh wanita sebagai pekerjaan yang aman dan tidak menimbulkan presepsi yang buruk karena dikerjakan di dalam rumah. Selain itu jam kerja juga tidak terlalu banyak dan berbeda dengan wanita pekerja di pabrik yang bekerja dari pagi hingga malam hari[6].
            Penguasaan Kolonial di Asia Tenggara juga merubah tatanan kehidupan di dalam masyarakat, begitu pula posisi dan peran wanita. Seperti dalam tingkatan desa, pemerintahan kolonial memperkuat posisi kaum laki-laki sebagai kepala keluarga dan terdapat reformasi di dalam hukum adat yang memberikan otonomi yang cukup kepada wanita. Diberbagai wilayah hukum-hukum keluarga juga diperkuat dengan hukum patrilineal. Hal tersebut juga semakin mendorong untuk lebih memilih anak laki-laki dari pada anak perempuan. Meskipun demikian, wanita masih banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, bahkan juga menjadi seorang tokoh pergerakan untuk memberontak pemerintah kolonial. Begitupun peningkatan angka melek huruf (terutama di Filipina) dan adanya penyebaran paham feminisme sehingga mendorong wanita untuk menghadapi permasalahan ketidaksetaraan gender dengan kaum lelaki.
            Di akhir abad ke-XIX gerakan nasionalis dan pemberontakan kepada penjajah berkembang di seluruh Asia Tenggara. Dalam hal ini tokoh laki-laki memiliki fokus yang lebih utamanya dalam politik dan kemerdekaan. Meskipun demikian, keterlibatan aktif wanita dalam gerakan anti-kolonial dan juga sebagai tokoh pejuang akan tetapi sering dipandang hanya sebagai pembantu bukan mitra[7]. Sikap seperti itu juga masih terlihat dalam gerakan kemerdekaan setelah kekalahan Jepang di Perang Asia Pasifik yang menduduki sebagian besar Asia Tenggara diantara tahun 1942 dan 1945.
            Pada akhir Perang Dunia ke II kolonialisme Eropa di Asia Tenggara mulai runtuh. Disebabkan hal tersebut negara-negara yang menyatakan kemerdekaannya kemudian berkomitmen ke depan untuk kesetaraan gender. Dalam perkembangannya wanita Asia tenggara yang berperan secara langsunng dan memiliki jabatan politik meningkat, terutama dalam pemerintah daerah, namun hanya di Filipina yang memiliki representasi perempuan yang berperan di pemerintah nasional yang meningkat. Saat wanita berhasil menduduki jabatan dan memasuki arena politik maka mereka akan menemukan budaya dominasi dan pengaruh laki-laki. Beberapa individu wanita telah mencapai jabatan politik tertinggi pada abad ke XX di kawasan Asia Tenggara mengalami kemajuan. Hal itu juga dikarenakan terdapat wanita yang berpengaruh dan kemudian menjadi tokoh penting di negara yang  dipimpinnya. Seperti Aung San Suu Kyi (lahir 1945) seorang aktivis politik di Myanmar dan menjadi pemenang Nobel Perdamaian di tahun 1991, Corazon Aquino sebagai seorang tokoh politik dan pemimpin wanita dari Filipina saat krisis politik melawan tokoh oposisi Ferdinand Marcos[8]. Begitupun pergerakan kaum wanita Indonesia yang tidak ketinggalan dalam memenuhi kewajibannya untuk ikut memperkuat kemerdekaan tanah airnya. Beberapa tokoh wanita Indonesia yang ikut andil peran dalam memperjuangkan kemerdekaan sering didengar dan sering ditulis dalam buku-buku sejarah seperti R.A. Kartini, Tjut Nja Din, Dewi Sartika, dan lain sebagainya. Jika diilihat lebih dalam lagi para pemimpin wanita tersebut kebanyakan besar adalah terlahir dari keluarga elite politik atau memiliki peran besar sebelumnya. Kesempatan untuk berperan dan tampil didepan publik juga akan lebih banyak dimiliki oleh kalangan menengah atas karena akses pendidikan yang lebih tinggi dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan wanita dari kalangan bawah.
            Peranan atau partisipasi wanita di Asia Tenggara utamanya dalam hal berpolitik tidak jauh berbeda dari yang terjadi di Asia Selatan. Diantaranya yaitu masih adanya pemikiran stereotip gender, mitos yang berkaitan dengan sosial budaya, bahkan ajaran agama. Misalnya, umat Buddha yang masih percaya jika kelahiran seorang wanita menunjukan bahwa ada hutang/jasa yang harus dibayar dalam kehidupan masa lampau. Walaupun negera-negara Asia Tenggara telah membuat kemajuan untuk mempromosikan kesetaraan gender, namun terutama di Vietnam dengan budaya warisan Konfusius yang masih kuat[9].
            WANITA “MILITER” DALAM PERANG VIETNAM.  
            Peran wanita seperti dipaparkan diatas hanya sedikit dituliskan dalam sejarah begitupun perannya kebanyakan dalam kegiatan perekonomian dan kaum pekerja (buruh). Pada abad ke XX barulah peran wanita mulai tampak kepublik yaitu dengan menjadi jabatan tertinggi di dalam kancah politik. Pada tahun 1950-an saat di beberapa negara di Asia tenggara telah menyatakan kemerdekaanya, di Vietnam terjadi perang dan berlangsung cukup lama yang dikenal dengan Perang Vietnam atau Prang Indocina kedua. Perang Vietnam terjadi setelah terjadi kesepakatan dalam Persetujuan Jenewa pada tanggal 21 Juli 1954, yang hasilnya membagi Vietnam menjadi dua bagian. Vietnam bagian utara menamakan diri sebagai Republik Demokrasi Vietnam dengan ideologi komunis, sedangkan Vietnam Selatan menamakan diri dengan Republik Vietnam yang berideologi nasionalis. Setelah perjanjian tersebut kemudian diadakan pemilihan raya / pemilihan umum yang bertujuan untuk menyatukan kembali kedua wilayah tersebut. Pihak Vietnam Selatan berkeberatan dengan alasan bahwa pemilihan umum secara bebas tidak mungkin dilaksanakan selama Vietnam Utara dibawah kekuasaan komunis[10].
            Persetujuan Jenewa kemudian melahirkan dua pihak Vietnam yang saling bertentangan. Pertentangan tersebut akhirnya memeuncak pada perang saudara. Masing-masing belah pihak dengan ideologi yang berbeda kemudian dibantu oleh negara yang berideologi sama. Vietnam Utara yang berideologi komunis mendapatkan bantuan militer baik tenaga maupu peralatan oleh Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina dan Vietnam Selatan mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat.
Kedua kubu tersebut diatas kemudian melahirkan adanya Gerakan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan ( FPNVS )[11]. Gerakan tersebut bertujuan untuk melawan rezim yang dikuasai oleh Amerika Serikat untuk menerapkan tujuan dari ideologi bebasnya. Perselisihan tersebut mendesak Amerika Serikat untuk berhadapan dengan pasukan dari Vietnam Utara yang dipimpin oleh Ho Chi Minh dan pasukan Viet Kong di Vietnam Selatan. Pada akhir perang ini diselenggarakan perjanjian di Paris pada thun 1973 yang berisi bahwa Amerika menyerah tanpa syarat kepada Vietnam dan Ho Chi Minh berhasil menguasai Vietnam.

Didalam perang ini tentu terdapat peran wanita dari pihak Vietnam utamanya. Peran wanita Amerika juga terlihat, bahkan hampir ribuan wanita yang turut andil ikut dalam perang ini dan kebanyakan berprofesi sebagai perawat dan jurnalis perang. Dalam hal ini wanita Vietnam mengambil peran besar dan aktif terlibat langsung dalam perang. Hal tersebut sejatinya melanggar ajaran Konfusius yang masih melekat di kehidupan masyarakat Vietnam. Dimana wanita Vietnam sejatinya harus menjaga kesucian dan menguasai keahlian tertentu seperti memasak serta menjahit. Namun dogma-dogma tersebut harus berbenturan dengan kondisi nyata di Vietnam saat itu yang mengharuskan mereka mengangkat senjata dan berperang. Dari tahun 1920 sebenarnya beberpa organisasi wanita di Vietnam terbentuk. Pembahasan mengenai wanita juga banyak dibahas dalam media dan literatur yang saat itu Vietnam masih dikuasai oleh Perancis. Peran Partai Komunis Vietnam juga membuka pintu untuk Wanita Vietnam berperan dan bergabung di dalam partai. Selama bergabung, bersama-sama Wanita Vietnam berpartisipasi dalam perjuangan untuk membebaskan negara mereka, menjanjikan mereka kembali hak-hak politik, sosial, dan ekonomi yang sama dan status di bawah rezim baru[12].
            Pada masa perjuangan untuk membebaskan negaranya, wanita Vietnam di utara dan selatan berdiri dan mengangkat senjata untuk kemerdekaan mereka. Meskipun seperti dijelaskan diatas bahwa persepsi yang tertanam dalam diri wanita adalah untuk tetap bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya dan mengurusi rumah tangga. Selain itu juga wanita harus berperan dan bertanggung jawab dalam produksi pertanian (makanan) agar para prajurit dapat makan.
 Banyak wanita Vietnam saat itu masih belum mengerti apa yang dilakukan Amerika terhadap negaranya. Disana mereka hanya mengerti bahwa negaranaya telah diserbu dan mereka dibutuhkan untuk membantu dan melindungi Vietnam. Di Vietnam Selatan banyak wanita yang bergabung dengan pasukan pejuang Viet Kong, sedangakan wanita di bagian utara ikut dalam Viet Minh. Ho Chi Minh sebagai penguasa saat itu mengetahui bahwa jumlah wanita di Vietnam saat itu berjumlah banyak bahkan hampir setengah jumlah warga Vietnam. Dia berpikir bahwa jika wanita tidak merdeka maka semua warga pun tidak akan merdeka dan berjuang.
  Di Vietnam Selatan terdapat tokoh wanita, Nguyen Thi Ut Tich yang berjuang secara gerilya. Pada awalnya dia hanya sebagai prajurit baru kemudian dia dibesarkan dengan latar belakang prajurit. Saat suaminya meninggal dia melanjutkan perjuangannya hingga dia terbunuh pada tahun 1965. Nguyen Thi memiliki keahlian untuk merencanakan dan mengeksekusi penyergapan. Hasil strateginya juga berhasil membunuh musuh. Berkat keahliannya, dia juga berhasil menyita pos-pos musuh dan menjalin hubungan dengan komandan prajurit dan melucuti senjata musuh. Bahkan dia juga mendapat gelar “Srikandi” dari Tentara Pembebasan Vietnam. Sepeninggal Nguyen Thi, kemudian banyak gadis muda dari Viet Kong yang berusaha untuk menirunya.
           
Wanita yang berperan lain seperti Nguyen Thi Dinh dan Ca Le Du juga berhasil menjadi pemimpin perjuangan mereka. Hal tersebut juga mendapat dukungan di Vietnam Utara banyak wanita yang bersedia mengajukan diri untuk bekerja di ladang mereka ataupun di industri untuk upaya perang. Selain menjalankan profesi sebagai pekerja, wanita Vietnam juga dilatih menggunakan senjata. Selain itu juga dilatih oleh milisi pejuang untuk mempertahankan jalan dan jembatan. Wanita dari Vietnam Utara ini juga membantu pasukan lain dengan membawakan makanan dan amunisi. Wanita pada perang Vietnam mampu memeberi semangat juang dalam memerangi ancaman terhadap negara mereka. Ketika perang berakhir wanita Vietnampun akhirnya bertransformasi kembali ke peran utama mereka yakni sebagai seorang istri, ibu dan penghibur[13].
           
DAFTAR PUSTAKA
Ani, Hajjah Idrus. 1980. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. Medan : PT Percetakan dan Penerbitan Waspada.
Iljas, Bachtiar.1967.Perang Vietnam dan Netralisasi Asia Tenggara.Yogyakarta.
Musdah, Siti Mulia dan Anik Farida. 2005. Perempuan dan Politik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga1450-1680 Jilid I Tanah di Bawah Angin. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Omet Rasidi. 2014. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. Bandung : UPI (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________. http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
_____________.  http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
_____________.  http://www.womeninworldhistory.com/essay-02.html . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).
_____________. http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).


[1] Hajjah Ani Idrus. Wanita Dulu Sekarang dan Esok. 1980. Hlm 1.
[2] Siti Musdah Mulia dan Anik Farida. Perempuan dan Politik. 2005. Hlm vii
[3] Ibid.
[4] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[5] Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin. 2011. Hlm 187
[6]  Adinda Fatin. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160796-RB04A89pd-Peran%20dan.pdf. 2009. Hlm 1. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[7] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. Diakses pada Jumat, 30 Desember 2016.
[8] Ready Susanto. Ensiklopedi Tokoh-Tokoh Wanita, Dari Mistikus Hingga Politikus. 2008. Hlm 34,50.
[9] http://asiasociety.org/education/women-southeast-asia. (diakses pada Jumat, 30 Desember 2016).
[10] http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf . (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[11] Omet Rasidi. http://repository.upi.edu/14556/4/S_SEJ_1006027_Chapter1.pdf. 2014. Hlm 2. (diakses pada Sabtu, 31 Desember 2016).
[13] http://www.vietnow.com/military-women-of-the-vietnam-war/ . ( diakses pada Minggu , 1 Januari 2016).

CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...