Senin, 20 Juli 2020

[Ngaji]>>Ngasah Jiwo


[Ngaji]>>Ngasah Jiwo,
senantiasa belajar dalam kebaikan. Berbuat dan berpikir baik dan mencari jalan keluar adalah kedua hal yang sulit jika tidak dibiasakan. Telaten dalam belajar kebaikan itu, pelan-pelan memahami apa yang menjadi pertanyaan besar untuk dicari jawabannya. Bersama guru-guru kita dapatlah kita tiru pencarian jawaban itu. Ilustrasi saya beberapa waktu lalu untuk penghormatan kepada guru-guru

Saya sering membaca buku karya beliau-beliau ini. banyak hal yang didapatkan. Rasa kemanusaiaan semakin dipertajam. Ilmu semakin bertumbuh. bukan hanya soal duniawi tapi bagaimana kita memposisiakn diri sbegai makhluk langit yang banyak berdosa. Menyanggupi diri dengan batin untuk selalu mengabdikan diri kepada ilahi. Saya sering mendengarkan syair dari Gus Dur dan Mbah Teji untuk menenangkan hati, mengikuti Bang Bang Wetan dari Mbah Nun sebagai oase ditengah hiruk pikuknya keresahan duniawi. Sedikit menunduk sejenak mengerti dan mendalami arti hidup ini. Bukan untuk sekedar hidup namun bagaimana mengisi kehidupan ini dengan apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita sebagai insan.

MASUK DI PABRIK WINGKO BABAT, LAMONGAN



Ada kabar kemarin kalo Wingko diakui sebagai kue khas dari Semarang, wah tapi kok aku nggak sependaoat yaa. Soalnya kalo aku mudik ke Bojonegoro, kalo lewat Babat (perbatasan Lamongan-Bojonegoro) mesti beli wingko yang dijual asongan. Biasanya kalo naik bus asongan juga naik ke bis hehe nawari jajan setas kresek kecil gitu harganya 10 ribu kalo ndak salah. Isinya 15 buah.

kalian tau Wingko kan? Bentuknya pipih bulat kecil rasanya manis. Bahan utamanya adalah kelapa yang diberi gula atau pemanis trus dibakar di oven yang gede banget. Bahkan saat aku mengunjungi salah satu pabrik pembuat wingko ini aku liat masi dibakar pake areng jadi masi tradisional. Saat kesana juga aku mencicipi wingko yang fresh from the oven guyss heheh anget manis lumer jadi satu di mulut.






Wingko ini makanan legendaris menurutku, bahkan sudah menembuh beberapa daerah diluar Jawa. Biasanya dijual di toko souvenir yang ada di Lamongan seperti yang terkenal di WBL atau di makam Sunan itu. Tapi tetep yang di asongan masih juga berjualan.

Resep yang digunakan masing-masing pabrik juga berbeda loh. Bentuk dan ukurannya juga berbbeda tergantung masing-masing pabrik. Waktu aku ke salah satu pabrik ini bentuknya ndak terlalu besar jadi cukup dua atau tiga kali gigitan saja sudah habis.

Nah karena pandemi ini, aku kasian dengan pembuat wingko. Sebab pendapatannya menurun drastis. kasian mereka yang menggantungkan dari wisatawan, apalagi wisata di Lamongan belum semua dibuka lagi. Biasanya Bapaknya bikin 15 ember adonan sekarang hanya 1-2 ember saja. Kasian sih, tapi mau gimana lagi. Menurutku perlu ktia bantu dalam hal marketing atau pemasaran agar ndak berhenti di asongan atau toko souvenir aja sih. Apalagi sampe di klaim di daerah lain wah eman banget. WINGKO BABAT yo Wingko Babat hehe kalian harus coba nih kue satu ini, apalagi yang masih hangat!






Taman Apotek Sehat Hidup di Kembangbahu, Lamongan



Biasanya kalo di deket rumah kita ada TOGA atau Tanaman Obat Keluarga yang khusus menanam tumbuhan yang berkhasiat. Seperti jahe, pohon kayu putih, dan banyak lainnya. bahkan di sekitar rumahku dulu nggak hanya tanaman obat, jadi warga disana bisa menanam tanaman yang dapat dibudidayakan atau dapat dikonsumsi untuk bersama. jadi siapapun dapat menanam dan hasilnya dapat dikelola bersama. Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Desa Sukosongo Kecamatan Kembangbahu, Lamongan.

Disini ada salah satu gang yang dikhususkan oleh bapak kepala desanya sebagai Taman Apotik Hidup yang dinamai "Matahari".  Banyak sekali tanaman disini bahkan yang belum pernah saya lihat terdapat disini. Sebelum pandemi ini warga bahkan biasanya budi daya terong dan memelihara bebek, tapi karena pandemi ini mereka berhenti untuk sementara waktu. Saat memasuki gang kampung ini saya melihat tertata dengan rapi ditambah dengan warna-warna yang apik sehingga jika orang datang kesini akan terhibur lah. Di setiap tanamannya diberi nama dan sesuai khasiat masing-masing jadi sekalian untuk edukasi masyarakat. Ada salah satu bunga yang menarik kamera saya adalah bunga matahari yang sedang mekrok (mekar) jadi saya sempatkan untuk memotret beberapa kali hehe.






Warga di desa ini juga sangat humble, mereka ramah mau mengantarkan saya hehehe dari balai desa ke taman apotik ini. Kalo mau tau beberapa fotonya ini yang terjepret di kameraku. Menurutku hal baik semacam ini perlu dilanjutkan sih, jadi sebagai swadaya masyarakat kita tidak tergantung dengan pemerintah atau kalo emnag kita butuh obat emergency misalnya kan tinggal metik aja. gak perlu lahan bgede sih buat bikin tanaman obat semcam ini hanya ketekunan dan usaha dikit aja kita bisa memanfaatkan lahan sempit atau lahan  sisa di depan rumah kita. kalo toh mungkin gaada sekarang kan lagi rame ada urban farming. Memang urban farming dan semacamnya itulah yang menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan dengan lahan sempit tapi mau bercocok tanam. Kalo kita lihat biasanya ada yang make paralon atau menggunakan sampah plastik yang di daur ulang.




Mungkin disini pemerintah kudu meningkatkan perhatiannya yah, agar masyarakat itu bisa semangat, gini aja mereka sudah semangat apalagi kalo sampe pemerintah turun tangan. Bakal asik tuh, dan bisa nambah keindahan di desa kita lo guys, jadi warna-warni nya nggak dari cat rumah aja siih, jadi bisa dari bunga matahari yang mekar trus bisa dari warna hijau daun apa warna-warni buah-buahan bakal kangen tuh bagi siapapun yang  ngerantau jauh dari desanya hehe. Keren dah hal semcam ini, buat temen-temen yang dirumahnya ada TOGa atau tanaman obat semacam ini yuk bisa sharing.




CERITA DARI MAHAKAM DULU

Mahakam Ulu. Tersimpan banyak keelokan tradisi... yang mengakar kuat dan membumi... Pesona alammu kau sodorkan dengan alami... Kea...